KATA PENGANTAR PENERJEMAH


Kata Pengantar

Penerjemah

bismillahSegala puji bagi Allah Subhaanahu wata’ala. Shalawat dan salam yang sempurna, semoga dilimpahkan kepada sebaik-baik makhluk, yang nurnya menerangi hati manusia, dan kedatangannya merupakan rahmat untuk seluruh alam, yaitu Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Penyeragaman

Dalam Pertemuan Umat Islam (Ijtima’ Indonesia) tahun 2009 di Serpong Tanggerang Banten, para Masyaikh Dakwah memberi arahan dan nasihat agar dilakukan penyeragaman naskah terjemahan Kitab Fadhilah Amal di Indonesia.

Untuk mewujudkan maksud tersebut, dibentuklah Tim Penerjemah yang selanjutnya melakukan penerjemahan Kitab Fadhilah Amal dari bahasa aslinya (Bahasa Urdu, bahasa yang dipakai oleh lebih 300 juta umat Islam di India dan Pakistan) dengan menjadikan terjemahan Kitab Fadhilah Amal yang telah ada sebagai perbandingan.

Untuk lebih menjaga adab, dalam penerjemahan kali ini pujian untuk Allah, Shalawat untuk Baginda Nabi dan para nabi yang lain, doa untuk para shahabat, para tabi’in, dan orang-orang shalih lainnya ditulis lengkap dengan tulisan latin. Demikian juga untuk menghormati dan memuliakan orang-orang shalih, penerjemah menambahkan penulisan Baginda di depan nama Rasulullah, Sayyidina di depan nama Shahabat dan Syaikh, Imam, atau Allamah di depan nama Tabi’in dan para ulama terdahulu lainnya.

Sedangkan untuk membantu memudahkan pembaca, penerjemah lebih mengedepankan subtansi kalimat (isi atau makna kalimat), bukan semata-mata secara tekstual (kata per kata). Disamping itu, di beberapa bagian ditambahkan catatan kaki untuk menerangkan ungkapan, kata, istilah, dan kalimat tertentu.

Demikian juga, dilakukan penerjemahan terhadap syair-syair Bahasa Urdu dan Parsi dengan tetap mencantumkan teks aslinya. Untuk syair-syair Parsi, penerjemah meminta bantuan kepada ulama-ulama dari Pondok Pesantren Raiwind.

Kedudukan Kitab Fadhilah Amal

Kitab Fadhilah Amal adalah salah satu buku yang ditetappkan oleh para ulama pembimbing dakwah sebagai buku pegangan dalam halaqh ta’lim, disamping Kitab Fadhilah Sedekah, Muntakhab Ahadits, dan Hayatush Shahabah.

Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rahmatullah ‘alaih menulis dalam sebuah suratnya bahwa isi Kitab Fadhilah Amal ini bukanlah semata-mata pemikirannya. Tetapi ia menukil dari kitab-kitab yang sudah diakui secara umum di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Daftar nama-nama kitab tersebut disertakan dalam cetakan ini).

Dalam Daftar Rujukan Kitab Fadhilah Amal, dapat kita ketahui bahwa kitab yang tidak berbahasa Arab jumlahnya tidak lebih dari lima buah. Sedangkan selebihnya adalah kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak asing di kalangan ahli ilmu. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa tulisannya ini, bukanlah sebuah kitab yang baru, tetapi kumpulan kitab-kitab lama karya ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang ia tulis kembali dengan bahasa yang mudah dipahami.

Hadits Dha’if dalam Kitab Fadhilah Amal

Kebanyakan hadits dalam kitab ini adalah riwayat Shahih Sittah (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah). Selain itu, Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rahmatullah ‘alaih juga mengambil riwayat-riwayat lain untuk menambah dorongan beramal. Karena beberapa kemashlahatan, ia menyertakan sedikit hadits dha’if dalam kitab ini. Namun perlu diingat, ia bukan orang pertama –apalagi satu-satunya- yang mengumpulkan hadits-hadits dha’if bersama hadits-hadits shahih dalam satu kitab.

Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih, yang merupakan imamnya para ulama hadits, juga meriwayatkan hadits-hadits yang tidak memenuhi persyaratan keshahihan yang ia tetapkan. Dalam Kitab Shahih Bukhari, riwayat yang tidak memenuhi persyaratan itu, dikenal dengan Hadits Mu’allaqat. Dalam Kitab Al-Adabul Mufrad, ia juga memasukkan hadits-hadits dha’if di dalamnya. Alhamdulillah, hingga hari ini belum pernah ada yang menyalahkan Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih karena kitabnya, apalagi melarang pembacaanya dengan alasan berisi hadits dha’if. Imam-imam hadits yang lain pun meriwayatkan hadits-hadits dha’if dalam kitab-kitab mereka.

Dalam fatwanya, Imam Ramli Rahmatullah ‘alaih menjelaskan tentang pengalaman hadits dha’if. Imam Ramli Rahmatullah ‘alaih berkata, “Imam Nawawi mengatakan dalam banyak tulisannya bahwa sudah merupakan ijma’ dan kesepakatan para ulama, mengenai dibolehkannya pengamalan hadits dha’if dalam fadhilah-fadhilah amal dan semisalnya.” Bahkan, banyak juga para ulama, seperti Imam Ahmad Ibnu Hambal Rahmatullah ‘alaih, dan tokoh hadits lainnya, menggunakan hadits-hadits dha’if sebagai dalil di dalam hukum dengan seleksi tertentu. Hal ini bisa kita lihat dengan jelas apabila kita mempelajari Kutubus Sittah yang merupakan kitab-kitab hadits pokok di kalangan para ulama, dimana para imam menggunakan hadits-hadits dha’if sebagai dalil dalam hukum.

Disamping itu, banyak hadits yang oleh sebagian ulama diangap dha’if, tetapi oleh sebagian ulama lain dianggap shahih. Demikian juga, ada hadits-hadits yang dari segi riwayat diangap dha’if,, tetapi karena alasan tertentu hadits tersebut dianggap shahih dari segi makna, sehingga diberi istilah hadits shahih dalam maknanya. Maka, hadits-hadits dha’if yang ada dalam Kitab Fadhilah Amal ini adalah termasuk ke dalam kategori hadits yang bisa diterima. Ringkasannya, kita sebagai orang awam mesti memahami bahwa hadits-hadits dha’if itu masih sangat bernilai di kalangan para ulama secara umum, baik di kalangan ulama hadits, ulama fiqih, ulama tafsir, dan di kalangan disiplin ilmu Islam yang lain.

Ulasan tentang hadits dha’if di atas, sebenarnya sudah cukup dan jelas, baik bagi kita yang bermadzhab Imam Syafi’i maupun bukan. Namun, seandainya sebagian orang tetap berpendapat bahwa buku Fadhilah Amal ini tidak bisa diterima karena memasukkan beberapa hadits dha’if, marilah kita bercermin kepada para shahabat Radhiyallahu ‘anhum dalam berbeda pendapat.

Dari Syaikh Abdur Rahman bin Yazid Rahmatullah ‘alaih berkata, “Sayyidina ‘Utsman shalat di Mina empat rakaat (pada musim haji). Maka Sayyidina ‘Abdullah (bin Mas’ud) Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku shalat bersama Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dua rakaat, bersama Sayyidina Abu Bakar dua rakaat, bersama Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu dua rakaat…”

Imam A’masy Rahmatullah ‘alaih berkata, “Syaikh Mu’awiyah bin Qurrah Rahmatullah ‘alaih meriwayatkan dari para gurunya bahwa Sayyidina Abdullah Radhiyallahu ‘anhu shalat empat rakaat. Ia ditanya, ‘Engkau mencela Sayyidina Utsman, lalu engkau sendiri shalat empat rakaat?’ Ia menjawab, ‘Perselisihan itu lebih buruk.’”

Kedudukan Maulana Muhammad Zakariyya Rahmatullah ‘alaih di Kalangan Para Ulama

Walaupun Kitab Fadhilah Amal ini dalam bahasa aslinya (Bahasa Urdu) tidak mencantumkan biografi penyusunnya, namun dengan berbagai pertimbangan, kami merasa perlu untuk memperkenalkannya dalam edisi bahasa Indonesia ini. Karena Maulana Muhammad Zakariyya Rahmatullah ‘alaih masih asing di sebagian kalangan yang kurang terbiasa dengan kajian hadits dan ilmu hadits.

Saikhul Hadits Maulana Muhammad Zakariyya bin Maulana Muhammad Yahya bin Maulana Muhammad Ismail Rahmatullah ‘alaihim, lahir di kampong Kandahla Provinsi Uttar Pradesh India, pada 10 Ramadhan 1315 H. (12 Februari 1898 M.), di tengah keluarga yang terkenal dengan keshalihan dan ketaqwaan. Nasabnya sampai pada shahabat besar Sayyidina Abu Bakar Ash-Siddiq Radhiyallahu ‘anhu. Ia mulai menghapal Al-Qur’an dan belajar imu-ilmu dasar dari ayahnya sendiri. Ayahnya sangat memperhatikan hapalannya, sehingga ia memerintahkan anaknya membaca hapalannya hingga seratus kali. Bahkan, pada setiap hari, Zakariyya kecil tidak akan mendapatkan sarapan dari ibunya sebelum menghatamkan Al-Qur’an.

Dasar-dasar Bahasa Urdu dan Persia ia pelajari dari pamannya Maulana Muhammad Ilyas Rahmatullah ‘alaih (pengasas kerja-kerja dakwah di India). Ia mulai mempelajari Shahih Sittah pada usia 18 tahun dari ayahnya. Sedangkan dari Syaikh Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri Rahmatullah ‘alaih (penyusun Kitab Badzul Majhud, Syarah Sunan Abu Dawud), ia mempelajari Shahihan, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi, Muwaththa Imam Malik, Muwaththa Imam Muhammad bin Hasan, dan Syarah Ma’anil Atsar.

Pada usia 20 tahun, ia diangkat sebagai pengajar hadits di Pondok Pesantren Mazahirul Ulum Saharanpur. Pada mulanya, ia mengajar Kitab Misykatul Mashabih dan sebagian Kitab Shahih Bukhari dan Kitab Sunan Abu Dawud. Tidak lama kemudian, ia diangkat sebagai pimpinan para pengajar. Ia mengajar Kitab Shahih Bukhari secara sempurna. Sejak itulah ia dijuluki ‘Syaikhul Hadits’. Dalam hidupnya, ia banyak melakukan perjalanan ke Afrika, Pakistan, Arab Saudi, dan Negara-negara lain. Terakhir ia menjadi pengajar di Madrasah Ulum Syar’iyyah di Madinah Munawwarah dan memperoleh kewarganegaraan Arab Saudi.

Sejak bertemu dengan Syaikh Khalil Ahmad Saharanpuri Rahmatullah ‘alaih, ia diangkat sebagai sekretaris pribadi dalam penulisan Kitab Badzul Majhud Syarah Kitab Abu Dawud. Syaikh Khalil Rahmatullah ‘alaih melatihnya untuk menukil bahan dari berbagai kitab rujukan. Inilah permulaan karirnya untuk dalam dunia penulisan. Pada tahun 1344 H., ia menyertai Maulana Khalil berangkat haji.

Saat tinggal di Madinah, ia memulai penulisan kitabnya yang paling besar yaitu Aujazul Masalik ilaa Muwaththa Imam Malik, setebal 18 jilid (diterbitkan Darul Qalam, Damaskus). Saat itu, ia baru berusia 29 tahun.

Ia wafat pada tanggal 1 Sya’ban 1402 H. (24 Mei 1982 M.) di Madinah Al-Munawwarah. Ia dimakamkan di samping gurunya, Maulana Khalil Ahmad Rahmatullah ‘alaih di pemakaman Baqi’ Madinah Munawwarah.

Lebih dari 140 judul kitab ia tulis dalam Bahasa Arab dan Urdu. Sebagian sudah dicetak dan sebagian lagi belum. Di antara kitab tersebut adalah:

  1. Aujazul Masalik ila Muwathatha’ Imam Malik, 18 jilid.
  2. Ta’liqat ‘ala Badzlil Majhud Syarah Abi Dawud, 14 jilid.
  3. Ta’liqat Lami’ud Darari ‘ala Jami’il Bukhari, 10 jilid.
  4. Ta’liqat Kaukabud Durri ‘ala Jami’ Tirmidzi, 4 jilid.
  5. Hajjatul Wada’wa ‘Umaratun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
  6. Al Abwab wat Tarajim Lishahihil Bukhari.
  7. Wujubu ‘ifail Lihyah.
  8. Asy Syari’ah wath Thariqah.
  9. Makanatush Shalah fil Islam.

Kitab-kitab ini beredar secara umum di Negeri-Negeri Arab, India dan Pakistan, dan diterima oleh para ulama. Selain itu, kitab-kitab di atas juga telah terdapat di beberapa perpustakaan-perpustakaan besar di Indonesia. Masih banyak lagi kitab yang ia susun maupun yang ia takhrij atau tahqiq. Sedangkan tulisannya dalam Bahasa Urdu di antaranya adalah:

  1. Syarah Syamail Tirmidzi.
  2. Fadhail Shalat.
  3. Fadhail Tabligh.
  4. Fadhail Dzikir, dan lain-lain.

Biografinya yang lebih lengkap bisa dibaca di dalam Kitab Ad-Durruts Tsamin Biasaaniidi Asy Syaikh Taqiyyudin, Dzailul A’lam, Tatimmatul A’lam, Takmilah Mu’jam Muallifin, Syaikh Al-Hadith Muhammad Zakariyya Kandahlawi dan lain-lain.

Demikian penerjemahan ini telah selesai, namun tentunya masih sangat jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, saran dan masukan dari segenap pembaca, sangat bermanfaat.

Tim Penerjemah Kitab Fadhail Amal

Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Jakarta

Rajab 1432 H. / Juni 2011 M.

Advertisements

2 responses

  1. masyaa Allah … jazakallah khairan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: