Keutamaan Rakaat yang Panjang

Hadits Ke-8

Dari Sayyidina Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat yang paling utama ialah yang panjang rakaatnya.” (H.R. Ibnu Abi Syaibah, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dari Kitab Durrul Mantsur)

Syaikh Mujahid Rahmatullah ‘alaih telah menerangkan maksud ayat:

“(Dalam shalat) berdirilah di depan Allah dengan penuh adab.” (Q.S. Al-Baqarah: 238).

Quunuut dalam ayat ini termasuk juga rukuk, khusyu’, dan rakaat yang panjang, yaitu lama berdiri, menundukkan pandangan, merendahkan bahu (tidak berdiri dengan angkuh) dan juga rasa takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum, jika berdiri dalam shalat maka mereka takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala dan tidak berani menoleh ke sana-kemari atau membolak-balikkan kerikil (dalam sujud, karena di Arab zaman dahulu, lantai masjid terbuat dari batu kerikil), atau main-main dengan sesuatu, atau memikirkan urusan dunia dalam hatinya, kecuali jika lupa, sampai mereka menyelesaikan shalatnya. (H.R. Baihaqi)

Faidah

Banyak sekali riwayat tentang penafsiran kalimah wa quumuu lillaahi qaanitiin. Salah satu di antaranya menyatakan bahwa qaanitiin maksudnya sunyi senyap. Pada masa awal Islam, berbicara, menjawab salam, dan perbuatan lain dalam shalat diperbolehkan. Namun, setelah turun ayat di atas, berbicara di dalam shalat dilarang. Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Pada mulanya apabila menemui Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, saya biasa mengucapkan salam kepada beliau, dan beliau menjawab salam saya walaupun sedang shalat. Suatu ketika saya menemui Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat. Saya mengucapkan salam kepada beliau seperti biasanya, namun beliau tidak menjawab. Saya benar-benar merasa cemas dan khawatir jangan-jangan Allah Subhaanahu wata’ala menurunkan suatu wahyu yang berisi teguran kepada saya. Berbagai pikiran terlintas dalam benak saya, mungkin Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam marah kepada saya karena Sesutu hal, mungkin juga karena kejadian ini atau itu. Setelah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam salam di akhir shalat, beliau bersabda, ‘Allah Subhaanahu wata’ala mengubah hukum-Nya sekehendak-Nya. Kini Allah Subhaanahu wata’ala telah melarang berbicara dalam shalat.’ Kemudian beliau membacakan ayat di atas, lalu beliau bersabda, ‘Shalat adalah dzikrullah. Ucapan selain Tasbih, Tahmid, dan pujian kepada-Nya tidak diizinkan dalam shalat.’”

Sayyidina Mu’awiyah bin Hakam Sulami Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika saya datang ke Madinah untuk masuk Islam, banyak hal yang dapat saya pelajari. Salah satu di antaranya, jika seseorang bersin dan mengucapkan Alhamdulillah, maka orang yang mendengarnya hendaknya membaca Yarhamukallah. Karena saya baru masuk Islam maka saya tidak tahu bahwa hal itu tidak berlaku dalam shalat. Suatu ketika, ada seorang shshabat bersin dalam shalat. Saya langsung menjawab, “Yarhamukallah!” Orang-orang langsung memandang saya dengan marah, karena saat itu saya tidak tahu, bahwa berbicara dalam shalat tidak dibolehkan. Maka saya berkata, “Wahai kalian, mengapa kalian memandang saya dengan marah seperti itu?” Orang-orang mengisyaratkan kepada saya agar diam. Meskipun saya belum paham, saya pun diam. Seusai shalat, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memukul saya, tidak memarahi saya, tidak menghardik saya, namun beliau hanya bersabda, ‘Tidak dibolehkan berbicara di dalam shalat. Shalat itu, untuk bertasbih, bertakbir, dan membaca Al-Qur’an.’ Demi Allah, saya tidak pernah melihat seorang guru yang sepenyayang Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi waslalam.”

