Kepentingan Shalat Fardhu Dibandingkan dengan Shalat Sunnah

Hadits Ke-5

Dari Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya ia ditanya tentang seseorang yang berpuasa siang hari, berdiri (shalat) malam hari, tetapi ia tidak menghadiri shalat berjamaah dan tidak menyertai Shalat Jum’at, maka Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma menjawab, “Ia berada di neraka.” (H.R. Tirmidzi, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Seorang muslim yang disiksa di neraka, suatu ketika akan dikeluarkan (juga) dari neraka, tetapi diketahui berapa lama ia akan berada dalam neraka. Sebagian sufi yang jahil hanya mementingkan dzikir dan shalat sunnah tanpa mempedulikan shalat berjamaah dan menyangka dirinya orang yang shalih. Padahal, kesempurnaan keshalihan adalah dengan mengikuri Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebuah hadits menyebutkan bahwa ada tiga orang yang dilaknat Allah Subhaanahu wata’ala, yaitu imam yang dibenci makmumnya (dengan alasan yang masuk akal), wanita yang suaminya tidak ridha kepadanya, dan orang yang mendengar adzan namun tidak pergi shalat berjamaah.

Hadits Ke-6

Ibnu Mardawaih Rahmatullah ‘alaih telah meriwayatkan dari Ka’ab Al-Hibr Rahmatullah ‘alaih, ia berkata, “Demi Dzat yang telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa Alaihis salam, Injil kepada Nabi Isa Alaihis salam, Zabur kepada Nabi Dawud Alaihis salam, dan Al-Qur’an kepada Baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, ayat-ayat berikut ini diturunkan mengenai nasib buruk pada hari kiamat yang akan menimpa orang-orang yang tidak shalat berjamaah di tempat adzan dikumandangkan. (Arti ayatnya adalah): ‘Pada hari ketika betis di singkapkan (Pada Hari Kiamat yang suasanya begitu genting dan menakutkan), dan mereka dipanggil untuk sujud tetapi mereka tidak mampu sujud, pandangan mereka tunduk ke bawah kerena malu, mereka diselubungi kehinaan, dan sungguh semasa di dunia mereka diseru untuk sujud sedangkan mereka ketika itu dalam keadaan sehat wal afiat (tetapi mereka enggan bersujud).’” (Q.S. Al-Qalam: 42-43). (H.R. Baihaqi, dari Kitab Durrul Mantsur)

Faidah

Makna ‘hari betis disingkapkan’ adalah tajallinya Allah yaitu Allah Subhaanahu wata’ala menampakan keagungan-Nya di Padang Mahsyar, sehingga seluruh Kaum Muslimin akan bersujud melihatnya, tetapi sebagian mereka ada yang punggungnya mengeras, sehingga tidak dapat bersujud. Siapakah mereka? Ahli tafsir berbeda penafsiran mengenai hal ini.

Penafsiran pertama, Ka’ab Al-Hibr Rahmatullah ‘alaih, Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dan yang lain menafsirkan bahwa mereka adalah orang yang diseru untuk shalat berjamaah, tetapi tidak memenuhinya.

Penafsiran kedua, tertulis dalam Kitab Bukhari, Sayyidina Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Mereka adalah orang ketika di dunia shalat dengan riya dan ingin dilihat oleh orang lain.’

Penafsiran ketiga, menyatakan mereka adalah orang-orang kafir yang ketika di dunia benar-benar tidak pernah shalat.

Penafsiran keempat, menyatakan bahwa mereka adalah kaum munanfik. Hanya Allah Subhaanahu wata’ala-lah yang Maha Mengetahui dan yang Maha Sempurna ilmu-Nya.

Sesuai sumpah Syaikh Ka’ab Al-Hibr Rahmatullah ‘alaih atas nama Allah Subhaanahu wata’ala, diperkuat oleh penafsiran Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma sebagai imam para mufassir, menjelaskan betapa dahsyat huru-hara Pada Mahsyar, sehingga seluruh Kaum Muslimin sibuk bersujud. Tetapi, orang-orang yang tidak shalat berjamaah, dengan penuh hina tidak dapat bersujud.

Sekain itu masih banyak lagi ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjamaah. Sebenarnya satu ancaman pun tidak diperlukan oleh seorang muslim. Baginya perintah Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya adalah segala-galanya. Tetapi bagi mereka yang tidak menaati Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya, seribu ancaman pun tidak ada gunanya. Kelak, tatkala waktu pembalasan tiba, barulah mereka menyesal, namun penyesalan itu sia-sia.

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kedua “Shalat Berjamaah” Pasal 2 : Ancaman bagi yang Meninggalkan Shalat Berjamaah ~ Kepentingan Shalat Fardhu Dibandingkan dengan Shalat Sunnah (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


PASAL 2

ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH

Sebagaimana Allah Subhaanahu wata’ala telah menjanjikan berbagai pahala kepada mereka yang menunaikan perintah-perintah-Nya, Allah Subhaanahu wata’ala juga murka dan memberikan ancaman kepada mereka yang mengabaikan perintah-perintah-Nya. Janji pahala yang tidak terhingga atas ketaatan kepada-Nya benar-benar merupakan karunia dari Allah Subhaanahu wata’ala. Seorang hamba hanya layak menerima teguran atas kekeliruannya. Ia tidak berhak menerima hadiah atas ketaatannya, karena seorang hamba memang harus selalu menaati perintah tuannya. Jika seorang hamba dihukum karena melanggar aturan dari tuannya, sebesar apa pun hukuman yang ditimpakan kepadanya, hal itu sudah pada tempatnya. Sebab, adakah kesalahan yang lebih besar bagi seorang hamba melebihi mengingkari perintah tuannya?

Tidak seharusnya ada peringatan dan teguran secara khusus terlebih dahulu (sebelum datangnya hukuman). Namun, karena kasih sayang Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya kepada kita, Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya dengan bermacam-macam cara telah memberikan berbagai peringatan tentang kerugian yang akan menimpa kita, jika kita mengabaikan perintah-perintah-Nya. Seandainya kita tidak mau mengambil pelajaran, maka kitalah yang rugi.

Hadits Ke-1

Dari Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mendengar adzan dan tidak memenuhinya tanpa ada udzur, maka shalat yang dikerjakannya tidak akan diterima.” Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Apakah udzurnya?” Beliau menjawab, “Takut atau sakit.” (H.R. Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Maksud ‘tidak akan diterima shalatnya’ ialah ia tidak mendapat pahala dan anugerah dari shalatnya, meskipun kewajibannya telah tertunaikan. Inilah makna hadits-hadits yang lafadznya Laa Shalata yang artinya ‘tidak ada Shalat’. Dikatakan ‘tidak ada Shalat’, sebab keutamaan shalat yang seharusnya ada, yaitu sebagai penyebab pahala dan anugerah, tidak terdapat dalam shalatnya. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah Rahmatullah ‘alaih. Sedangkan sebagian shahabat Radhiyallahu ‘anhum dan sebagian tabi’in Rahmatullah ‘alaihim, berdasarkan hadits-hadits ini, berpendapat bahwa meninggalkan shalat berjamaah tanpa udzur itu haram, dan shalat berjamaah itu fardhu, sehingga banyak ulama yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat berjamaah tidak sah shalatnya. Sedangkan dalam Madzhab Hanafi walaupun shalatnya sah, tetapi mereka berdosa karena meninggalkan perintah berjamaah. Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan sebuah hadits bahwa ia berdosa karena mengingkari Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Ia berkata, “Barangsiapa mendengar adzan, lalu ia tidak shalat berjamaah, berarti ia tidak menghendaki kebaikan dan tidak dikehendaki mendapatkan kebaikan.” Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak shalat berjamaah, maka lebih baik dituangkan timah mendidih ke lubang telinganya.

Ancaman bagi yang Tidak Berjamaah Selepas Mendengar Adzan

Hadits Ke-2

Dari Sayyidina Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar-benar keras kepala, kufur, dan nifak, orang yang mendengar seruan muadzin untuk shalat, tetapi ia tidak memenuhinya.” (H.R. Ahmad, Thabarani, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Sungguh keras ancaman dan celaan dalam hadits ini, sehingga perbuatan seperti itu digolongkan sebagai perbuatan orang kafir dan munafik. Solah-olah hal itu tidak mungkin terjadi pada diri seorang muslim. Dinyatakan dalam hadits yang lain, “Cukuplah keburukan dan kerugian seseorang jika ia mendengar adzan tetapi tidak memenuhinya.”

Sayyidina Sulaiman bin Abi Hatsmah Radhiyallahu ‘anhu, adalah seorang shahabat yang punya kedudukan yang tinggi. Ia lahir pada zaman Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena masih kecil ia belum dapat meriwayatkan hadits-hadits yang didengarnya dari Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada zaman Khalifah Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu, ia ditugaskan untuk mengawasi pasar. Suatu hari, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu tidak menjumpainya dalam shalat jamaah Shubuh. Lalu, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu pergi ke rumahnya dan bertanya pada ibunya, “Mengapa Sulaiman tidak datang Shalat Shubuh berjamaah hari ini?” Ibunya menjawab, “Ia shalat sunnah semalam suntuk (kemudian ia Shalat Shubuh di rumah), karena mengantuk ia terus tidur.” Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku lebih menyukai Shalat Shubuh berjamaah daripada shalat sunnah semalam suntuk.”

Hadits Ke-3

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh aku ingi menyuruh pemuda-pemuda agar mengumpulkan beberapa ikat kayu bakar untukku, lalu kudatangi orang-orang yang shalat di rumah mereka tanpa udzur, dan kubakar rumah-rumah mereka sedangkan mereka di dalamnya.” (H.R. Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam amat menyayangi umatnya sehingga beliau tidak tega melihat umatnya ditimpa kesulitan sekecil apa pun. Namun demikian, betapa marahnya beliau kepada mereka yang mengerjakan shalat fardhu di rumah tanpa udzur, sampai beliau menyatakan berkeinginan membakar rumah mereka (sebagai ancaman).

Hadits Ke-4

Dari Sayyyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak ada tiga orang yang tinggal di sebuah kampung atau di suatu padang sahara dan mereka tidak mengadakan shalat berjamaah, kecuali setan akan menguasai mereka. Maka berjamaahlah kalian, sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang terpisah dari kelompoknya. Sesungguhnya serigala bagi manusia adalah setan. Jika ia sendirian, setan akan memangsanya.’” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Hadits di atas menjelaskan bahwa meskipun hanya ada tiga orang yang sibuk bekerja di suatu kebun, hendaklah mereka mendirikan shalat berjamaah. Bahkan walaupun hanya ada dua orang, shalat berjamaah lebih baik bagi mereka. Pada umunya para petani meninggalkan shalat dengan alasan sibuk bertani, dan mereka yang merasa mengerti agama pun shalat sendirian. Padahal jika para petani itu berkumpul di suatu tempat, mereka tentu dapat menyelenggarakan jamaah besar dan menghasilkan pahala lebih besar. Untuk mendapatkan sedikit uang saja mereka mau bersusah payah tanpa mempedulikan hujan, panas, dingin, dan sebagainya. Sayang, mereka rela menyia-nyiakan pahala yang sangat besar tanpa merasa rugi sedikit pun. Jika mereka shalat berjamaah di tengah padang, pahalanya akan jauh lebih besar. Disebutkan dalam hadits bahwa pahalanya mencapai lima puluh shalat. Dinyatakan dalam sebuah hadits bahwa seorang penggembala kambing baik di gunung maupun di tengah padang yang mengumandangkan adzan dan mendirikan shalat, Allah Subhaanahu wata’ala sangat menyukainua dan Allah Subhaanahu wata’ala membanggakan mereka di hadapan para malaikat, “Lihatlah hamba-Ku yang menyerukan adzan, lalu ia mendirikan shalat. Ini semua karena rasa takutnya kepada-Ku. Sungguh, Aku telah mengampuninya dan Aku memutuskan untuk memasukkannya ke dalam surga.” (dari Kitab Misykat)

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kedua “Shalat Berjamaah” Pasal 2 : Ancaman bagi yang Meninggalkan Shalat Berjamaah ~ Ancaman bagi yang Tidak Berjamaah Selepas Mendengar Adzan (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Pahala Shalat Berjama’ah Dilipatkan 25 Kali

Hadits Ke-2

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat seorang laki-laki dengan berjamaah dilipatgandakan 25 kali dibanding shalat di rumahnya atau di pasarnya. Demikian itu karena jika seseorang berwudhu dengan sempurna, lalu pergi ke masjid semata-mata untuk shalat (berjamaah), maka ia tidak melangkah satu langkah kecuali ditinggikan baginya satu derajat dan dihapuskan baginya satu kesalahan. Jika ia selesai shalat, maka malaikat selalu berdoa untuknya selama ia duduk di tempat shalatnya selagi belum berhadats, ‘Ya Allah, ampunilah ia! Ya Allah, rahmatilah ia!’ Dan ia terus menerus mendapatkan pahala shalat selama menunggu shalat.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Telah disebutkan dalam hadits pertama bahwa keutamaan shalat berjamaah adalah 27 derajat melebihi shalat sendirian. Sedangkan dalam hadits ini, disebutkan hanya 25 derajat. Banyak ulama yang memberikan penjelasan tentang perbedaan antara dua hadits tersebut. Adapun penjelasannya: perbedaan 25 dan 27 ialah menurut tingkatan keikhlasan. Sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan ini terdapat dalam shalat yang bacaannya lirih (Zhuhur dan Ashar), yaitu berpahala 25 kali, sedangkan shalat yang bacaannya keras (Shubuh, Maghrib, dan Isya’) berpahala 27 kali. Sebagian ulama berpandangan bahwa pahala 27 derajat itu untuk Shalat Isya’ dan Shubuh. Sebab, shalat berjamaah waktu Shubuh dan Isya’ lebih berat daripada shalat lain. Sebagian ulama menerangkan bahwa berdasarkan hadits lain, Allah Subhaanahu wata’ala senantiasa menambah karunia pada umat ini, bisa saja asalnya 25 pahala kemudian ditambah menjadi 27 pahala.

Ada lagi sebuah pejelasan yang lebih menakjubkan, bahwa hadits mengenai pahala 25 itu bukan sebagai derajat, tetapi sebagai 25 kali lipatan. Dengan hitungan ini, satu shalat akan menghasilkan pahala 33.554.432 derajat (Dalam hadits riwayat Abu Hurairah di atas bisa bermakna 2 kali lipat, sehingga yang dimaksud dalam penjelasan ini adalah 25 kali lipatannya 2 (22 5 = 33.554.432).). Bagi Allah Subhaanahu wata’ala, pahala sejumlah itu tidak ada apa-apanya. Jika dihubungkan dengan dosa meninggalkan satu shalat yang mengakibatkan siksa selama satu huquq sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka tidak mustahil bila pahala shalat mencapai jumlah sekian. (Besarnya siksa bila meninggalkan, menunjukkan besarnya pahala bila mengerjakan.)

Kemudian Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi penjelasan yang harus kita pikirkan, berapa banyak pahala shalat berjamaah dan bagaimana kebaikan-kebaikan dilipatgandakan, dengan bersabda, “Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan wudhu yang sempurna, dengan hanya niat shalat berjamaah di masjid, maka setiap langkahnya akan menambah satu kebaikan dan menghapus satu dosa.”

Suatu ketika, Banu Salamah, satu kabilah di Madinah Munawarah yang tinggal jauh dari masjid, berniat pindah ke dekat masjid. Namun, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tetaplah tinggal di sana, karena setiap langkahmu menuju masjid akan ditulis sebagai pahala.” Hadits lain menyebutkan, “Jika seseorang berwudhu dengan sempurna, lalu keluar dari rumahnya dengan niat untuk shalat berjamaah, seolah-olah ia keluar dari rumahnya dalam keadaan ihram untuk haji.” Beliau juga bersabda, “Orang yang telah mengerjakan shalat fardhu, maka para malaikat akan terus memohonkan rahmat dan ampunan baginya selama ia masih duduk di tempat Shalatnya.” Sedangkan para malaikat adalah hamba-hamba Allah Subhaanahu wata’ala yang dicintai oleh Allah Subhaanahu wata’ala dan dijaga dari perbuatan dosa, maka keberkahan doa mereka tentu sudah pasti.

Syaikh Muhammad bin Samaa’ah Rahmatullah ‘alaih, seorang ulama masyhur, murid Imam Muhammad dan Imam Abu Yusuf Rahmatullah ‘alaihima, meninggal pada usia 103 tahun. Dalam usia setua itu, ia masih mampu shalat sunnah dua ratus rakaat setiap hari. Ia berkata, “Selama empat puluh tahun saya tidak pernah tertinggal Takbiratul Ula bersama imam kecuali satu kali, yaitu ketika ibuku wafat. Karena kesibukan tersebut, saya tertinggal Takbiratul Ula.” Ia juga berkata, “Suatu ketika, saya tertinggal shalat berjamaah. Untuk menebus pahala shalat berjamaah 25 derajat, saya shalat 25 kali. Kemudian di dalam tidur saya bermimpi ada seseorang yang berkata kepada saya, ‘Wahai Muhammad! Memang kamu telah mengerjakan shalat 25 kali, tetapi bagaimana dengan amin malaikat (yang hanya bisa kamu dapatkan dengan shalat berjamaah)?’” (dari Kitab Fawaid Bahiyyah)

Maksud amin malaikat adalah sebagaimana yang telah dijelaskan dalam banyak hadits, bahwa jika imam selesai membaca Al-Fatihah, lalu membaca amin, maka para malaikat ikt mengamininya. Kemudian jika seorang makmum membaca amin bersamaan dengan amin para malaikat, Allah Subhaanahu wata’ala akan mengampuni seluruh dosanya yang lalu. Mimpi tersebut mengisyaratkan tentang hadits di atas.

Maulana Abdul Hay Rahmatullah ‘alaih mengatakan bahwa kisah di atas menunjukkan pahala shalat berjamaah tidak dapat dikalahkan oleh pahala shalat sendirian, meskipun dengan shalat seribu rakaat. Hal ini sangat jelas, bukan hanya karena aminnya malaikat, namun juga karena orang-orang yang berjamaah akan mendapatkan doa para malaikat selepas shalat seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

Selain berbagai kelebihan di atas, masih banyak keutamaan yang hanya diperoleh melalui shalat berjamaah. Ada satu hal yang penting untuk diperhatikan, yakni para ulama telah menulis bahwa doa para malaikat akan diperoleh jika shalat dilakukan dengan sempurna. Jika shalat dilakukan asal-asalan, maka shalat itu akan seperti kain kusut yang dilempar ke muka orang yang mengerjakannya, sehingga ia tidak mendapatkan doa para malaikat. (dari Kitab Bahjah)

Hadits Ke-3

Dari Sayyidina Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Barangsiapa ingin berjumpa dengan Allah Subhaanahu wata’ala pada Hari Kiamat dalam keadaan Islam, hendaklah ia menjaga shalat lima waktu di tempat adzan dikumandangkan (di masjid), karena sesungguhnya Allah Subhaanahu wata’ala telah mensyari’atkan untuk Nabimu jalan-jalan hidayah dan sesungguhnya shalat berjamaah di tempat adzan dikumandangkan termasuk jalan-jalan hidayah tersebut. Apabila kamu shalat di rumah-rumahmu sebagaimana si fulan, berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu. Jika kamu meninggalkan sunnah Nabimu, maka sesatlah kamu. Tiada seorang laki-laki pun yang berwudhu sempurna, lalu pergi ke salah satu masjid, kecuali Allah Subhaanahu wata’ala mencatat untuk setiap langkahnya satu kebaikan, meningkatkan baginya satu derajat, dan menghapuskan baginya satu kesalahan. Sungguh saya melihat di antara kami pada zaman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada orang yang tidak pergi ke masjid kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya (pada zaman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kebanyakan orang munafik pun tidak berani meninggalkan shalat berjamaah). Sungguh pernah ada seorang laki-laki (udzur), ia dipapah oleh dua orang, lalu diberdirikan di dalam shaf shalat.”

Diriwayatkan pula, “Sungguh saya melihat di antara kami pada zaman Baginda Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam tidak seorang pun yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya atau orang sakit parah: Sungguh seseorang akan dipapah oleh dua orang untuk shalat (berjamaah).” Sayyidina Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajari kami jalan-jalan hidayah, dan sesungguhnya shalat di masjid di tempat adzan dikumandangkan termasuk jalan-jalan hidayah.” (H.R. Muslim, Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum sangat menjaga shalat berjamaah. Mereka berusaha keras agar bisa shalat berjamaah, meskipun sakit dan harus dipapah oleh orang lain. Bagaimana mungkin mereka tidak mempedulikannya, sedangkan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi waslalam sendiri sangat menjaga shalat berjamaah. Ketika beliau sakit parah menjelang akhir hayatnya, beliau berkali-kali pingsan dan berkali-kali meminta air wudhu. Akhirnya, dengan susah payah beliau dapat berwudhu. Kemudian beliau pergi ke masjid dengan dipapah oleh Sayyidina Abbas Radhiyallahu ‘anhu dan seorang shahabat lain, karena kaki beliau tidak bisa menapak dengan baik. Atas kehendak beliau, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu mengimami shalat berjamaah. Kemudian Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyertai Shalat berjamaah. (dari Kitab Shahih Bukhari Muslim)

Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Beribadahlah kepada Allah Subhaanahu wata’ala seolah-olah Dia di hadapanmu dan seolah-olah kamu melihat-Nya.’ Anggaplah dirimu termasuk dalam daftar orang-orang yang sudah mati (tidak merasa sebagai orang yang masih hidup, sehingga tidak gembira karena sanjungan dan tidak sedih karena cacian). Selamatkan dirimu dari doa buruk orang yang dizhalimi. Berusahalah agar tidak meninggalkan Shalat Shubuh dan Isya’ berjamaah, meskipun harus pergi dengan merangkak di atas tanah. Hadits yang lain menyebutkan bahwa Shalat Shubuh dan Isya’ sangat membebani kaum munafik. Seandainya mereka tahu betapa banyak pahala shalat berjamaah Shubuh dan Isya’, niscaya mereka akan berusaha untuk shalat berjamaah, meskipun harus merangkak.”

Hadits Ke-4

Dari Sayyidina Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa shalat berjamaah karena Allah Subhaanahu wata’ala selama empat puluh hari tanpa tertinggal Takbiratul Ula, maka akan ditulis baginya dua kebebasan, yaitu bebas dari neraka dan bebas dari sifat munafik.” (H.R. Tirmidzi, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Maksudnya, seseorang yang shalat dengan ikhlas selama empat puluh hari dan menyertai shalat mulai imam membaca Takbir, maka ia tidak akan dimasukan ke neraka dan tidak termasuk golongan orang munafik. Orang munafik adalah orang yang menampakkan dirinya sebagai seorang muslim, tetapi menyimpan kekufuran di dalam hatinya. Empat puluh hari memiliki makna khusus yang dapat menyebabkan suatu perubahan. Sebagaimana bayi dalam kandungan, selama empat puluh hari pertama berubah dari air mani menjadi segumpal darah. Empat puluh hari berikutnya terjadi perubahan-perubahan lain, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits. Oleh karena itu, para ahli tasawuf mementingkan masa empat puluh hari. Betapa beruntung orang yang selama bertahun-tahun tidak pernah tertinggal Takbiratul Ula.

Hadits Ke-5

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu dengan baik, lalu pergi ke masjid, dan ia mendapati orang-orang telah selesai shalat, maka Allah Subhaanahu wata’ala akan memberinya pahala seperti pahala orang yang shalat berjamaah, tanpa sedikit pun mengurangi pahala mereka.” (H.R. Abu Dawud, Nasa’I, Hakim, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Betapa besar karunia dan anugerah Allah Subhaanahu wata’ala. Dengan berusaha shalat berjamaah saja kita sudah mendapatkan pahala berjamaah, meskipun kita tidak mendapatkan shalat berjamaah. Siapa yang rugi jika kita mengabaikan kesempatan seperti itu? Dari hadits ini, kita mengetahui bahwa janganlah kita mengurungkan pergi ke masjid hanya karena mengira shalat berjamaah telah selesai, kita tetap akan mendapatkan pahala berjamaah. Kecuali jika kita telah meyakini sebelumnya bahwa shalat berjamaah sudah selesai, maka tidak ada maknanya pergi ke masjid.

Hadits Ke-6

Dari Sayyidina Qubats bin Asyyam Al-Laitsi Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalatnya dua orang dengan berjamaah, yang salah seorang dari keduanya menjadi imam, lebih disukai Allah Subhaanahu wata’ala daripada empat orang shalat sendiri-sendiri. Shalatnya empat orang berjamaah, lebih disukai Allah Subhaanahu wata’ala daripada delapan orang shalat sendiri-sendiri. Shalatnya delapan orang yang diimami salah seorang dari mereka, lebih disukai Allah Subhaanahu daripada seratus orang shalat sendiri-sendiri.” (H.R. Bazzar, Thabarani, dari Kitab At-Targhib)

Dalam hadits lain dikatakan, “Jamaah yang besar lebih disukai Allah Subhaanahu wata’ala daripada jamaah yang kecil.”

Faidah

Sebagian orang merasa cukup shalat berjamaah di rumah atau di toko dengan dua atau empat orang. Orang seperti ini mendapatkan dua kerugian: pertama, tidak mendapat pahala shalat berjamaah di masjid, kedua, mereka terhalang dari pahala yang disebabkan banyaknya peserta shalat jamaah. Lebih banyak orang yang berjamaah, akan lebih dicintai Allah Subhaanahu wata’ala. Jika kita melakukan suatu pekerjaan untuk mencari ridha Allah Subhaanahu wata’ala, hendaknya kita melakukannya dengan cara yang paling disukai oleh-Nya.

Sebuah hadits menyebutkan bahwa Allah Subhaanahu wata’ala suka jika melihat tiga hal, yakni (1) shaf shalat berjamaah, (2) orang yang shalat tengah malam (Tahajjud), dan (3) orang yang maju ke medan perang fi sabilillah. (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Hadits Ke-7

Dari Sayyidina Sahl bin Sa’ad As Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang selalu berjalan ke masjid dalam kegelapan (malam) dengan cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat.” (H.R. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Hakim, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Pahala pergi ke masjid di malam yang gelap gulita di dunia, akan diketahui pada saat suasana Kiamat yang mengerikan ada di hadapan kita, dan setiap orang dikepung oleh musibah. Balasan kesusahanpergi ke masjid akan kita dapatkan ketika sebuah cahaya yang jauh lebih terang daripada matahari bersama kita. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Pada Hari Kiamat, orang-orang yang pergi ke masjid ketika malam gelap gulita akan duduk di atas mimbar dari nur tanpa rasa takut. Padahal, saat itu seluruh manusia sedang berada dalam ketakutan.”

Hadits lain menyebutkan bahwa pada Haari Kiamat Allah Subhaanahu wata’ala akan bertanya, “Di manakah tetangga-tetangga-Ku?” Malaikat bertanya, “Siapakah tetangga-tetangga-Mu ya Allah?” Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, “Tetangga-tetangga-Ku adalah orang-orang yang senantiasa memakmurkan masjid-masjid.” Hadits lain meriwayatkan bahwa tempat yang paling dicintai Allah Subhaanahu wata’ala ialah masjid, dan tempat yang paling dibenci oleh Allah Subhaanahu wata’ala adalah pasar. Hadits lain pula menyebutkan bahwa masjid adalah taman-taman surga. (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Sayyidina Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apabila kamu melihat seseorang yang selalu pulang pergi ke masjid, maka bersaksilah bahwa ia adalah seorang mukmin.” Kemudian beliau membaca ayat:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (Q.S. At-Taubah: 18), (dari Kitab Jami’ush Shaghir dan Kitab Durrul Mantsur)

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, “Mengerjakan wudhu dengan susah payah, melangkahkan kaki pergi ke masjid, dan duduk menunggu shalat selepas shalat adalah penghapus dosa.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Hadits lain menyebutkan, “Semakin jauh jarak seseorang menuju ke masjid, maka semakin banyak pula pahala yang akan diperolehnya.” Karena setiap langkahnya menuju masjid akan dihitung sebagai pahala. Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa jika pergi ke masjid, para shahabat Radhiyallahu ‘anhum memperpendek langkah-langkah mereka. Hadits lain menyebutkan bahwa ada tiga hal yang jika kita mengetahui pahalanya, maka kita akan berebut untuk mendapatkannya, yaitu adzan, pergi ke masjid ketika terik matahari, dan shalat di shaf pertama. (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Sebuah hadits menyebutkan bahwa pada Hari Kiamat, ketika manusia dalam keadaan susah, dan matahari sangat terik, ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat perlindungan rahmat Allah Subhaanahu wata’ala, salah satunya adalah seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Maksudnya, ketika ia memiliki keperluan sehingga ia keluar dari masjid, hatinya selalu ingin segera kembali ke masjid. Hadits lain menyebutkan bahwa barangsiapa mencintai masjid, maka Allah Subhaanahu wata’ala akan mencintainya. (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Setiap syari’at agama yang diturunkan Allah Subhaanahu wata’ala, mengandung banyak keberkahan, kebaikan, dan pahala yang tidak terkira. Disamping itu juga mengandung banyak maslahat dan kebaikan, yang disembunyikan oleh Allah Subhaanahu wata’ala, yang sangat sulit untuk dikethui hakikatnya. Hanya Allah Subhaanahu wata’ala yang mengetahui rahasianya. Maslahat itu akan ditampakkan Allah Subhaanahu wata’ala sesuai dengan tingkat kemampuan dan kefahaman setiap manusia. Makin tinggi tingkat kemampuan dan kefahaman seseorang, kian banyak ia mengetahui maslahat apa yang telah diberikan Allah Subhaanahu wata’ala di balik hukum tersebut. Para ulama telah menulis tentang maslahat-maslahat yang terkandung dalam shalat berjamaah sesuai pemahaman masing-masing.

Dalam Kitab Hujjatullah Al-Balighah, Syaikh Waliyyullah Rahmatullah ‘alaih menulis tentang maslahat shalat berjamaah yang terjemahan dan maksudnya adalah sebagai berikut: (di antara maslahat shalat berjamaah) Agar kita dapat terhindar dari pengaruh adat istiadat yang buruk. Untuk itu, tidak ada cara yang lebih baik kecuali kita menjadikan salah satu ibadah sebagai kebiasaan di tengah masyarakat, sehingga dapat diamalkan oleh seluruh lapisan masyarakat secara terang-terangan, baik yang pandai maupun yang bodoh, baik penduduk kota maupun penduduk desa, semua akan berlomba-lomba dalam ibadah tersebut. Jika ibadah sudah menjadi kebiasaan umum di masyarakat, maka ibadah tidak mungkin dapat dipisahkan dari sendi-sendi kehidupan. Jika hal itu tercapai, niscaya akan menguatkan ketaatan kita kepada Allah Subhaanahu wata’ala, sehingga adat istiadat yang pada mulanya menarik kea rah keburukan akan menarik kea rah kebaikan.

Tidak ada amal apapun yang lebih penting dan lebih kuat dalilnya melebihi shalat. Oleh karena itu, kita wajib memulainya dan mengajak orang lain menjadikan shalat sebagai budaya. Hendaknya kita sepakat mengadakan suatu pertemuan untuk mengusahakan agar shalat menjadi suatu budaya masyarakat.

Dalam agama, ada segolongan orang yang patut dikedepankan dan diteladani. Ada segolongan lagi yang masih memerlukan dorongan dan ajakan. Ada pula yang masih memerlukan dorongan dan ajakan. Ada pula yang masih lemah imannya. Dengan shalat berjamaah, orang yang tadinya enggan beribadah akan bertemu ahli ibadah, sehingga ia tertarik untuk mengikutinya. Orang yang tadinya malas akan bertemu dengan orang yang mengajaknya rajin beribadah. Orang yang tidak punya pengetahuan agama akan bertemu dengan ulama, sehingga ia akan dibimbing oleh ulama dan dapat memahami cara-cara ibadah yang benar serta menganggap bahwa ibadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala ibarat perak yang mereka bawa ke tukang perak (untuk diperiksa keasliannya), sehingga jelas dapat dibedakan antara yang boleh dan yang tidak boleh. Yang boleh akan diperkuat, dan yang tidak boleh akan dihentikan. Selain itu, shalat berjamaah adalah untuk mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang yang mencintai Allah Subhaanahu wata’ala, mengharap rahmat Allah Subhaanahu wata’ala, dan takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala, sehingga menurunkan rahmat dan berkah Allah Subhaanahu wata’ala yang menimbulkan pengaruh baik yang luar biasa.

Inilah maksud umat Baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dibentuk, yaitu untuk mengagungkan Asma Allah Subhaanahu wata’ala dan memenangkan Islam atas agama yang lain. Tujuan ini tidak akan tercapai selama kita tidak mempedulikan cara-cara di atas, yakni mengumpulkan Kaum Muslimin semuanya baik orang umum, orang penting, orang kampung, dan orang kota untuk menunaikan syiar Islam yang terbesar dan ibadah yang tertinggi (shalat). Oleh karena itulah, syari’at Islam menitikberatkan Shalat Jum’at dan shalat berjamaah dengan menerangkan berkah dan rahmat yang terkumpul di dalamnya dan azab yang akan turun bagi yang meninggalkannya.

Dalam hal ini, pertemuan dibagi menjadi dua macam, yaitu pertemuan kecil setiap lingkungan dan pertemuan seluruh kota. Pertemuan setiap lingkungan mudah diadakan setiap waktu, sedangkan mengadakan pertemuan seluruh kota setiap waktu adalah sulit. Oleh karena itu, telah ditetapkan bagi kita pertemuan setiap shalat fardhu di masjid masing-masing. Kemudian pertemuan seluruh kota sepekan sekali dengan jamaah Shalat Jum’at.

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kedua “Shalat Berjamaah” Pasal 1 : Keutamaan Shalat Berjamaah ~ Pahala Shalat Berjama’ah Dilipatkan 25 Kali(Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

BAB KEDUA “SHALAT BERJAMAAH”


Sebagaimana tertulis dalam permulaan kitab ini, banyak orang yang mengerjakan shalat, namun mereka tidak memperhatikan shalat berjamaah. Padahal, sebagaimana Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan pentingnya shalat, demikian juga beliau menegaskan pentingnya shalat berjamaah. Saya juga akan membagi bab ini menjadi dua pasal. Pasal 1 tentang keutamaan shalat berjamaah dan pasal 2 tentang ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat berjamaah.

 

PASAL 1

KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH

Pahala Shalat Berjama’ah Dilipatkan 27 Kali

Hadits Ke-1

“Dari Sayyidina Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, sesungguhnya Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat berjamaah 27 derajat lebih utama daripada shalat sendirian.’” (H.R. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Jika seseorang mengerjakan shalat dengan niat ingin memperoleh pahala, jangan mengerjakannya dirumah, tetapi hendaknya mengerjakannya dengan berjamaah di masjid. Tanpa bersusah payah, ia akan mendapatkan pahala yang jauh lebih besar. Siapakah yang lebih suka mengambil 1 Rupee daripada mendapatkan uang 27 atau 28 rupee? Hanya saja dalam masalah agama keuntungan sebesar ini tidak diperhatikan. Hal itu, tidak lain karena kita tidak memperhatikan agama dan kita tidak menganggap keuntungan agama sebagai keuntungan. Sepanjang hari, kita bertebaran mengerjakan perniagaan dunia demi mengejar keuntungan 1 atau 2 sen. Sedangkan perniagaan akhirat yang keuntungannya 27 kali lipat, kita menganggapnya sebagai suatu musibah. Pergi untuk shalat berjama’ah ke masjid dengan meninggalkan toko dianggap sebagai suatu kerugian. Menutup toko ketika itu membuat hati tidak enak. Namun, bagi mereka yang mengagungkan Allah Subhaanahu wata’ala, meyakini janji-janji-Nya, dan menghargai pahala-Nya, tidak akan mengemukakan alasan sepele seperti ini.

Mengenai mereka, Allah Subhaanahu wata’ala memberikan pujian-Nya dalam Al-Qur’an:

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan shalat.” (Q.S. An-Nuur: 37)

Dalam permulaan Bab Ketiga, ayat ini akan ditulis lengkap beserta terjemahannya. Dalam Kitab Hikayatus Shahabah Bab Kelima, juga dituliskan beberapa kisah tentang perilaku shahabat dalam perdagangan mereka saat adzan berkumandang.

Syaikh Salim Haddad Rahmatullah ‘alaih, seorang sufi yang juga seorang pedagang, jika mendengar adzan, wajahnya akan berubah pucat. Ia akan segera bangun dan meninggalkan tokonya dalam keadaan terbuka sambil membaca syair:

Apabila muadzin-Mu berdiri adzan, maka bangunlah aku segera

Menyambut seruan Yang Maha Besar yang tiada sesuatu menyerupai-Nya

Kujawab seruan itu dengan penuh ketaatan kepada-Nya

Dengan suk cita aku hadir, wahai Pemilik segala karunia

Wajahku pucat karena kettakutan kepada-Mu

Karena sibuk menunaikan perintah-Mu

Aku berpaling dari segala pekerjaanku

Aku bersumpah dengan kebenaran-Mu

Tiada yang lebih lezat daripada mengingat-Mu

Dan tiada kelezatan sedikit pun di bibirku selain menyebut asma-Mu

Bilakah hari-hari yang akan mempertemukan diriku dengan-Mu?

Seorang kekasih hanya akan berbahagia selalu

Jika senantiasa bersama dengan yang dirindu

Ia yang matanya telah menatap keindahan-Mu

Akan mati dengan kerinduan kepada-Mu

Dan tidak akan tenang sebelum berjumpa dengan-Mu

(dari Kitab Nuzhatul Basatiin)

Hadits lain menyebutkan, “Barangsiapa selalu berkumpul di masjid, maka dia adalah pasaknya. Para malaikat akan menjadi shahabatnya. Jika ia sakit, para malaikat akan menjenguknya. Jika ia punya keperluan, para malaikat akan membantunya.” (H.R. Hakim)

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kedua “Shalat Berjamaah” Pasal 1 : Keutamaan Shalat Berjamaah ~ Pahala Shalat Berjama’ah Dilipatkan 27 Kali(Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Keutamaan Wudhu yang Diteruskan dengan Shalat Sunnah

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat surga di dalam mimpinya dan mendengar suara langkah terompah Sayyidina Bilal Rahiyallahu ‘anhu di surga. Esoknya, beliau bertanya kepada Sayyidina Bilal Radhiyallahu ‘anhu, “Apakah amal istimewamu yang menyebabkan kamu berjalan bersamaku di dalam surga (seperti di dunia)?” Sayyidina Bilal Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Aku selalu berusaha menjaga wudhu. Apabila wudhuku batal di tengah malam atau siang, aku akan berwudhu kembali, lalu aku shalat semampuku.”

Syaikh Safiri Rahmatullah ‘alaih berkata, “Orang yang meninggalkan Shalat Shubuh akan dipanggil, ‘Wahai penjahat!’ Orang yang meninggalkan Shalat Zhuhur akan dipanggil, ‘Wahai orang yang rugi!’ Orang yang meninggalkan Shalat Ashar akan dipanggil, ‘Wahai ahli maksiat!’ Dan yang meninggalkan Shalat Maghrib akan dipanggil, ‘Hai Kafir!’ Sedangkan yang meninggalkan Shalat Isya’ akan dipanggil, ‘Hai orang-orang yang menyia-nyiakan hak Allah!’” (dari Kitab Ghaliyatul Mawaa’idz)

Allamah Sya’rani Rahmatullah ‘alaih berkata, “Ketahuilah musibah akan dijauhkan dari tempat yang penduduknya menjaga shalat (berjamaah). Sebaliknya, musibah akan terus menimpa tempat yang penduduknya melalaikan shalat. Bukan hal yang mustahil, jika tempat-tempat itu akan dilanda berbagai bencana, gempa bumi, halilintar, dan rumah-rumah dibenamkan ke dalam tanah. Hendaknya kita tidak berpikir, “Aku adalah orang yang menjaga shalat, sedangkan orang lain bukan urusanku.” Sebab, jika suatu bencana menimpa suatu tempat, maka bencana itu akan menimpa seluruh penduduknya. (Dalam hadits Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan, seseorang bertanya, “Apakah kita ditimpa azab, padahal ada orang-orang shalih di antara kita?” Beliau menjawab, “Ya, jika kemungkaran sudah merajalela.” Oleh karena itu, kita hendaknya benar-benar bertanggung jawab dalam mengajak pada kebenaran dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan masing-masing.” (dari Kitab Lawaaqihul Anwaar)

Haditd Ke-8

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggalkan shalat sehingga lewat waktunya, lalu ia mengerjakannya di luar waktunya, maka ia akan disiksa di neraka selama satu huqub. Satu huquq sama dengan delapan puluh tahun dan satu tahun terdiri dari 360 hari, dan ukuran sehari (di akhirat) adalah seribu tahun di dunia (dari hitungan ini satu huquq sama dengan dua puluh delapan juta delapan ratus ribu tahun).” (dari Kitab Majaalisul Abraar)

Dari segi bahasa, huquq artinya waktu yang amat panjang. Tetapi menurut kebanyakan hadits, huquq ukurannya adalah delapan puluh tahun sebagaimana hadits di atas. Demikian perhitungan yang ditulis dalam Kitab Durrul Matsur berdasarkan beberapa riwayat. Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Syaikh Hilal Hajari Rahmatullah ‘alaih, “Berapa lamakah satu huquq itu (dalam kitabullah)?” (Dalam susunan ini bisa disimpulkan bahwa Syaikh Hilal Hajari Rahmatullah ‘alaih adalah seorang ahlul kitab yang masuk Islam, sehingga ia ditanya oleh Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu mengenai makna huquq dalam kitab mereka (Taurat atau Injil).) Syaikh Hilal Hajari Rahmatullah ‘alaih menjawab, “Satu huquq ialah delapan puluh tahun, dan setahun itu dua belas bulan, dan dalam setiap bulannya terdiri dari tiga puluh hari, dan setiap harinya sama dengan seribu tahun.”

Diriwayatkan dari Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang shahih bahwa satu huquq adalah delapan puluh tahun. Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Satu huquq adalah delepan puluh tahun, dan satu tahun terdiri dari 360 hari, dan satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun perhitunganmu di dunia ini.” Sayyidina Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma juga meriwayatkan hadits seperti di atas dari Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ia berkata, “Hendaknya seseorag tidak merasa tenang bahwa dengan adanya iman suatu saat pasti keluar dari neraka. Memang, setelah dibakar dua puluh delapan juta delapan ratus ribu tahun ia akan keluar, dengan catatan tidak ada hal lain yang membuatnya tinggal lebih lama di neraka. Ada satu riwayat tentang satu huquq yang mengatakan kurang dari 80 tahun, ada yang mengatakan lebih. Akan tetapi, perhitungan di atas terdapat di dalam banyak hadits, maka perhitungan itu yang paling diterima. Bisa juga hitungan huquq itu bisa kurang atau lebih delapan puluh thaun seseuai keadaan orangnya.”

Dalam Kitab Qurratul Uyun, Syaikh Abu Laits Samarqandi Rahmatullah ‘alaih menyebutkan sebuah hadits Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa sengaja meninggalkan shalat fardhu meskipun hanya satu shalat, maka akan tertulis namanya di pintu neraka dan ia harus memasukinya.” Dari Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ucapkanlah, ‘Ya Allah, janganlah engkau celakakan salah seorang di antara kami.’” Lalu, beliau bertanya, “Tahukah kamu, siapakah orang yang celaka itu?” Para shshabat Radhiyallahu ‘anhum menjawab, “Engkau lebih tahu, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Orang yang celaka adalah orang yang meninggalkan shalatnya. Dia tidak memiliki bagian apapun di dalam Islam.”

Disebut dalam hadits yang lain, “Barangsiapa meninggalkan shalat tanpa alasan yang bisa diterima dalam syari’at, maka pada Hari Kiamat Allah Subhaanahu wata’ala tidak akan mempedulikannya, bahkan Allah Subhaanahu wata’ala akan menyiksanya dengan azab yang sangat pedih.”

Hadits lain juga menyebutkan, “Ada sepuluh orang yang akan disiksa sangat keras, di antaranya orang yang meninggalkan shalat. Tangannya akan dibelenggu, muka dan punggungnya akan dipukuli para malaikat (dari depan dan dari belakang). Surga berkata kepada mereka, “Kamu tidak memiliki hubungan apa pun denganku. Aku bukan untukmu dan kamu bukan untukku!” Jahannam berkata, “Mari, kemari! Mendekatlah kepadaku! kamu untukku dan aku untukmu!” Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa di neraka terdapat suatu lembah yang bernama Lam-lam. Di dalamnya ada seekor ular sebesar leher unta dan panjangnya sebulan perjalanan. Ular itu diciptakan untuk menyiksa orang-orang yang meninggalkan shalat. Hadits lain menyebutkan bahwa di neraka ada sebuah lembah bernama Jubbul Hazan. Ini adalah rumah-rumah kalajengking. Seekor kalajengking sama besar dengan seekor keledai. Kalajengking itu diciptakan untuk menyengat orang-orang yang meinggalkan shalat. Memang, Allah Subhaanahu wata’ala maha mengampuni dosa hamba-Nya, tetapi ampunan Allah Subhaanahu wata’ala adalah semata-mata kehendak-Nya.

Di dalam Kitab Az-Zawajir, Syaikh Ibnu Hajar Rahmatullah ‘alaih menulis, seorang wanita meninggal dunia, lalu saudara laki-lakinya ikut dalam pengebumiannya. Ketika penguburan, dompetnya terjatuh ke liang kubur. Ketika itu ia tidak menyadarinya, tetapi kemudian ia teringat dan sedih. Dengan diam-diam ia membongkar kubur saudara perempuannya utuk mengambil dompetnya. Baru saja dibongkar, kubur itu penuh dengan kobaran api. Lalu sambil menangis ia kembali kepada ibunya dan menceritakan semua kejadian yang dia lihat. Dia bertanya kepada ibunya, “Mengapa hal itu terjadi?” Ibunya menjawab, “Saudara perempuanmu malas mengerjakan shalat dan selalu mengerjakannya di luar waktunya.”

Semoga Allah Subhaanahu wata’ala menjaga diri kita dari perbuatan tersebut.

Hadits Ke-9

Dari Sayyidina Abu Hurairah Rahiyallahu ‘anhu, ia mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang tidak mengerjakan shalat, dan tidak ada shalat bagi orang yang tidak berwudhu.” (H.R Bazzar dan Hakim)

Imam Thabarani Rahmatullah ‘alaih juga meriwayatkan dari Sayyidina Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak shalat, dan sesungguhnya kedudukan shalat dalam Islam seperti kepala pada badan.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Faidah

Seorang yang tidak shalat, tetapi mengaku muslim atau pembela Islam, hendaknya ia memikirkan sabda-sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang yang memimpikan kesuksesan orang-orang terdahulu, hendaklah meneliti keadaan mereka. Betapa teguh mereka berpegang pada agama, sehingga dunia tunduk di bawah telapak kaki mereka.

Suatu ketika mata Sayyidina Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma terus-menerus mengeluarkan cairan, orang-orang berkata kepadanya, “Engkau dapat sembuh asalkan meninggalkan shalat untuk beberapa hari!” Ia langsung menyahut, “Ini tidak mungkin, karena aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa meninggalkan shalat, niscaya ia akan menjumpai Allah Subhaanahu wata’ala dalam keadaan murka.’”

Riwayat lain menyebutkan bahwa mereka menasihatinya agar bersujud di atas bangku selama lima hari. Ia menjawab, “Sungguh, cara itu tidak akan aku lakukan walaupun dalam satu rakaat.” Menurut para shahabat Radhiyallahu ‘anhum lebih baik mereka buta seumur hidup daripada meninggalkan cara yang sempurna dalam shalat. Padahal menurut syari’at, dalam udzur seperti itu ada keringanan.

Pada akhir hayat Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu, ketika ditikam belati, dia banyak mengeluarkan darah dan sering pingsan, dan akhirnya dia wafat. Meskipun sakitnya demikian parah, jika tiba waktu shalat, dia dibangunkan untuk mengerjakan shalat. Dalam keadaan seperti itu, dia langsung bangkit untuk shalat seraya berkata, “Ya! Ya! Harus. Sesungguhnya barangsiapa tidak mengerjakan shalat, ia tidak mendapatkan bagian apa pun di dalam Islam.” Kita beranggapan bahwa cara menyayangi orang sakit adalah tidak membebaninya dengan shalat, biarlah nanti diganti dengan fidyah. Sedangkan menurut para shahabat Radhiyallahu ‘anhum, bentuk kasih sayang untuk orang sakit adalah menyuruhnya untuk tetap beribadah sekuat tenaga.

Lihatlah perbedaan jalan, dari mana dan sedang kemana engkau pergi

Suatu ketika Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu meminta seorang hamba sahaya kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membantu pekerjaannya. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ini ada tiga hamba sahaya. Pilihlah mana yang kamu sukai!” Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Engkau saja yang memilih, ya Rasulullah.” Lalu, beliau memilih seorang hamba sahaya dan bersabda, “Dia selalu menjaga shalatnya. Kamu jangan memukulnya. Kita dilarang memukul orang yang menjaga shalatnya.” Kisah seperti ini, juga terjadi pada Sayyidina Abul Haitsam Radhiyallahu ‘anhu, yaitu ketika ia meminta hamba sahaya kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan yang terjadi pada zaman ini, jika seorang pekerja kita menjaga shalatnya, maka kita akan mencacinya dan menganggap shalatnya sebagai beban yang menyusahkan kita.

Syaikh Sufyan Ats-Tsauri Rahmatullah ‘alaih pernah berdiam di rumahnya selama tujuh hari tanpa makan, minum, dan tidur sedikit pun. Seseorang mengadukan tentang dirinya kepada gurunya. Gurunya bertanya, “Apakah ia menjaga waktu shalat?” Orang itu menjawab, “Ya, ia tetap menjaga waktu shalat.” Gurunya menyahut,

“Segala puji bagi Allah Subhaanahu wata’ala yang tidak memberi jalan kepada setan untuk menguasainya!” (dari Kitab Bahjatun Nufuus)

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kesatu “Pentingnya Shalat” Pasal 2 : Hadits-Hadits tentang Ancaman dan Celaan Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat ~ Keutamaan Wudhu yang Diteruskan dengan Shalat Sunnah (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Keutamaan Shalat Isyraq

Dalam beberapa riwayat, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat pada permulaan pagi, maka Aku akan menyempurnakan semua keperluanmu hari itu.” Dalam Kitab Tanbiihul Ghaafilin terdapat sebuah hadits yang berbunyi, “Shalat adalah penyebab keridhaan Allah Subhaanahu wata’ala. Shalat itu dicintai malaikat, shalat adalah amalan para Nabi Alaihimus salam, shalat akan menhasilkan nur ma’rifatullah, menyebabkan doa terkabul, memberkahkan rezeki, akar keimanan, menyehatkan badan, senjata melawan musuh, pembela bagi orang yag mengamalkannya, cahaya dalam kubur, penghibur hati dari keresahan kubur, penolong dalam menjawab pertanyaan Munkar Nakir, pelindung dari panas Hari Kiamat, cahaya dalam kegelapan, perisai dari api neraka, memberatkan amal kebaikan saat ditimbang, mempercepat ketika melewati Shirat, dan shalat adalah kunci surga.”

Hafizh Ibnu Hajar Rahmatullah ‘alaih menulis dalam Kitab Al-Munabbihat, Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Allah Subhanahu wata’ala memberikan sembilan karunia kepada siapa saja yang menjaga shalat dan memperhatikan waktunya, yaitu: (1) Allah Subhaanahu wata’ala mencintainya, (2) merasakan nikmat kesehatan, (3) dilindungi para malaikat, (4) rumahnya diberkahi, (5) nur keshalihan bersinar dari wajahnya, (6) hatinya menjadi lembut, (7) melewati Shirat secepat kilat, (8) diselamatkan dari neraka, dan (9) akan bertetangga dengan orang yang difirmankan Allah Subhaanahu wata’ala dalam Al-Qur’an:

“(Pada Hari Kiamat) Tidak ada ketakutan begi mereka dan tidak pula mereka bersedih.” (Q.S. Al-Baqarah: 38)

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat adalah tiang agama dan memiliki sepuluh kebaikan, yaitu (1) mencerahkan wajah, (2) cahaya hati, (3) menyehatkan dan menyegarkan badan, (4) penenang dalam kubur, (5) penyebab turunya rahmat Allah Subhaanahu wata’ala, (6) kunci (pembuka khazanah) langit, (7) memberatkan timbangan amal baik, (8) jalan menuju keridhaan Allah Subhaanahu wata’ala, (9) harganya surga, dan (10) pelindung dari neraka.” Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat berarti menegakkan agama. Barangsiapa meninggalkannya, berarti meruntuhkan agama.” Hadits lain menyebutkan, “Shalat (sunnah) di dalam rumah adalah nur. Sinarilah rumahmu dengan shalat (sunnah).” Sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang masyhur, “Pada Hari Kiamat kelak, disebabkan wudhu dan sujud mereka, tangan, kaki, dan wajah mereka akan bercahaya sehingga mereka menjadi istimewa dari umat yang lain.” Hadits lain menyatakan, “Jika azab akan diturunkan dari langit, orang yang memakmurkan masjid akan terhindar dari azab tersebut.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Allah Subhaanahu wata’ala telah mengharamkan Neraka Jahannam membakar bekas-bekas sujud (Jika karena suatu amal buruk lalu seseorang dimasukkan ke neraka, maka bekas-bekas sujud dari anggota badannya tidak akan disentuh oleh api neraka). Diriwayatkan juga, “Shalat akan menghitamkan muka setan dan sedekah mematahkan tulang punggungnya.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Hadits yang lain menyebutkan, “Shalat adalah obat.” Ada sebuah kisah mengenai hal ini. Ketika Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu tidur tengkurap, beliau bertanya, “Apakah perutmu sakit?” Sayyidina Abu Hurairah Rahiyallahu ‘anhu menjawab, “Benar, ya Rasulullah!” Beliau bersabda, “Bangun dan Shalatlah! Karena di dalam shalat ada obat.” (dari Kitab Tafsir Ibnu Katsir)

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kesatu “Pentingnya Shalat” Pasal 2 : Hadits-Hadits tentang Ancaman dan Celaan Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat ~ Keutamaan Shalat Isyraq (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Orang-Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab

Sayyidatina Asma’ Radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pada Hari Kiamat, semua orang akan dikumpulkan di suatu tempat. Suara yang diumumkan oleh malaikat pasti akan terdengar oleh semua orang. Malaikat mengumumkan, ‘Dimanakah orang yang selalu mengingat dan memuji Allah Subhaanahu wata’ala dalam keadaan senang atau susah?’ Mendengar pengumuman itu, sekelompok manusia berdiri dan masuk surga tanpa hisab. Lalu, malaikat akan mengumumkan lagi, ‘Dimanakah orang yang sibuk beribadah pada malam hari dan menjauhkan diri dari tempat tidurnya?’ Sekelompok menusia bangun dan masuk surga tanpa hisab. Kemudian malaikat mengumumkan lagi, ‘Dimanakah orang yang perdagangan dan jual belinya tidak melalaikannya dari mengingat Allah Subhaanahu wata’ala?’ Kemudian sekelompok manusia bangun dan masuk surga tanpa hisab. Kisah ini juga diriwayatkan dalam hadits lain dengan tambahan, bahwa akan diumumkan, ‘Penduduk Mahsyar akan melihat siapakah orang yang mulia?’ Kemudian akan diumumkan lagi, ‘Mereka adalah orang yang kesibukkan perdagangannya tidak menghalangi dia dari mengingat Allah Subhaanahu wata’ala dan dari mendirikan shalat’” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Syaikh Nashr Samarqandi Rahmatullah ‘alaih juga menulis hadits ini dalam Kitab Tanbiihul Ghaafilin. Ia menambahkan bahwa setelah orang-orang itu masuk surga tanpa hisab, muncullah dari Jahannam seekor binatang yang lehernya panjang, matanya berkilat, fasih berbicara, lalu binatang itu melompat kea rah manusia sambil berkata, “Aku diperintahkan untuk mengambil orang-orang yang sombong dan buruk akhlaknya!” Kemudian binatang itu mematuk sekelompok manusia seperti seekor binatang mematuk biji-bijian, lalu melempar mereka ke neraka. Selanjutnya ia keluar lagi dan berakata, “Kini aku diutus kepada setiap orang yang membuat Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya murka!” Lalu, orang-orang yang dicari itu dipatuknya lalu dilempar ke Jahannam. Kemudian ia muncul lagi dan mematuk orang-orang yang suka menggambar dan melukis (makhluk hidup). Lalu, orang-orang yang dicari itu dipatuknya lalu dilempar ke Jahannam. Setelah ketiga golongan itu masuk neraka, barulah hisab dimulai.

Diceritakan pada zaman dahulu, setan dapat dilihat oleh mata manusia. Seseorang berkata kepada setan, “Beritahukan kepadaku, bagaimanakah caranya agar aku dapat menjadi seperti dirimu?” Setan berkata, “Sampai hari ini, tidak ada seorang pun yang bertanya seperti itu padaku. Apa maksudmu?” Orang itu menjawab, “Hatiku menginginkannya.” Setan berkata, “Caranya, bermalas-malaslah dalam shalat dan bersumpahlah sekehendakmu, baik benar maupun dusta.” Orang itu menyahut, “Demi Allah! Aku berjanji tidak akan bermalas-malasan dalam shalat dan tidak akan bersumpah.” Sahut setan, “Sungguh aku belum pernah berbicara dengan orang secerdik kamu. Aku berjanji, sekali-kali aku tidak akan lagi menasihati seorang manusia pun.”

Sayyidina Ubay Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Berilah kabar gembira kepada umat ini, mereka akan mendapatkan kemuliaan, kehormatan, kedudukan di muka bumi serta kemenangan agama. Namun, mereka yang menggunakan agamanya demi tujuan dunia tidak akan mendapatkan apa-apa di akhirat.’” (dari Kitab At-Targhib wat-Tarhib)

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku pernah melihat Dzat Allah Yang Maha Indnah. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman kepadaku, ‘Wahai Muhammad, apa yang diperbindangkan oleh para malaikat?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, ya Allah.’ Lalu, Allah Subhaanahu wata’ala menurunkan keberkahan-Nya di dadaku, sehingga dadaku terasa sejuk, dan dengan keberkahan-Nya itu Allah Subhaanahu wata’ala memperlihatkan seluruh alam ini di depan mataku, kemudian Dia berfirman, ‘Kini jawablah tentang apa yang diperbincangkan oleh para malaikat itu?’ Aku menjawab, ‘Mereka berbincang-bincang tentang hal-hal yang meninggikan derajat, hal-hal yang menhilangkan dosa, pahala bagi setiap langkah kaki yang menuju masjid untuk shalat berjamaah, pahala berwudhu dengan sempurna pada musim dingin, dan pahala menunggu di antara dua waktu shalat. Barangsiapa benar-benar memperhatikan hal itu, mereka akan hidup dalam keadaan terbaik dan akan mati dalam keadaan terbaik.’”

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kesatu “Pentingnya Shalat” Pasal 2 : Hadits-Hadits tentang Ancaman dan Celaan Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat ~ Orang-Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Mengumpulkan Dua Shalat Tanpa Udzur adalah Dosa Besar

Hadits Ke-5

Dari Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengumpulkan dua shalat tanpa udzur dalam satu waktu, sungguh ia telah memasuki salah satu pintu dari pintu-pintu dosa besar.” (H.R. Hakim, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan melambatkan tiga hal; jangan melambatkan shalat jika sudah waktunya, jangan melambatkan menguburkan jenazah jika sudah siap, dan jangan melambatkan menikahkan seorang wanita yang tidak bersuami jika sudah ditemukan jodohnya.”

Banyak orang yang mengaku sebagai orang yang taat beragama dan berdisiplin menjaga shalat, namun terkadang mereka mengqadha shalat-shalat mereka di rumah masing-masing dengan alasan perjalanan, sibuk berdagang, atau bekerja. Jika mereka melakukan hal itu tanpa udzur, berarti mereka telah terjerumus ke dalam dosa besar. Karena mereka melakukan shalat tidak pada waktunya. Memang dosanya tidak seperti dosa meninggalkan shalat sama sekali, namun shalat tidak pada waktunya juga termsuk dosa besar.

Hadits Ke-6

Dari Sayyidina Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya suatu hari beliau membicarakan masalah shalat, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa menjaga shalat, shalatnya akan menjadi cahaya, pembela, dan penyelamat baginya pada Hari Kiamat. Barangsiapa tidak menjaga shalatnya, niscaya tidak ada cahaya, pembela, dan penyelama baginya pada Hari Kiamat, dan pada Hari Kiamat ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (H.R. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Thabarani, dari Kitab Durrul Mantsur)

Faidah

Semua orang pasti mengetahui siapakah Fir’aun dan bagaimana tingkat kekufurannya sehingga ia mengaku dirinya sebagai Tuhan. Haman adalah menterinya. Sedangkan Ubay bin Khalaf ialah musuh besar Islam dari Kaum Musyrikin Makkah. Sebelum Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah, Ubay bin Khalaf pernah berkata kepada beliau, “Aku telah memelihara seekor kuda dan memberinya makanan yang banyak, dan dengan menunggang kuda itu aku akan membunuhmu, hai Muhammad!” (Na’udzubillaahi min dzalik). Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menanggapi, “Insyaallah aku yang akan membunuhmu!”

Ketika terjadi Perang Uhud, Ubay bin Khalaf mencari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Jika Muhammad lolos dariku hari ini, maka tidak ada kebaikan bagiku untuk tetap hidup!” Ketika ia menemukan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, para shahabat Radhiyallahu ‘anhum hendak membunuhnya dari jauh, tetapi Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mencegah mereka, “Biarkan ia mendekat!” Ketika Ubay bin Khalaf sudah mendekat, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menarik sebilah tombak dari salah seorang shahabat, lalu beliau melemparkannya kea rah Ubay dan berhasil menggores lehernya. Meskipun hanya tergores sedikit, Ubay terjungkal dari kudanya. Selanjutnya sambil jatuh bangun ia berlari kepada pasukannya seraya berteriak, “Demi Tuhan! Muhammad telah membunuhku!” Meskipun teman-temannya menenangkan dia dengan berkata, “Jangan khawatir, itu hanya goresan!”, dia tetap meyakini ucapan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika di Makkah (‘Isyaallah aku yang akan membunuhmu!’). “Demi Tuhan! seandainya Muhammad hanya meludahiku saja, aku pasti akan mati!” Ubay bin Khalaf terus berteriak seperti seekor sapi jantan. Abu Sufyan, yang saat itu menjadi panglima perang mereka, mencemooh Ubay dan berkata, “Cuma goresan kecil saja, mengapa kamu berteriak-teriak seperti itu?” Ubay menyahut, “Tahukah kamu, siapakah yag telah melukaiku? Dia adalah Muhammad. Aku bersumpah demi Latta dan Uzza! Seandainya penderitaanku ini dibagikan ke seluruh orang Hijaz, niscaya mereka akan binasa. Di Makkah, Muhammad telah berkata, ‘Aku akan membunuhmu!’ Saat itu pula aku yakin bahwa aku akan mati di tangannya. Aku tidak dapat lari darinya. Jika setelah berkata seperti itu Muhammad meludahiku saja, pasti aku akan mati saat itu juga.” Dalam perjalanan pulang, sehari sebelum tibah di Makkah, Ubay bin Khalaf pun tewas. (dari Kitab Khamis)

Perhatikanlah, seharusnya kita merasa cemburu dan menjadikan hal itu sebagai pelajaran bagi kita. Sekalipun Ubay bin Khalaf seorang kafir tulen, musuh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia sangat meyakini dan tanpa ragu sedikit pun terhadap ucapan beliau tentang kematian dirinya. Sementara kita yang mempercayai kenabian beliau, meyakini setiap ucapannya, mempercayai kepastian petunjuk-petunjuknya, mengaku sangat mencintainya, dan membanggakan diri sebagai umatnya, berapa banyak sabda-sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kita amalkan? Sejauh manakah kita takut terhadap ancaman azab yang disampaikan oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita? Setiap orang muslim seharusnya bercermin untuk mengoreksi diri masing-masing, sebelum ia membicarakan urusan orang lain.

Dalam Kitab Az-Zawajir Syaikh Ibnu Hajar Al-Makki Rahmatullah ‘alaih menulis kisah Qarun bersama Fir’aun dan yang lainnya. Dia menulis, bahwa orang yang malas melaksanakan shalat dibangkitkan bersama mereka, karena kebanyakan orang yang malas melaksanakan shalat, dalam diri mereka terdapat sifat-sifat yang ada pada Qarun, Fir’aun, dan yang lainnya. Jika seseorang yang melalaikan shalat karena sibuk mencari harta, akan dibangkitkan bersama Qarun. Jika seseorang melalaikan shalat karena kekuasaan dan pemerintahan, ia akan dibangkitkan bersama Fir’aun. Jika seseorang melalaikan shalat karena jabatan dan hubungan pergaulan, ia akan dibangkitkan bersama Haman. Jika seseorang melalaikan shalat karena perdagangan, ia akan dibangkitkan bersama perdagangan, ia akan dibangkitkan bersama Ubay bin Khalaf. Setelah ia dibangkitkan bersama orang-orang tersebut, azab bagi mereka pun sama, sebagaimana yang diterangkan dalam beberapa hadits. Meskipun kedudukan hadits tersebut masih diperbincangkan, tidak ada keraguan lagi bahwa azab Jahannam adalah azab yang paling pedih. Karena di dalam hatinya masih terdapat iman, maka suatu saat ia pasti dibebaskan dari Neraka Jahannam. Sedangkan Fir’aun, Qarun, Haman dan Ubay bin Khalaf, akan selamanya berada di neraka. Tetapi, kapan waktu keluar dari Neraka Jahannam? Bukan main-main, tidak diketahui berapa ribu tahun.

Hadits Ke-7

Sebagian ulama mengatakan bahwa disebutkan dalam hadits, “Barangsiapa menjaga shalatnya, niscaya Allah Subhaanahu wata’ala akan memuliakkannya dengan lima perkara: (1) dihilangkan kesempitan rezekinya, (2) diselamatkan dari azab kubur, (3) diberikan catatan amal melalui tangan kanannya (keadaannya telah diterangkan dalam Surat Al-Haaqqah secara terperinci, yaitu yang menerima catatan dari tangan kanan mereka sangat gembira dan menunjukkannya kepada setiap orang), (4) melintasi Shirat seperti kilat, (5) masuk surga tanpa hisab.

Barangsiapa yang malas dalam shalat, Allah Subhaanahu wata’ala akan menyiksanya dengan lima belas siksa. Lima sika di dunia, tiga siksa ketika mati, tiga siksa dalam kubur, dan tiga siksa saat dibangkitkan.

Lima siksa ketika berada di dunia, yaitu (1) dicabut keberkahan umurnya, (2) dihapus ciri-ciri keshalihan dari wajahnya, (3) seluruh amal perbuatannya tidak diberi pahala oleh Allah Subhaanahu wata’ala, (4) doanya tidak diangkat (diterima), (5) tidak mendapat bagian dari doa orang-orang shalih.

Tiga siksa ketika kematian: (1) mati dalam kehinaan, (2) mati dalam kelaparan, (3) mati dalam kehausan, walaupun diminumkan kepadanya seluruh air lautan di dunia ini tidak akan menghilangkan rasa dahaganya.

Tiga siksa dalam kubur: (1) dihimpit oleh kuburnya sehingga tulang rusuk kiri dan kanannya saling bersilangan, (2) dinyalakan api dalam kuburnya, dan ia berguling-guling dalam api itu siang dan malam, (3) Allah Subhaanahu wata’ala memasukkan ke dalam kuburnya ular berbisa bernama Syuja’ul Aqra’ yang kedua matanya dari api dan kuku-kukunya dari besi yang panjang setiap kukunya sepanjang sehari perjalanan. Ular itu akan memekik kepadanya dengan suara seperti halilintar yang menyambar, ‘Aku adalah Syuja’ul Aqra’! Tuhanku telah menyuruhku agar memukulmu (dari Shubuh sampai terbit matahari) karena kamu telah melalaikan Shalat Shubuh hingga terbit matahari. (Memukulmu dari Zhuhur sampai Ashar) sebab kamu telah melalikan Shalat Zhuhur sampai Ashar. (Memukulmu dari Ashar sampai Maghrib) sebab kamu telah melalaikan Shalat Ashar sampai Maghrib. (Memukulmu dari Maghrib sampai Isya’) karena kamu telah melalikan Shalat Maghrib sampai Isya’. (Memukulmu dari Isya’ sampai Shubuh) karena kamu telah melalaikan Shalat Isya’ sampai Shubuh!’ Setiap pukulan akan membenamkannya ke tanah sedalam tujuh puluh hasta. Dia terus disiksa seperti ini dalam kuburnya sampai Hari Kiamat.

Tiga siksa pada hari Kebangkitan, yaitu (1) dihisab dengan sangat berat, (2) dimurkai oleh Allah Subhaanahu wata’ala, (3) dilemparkan ke dalam neraka. (Semua berjumlah 14, satu tidak disebutkan oleh perawi).

Riwayat lain menyebutkan, barangsiapa melalikan shalat, ia akan datang pada Hari Kiamat dan tertulis di wajahnya tiga baris tulisan, yaitu baris pertama: ‘Wahai orang yang menyia-nyiakan hak Allah!,’ bari kedua: ‘Wahai orang yang dikhususkan untuk menerima murka Allah Subhaanahu wata’ala!’, dan baris ketiga: ‘Sebagaimana kamu telah menyia-nyiakan hak Allah Subhaanahu wata’ala di dunia, maka hari ini kamu berputus asa dari rahmat Allah Subhaanahu wata’ala.’” (dari Kitab Az-Zawajir, karya Ibnu Hajar Al-Makki Rahmatullah ‘alaih)

Faidah

Meskipun saya tidak menjumpai hadits ini dalam seluruh kitab hadits terkumpul jadi satu riwayat, namun mengenai pahala dan azab dalam hadits ini banyak dikuatkan oleh hadits-hadits lain dengan riwayat yang berbeda-beda. Sebagian hadits telah disebutkan dan yang lain akan disebutkan di bawah ini. Siksa-siksa yang telah disebutkan dalam hadits tersebut adalah kecil dibandingkan dengan ancaman yang dikandung dalam riwayat pertama yang menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat telah keluar dari Islam. Yang pasti, apapun siksa yang telah disebutkan atau yang akan disebutkan, adalah merupakan balasan yang semestinya mereka terima dari perbuatannya. Akan tetapi, walaupun mereka berhak mendapatkan siksa, peluang untuk diampuni masih ada. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisa’: 116)

Disebutkan dalam beberpa hadits bahwa pada Hari Kiamat Allah Subhaanahu wata’ala berkenan mengampuni, maka sungguh bernasib mujurlah orang itu.

Disebutkan dalam beberapa hadits bahwa pada Hari Kiamat Allah Subhaanahu wata’ala akan mengadakan tiga siding pengadilan:

  1. Pengadilan antara kufur dan Islam yang di dalamnya tidak ada pengampunan sama sekali.
  2. Pengadilan hak-hak sesama hamba, orang yang punya tanggungan harus membayar tanggungannya kecuali bila dimaafkan oleh orang yang punya hak.
  3. Pengadilan terhadap kewajiban dalam menunaikan hak-hak Allah Subhaanahu wata’ala. Dalam siding ini, pintu ampunan Allah Subhaanahu wata’ala terbuka lebar. Atas dasar ini, hendaknya kita memahami bahwa segala perbuatan kita ada balasannya. Namun, kasih sayang Sang Maha Raja tidak terbatas.

Masih banyak lagi hadits yang menerangkan jenis azab dan pahala Allah Subhaanahu wata’ala di akhirat kelak. Dalam Kitab Shahih Bukhari disebutkan biasanya ba’da Shalat Shubuh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para shahabatnya, barangkali di antara mereka ada yang bermimpi. Jika ada, beliau akan menerangkan makna mimpi tersebut. Suatu hari, seusai bertanya kepada para shahabatnya, beliau bercerita, “Tadi malam aku bermimpi, ada dua orang mendatangiku, lalu mereka membawaku pergi.” Selanjutnya Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan mimpi beliau yang panjang, yaitu tentang surga dan neraka dengan berbagai macam orang yang disiksa di dalamnya. Di antaranya beliau melihat seseorang membawa sebongkah batu besar, lalu memukulkannya ke kepalanya sendiri dengan keras sehingga batu itu terlempar jauh dan kepalanya hancur. Kemudian, ia bangun lagi dan kepalana utuh kembali, lalu ia mengambil batu tadi dan memukulkannya kembali ke kepalanya sendiri sehingga kepalanya hancur lagi, dan batu itu terlempar lagi. Demikianlah seterusnya. Melihat hal itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kedua pengiringnya, “Siapakah dia?” Keduanya memberitahu bahwa dia adalah orang yang telah belajar Al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya dan dia tidur tanpa mendirikan shalat fardhu.

Dalam hadits lain yang semakna dengan kisah di atas disebutkan bahwa Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bermimpi melihat segolongan orang yang disiksa seperti di atas. Beliau bertanya kepada Malaikat Jibril Alaihis salam. Lalu Malaikat Jibril Alaihis salam menjelaskan bahwa mereka adalah orang yang malas mengerjakan shalat. (dari Kitab At-Targhib). Syaikh Mujahid Rahmatullah ‘alaih berkata, “Orang yag menjaga waktu shalat akan mendapat keberkahan seperti keberkahan Nabi Ibrahim Alaihis salam dan anak-anaknya.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Sayyidinda Anas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan beriman yang murni, beribadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala, mendirikan shalat, membayar zakat, maka ia meninggal dunia dalam keadaan Allah Subhaanahu wata’ala meridhainya.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Sayyidina Anas Rahdiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, “Aku ingin menurunkan azab di suatu tempat (Maksudnya tempat tersebut merupakan tempat yang layak diazab, karena banyaknya maksiat.), tetapi Aku melihat di sana ada orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid, saling berkasih sayang semata-mata karena Allah Subhaanahu wata’ala, dan pada akhir malam mereka beristighfar memohon ampunan, maka Aku menangguhkan azab tersebut.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Sayyidina Salman Radhiyallahu ‘anhu: Perbanyaklah waktumu di masjid. Aku mendengar Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Masjid adalah rumah para muttaqin (orang-orang yang bertakwa), dan Allah Subhaanahu wata’ala telah berjanji, ‘Bagi orang-orang yang banyak meluangkan waktunya di masjid Aku akan mencurahkan rahmat-Ku kepada mereka, Aku akan memberikan ketenangan kepada mereka, aku akan memudahkan mereka melewati Shirat pada Hari Kiamat, dan Aku akan meridhai mereka.’

Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Masjid adalah rumah Allah Subhaanahu wata’ala. Barangsiapa bertamu ke sebuah rumah, maka pemilik rumah akan memuliakannya. Barangsiapa mendatangi masjid, pasti Allah Subhaanahu wata’ala juga akan memuliakannya.” Sayyidina Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mencintai masjid, Allah Subhaanahu wata’ala akan mencintainya.”

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Ketika seseorang yang telah mati diletakkan di dalam liang kubur, dan sebelum para pengiringnya kembali dari perkuburan, malaikat akan datang untuk menanyainya. Jika ia seorang mukmin, maka shalat akan mendekati kepalanya, zakat di sisi kanannya, puasa di sisi kirinya, dan amal shalih lainnya di kakinya, sehingga tidak ada satu pun malaikat (penanya kubur) tersebut yang dapat mendekatinya. Malaikat tersebut akan berdiri dan bertanya dari jauh.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Seorang shahabat berkata, “Jika keluarga Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami kesulitan, beliau akan menyuruh mereka untuk mendirikan shalat sambil membaca ayat:

“Suruhlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akhir yangbaik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Thaahaa: 132)

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kesatu “Pentingnya Shalat” Pasal 2 : Hadits-Hadits tentang Ancaman dan Celaan Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat ~ Mengumpulkan Dua Shalat Tanpa Udzur adalah Dosa Besar (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Ketinggalan Satu Shalat Seolah-olah Kehilangan Seluruh Harta dan Keluarga

Hadits Ke-4

Dari Sayyidina Naufal bin Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa terlewatkan olehnya satu shalat, seolah-olah telah kehilangan seluruh keluarga dan hartanya.” (H.R. Ibnu Hibban, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Biasanya, shalat terabaikan karena sibuk dengan urusan keluarga atau sibuk mencari harta. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika harta sudah melalikan satu shalat saja, maka kita harus bersedih seolah-olah sudah hilang seluruh keluarga dan harta kita, sehingga kita tinggal seorang diri.” Jadi, seberapa banyak kita merasa rugi dan bersedih jika kita kehilangan seluruh keluarga dan harta kita, sebanyak itu pula hendaknya kita merasa rugi dan bersedih jika kehilangan satu shalat. Jika ada seseorang yang terpercaya memperingatkan bahwa di suatu jalan ada perampok, siapa pun yang melewati jalan itu tengah malam pasti akan dibunuh dan diambil hartanya oleh perampok itu, maka, seorang pemberani pun akan takut melewati jalan itu. Jangankan malam hari, siang hari pun dia akan takut melewati jalan itu. Sedangkan peringatan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai bahanya meninggalkan shalat bukan hanya satu atau dua kali, melainkan berulang-ulang. Kita adalah orang Islam yang telah mengakui kebenaran beliau dengan mulut kita, namun apa kesan sabda beliau pada diri kita? Setiap orang mengetahui keadaan dirinya masing-masing.

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kesatu “Pentingnya Shalat” Pasal 2 : Hadits-Hadits tentang Ancaman dan Celaan Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat ~ Ketinggalan Satu Shalat Seolah-olah Kehilangan Seuruh Harta dan Keluarga (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Mementingkan Shalat dan Mendidik Anak

Hadits Ke-3

Dari Sayyidina Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepadaku sepuluh perkara. Beliau bersabda, ‘(1) Janganlah enyekutukan Allah Subhaanahu wata’ala dengan apapun, meskipun kamu dibunuh atau dibakar, (2) janganlah mendurhakai orang tuamu, meskipun mereka memerintahkan kamu harus berpisah dengan istri dan hartamu, (3) janganlah sekali-kali sengaja meninggalkan shalat fardhu, karena sesungguhnya orang yang sengaja meninggalkan shalat fardhu telah terlepas dari jaminan Allah Subhaanahu wata’ala, (4) janganlah minum khamer, sesungguhnya ia pangkal segala keburukan, (5) jauhilah maksiat, karena maksiat menyebabkan murka Allah Subhaanahu wata’ala, (6) janganlah lari dari medan perang, walaupun teman-temanmu gugur, (7) tetaplah di tempatmu, kendatipun wabah penyakit (seperti wabah pes dan lain-lain) menimpa orang-orang, (8) nafkahilah keluargamu, (9) janganlah tinggalkan tongkatmu (rotan) untuk mendidik anak-anakmu, dan (10) takut-takutilah mereka kepada Allah Subhaanahu wata’ala (supaya tidak berbuat keburukan).’” (H.R. Ahmad, Thabarani, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Maksud jangan tinggalkan rotan adalah jangan sampai seorang ayah lengah ketika anak berbuat kesalahan dengan tidak mengingatkan dan tidak memukulnya. Bahkan, ketika berbuat kesalahan kadang-kadang anak harus dipukul dengan pukulan yang diperbolehkan oleh syari’at. Karena sering kali, jika tanpa pukulan, peringatan kita kurang diperhatikan. Dewasa ini, dengan alasan kasih sayang, kita tidak berani menegur anak kita jika mereka berbuat salah. Ketika anak sudah terbiasa dengan perbuatan buruk, barulah kita menangis penuh penyesalan. Sebetulnya yang demikian itu bukan kasih sayang terhadap anak. Justru memrupakan kesalahan jika memukul anak (untuk mendidik) dianggap bertentangan dengan makna kasih sayang. Orang bijak manakah yang dapat menerima bahwa bisu kecil yang bertambah banyak pada anak-anak tidak perlu diobati, dengan alasan kasihan melihat anak itu menangis, karena merasa perih jika dibubuhi serbuk obat? Meskipun ratusan ribu anak akan menangis, memalingkan muka, dan lari, kita harus tetap membubuhkan serbuk obat.

Banyak sekali hadits Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan bahwa anak usia tujuh tahun hendnaknya disuruh mendirikan shalat. Jika mereka mencapai usia sepuluh tahun, hendaklah dipukul ketika mereka meninggalkan shalat. (dari Kitab Surrul Mantsur)

Sayidina Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Perhatikanlah shalat anak-anak kalian, dan biasakanlah mereka dengan amal shalih.” Lukman Hakim berkata, “Pukulan seorang ayah kepada anaknya, laksana air yang menyirami kebun.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Peringatan seseorang kepada anak-anaknya ketika bersalah, itu lebih baik daripada bersedekah satu sha’ (Kurang lebih 2,5 kilogram.).” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah Subhaanahu wata’ala merahmati orang yang menggantungkan cemeti untuk memperingatkan (mendidik) keluarganya.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir). Beliau pun bersabda, “Tidak ada pemberian yang lebih baik dari seorang ayah kepada anaknya daripada pengajaran akhlak yang baik.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kesatu “Pentingnya Shalat” Pasal 2 : Hadits-Hadits tentang Ancaman dan Celaan Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat ~ Mementingkan Shalat dan Mendidik Anak (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site