Author Archive: Abdullah


Keutamaan Rakaat yang Panjang

Hadits Ke-8

Dari Sayyidina Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat yang paling utama ialah yang panjang rakaatnya.” (H.R. Ibnu Abi Syaibah, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dari Kitab Durrul Mantsur)

Syaikh Mujahid Rahmatullah ‘alaih telah menerangkan maksud ayat:

“(Dalam shalat) berdirilah di depan Allah dengan penuh adab.” (Q.S. Al-Baqarah: 238).

Quunuut dalam ayat ini termasuk juga rukuk, khusyu’, dan rakaat yang panjang, yaitu lama berdiri, menundukkan pandangan, merendahkan bahu (tidak berdiri dengan angkuh) dan juga rasa takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum, jika berdiri dalam shalat maka mereka takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala dan tidak berani menoleh ke sana-kemari atau membolak-balikkan kerikil (dalam sujud, karena di Arab zaman dahulu, lantai masjid terbuat dari batu kerikil), atau main-main dengan sesuatu, atau memikirkan urusan dunia dalam hatinya, kecuali jika lupa, sampai mereka menyelesaikan shalatnya. (H.R. Baihaqi)

Faidah

Banyak sekali riwayat tentang penafsiran kalimah wa quumuu lillaahi qaanitiin. Salah satu di antaranya menyatakan bahwa qaanitiin maksudnya sunyi senyap. Pada masa awal Islam, berbicara, menjawab salam, dan perbuatan lain dalam shalat diperbolehkan. Namun, setelah turun ayat di atas, berbicara di dalam shalat dilarang. Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada mulanya apabila menemui Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, saya biasa mengucapkan salam kepada beliau, dan beliau menjawab salam saya walaupun sedang shalat. Suatu ketika saya menemui Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat. Saya mengucapkan salam kepada beliau seperti biasanya, namun beliau tidak menjawab. Saya benar-benar merasa cemas dan khawatir jangan-jangan Allah Subhaanahu wata’ala menurunkan suatu wahyu yang berisi teguran kepada saya. Berbagai pikiran terlintas dalam benak saya, mungkin Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam marah kepada saya karena Sesutu hal, mungkin juga karena kejadian ini atau itu. Setelah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam salam di akhir shalat, beliau bersabda, ‘Allah Subhaanahu wata’ala mengubah hukum-Nya sekehendak-Nya. Kini Allah Subhaanahu wata’ala telah melarang berbicara dalam shalat.’ Kemudian beliau membacakan ayat di atas, lalu beliau bersabda, ‘Shalat adalah dzikrullah. Ucapan selain Tasbih, Tahmid, dan pujian kepada-Nya tidak diizinkan dalam shalat.’”

Sayyidina Mu’awiyah bin Hakam Sulami Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika saya datang ke Madinah untuk masuk Islam, banyak hal yang dapat saya pelajari. Salah satu di antaranya, jika seseorang bersin dan mengucapkan Alhamdulillah, maka orang yang mendengarnya hendaknya membaca Yarhamukallah. Karena saya baru masuk Islam maka saya tidak tahu bahwa hal itu tidak berlaku dalam shalat. Suatu ketika, ada seorang shshabat bersin dalam shalat. Saya langsung menjawab, “Yarhamukallah!” Orang-orang langsung memandang saya dengan marah, karena saat itu saya tidak tahu, bahwa berbicara dalam shalat tidak dibolehkan. Maka saya berkata, “Wahai kalian, mengapa kalian memandang saya dengan marah seperti itu?” Orang-orang mengisyaratkan kepada saya agar diam. Meskipun saya belum paham, saya pun diam. Seusai shalat, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memukul saya, tidak memarahi saya, tidak menghardik saya, namun beliau hanya bersabda, ‘Tidak dibolehkan berbicara di dalam shalat. Shalat itu, untuk bertasbih, bertakbir, dan membaca Al-Qur’an.’ Demi Allah, saya tidak pernah melihat seorang guru yang sepenyayang Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi waslalam.”

Dalam penafsiran yang lain, Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Qaanitiin ialah Khaasyi’iin, yakni orang-orang yang khusyu’.” Syaikh Mujahid Rahmatullah ‘alaih juga berpendapat demikian. Beliau mengatakan maksud dari Qaanitiin adalah meliputi rakaat yang panjang, khusyu’ dan khudu’ dalam shalat, memandang ke bawah, serta takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala.” Sayyidina Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Pada mulanya jika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Shalat Thajjud malam hari, beliau menggunakan tali pengikat agar tidak terjatuh ketika mengantuk. Terhadap hal ini, turunlah ayat:

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an supaya kamu menjadi susah.” (Q.S. Thaahaa: 1-2)

Selain itu, masih banyak hadits lain yang mengisahkan panjangnya shalat Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga kaki beliau bengkak-bengkak. Tetapi disebabkan kasih sayang beliau kepada kita, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati agar kita mengerjakan shalat menurut kemampuan kita. Jangan sampai terlalu memberatkan, sehingga menjadi susah. Pernah terjadi seorang shahabiyah mengikat dirinya dengan tali sebelum shalat. Ketika melihat hal itu beliau melarangnya.

Bagaimanapu, shalat dengan rakaat yang lama lebih baik dan lebih utama. Oleh karena itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri amat lama dalam shalat malamnya sehingga kaki beliau bengkak-bengkak. Ini menunjukan shalat dengan raka’at yang panjang tentu ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum pernah berkata kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bukankah dalam Surat Fath Allah Subhaanahu wata’ala telah menjanjikan ampunan bagimu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidakkah sepantasnya aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”

Sebuah hadits menceritakan bahwa jika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat, maka terdengar dari dalam dada beliau suara seperti bunyi deritan penggiling karena tangisan (dan karena tertahannya napas). Dalam riwayat lain, suara itu seperti suara air yang sedang mendidih dalam periuk. (dari Kitab At-Targhib)

Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhuberkata, “Ketika malam Perang Badar, aku melihat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Shalat dengan menangis-nangis di bawah pohon sepanjang malam hingga tiba waktu Shubuh.”

Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Allah Subhaanahu wata’ala menyukai beberapa orang. Salah satunya adalah orang yang meninggalkan kasurnya yang empuk dan istrinya yang cantik, kemudian menyibukkan diri dalam Shalat Tahajjud di malam musim dingin. Allah Subhaanahu wata’ala amat mencintai orang seperti ini dan bangga terhadapnya. Meskipun Allah Subhaanahu wata’ala itu Maha Mengetahui yang ghaib, tetapi karena ingin memuji hamba-Nya, Dia bertanya kepada Malaikat-Nya, “Apakah yang mendorong hamba ini untuk bangun Tahajjud?” Para malaikat menjawab, “Mereka mengharap kemurahan-Mu dan takut murka-Mu.” Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, “Bila demikian, akan Aku berikan apa yang mereka harapkan, dan akan Aku sekamatkan mereka dari apa yang mereka takuti.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada pemberian dari Allah Subhaanahu wata’ala yang lebih baik melebihi taufik melaksanakan shalat dua rakaat.”

Banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits bahwa para malaikat selalu sibuk beribadah. Sebuah hadits menerangkan, ada segolongan malaikat yang senantiasa rukuk terus, ada segolongan lagi yang senantiasa sujud, dan ada sebagian lain yang senantiasa berdiri, sampai Hari Kiamat. Allah Subhaanahu wata’ala mengaruniakan kemuliaan dan kehormatan kepada orang mukmin dengan memberi dua rakaat shalat yang di dalamnya terkandung berbagai ibadah para malaikat agar kita mendapatkan bagian dari setiap ibadah mereka, ditambah dengan bacaan Al-Qur’an dalam shalat Dengan demikian, jika shalat merupakan kumpulan ibadah para malaikat, maka dengan shalat tersebut, kita akan mudah memperoleh sifat-sifat mereka. Oleh karena itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ringankanlah perut dan punggungmu, agar kamu mudah shalat.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

‘Meringankan punggung’ maksudnya mengurangi permasalahan dan urusan dengan manusia. Yang dimaksud ‘meringankan perut’ adalah tidak terlalu banyak makan, sehingga jauh dari sifat malas.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Keutamaan Rakaat yang Panjang (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Bukan Shalat yang Sempurna Kalau Tidak Mencegah dari Kemungkaran

Hadits ke-7

Dari Sayyidina Imran bin Hushain Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai firman Allah Subhaanahu wata’ala (yang artinya), ‘Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.’ Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang shalatnya tidak dapat mencegahnya dari berbuat keji dan munkar, itu bukanlah shalat (yang sempurna).’” (H.R. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih, dari Kitab Durrul Mantsur)

Faidah

Shalat merupakan sesuatu yang amat berharga. Jika shalat dilakukan dengan cara yang benar, shalat akan membuahkan hasil, yaitu akan mencegah kita dari hal-hal yang tidak patut. Jika kita belum memperoleh hasil ini, hendaknya kita meyakini bahwa shalat kita belum sempurna. Sangat banyak hadits yang meriwayatkan tentang masalah ini. Di antaranya, Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Shalat menghentikan dari berbuat dosa (yang sedang dilakukan), dan shalat menjauhkan dari perbuatan dosa (di masa yang akan datang).”

Sayyidina Abul ‘Aliyah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, maksud firman Allah Subhaanahu wata’ala:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (Q.S. Al-Ankabut: 45)

adalah hendaknya ada tiga hal dalam shalat, yakni ikhlas, takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala, dan dzikrullah. Jika dalam shalat tidak terdapat tiga hal tersebut, maka bukanlah shalat (yang sempurna). Ikhlas selalu menarik ke arah amal shalih. Takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala menjauhkan diri dari perbuatan munkar. Dzikrullah adalah membaca Al-Qur’an, yang dengan sendirinya mengajak kepada perbuatan baik dan mencegah kemungkaran.

Dari Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat yang tidak dapat mencegah perbuatan munkar dan amalan-amalan yang tidak sesuai, shalat itu tidak mendekatkan kita kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Bahkan, menjauhkan kita dari-Nya.” Sayyidina Hasan Radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, “Jika shalat seseorang tidak menghalanginya dari perbuatan buruk, maka itu bukanlah shalat. Bahkan shalat seperti itu akan menjauhkannya dari Allah Subhaanahu wata’ala.” Sayyidina Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan hal yang sama. Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa tidak mengikuti kehendak shalat, maka dia belum shalat. Mengikuti kehendak shalat adalah dengan meninggalkan perbuatan keji dan munkar.” Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seseorang datang kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Si fulan suka mengerjakan Shalat Tahajjud malam hari, tetapi pagi harinya ia mencuri.’” Beliau bersabda, “Dalam waktu dekat, shalat itu akan menhentikannya dari perbuatan itu.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Dari hadits-hadits di atas kita dapat mengetahui, bahwa seseorang yang selalu sibuk bermaksiat kepada Allah Subhaanahu wata’ala hendaknya ia benar-benar menyibukkan diri dengan shalat yang benar, sehingga perbuatan buruknya akan hilang dengan sendirinya. Untuk menghilangkan perbuatan buruk sangat sulit dan memerlukan waktu lama. Sedangkan menyibukkan diri di dalam shalat itu mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Dengan keberkahan shalat, kebiasaan buruk itu akan hilang. Semoga Allah Subhaanahu wata’ala memberikan taufik kepada kita agar dapat menunaikan shalat sebaik-baiknya.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Bukan Shalat yang Sempurna Kalau Tidak Mencegah dari Kemungkaran (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Larangan Bergerak-gerak dalam Shalat

Hadits Ke-6

Dari Sayyidatina Ummu Ruman Radhiyallahu ‘anha, ibunda Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu melihatku bergerak-gerak ketika shalat. Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menghardikku dengan keras sehingga hampir saja aku membatalkan shalatku (karena takut). Ia berkata, ‘Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika seseorang berdiri shalat, hendaklah menenangkan seluruh anggota badannya. Jangan bergerak-gerak seperti orang Yahudi. Sebab, tenangnya seluruh anggota badan ketika shalat termasuk kesempurnaan shalat.’” (H.R. Hakim Tirmidzi, dari Kitab Durrul Mantsur)

Faidah

Masalah thuma’ninah dalam shalat telah banyak diriwayatkan dalam hadits. Biasanya Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memandang ke arah langit, menunggu malaikat pembawa wahyu. Jika seseorang menunggu sesuatu, pandangannya akan tertuju kea rah sesuatu itu. Oleh karena itu, pandangan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang tertuju ke atas ketika shalat. Namun ketika turun ayat:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Q.S. Al-Mu’minuun: 1-2)

Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengarahkan pandangannya ke bawah.

Banyak riwayat yang menyebutkan, sebelum turun ayat di atas para shahabat Radhiyallahu ‘anhum biasa memandang ke sana-kemari dalam shalatnya. Akan tetapi, setelah turun ayat di atas, pandangan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum tidak ke sana-kemari lagi. Mengenai ayat di atas, Sayyidina Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jika para shahabat Radhiyallahu ‘anhum berdiri shalat, maka pandangan mereka tidak ke sana-kemari. Mereka sangat berkonsentrasi dalam shalat. Pandangan mereka tertuju ke tempat sujud. Mereka meyakini bahwa Allah Subhaanahu wata’ala melihat kepada mereka.”

Suatu ketika, Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu ditanya oleh seseorang, “Apakah khusyu’ itu?” Ia menjawab, “Khusyu’ itu di dalam hati (maksudnya ketawajjuhan hati dalam shalat). Termasuk khusyu’ ialah pikirannya tidak tertuju kepada hal-hal lain.” Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Orang yang khusyu’ adalah orang yang takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala dan orang yang menenangkan seluruh anggota badannya.“ Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Berlindunglah kepada Allah Subhaanahu wata’ala dari khusyu’ yang munafik.’ Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah khusyu’ yang munafik itu?’ Beliau menjawab, “Zhahirnya terlihat khusyu’, tetapi hatinya tidak khusyu’.’” Dalam hal ini, Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Khusyu’ yang munafik ialah secara zhahir terlihat khusyu’, namun hatinya tidak khusyu’.” Syaikh Qatadah Rahmatullaah ‘alaih berkata, “Hati yang Khusyu’ ialah hati yang takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala serta pandangan mata selalu ke bawah.”

Pernah suatu ketika, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki yang shalt sambil mengelus-ngelus janggutnya. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika hatinya khusyu’, maka seluruh anggota tubuhnya akan diam.” Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bagaimanakah orang yang memandang ke sana kemari dalam shalat?” Beliau bersabda, “Itu adalah penyerobotan setan dalam shalat seseorang.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa biasa memandang ke atas dalam shalatnya, hendaknya ia menghentikan kebiasaan itu. Jika tidak, (apakah ia tidak takut) kalau Allah Subhaanahu wata’ala membutakan pandangannya.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Banyak riwayat dari para shahabat Radhiyallahu ‘anhum dan para tabi’in Rahmatullah ‘alaihim yang menyetakan bahwa khusyu’ adalah tenangnya seluruh anggota tubuh dalam shalat. Masih banyak sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan riwayat yang berbeda menyebutkan, “Shalatlah kamu seolah-olah ini shalat yang terakhir dalam hidupmu.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Larangan Bergerak-gerak dalam Shalat (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Shalat yang Tidak Sempurna Sujud dan Rukuknya adalah Bentuk Pencurian yang Paling Hina

Hadits Ke-5

Dari Sayyidina Abdullah bin Abi Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, dari ayahnya Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seburuk-buruk pencuri ialah seseorang yang mencuri shalatnya.” Shahabat Radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana ia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab, “Ia tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya.” (H.R. Darami, Ahmad, Thabarani, dan Ibnu Khuzaimah, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Kandungan hadits di atas, juga banyak disebutkan dalam beberapa hadits. Pertama, hendaknya diperhatikan bahwa mencuri itu sendiri sudah merupakan perbuatan yang hina, dan orang yang mencuri akan dipandang orang yang hina. Kedua, dana pencurian, ada bentuk pencurian yang paling hina, yaitu tidak menyempurnakan rukuk dan sujud ketika shalat, seperti sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas. Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memandang ke langit, lalu bersabda, “Kini waktunya ilmu akan dicabut dari dunia (pada waktu itu Allah Subhaanahu wata’ala menampakan kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bagaimana ilmu dicabut dari dunia).” Sayyidina Ziyad Radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Bagaimana ilmu akan dicabut, sedangkan kita masih membaca Al-Qur’an, dan kami juga mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak mereka, dan begitu juga seterusnya)?” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Ziyad, dulu aku menganggapmu sebagai orang yang paham. Kaum Yahudi dan Nasrani juga mengajarkan Taurat dan Injil. Apakah hal itu memberikan faidah kepada mereka?”

Setelah mendengar hadits ini, seorang murid Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu pergi kepada Sayyidina Ubadah Radhiyallahu ‘anhu, lalu membacakan hadits Sayyidina Abu Darda’ Radhiyllahu ‘anhu tersebut kepadanya. Sayyidina Ubadah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Darda’ benar. Maukah aku beritahukan yang pertama kali akan dicabut dari dunia? Yang pertama kali akan dicabut adalah kekhusyu’an dalam shalat. Kelak engkau akan melihat di dalam suatu masjid yang penuh dengan jamaah, tidak ada seorang pun yang khusyu’ dalam shalatnya.” Sayyidina Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu yang dikenal sebagai ‘Penyimpan Rahasia Nabi’ berkata, “Yang pertaa kali akan dicabut dari dunia ialah khusyu’ dalam shalat.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Sebuah hadits menyatakan bahwa Allah Subhaanahu wata’ala tidak mempedulikan shalat seseorang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Hadits lain menyebutkan, “Ada seseorang yang shalat selama enam puluh tahun, namun tidak ada satu pun shalatnya yang diterima Allah Subhaanahu wata’ala. Karena kadangkala dalam shalat dia, rukuknya sempurna, tetapi sujudnya tidak sempurna atau sujudnya sempurna, tetapi rukuknya tidak sempurna.”

Syaikh Mujaddid Alfi Tsani Rahmatullah ‘alaih menulis dalam surat-suratnya, tentang pentingnya menjaga shalat. Dia menulis banyak hal dalam surat-suratnya, yang salah satu di antaranya menyebutkan bahwa kita hendaknya sungguh-sungguh memperhatikan masalah merapatkan jari-jari tangan ketika sujud dan merenggangkannya ketika rukuk. Aturan syari’at, merapatkan dan merenggangkan jari dalam shalat, bukannya tidak ada manfaatnya. Bahkan, amat penting kita memperhatikan adab-adab yang seolah-olah kecil ini. Dia menulis bahwa menumpukan pandangan ketika berdiri ke tempat sujud, ketika rukuk ke kaki, ketika sujud ke hidung, dan ketika duduk ke tangan, ini menyebabkan kekhusyu’an dalam shalat dan memudahkan mendapatkan ketawajjuhan. Jika adab-adab yang dianggap kecil ini saja bermanfaat bagi kita, bagaimana dengan adab-adab dan sunnah-sunnah yang lebih besar? Tentu manfaatnya lebih besar pula.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Shalat yang Tidak Sempurna Sujud dan Rukunya adalah Bentuk Pencurian yang Paling Hina (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Amalan Pertama Kali yang akan Dihisab pada Hari Kiamat adalah Shalat

Hadits Ke-4

Dari Sayyidina Abdullah bin Qurth Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pertama kali yang akan dihisab pada diri seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalat. Apabila baik dan sempurna shalatnya (diterima), maka baik juga (diterima) seluruh amalnya. Apabila buruk shalatnya (tidak diterima), maka buruk juga (tidak diterim) seluruh amalnya.” (H.R. Thabarani, dari Kitab At-Targhib)

Ketika menjadi khalifah, Sayyidina Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan pengumuman ke seluruh pimpinan wilayah, “Sesungguhnya yang paling aku pentingkan di antara semuanya adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalatnya dengan penuh perhatian, ia akan menjaga agama dan bagian-bagiannya dengan penuh perhatian. Barangsiapa menyia-nyiakan shalat, ia akan lebih menyia-nyiakan bagian-bagian agama yang lainnya.”

Faidah

Hadits di atas dan pengumuman Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu, semakna dengan hadits lain yang menyatakan bahwa setan selalu takut kepada seorang muslim selama ia menjaga dan menyempurnakan shalatnya. Karena rasa takutnya itu, setan tidak begitu berani menyesatkannya. Tetapi ketika ia mengabaikan shalatnya, setan semakin berani kepadanya. Setan akan menyesatkan, lalu memperdayainya sampai terjerumus ke dalam dosa-dosa besar. (dari Kitab Muntakhab Kanz)

Inilah maksud firman Allah Subhaanahu wata’ala:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Q.S. Al-Ankabut: 45) yang penjelasannya akan disampaikan nanti.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Amalan Pertama Kali yang akan Dihisab pada Hari Kiamat adalah Shalat (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Kekurangan dalam Shalat Fardhu akan Disempurnakan dengan Shalat Sunnah

Hadits Ke-3

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali akan dihisab pada Hari Kiamat adalah shalat fardhunya. Jika baik shalatnya, maka ia akan beruntung dan selamat. Sebaliknya, jika buruk shalatnya, maka ia akan merugi. Jika ditemui ada kekurangan dalam shalat fardhunya, maka Rabb berkata (kepada malaikat), ‘Lihatlah (catatannya), apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka kekurangan dalam shalat fardhu itu akan disempurnakan dengan shalat-shaat sunnah. Lalu amalan lainnya akan dihisab seperti itu (zakat, puasa, dan lain-lain).’” (H.R. Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim, dari Kitab Durrul Mantsur)

Faidah

Berdasarkan hadits tersebut dapat diketahui bahwa seseorang hendaknya membekali diri dengan shalat-shalat sunnah, sehingga jika dalam shalat fardhunya terdapat kekurangan, akan disempurnakan oleh shalat sunnahnya di dalam timbangan. Banyak orang berpendapat, jika shalat fardhu dilakukan dengan sempurna, itu sudah mencukupi dan merupakan keberuntungan besar. Sedangkan mengerjakan shalat-shalat sunnah adalah amalan orang-orang khusus. Memang benar, jika shalat fardhu sudah sempurna, itu sudah cukup. Tetapi mengerjakan shalat fardhu secara sempurna (syarat, rukun, sunnah, serta adabnya) bukanla perkara yang mudah. Sedikit banyak terjadu kekurangan di sana sini. Karena itulah shalat-shalat sunnah pun penting untuk dilaksanakan.

Ada sebuah hadits yang lebih jelas daripada hadits di atas, bahwa shalat adalah ibadah yang pertama kali difardhukan Allah Subhaanahu wata’ala, amal yang pertama kali dilaporkan kepad Allah Subhaanahu wata’ala, dan amal yang pertama kali dihisab pada Hari Kiamat. Jika dalam shalat-shalat fardhu terdapat kekurangan, akan disempurnakan dengan shalat sunnah. Demikian pula puasa, jika ada kekurangan dalam puasa wajib, akan disempurnakan oleh puasa sunnah. Begitu pun dalam zakat serta amalan lain, jika ternyata setelah ditambah dengan amalan sunnah dan ditimbang pahalanya menjadi lebih berat daripada amal keburukannya, maka ia akan masuk surga dengan gembira. Jika tidak, ia tidak, ia akan dilemparkan ke Neraka Jahannam. Itulah sebabnya, apabila ada orang yang baru masuk Islam, yang pertama kali diajarkan oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya adalah shalat.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Kekurangan dalam Shalat Fardhu akan Disempurnakan dengan Shalat Sunnah (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


Shalat yang Sempurna Membersihkan Dosa-Dosa

Hadits Ke-2

Diriwayatkan dari Sayyidina Anas Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa shalat lima kali pada waktunya dan menyempurnakan wudhunya, dan menyempurnakan berdirinya, khusyu’nya, rukuknya, dan sujudnya, maka shalat (seperti ini) menjadi putih lagi bersinar, dan shalat itu akan berdoa, ‘Semoga Allah Subhaanahu wata’ala menjagamu sebagaimana engkau menjagaku.’ Dan barangsiapa shalat tidak pada waktunya, tidak menyempurnakan wudhunya, tidak menyempurnakan khusyu’nya, rukuknya, dan sujudnya, maka shalat (seperti ini) menjadi hitam lagi gelap, dan shalat itu akan berdoa keburukan, ‘Semoga Allah Subhaanahu wata’ala menyia-nyiakanmu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakanku.’ Sehingga jika shalat itu telah sampai di tempat yang dikehendaki oleh Allah Subhaanahu wata’ala, shalat itu akan dilipat seperti kain buruk, lalu dilemparkan ke muka orang yang shalat tersebut.” (H.R. Thabarani, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Sungguh berbahagia seseorang yang sempurna shalatnya, sehingga shalat sebagai ibadah yang terpenting di sisi Allah Subhaanahu wata’ala akan berdoa kebaikan untuknya. Pada umumya, orang mengerjakan shalat dengan asal-asalan saja; dari rukuk langsung sujud, dan dari sujud ketika kepala belum tegak sudah sujud kedua, seperti burung gagak yang mematuk makanannya. Shalat seperti ini, akan merugikan dirinya sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. Jika ia merusak shalatnya, maka shalat itu akan mendoakan keburukan baginya. Itulah yang menyebabkan Kaum Muslimin pada umumnya tertindas dan selalu ditimpa keburukan demi keburukan. (dari Kitab At-Taghib)

Diceritakan dalam sebuah hadits yang semakna dengan hadits di atas, dengan tambahan bahwa barangsiapa shalat dengan khusyu’ dan khudu’ maka pintu-pintu langit akan terbuka lebar baginya. Shalat itu akan bersinar terang dan akan membela orang yang mengerjakan shalat seperti itu di hadapan Allah Subhaanahu wata’ala. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Permisalan orang yang rukuknya tidak sempurna , punggungnya tidak rata, seperti wanita hamil yang keguguran sebelum waktunya melahirkan.” (dari Kitab At-Targhib)

Sebuah hadits menyebutkan, “Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa pun dari puasanya kecuali lapar dan dahaga. Banyak orang yang Shalat Tahajjud, tetapi ia tidak memperoleh apa pun dari shalatnya kecuali berjaga.” Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Pada Hari Kiamat kelak, akan hadir di hadapan Allah Subhaanahu wata’ala orang yang mengerjakan shalat lima waktu pada waktunya, wudhunya sempurna, serta khusyu’ dan khudhu’ dalam shalatnya, Allah Subhaanahu wata’ala berjanji akan menyelamatkan mereka dari azab-Nya. Barangsiapa yang hadir tanpa membawa shalat seperti itu di hadapan-Nya, maka tidak ada perjanjian dengan-Nya. Mungkin dengan rahmat-Nya akan diampuni atau mungkin juga akan disiksa.’”

Suatu ketika, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menemui para shahabat Radhiyallahu ‘anhum dan bertanya, “Tahukah kalian, apa yang telah difirmankan Allah Subhaanahu wata’ala?” Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum menjawab, “Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui.” Beliau bertanya hingga tiga kali, dan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Beliau bersabda, “Allah Subhaanahu wata’ala bersumpah dengen kebesaran dan kemuliaan-Nya, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, ‘Akan Aku masukkan orang-orang yang mengerjakan shalatnya lima waktu pada waktunya ke dalam surga. Sedangkan orang-orang yang menyia-nyiakannya, itu terserah kepada-Ku, Aku akan mengampuni dengan rahmat-Ku atau Aku akan megazabnya.’”

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Shalat yang Sempurna Membersihkan Dosa-Dosa (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


PASAL 3

HADITS-HADITS MENGENAI

IKHLAS, KHUSYU’ DAN KHUDHU’

Sebagian Orang Hanya Mendapatkan Sedikit Pahala dalam Shalatnya

Haidts Ke-1

Dari Sayyidina ‘Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ketika seseorang selesai (dari shalatnya) ada yang tidak mendapatkan pahala kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan seperdua dari pahala shalatnya.” (H.R. Abu Dawud)

Faidah

Maksudnya semakin seseorang itu ikhlas dan khusyu’ dalam shalatnya, maka pahala yang ia peroleh akan semakin banyak. Ada sebagian orang yang memperoleh pahala sepersepuluh atau lebih dari setengahnya, bahkan ada yang kurang dari sepersepuluh atau lebih dari setengahnya. Ada juga yang memperoleh seluruh pahala, dan ada pula yang tidak mendapatkan pahala sama sekali.

Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Allah Subhaanahu wata’ala memiliki satu timbangan khusus untuk menimbang shalat fardhu. Jika terdapat kekurangan dalam timbangan seseorang, ia akan dituntut pada Hari Hisab kelak. Disebutkan dalam beberapa hadits bahwa yang pertama kali akan hilang dari manusia adalah kekhusyu’an dalam shalat, sehingga akan terjadi suatu masa tidak akan didapati lagi satu pun orang yang khusyu’ dalam seluruh jamaah orang yang shalat. (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Sebagian Orang Hanya Mendapatkan Sedikit Pahala dalam Shalatnya (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)


PASAL 2

KISAH SHALATNYA ORANG-ORANG SHALIH

Kisah ke-1

Dikisahkah tentang Syaikh Abdul Wahid Rahmatullah ‘alaih, seorang ahli tasawwuf yang masyhur. Dia berkata, “Suatu hari, rasa kantuk menyerangku luar biasa, sehingga aku meninggalkan wirid-wirid dan dzikir-dzikirku malam itu. Aku bermimpi berjumpa dengan seorang gadis cantik jelita berpakaian sutera hijau. Sekujur tubuh gadis itu hingga sepatunya sibuk membaca Tasbih. Gadis itu berkata, ‘Milikilah aku! Aku menginginkan engkau.’ Kemudian ia membaca beberapa bait syair kerinduan. Setelah terbangun dari mimpiku, aku bersumpah tidak akan tidur malam hari.” Diriwayatkan selama empat puluh tahun dia Shalat Shubuh dengan wudhu Shalat Isya’. (dari Kitab Nuzhatul Majalis)

Kisah ke-2

Syaikh Mazhhar Sa’di Rahmatullah ‘alaih, seorang ulama, selama enam puluh tahun menangis karena cinta dan rindunya kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Suatu malam, ia bermimpi melihat sebuah sungai mengalir penuh kasturi. Di setiap sisinya, berderet pohon-pohon mutiara beranting emas dan beberapa orang gadis belia yang sibuk bertasbih kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Ia bertanya kepada mereka, “Siapakah kalian?” Gadis-gadis itu menjawab dengan membaca dua bait syair, yang lebih kurang bermaksud:

Kami diciptakan oleh Tuhan manusia seluruh alam

yaitu Tuhan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Untuk orang yang berdiri di hadapan Allah sepanjang malam

serta selalu bermunajat kepada Tuhan semesta alam

Kisah ke-3

Syaikh Abu Bakar Dharir Rahmatullah ‘alaih berkata, “Ada seorang hamba muda yang tinggal bersamaku. Siang hari, ia berpuasa dan malam hari ia bertahajjud. Suatu hari, ia mendatangiku dan bercerita, ‘Semalam aku tertidur, dan aku bermimpi melihat dinding mihrab telah terbelah dan keluar darinya beberapa gadis yang cantik jelita, namun salah seorang di antara mereka ada yang amat buruk rupanya. Aku bertanya kepada mereka, ‘Siapakah kalian? Siapakah yang bermuka buruk itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah malam-malammu yang dahulu (yang penuh dengan indah), dan yang buruk itu adalah malammu yang sekarang (yang habis untuk tidur).’” (dari Kitab Nuzhatul Majalis)

Kisah ke-4

Seorang Syaikh berkata, “Suatu malam kantuk yang luar biasa menyerangku sehingga mataku sulit terbuka. Aku bermimpi melihat seorang gadis yang cantik rupawan. Belum pernah aku melihat gadis secantik itu seumur hidupku. Aku juga mencium semerbak harumnya, dan belum pernah mencium bau seharum itu. Gadis itu memberiku sehelai kertas yang berisi tiga bait syair, yang kurang lebih artinya:

Engkau sibukkan dirimu dengan kelezatan kantukmu

Sehingga engkau lalaikan istana-istana surga itu

Yang di dalamnya kau akan kekal dan akan hidup selalu

Bangunlah engkau segera dari kantukmu

Bacalah Al-Qur’an dalam Tahajjudmu

Itu lebih baik daripada engkau tidur selalu

Syaikh itu berkata, ‘Setelah mimpi itu, setiap aku diserang kantuk, aku teringat syair tersebut dan kantukku lenyap seketika.’”

Kisah ke-5

Syaik Atha’ Rahmatullah ‘alaih berkata, “Suatu hari, aku pergi ke pasar dan ada seorang hamba sahaya wanita yang sedang dijual sambil diberitahukan bahwa hamba itu gila. Lantas aku membelinya seharga tujuh dinar dan membawa wanita itu ke rumah. Ketika lewat tengah malam kulihat wanita itu bangun, lalu berwudhu dan shalat. Dalam shalatnya ia menangis terus-menerus, sehingga aku mengira ia akan mati. Selesai shalat, ia bermunajat kepada Allah Subhaanahu wata’ala dengan berkata, ‘Wahai Tuhan yang kusembah, demi cinta-Mu kepadaku, kasihanilah aku!’ Mendengar ucapan itu, aku berkata kepadanya, ‘Jangan berkata seperti itu, tetapi katakanlah, ‘Demi cintaku kepada-Mu!’ Mendengar ucapanku, ia terkejut dan marah. Ia berkata, ‘Demi Dzat Allah, seandainya bukan karena cinta-Nya kepadaku, tidak mungkin Dia menidurkanmu dengan nyenyak dan memberdirikan aku seperti ini.’ Setelah berkata demikian, ia tersungkur sambil membaca beberapa bait syair yang isinya:

Kegelisahan makin nyata

Kalbu kian membara

Kesabaran kian sirna

Berlinang-linang air mata

Bagaimana seseorang akan bahagia

Sementara telah tenggelam hatinya

Dalam kegalauan, kerinduan, dan cinta

ya Allah, jikalau ada sesuatu perkara

Yang dapat membuatku bahagia

Maka anugerahkanlah kepada hamba

Kemudian ia berdoa dengan keras, ‘Ya Allah, hubunganku dengan-Mu yang selama ini tersembunyi telah diketahui oleh makhluk-Mu. Sekarang ambillah aku!’ Setelah berkata demikian, ia menjerit keras lalu meninggal dunia.”

Kisah ke-6

Kisahh seperti di atas, juga terjadi pada Syaikh Sirri Rahmatullah ‘alaih. Ia berkata, “Aku membeli seorang hamba sahaya wanita untuk berkhidmat kepadaku. Beberapa hari lamanya, ia berkhidmat kepadaku, namun ia masih menyekbunyikan jati dirinya. Ia memilih suatu tempat khusus untuk shalat. Selesai bekerja, ia langsung pergi ke tempat itu dan menyibukkan diri dengan shalat. Suatu malam, kulihat ia sibuk shalat malam atau sibuk berdoa. Ia berkata, ‘Wahai Allah, dengan perantaraan cinta-Mu kepadaku, buatlah ini dan itu untukku.’ Aku berkata dengan suara keras, ‘Wahai perempuan, ucapkanlah dengan perantaraan cintaku kepada-Mu.’ Ia pun menyahut, ‘Tuanku, jika bukan karena cinta-Nya kepadaku, Dia tidak akan membiarkanmu tidak shalat dan membuat aku berdiri shalat.’ Syaikh Sirri Rahmatullah ‘alaih berkata, “Keesokan paginya aku memanggilnya dan berkata, ‘Kamu tidak layak berkhidmat kepadaku, selayaknya kamu hanya beribadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala.’ Aku memberinya sedikit bekal lalu memerdekakannya.” (dari Kitab Nuzhatul Majalis)

Kisah ke-7

Syaikh Sirri Saqti Rahmatullah ‘alaih bercerita tentang seorang wanita. Ketika wanita itu Shalat Tahajjud, ia berdoa, “ia berdoa, “Ya Allah, Iblis adalah hamba-Mu, dan ia dalam genggaman Qudrat-Mu. Iblis melihatku, tetapi aku tidak melihatnya. Engkau melihatnya dan Engkau berkuasa atas segala perbuatannya. Ia tidak mampu berbuat apa pun tanpa kehendak-Mu. Ya Allah, jika ia menghendaki keburukan kepadaku, maka usirlah ia. Jika ia membuat maker terhadapku, maka buatlah maker terhadapnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan aku memohon pertolongan-Mu sehingga aku bisa mengusirnya.” Wanita it uterus menangis sampai sebelah matanya buta. Orang-orang menasihatinya, “Takutlah kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Jika kamu terus menangis, sebelah matamu juga akan buta.” Ia menjawab, “Jika mata ini mata surga, niscaya Allah Subhaanahu wata’ala akan menggantinya dengan mata yang lebih baik. Sebaliknya, jika mata ini mata neraka, maka kehilangan mata adalah lebih baik.”

Kisah ke-8

Syaikh Abu Abdillah Jila’ Rahmatullah ‘alaih bercerita, “Suatu hari, ibuku meminta dibelikan ikan oleh ayahku. Kemudian ayah pergi bersamaku ke pasar untuk membeli ikan. Setelah membeli ikan, ayah mencari seorang kuli. Kebetulan ada seorang pemuda yang berdiri di situ. Pemuda itu berkata kepada ayah, ‘Tuan, apakah Tuan memerlukan kuli untuk membawa ikan itu?’ Ayahku langsung menyahut, ‘Ya.’ Kemudian pemuda itu mengangkat ikan ke atas kepalanya dan ikut bersama kami ke rumah.

Di tengah jalan, terdengarlah adzan berkumandang, maka pemuda itu berkata, ‘Penyeru Allah Subhaanahu wata’ala telah memanggil, aku harus berwudhu. Barang ini akan kubawa sesudah shalat. Jika engkau bersedia, silakan tunggu. Jika tidak, silakan bawa!’ Setelah berkata begitu, ia menaruh ikan-ikan tadi dan segera berwudhu. Ayahku berpikir, ‘Kuli ini sangat kuat keyakinannya, semestinya aku lebih yakin kepada Allah Subhaanahu wata’ala daripada dia.’ Akhirnya, ayah pun meninggalkan ikan-ikan itu dan pergi ke masjid. Seusai shalat, kami kembali ke tempat ikan-ikan itu, ternyata ikan-ikan itu masih ada di sana. Kuli itu membawa kembali ikan-ikan tadi ke rumahku.

Setibanya di rumah, ayah lengsung menceritakan kisah tadi kepada ibu. Ibuku meminta agar ia ditahan dulu agar ia ikut makan ikan. Setelah itu, ia baru boleh pergi. Ketika hal ini disampaikan kepada kuli itu, ia berkata, ‘Maaf, aku sedang berpuasa.’ Ayahku berkata agak memaksa, ‘Kalau begitu, petang nanti kamu datang lagi kemari dan berbuka di sini!’ Kuli itu berkata, ‘Biasanya, jika aku telah pergi, aku tidak kembali lagi. Namun kali ini mungkin saja aku akan pergi ke masjid sebelah, dan petang nanti aku akan kembali ke sini untuk memenuhi undanganmu.’ Ia pun pergi ke masjid di dekat rumah. Setelah Maghrib, ia datang dan makan bersama kami. Setelah makan, kami menyiapkan baginya sebuah kamar kecil untuk beristirahat.

Di sebelah rumah kami, ada seorang wanita yang lumpuh. Kami amat terkejut ketika melihatnya sudah sehat wal afiat. Kami bertanya kepadanya, bagaimana ia dapat sembuh? Ia menjawab, ‘Aku berdoa kepada Allah Subhaanahu wata’ala dengan wasilah tamumu itu, ‘Ya Allah, dengan keberkahan tamu ini, sembuhkanlah aku.’ Maka aku langsung sembuh.’ Ketika kami akan menemui kuli itu, ternyata ia telah pergi. Kamarnya masih tertutup tanpa diketahui ke mana perginya.”

Kisah ke-9

Ada suatu kisah tentangseorang syaikh yang kakinya penuh koreng. Para thabib berkata, “Jika kakinya tidak dipotong, maka akan membahayakan.” Ibunya berkata, “Jika hendak memotong kakinya, tunggulah saat ia sedang khusyu’ shalat.” Kemudian kakinya dipotong saat ia shalat dan dia tidak merasa.

Kisah ke-10

Syaikh Abu Amir Rahmatullah ‘alaih berkata, “Aku melihat seorang hamba sahaya wanita sedang dijual dengan harga sangat murah. Hamba sahaya itu kurus kering sehingga perut dan punggungnya hampir bersentuhan, rambutnya pun acak-acakan. Aku kasihan melihatnya, sehingga aku membelinya. Aku berkata kepadanya, ‘Ayo kita ke pasar untuk berbelanja keperluan Ramadhan!’ Hamba itu menjawab, ‘Aku bersyukur kepada Allah Subhaanahu wata’ala, Dia menjadikan semua bulan sama saja bagiku.’ Ternyata ia berpuasa terus-menerus setiap hari dan shalat sepanjang malam. Ketika hampir tiba hari raya, aku berkata, ‘Besok engkau pergi ke pasar bersamaku untuk berbelanja keperluan hari raya.’ Ia menyahut, ‘Wahai tuanku, engkau terlalu sibuk dengan dunia ini.’ Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia masuk ke kamarnya, lalu shalat sambil membaca perlahan ayat demi ayat, sampai ayat:

‘Di hadapannya ada Jahannam dan ia akan diberi minum dari air nanah.’ (Q.S. Ibrahim: 16)

Berkali-kali ia membaca ayat di atas, kemudian ia menjerit dan meninggal dunia.”

Kisah ke-11

Dikisahkan ada seorang sayyid yang telah shalat selama dua belas hari dengan satu wudhu, dan ia tidak sempat berbaring di ranjangnya selama lima belas tahun, bahkan beberapa hari ia tidak sempat makan.

Peristiwa-peristiwa seperti itu banyak terjadi di kalangan para ahli mujahadah. Semangat mereka sangat sulit untuk ditiru. Memang untuk itulah Allah Subhaanahu wata’ala menjadikan mereka.

Kisah ke-12

Ada juga orang-orang besar, yang mereka mempunyai kesibukan-kesibukan urusan dunia, tetapi semangat mereka dalam urusan agama sulit kita tiru. Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih adalah salah seorang khalifah yang terkenal setelah Khulafaur Rasyidin. Bahkan, ia dimasukkan sebagai salah seorang di antara Khulafaur Rasyidin. Istrinya pernah berkata, “Mungkin banyak orang yang lebih mementingkan wudhu dan shalat daripada suamiku, tetapi tidak pernah kulihat orang yang lebih takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala daripada suamiku. Setelah Shalat Isya’, ia akan terus duduk di atas sajadahnya, berdoa sambil mengangkat tangan dan terus menangis hingga kantuk menyerangnya. Lalu, jika ia bangun, ia kembali menangis dan bermunajat kepada Allah Subhaanahu wata’ala.” Diceritakan setelah menjadi khalifah, ia tidak pernah mandi janabat (tidak pernah tidur bersama istrinya). Padahal, istrinya adalah putri Khalifah Abdul Malik.

Khalifah Abdul Malik telah memberi putrinya perhiasan dan permata yang melimpah. Di antaranya, sebuah permata yang indah tiada tara. Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih berkata kepada istrinya, “Ada dua hal yang harus engkau pilih salah satu di antara keduanya. Pertama, engkau serahkan seluruh perhiasan itu karena Allah, lalu aku masukkan semuanya ke Baitul Maal. Atau yang kedua, engkau bercerai denganku (dan perhiasan itu kamu bawa). Aku tidak suka, berkumpul dengan harta-harta tersebut dalam satu rumah.” Istrinya menjawab, “Apakah artinya harta? Meskipun memiliki harta beberapa kali lipat, aku tidak sanggup berpisah denganmu.” Lalu, ia menyerahkan semua hartanya ke Baitul Maal.

Serelah Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih wafat, yang menjabat sebagai Khalifah adalah Yazid bin Abdul Malik. Yazid berkata kepada saudara perempuannya (istri Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alai), “Jika engkau mau, akan kukembalikan semua perhiasanmu dari Baitul Maal.” Istri Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaiha menjawab, “Semasa hidup suamiku saja perhiasan itu tidak membuatku gembira, bagaimana mungkin perhiasan itu membuatku gembira sedangkan suamiku telah wafat.

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih menderita sakit yang menyebabkan kematiannya, ia menanyakan penyakitnya kepada orang-orang di sekitarnya. Seseorang menjawab, “Ada yang menduga ini sihir.” Ia berkata, “Tidak, ini bukan sihir.” Kemudian ia memanggil seorang hambanya dan bertanya, “Mengapa engkau meracuni aku?” Hambanya menjawab, “Aku dirayu dengan uang seratus dinar dan janji akan dibebaskan.” Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih menyuruh hambanya tersebut mengambil dan menyerahkan uang itu kepadanya. Selanjutnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih memasukkan uang itu ke Baitul Maal. Kemudian ia berkata kepada hambanya itu, “Pergilah ke suatu tempat yang tidak dapat dijumpai oleh siapa pun!”

Menjelang wafatnya, Maslamah Rahmatullah ‘alaih mengunjunginya dan berkata, “Engkau memperlakukan anak-anakmu dengan perlakuan yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain. Engkau tidak meninggalkan uang sepeser pun untuk ketiga belas anakmu itu.” Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih menjawab, “Dudukkanlah aku.” Ia pun duduk lalu berkata, “Aku tidak pernah mengurangi hak-hak mereka dan aku tidak memberi hak orang lain kepada mereka. Jika mereka anak-anak yang shalih, maka cukuplah Allah Subhaanahu wata’ala sebagai penjaminnya; sebagaimana firman-Nya:

‘Dan Dia adalah yang menanggung orang-orang yang shalih.” (Q.S. Al-A’raaf: 196)

Namun, jika mereka pendosa, maka aku tidak peduli dengan mereka.”

Kisah ke-13

Dikisahkan, Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih, seorang ulama fiqih yang terkenal, meskipun siang hari selalu sibuk dengan masalah fiqih, namun dalam sehari semalam masih dapat shalat sunnah tiga ratus rakaat. Sedangkan Syaikh Sa’id bin Jubair Rahmatullah ‘alaih pernah mengkhatamkan tiga puluh juz Al-Qur’an dalam satu rakaat.

Syaikh Muhammad bin Munkadir Rahmatullah ‘alaih, seorang hafizh hadits, pernah bertahajjud dan menangis tiada henti. Seseorang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab, “Terbaca dalam qiraatku ayat ini:

“Dan jelas bagi mereka (azab) dari Allah yang belum pernah mereka duga (sebelumnya).” (Q.S. Az-Zumar: 47)

Dan ayat sebelum ayat ini berbunyi: “Dan sekiranya orang-orang yang zhalim mempunyai seluruh apa yang ada di bumi dan ditambah lagi sebanyak itu, niscaya mereka akan menebus diri dengannya agar selamat dari siksa yang buruk pada Hari Kiamat”. Menjelang wafatnya, Syaikh Muhammad bin Munkadir Rahmatullah ‘alaih sangat cemas, ia berkata, “Aku takut terhadap ayat ini.”

Kisah ke-14

Syaikh Tsabit Bunani Rahmatullah ‘alaih, seorang hafizh hadits, selalu menangis jika bermunajat kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Seseorang berkata kepadanya, “Matamu akan buta jika terus-menerus menangis.” Ia menyahut, “Apa gunanya mata jika bukan untuk menangis?” Ia berdoa kepada Allah Subhaanahu wata’ala, “Ya Allah, jika Engkau perkenankan seseorang shalat di dalam kubur, maka perkenankanlah aku melakukannya.” Syaikh Abu Sinan Rahmatullah ‘alaih berkata, “Demi Allah, aku termasuk orang yang memakamkan Syaikh Tsabit Bunani Rahmatullahi ‘alaih. Setelah dikubur, sebongkah batu bata liang lahat terjatuh. Kulihat ia sedang berdiri mengerjakan shalat. Aku berkata kepada temanku, “Lihatlah apa yang terjadi!” Ia berkata kepadaku agar aku diam. Setelah selesai acara penguburan, kami mengunjungi rumahnya. Kami bertanya kepada putrinya tentang amalan ayahnya. Ia balik bertanya, “Mengapa kalian menanyakan hal itu?” Lalu, kami menceritakan kejadian tadi kepadanya. Akhirnya, ia berkata, “Selama lima puluh tahun, ayahku selalu berdoa di setiap Shalat Tahajjud dan Shalat Shubuhnya, ‘Ya Allah perkenankan aku untuk shalat di dalam kubur, jika Engkau membolehkan hal itu kepada seorang hamba-Mu.’” (dari Kitab Iqamatul Hujjah)

Kisah ke-15 (Kumpulan kisah-kisah pendek)

Semua orang tahu siapa Imam Abu Yusuf Rahmatullah ‘alaih. Ia adalah seorang ulama, juga seorang Qadhi Qudhat (hakim tertinggi). Meskipun selalu sibuk dengan urusan keilmuan dan pengadilan, setiap hari ia sempat shalat sunnah dua ratus rakaat.

Syaikh Muhammad bin Nashr Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhaddits terkenal. Kekhusyu’annya dalam shalat tidak ada bandingannya. Pernah ketika ia sedang shalat, seekor lebah menyengat dahinya hingga berdarah, namun ia tetap tidak bergerak dan kekhusyu’annya tidak terganggu sedikit pun. Dikatakan, jika ia berdiri di dalam shalat, ia tidak bergerak sedikit pun seperti kayu yang ditancapkan.

Syaikh Baqi bin Mukhallad Rahmatullah ‘alaih mengkhatamkan satu khataman Al-Qur’an dalam tiga belas rakaat Tahajjud dan witirnya setiap malam.

Syaikh Hannad Rahmatullah ‘alaih adlah seorang muhaddits. Seorang muridnya mengatakan bahwa dia selalu menangis. Suatu ketika, dia mengajar kami di pagi hari. Sesudah mengajar, dia berwudhu lalu shalat sunnah hingga tergelincir matahari. Kemudian dia pulang sebentar ke rumahnya dan kembali lagi untuk mengimami Shalat Zhuhur. Setelah selesai Shalat Zhuhur, dia langsung shalat sunnah hingga Ashar. Selanjutnya dia mengimami Shalat Ashar dan membaca Al-Qur’an hingga waktu Maghrib. Seusai Maghrib murid tersebut pulang ke rumahnya dan berkata kepada tetangga Syaikh Hannad Rahmatullah ‘alaih, “Aku betul-betul takjub dengan ibadahnya. Dia betul-betul ahli ibadah.” Para tetangganya berkata, “Beliau sudah biasa melakukannya selama tujuh puluh tahun. Jika engkau melihat ibadahnya malam hari, maka engkau akan lebih takjub lagi.”

Syaikh Masruq Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhaddits, istrinya berkata, “Masruq selalu mengerjakan shalat dengan rakaat yang sangat panjang sampai kedua betisnya bengkak-bengkak, sehingga saya menangis di belakangnya karena kasihan melihat keadaannya.”

Diriwayatkan bahwa Syaikh Sa’id bin Musayyib Rahmatullah ‘alaih selama lima puluh tahun Shalat Shubuh dengan wudhu Shalat Isya’. Diriwayatkan bahwa Syaikh Abul Muktamir Rahmatullah ‘alaih mengerjakan hal itu selama empat puluh tahun. Imam Ghazali Rahmatullah ‘alaih meriwayatkan dari Syaikh Abu Thalib Makki Rahmatullah ‘alaih bahwa menurut riwayat yang mutawatir, (Perawinya sangat banyak sehingga cerita itu dipastikan kebenarannya.) ada sekitar empat puluh tabi’in yang biasa mengamalkan Shalat Shubuh dengan wudhu Shalat Isya’ selama bertahun-tahun, rata-rata empat puluh tahun. (dari Kitab It-haf)

Imam Abu Hanifah Rahmatullah ‘alaih juga terkenal dengan amalan seperti itu. Selama tiga puluh tahun, empat puluh, atau lima puluh tahun, Shalat Shubuh dengan wudhu Shalat Isya’. Perbedaan bilangan ini disebabkan perbedaan riwayat, bergantung pada lamanya pengetahuan masing-masing perawi. Diriwayatkan bahwa kebiasaannya hanya tidur sebentar di waktu siang. Dia mengatakan, tidur siang itu diperintahkan dalam hadits.

Dikisahkan bahwa kebiasaan Imam Syafi’i Rahmatullah ‘alaih mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan adalam shalat. Seseorang berkata, “Aku pernah tinggal bersama Imam Syafi’i Rahmatullah ‘alaih beberapa hari. Kulihat beliau tidur malam hanya sebentar.”

Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih biasa shalat sunnah tiga ratus rakaat setiap hari. Setelah ia dipenjarakan oleh raja dan disiksa dengan cambuk hingga lemah, (Akibat penentangannya terhadap pendapat sebagian ulama pemerintah yang berfaham menyeleweng (Mu’tazilah) pada zaman pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun.) ia mengurangi shalatnya menjadi 150 rakaat setiap hari. Ketika itu umurnya kurang lebih 80 tahun.

Dikisahkan bahwa Syaikh Abu ‘Attab Sulami Rahmatullah ‘alaih selalu berpuasa siang hari dan menangis malam hari selama empat puluh tahun.

Selain kisah-kisah di atas, masih ada ribuan kisah amal mereka yang telah diberi taufik, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab sejarah. Sebagai contoh dan teladan bagi kita, kisah-kisah di atas sudah mencukupi. Semoga Allah Subhaanahu wata’ala dengan limpahan rahmatn-Nya memberi taufij kepada saya dan para pembaca untuk meniru jekak para shalihin ini. Aamiin.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 2 : Kisah Shalatnya Orang-Orang Shalih (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

BAB KETIGA “KHUSYU’ DAN KHUDHU’ DALAM SHALAT”


Banyak orang yang melaksanakan shalat. Di antara mereka banyak juga yang mementingkan shalat dengan berjamaah. Tetapi, betapa jauhnya shalat mereka dari yang dikehendaki. Sehingga jangankan menghasilkan pahala, shalat mereka malah (diumpamakan seperti kain buruk) yang dilemparkan ke muka mereka. Memang, hal ini lebih baik daripada sama sekali tidak mengerjakan shalat. Seseorang yang meninggalkan shalat jelas akan menerima azab lebih berat. Sedangkan orang yang shalatnya buruk, shalatnya tidak diterima dan akan dilemparkan ke mukanya tanpa pahala. Namun, kedurhakaannya tidak sampai para kedurhakaan meninggalkan shalat. Oleh karena itu, orang yang sudah mengorbankan waktu, meninggalkan pekerjaan, dan mengalami berbagai kesulitan untuk mengerjakan shalat, hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki mutu shalatnya.

PASAL 1

AYAT-AYAT AL-QUR’AN

MENGENAI IKHLAS, KHUSYU’ DAN KHUDHU’

Meskipun ayat di bawah ini berhubungan dengan kurban, namun seluruh perintah Allah Subhaanahu wata’ala yang dimaksud adalah satu, yaitu ketakwaan dan keikhlasan, sebagaimana Firman-Nya:

“Sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darahnya, namun yang akan sampai kepada-Nya hanya ketakwaan dan keikhlasan dari kalian.” (Q.S. Al-Hajj: 37)

Makin tinggi keikhlasan seseorang, kian tinggi pula penerimaan Allah Subhaanahu wata’ala. Sayyidina Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku ke Yaman, aku meminta nasihat terakhir kepada belliau. Beliau bersabda, ‘Jagalah keikhlasan dalam setiap amalmu. Dengan keikhlasan, amal yang sedikit sudah sangat mencukupi.’” Sayyidina Tsauban Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bergembiralah orang yang ikhlas, sebab mereka akan menjadi pelita hidayah dan karena mereka, fitnah yang paling berbahaya pun akan dijauhkan.” Dalam sebuah hadits Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dengan berkah orang-orang yang lemah, Allah Subhaanahu wata’ala menolong umat ini, yaitu berkat doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” (dari Kitab At-Targhib)

Berkenaan dengan shalat, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Maka kecelakaan besar bagi orang-orang yang shalat, yang mereka lalai dari shalatnya dan mereka menunjuk-nunjukkan shalatnya kepada orang.” (Q.S. Al-Maa’uun: 4-6)

Terdapat berbagai penafsiran dari para ulama mengenai maksud ‘lalai’: Pertama, ada yang menafsirkannya lalai mengenai waktu sehingga harus mengqadhanya. Kedua, ada pula yang menafsirkannya tidak berkonsentrasi dalam shalat sehingga perhatiannya ke sana-kemari. Ketiga, ada yang menafsirkannya lalai dalam jumlah rakaat.

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman tentang golongan orang munafik:

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka hanya menunju-nunjukkan shalatnya kepada manusia (bahwa kami juga ahli shalat). Dan tidaklah mereka berdzikir kepada Allah kecuali sedikit.” (Q.S. An-Nisa’: 142)

Dalam ayat lain, Allah Subhaanahu wata’ala menceritakan kisah beberapa nabi, kemudian berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka (para Nabi) satu generasi yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, maka sebentar lagi (di akhirat) mereka akan menemui ghayya (kehancuran).” (Q.S. Maryam: 59)

Menurut bahasa, ghayya berarti kesesatan, maksudnya kerusakan dan kehancuran di akhirat. Banyak juga menafsirkan ghayya ialah satu tempat di Neraka Jahannam yang penuh berisi darah dan nanah, mereka akan dimasukkan ke dalamnya.

Dalam ayat lain, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Dan tidak ada yang menghalangi diterimanya infak-infak mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak mengerjakan shalat kecuali dengan malas, dan tidak pula menginfakkan (harta) mereka kecuali dengan enggan.” (Q.S. At-Taubah: 54)

Dan sebaliknya, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman mengenai orang-orang yang mengerjakan shalatnya dengan baik:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat (atau orang-orang yang memperbaiki akhlaknya) (Menurut pendapat yang masyhur, yang dimaksud zakat dalam ayat ini adalah zakat harta. Sedangkan menurut penafsiran yang lain maksudnya adalah Tazkiyatun Nufus atau memperbaiki diri. (Dari naskah Urdu)). Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya perempuan milik mereka. Maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barangsiapa mencari yang selain itu (melampiaskan syahwat di tempat yang lain), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang menjaga amanat dan janjinya. Dan orang-orang yang menjaga shalatnya, mereka itulah orang-orang yang mewarisi. (Yaitu) mereka akan mewarisi Surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Mu’minuun: 1-11)

Diterangkan dalam hadits, “Surga Firdaus adalah tempat tertinggi dan teristimewa di surga. Dari sanalah sungai-sungai mengalis ke surga-surga yang lain, di atasnya terdapat Arsy Ilahi. Jika kamu memohon surga, mohonlah Surga Firdaus.” Dalam ayat lain, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman tentang shalat:

“…. dan sesungguhnya shalat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah: 45-46)

Ayat lain yang menerangkan hal yang sama adalah:

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya ketika pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menunaikan zakat. Mereka takut akan hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. Mereka mengerjakan yang demikian itu agar Allah memberi balasan mereka dengan amalan mereka yang terbaik, dan agar Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Q.S. An-Nuur: 36-38)

Seorang penyair mengungkapkan:

Engkaulah Tuhan yang Maha Pemberi bagi hamba-Mu

Pintu rahmat-Mu senantiasa terbuka setiap waktu

Sayyidina Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Maksud ‘mendirikan shalat’ adalah kita sujud dan rukuk sebaik mungkin, yakni bertawajjuh (berkonsentrasi) sepenuhnya dalam shalat.” Syaikh Qatadah Rahmatullah ‘alaih berpendapat bahwa ‘mendirikan shalat’ adalah menjaga waktu, wudhu, dengan sempurna, rukuk, dan sujud dengan sebaik-baiknya. Inilah maksud Iqamatush Shalah (mendirikan shalat) dalam ayat-ayat Al-Qur’an. (dari Kitab Durrul Mantsur)

Dalam ayat yang lain Allah Subhaanahu wata’ala memuji ‘orang-orang yang mendirikan Shalat’ dengan firman-Nya:

“Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tidak angkuh ketika berjalan); dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan ucapan yang bodoh), mereka mengucapkan kata-kata salam (kata-kata yang menghindarkan mereka dari terlibat dengan orang-orang bodoh tersebut, atau sekedar salam). Dan orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Q.S. Al-Furqaan: 63-64)

Dalam ayat-ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman setelah menerangkan beberapa sifat mereka.

“Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan tempat yang tinggi (di surga) atas kesabaran mereka (berpegang teguh pada agama) dan mereka disambut oleh para malaikat dengan pernghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Betapa indahnya surga sebagai tempat tinggal dan kediaman.” (Q.S. Ar-Ra’d: 23-24)

Allah Subhaanahu wata’ala memuji orang-orang seperti ini dalam ayat:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (selalu mengerjakan shalat di waktu malam), mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dari azab-Nya dan rasa harap pada pahala dari-Nya, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka, dari kenikmatan-kenikmatan yang menyejukkan pandangan mata, sebagai balsan atas amal baik yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajdah: 16-17)

Allah Subhaanahu wata’ala memuji orang-orang seperti ini dalam ayat:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan Rabb mereka kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur waktu malam (karena shalat). Dan di akhir malam mereka mohon ampunan Allah.” (Q.S. Adz-Dzaariyaat: 15-18)

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“(Apakah sama orang-orang yang tidak beragama) dengan orang-orang yang selalu beribadah ketika waktu-waktu malam, kadang-kadang sujud dan kadang-kadang berdiri, ia takut kepada (zab) akhirat dan mengharap rahmat Rabbnya. Katakanlah, apakah sama antara orang-orang yang berilmu? (sudah jelas orang yang berilmu selalu beribadah kepada Rabbnya sedangkan orang yang tidak beribadah kepada Rabbnya adalah orang yang bodoh bahkan paling bodoh). Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat menerima peajaran.” (Q.S. Az-Zumar: 9)

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya manusia diciptakan cenderung berubah-rubah. Jika ditimpa kesusahan ia mengeluh, dan jika mendapatkan kebaikan ia menjadi bakhil sehingga ia tidak memberikan kebaikan itu pada orang lain. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang terus-menerus dalam mengerjakannya (dan mengerjakannya dengan penuh ketenangan).” (Q.S. Al-Ma’aarij: 19-23)

Mengenai sifat-sifat mereka, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Dan mereka yang menjaga shalat-shalat mereka, di dalam surga mereka akan dimuliakan.” (Q.S. Al-Ma’aarij: 34-35)

Masih banyak ayat yang menerangkan tantang perintah shalat dan keutamaan-keutamaan ahli shalat, juga derajat dan kemuliaannya. Shalat adalah kekayaan bagi kita, sehingga Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin di dunia dan di akhirat bersabda, “Sejuknya mataku ada dalam shalat.” Nabi Ibrahim Khalilullah Alaihis salam berdoa kepada Allah Subhaanahu wata’ala:

“Wahai Rabbku, jadikanlah diriku orang yang mendirikan shalat dan juga dari keturunanku. Wahai Rabbku, dan kabulkanlah doaku.” (Q.S. Ibrahim: 40)

Meskipun sudah menjadi kekasih Allah Subhaanahu wata’ala, Nabi Ibrahim Alaihis salam tetap memohon kepada Allah Subhaanahu wata’ala agar Allah Subhaanahu wata’ala menjadikannya sebagai orang yang menjaga shalat. Allah Subhaanahu wata’ala sendiri telah memerintahkan kekasih-Nya, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan firman-Nya:

”Dan suruhlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakan shalat. Kami tidak meminta rezeki darimu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Thaahaa: 132)

Sebuah hadits menyebutkan bahwa jika ada kesulitan apaun menimpa keluarga Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau akan menyuruh mereka mengerjakan shalat sambil membacakan ayat di atas. Demikian pula para nabi Alaihis salam, jika mengalami kesulitan apapun, mereka akan segera sibuk mengerjakan shalat, Sayang, dewasa ini kita melalikan perkara yang sangat penting ini. Kita tidak mempedulikan shalat, walaupun kita dengan penjang lebar mengaku sebagai muslim. Bahkan, jika ada orang yang mengajak kita mempedulikan shalat, kita akan mencelanya dan mendebatnya. Yang demikian itu tentu menghancurkan diri kita sendiri. Bahkan, mereka yang telah shalat pun banyak yang mengerjakannya sambil bergurau. Dengan kata lain tanpa ada ruh di dalam shalatnya atau ia tidak menyempurnakan kebanyakan rukun-rukun shalat. Adapun masalah khusyu’ dan khudhu’ adalah perkara yang jauh.

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang teladan yang telah memperlihatkan setiap amalannya kepada kita. Keberhasilan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum pun telah kita ketahui. Oleh karena itu, kita harus mengikuti mereka. Banyak kisah shahabat yang membicarakan hal tersebut yang telah saya tulis dalam Kitab Hikayatush Shahabah. Saya kira tidak perlu lagi mengulanginya di sini. Namun demikian, saya akan menulis beberapa kisah ahli tasawwuf dan beberapa sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenainya.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 1 : Ayat-Ayat Al-Qur’an Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site