Dalam penafsiran yang lain, Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Qaanitiin ialah Khaasyi’iin, yakni orang-orang yang khusyu’.” Syaikh Mujahid Rahmatullah ‘alaih juga berpendapat demikian. Beliau mengatakan maksud dari Qaanitiin adalah meliputi rakaat yang panjang, khusyu’ dan khudu’ dalam shalat, memandang ke bawah, serta takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala.” Sayyidina Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Pada mulanya jika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Shalat Thajjud malam hari, beliau menggunakan tali pengikat agar tidak terjatuh ketika mengantuk. Terhadap hal ini, turunlah ayat:

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an supaya kamu menjadi susah.” (Q.S. Thaahaa: 1-2)

Selain itu, masih banyak hadits lain yang mengisahkan panjangnya shalat Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga kaki beliau bengkak-bengkak. Tetapi disebabkan kasih sayang beliau kepada kita, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati agar kita mengerjakan shalat menurut kemampuan kita. Jangan sampai terlalu memberatkan, sehingga menjadi susah. Pernah terjadi seorang shahabiyah mengikat dirinya dengan tali sebelum shalat. Ketika melihat hal itu beliau melarangnya.

Bagaimanapu, shalat dengan rakaat yang lama lebih baik dan lebih utama. Oleh karena itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri amat lama dalam shalat malamnya sehingga kaki beliau bengkak-bengkak. Ini menunjukan shalat dengan raka’at yang panjang tentu ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum pernah berkata kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bukankah dalam Surat Fath Allah Subhaanahu wata’ala telah menjanjikan ampunan bagimu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidakkah sepantasnya aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”

Sebuah hadits menceritakan bahwa jika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat, maka terdengar dari dalam dada beliau suara seperti bunyi deritan penggiling karena tangisan (dan karena tertahannya napas). Dalam riwayat lain, suara itu seperti suara air yang sedang mendidih dalam periuk. (dari Kitab At-Targhib)

Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhuberkata, “Ketika malam Perang Badar, aku melihat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Shalat dengan menangis-nangis di bawah pohon sepanjang malam hingga tiba waktu Shubuh.”

Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Allah Subhaanahu wata’ala menyukai beberapa orang. Salah satunya adalah orang yang meninggalkan kasurnya yang empuk dan istrinya yang cantik, kemudian menyibukkan diri dalam Shalat Tahajjud di malam musim dingin. Allah Subhaanahu wata’ala amat mencintai orang seperti ini dan bangga terhadapnya. Meskipun Allah Subhaanahu wata’ala itu Maha Mengetahui yang ghaib, tetapi karena ingin memuji hamba-Nya, Dia bertanya kepada Malaikat-Nya, “Apakah yang mendorong hamba ini untuk bangun Tahajjud?” Para malaikat menjawab, “Mereka mengharap kemurahan-Mu dan takut murka-Mu.” Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, “Bila demikian, akan Aku berikan apa yang mereka harapkan, dan akan Aku sekamatkan mereka dari apa yang mereka takuti.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada pemberian dari Allah Subhaanahu wata’ala yang lebih baik melebihi taufik melaksanakan shalat dua rakaat.”

Banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits bahwa para malaikat selalu sibuk beribadah. Sebuah hadits menerangkan, ada segolongan malaikat yang senantiasa rukuk terus, ada segolongan lagi yang senantiasa sujud, dan ada sebagian lain yang senantiasa berdiri, sampai Hari Kiamat. Allah Subhaanahu wata’ala mengaruniakan kemuliaan dan kehormatan kepada orang mukmin dengan memberi dua rakaat shalat yang di dalamnya terkandung berbagai ibadah para malaikat agar kita mendapatkan bagian dari setiap ibadah mereka, ditambah dengan bacaan Al-Qur’an dalam shalat Dengan demikian, jika shalat merupakan kumpulan ibadah para malaikat, maka dengan shalat tersebut, kita akan mudah memperoleh sifat-sifat mereka. Oleh karena itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ringankanlah perut dan punggungmu, agar kamu mudah shalat.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

‘Meringankan punggung’ maksudnya mengurangi permasalahan dan urusan dengan manusia. Yang dimaksud ‘meringankan perut’ adalah tidak terlalu banyak makan, sehingga jauh dari sifat malas.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Keutamaan Rakaat yang Panjang (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: