Larangan Bergerak-gerak dalam Shalat

Hadits Ke-6

Dari Sayyidatina Ummu Ruman Radhiyallahu ‘anha, ibunda Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu melihatku bergerak-gerak ketika shalat. Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menghardikku dengan keras sehingga hampir saja aku membatalkan shalatku (karena takut). Ia berkata, ‘Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika seseorang berdiri shalat, hendaklah menenangkan seluruh anggota badannya. Jangan bergerak-gerak seperti orang Yahudi. Sebab, tenangnya seluruh anggota badan ketika shalat termasuk kesempurnaan shalat.’” (H.R. Hakim Tirmidzi, dari Kitab Durrul Mantsur)

Faidah

Masalah thuma’ninah dalam shalat telah banyak diriwayatkan dalam hadits. Biasanya Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memandang ke arah langit, menunggu malaikat pembawa wahyu. Jika seseorang menunggu sesuatu, pandangannya akan tertuju kea rah sesuatu itu. Oleh karena itu, pandangan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang tertuju ke atas ketika shalat. Namun ketika turun ayat:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Q.S. Al-Mu’minuun: 1-2)

Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengarahkan pandangannya ke bawah.

Banyak riwayat yang menyebutkan, sebelum turun ayat di atas para shahabat Radhiyallahu ‘anhum biasa memandang ke sana-kemari dalam shalatnya. Akan tetapi, setelah turun ayat di atas, pandangan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum tidak ke sana-kemari lagi. Mengenai ayat di atas, Sayyidina Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jika para shahabat Radhiyallahu ‘anhum berdiri shalat, maka pandangan mereka tidak ke sana-kemari. Mereka sangat berkonsentrasi dalam shalat. Pandangan mereka tertuju ke tempat sujud. Mereka meyakini bahwa Allah Subhaanahu wata’ala melihat kepada mereka.”

Suatu ketika, Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu ditanya oleh seseorang, “Apakah khusyu’ itu?” Ia menjawab, “Khusyu’ itu di dalam hati (maksudnya ketawajjuhan hati dalam shalat). Termasuk khusyu’ ialah pikirannya tidak tertuju kepada hal-hal lain.” Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Orang yang khusyu’ adalah orang yang takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala dan orang yang menenangkan seluruh anggota badannya.“ Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Berlindunglah kepada Allah Subhaanahu wata’ala dari khusyu’ yang munafik.’ Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah khusyu’ yang munafik itu?’ Beliau menjawab, “Zhahirnya terlihat khusyu’, tetapi hatinya tidak khusyu’.’” Dalam hal ini, Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Khusyu’ yang munafik ialah secara zhahir terlihat khusyu’, namun hatinya tidak khusyu’.” Syaikh Qatadah Rahmatullaah ‘alaih berkata, “Hati yang Khusyu’ ialah hati yang takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala serta pandangan mata selalu ke bawah.”

Pernah suatu ketika, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki yang shalt sambil mengelus-ngelus janggutnya. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika hatinya khusyu’, maka seluruh anggota tubuhnya akan diam.” Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya, “Bagaimanakah orang yang memandang ke sana kemari dalam shalat?” Beliau bersabda, “Itu adalah penyerobotan setan dalam shalat seseorang.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa biasa memandang ke atas dalam shalatnya, hendaknya ia menghentikan kebiasaan itu. Jika tidak, (apakah ia tidak takut) kalau Allah Subhaanahu wata’ala membutakan pandangannya.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Banyak riwayat dari para shahabat Radhiyallahu ‘anhum dan para tabi’in Rahmatullah ‘alaihim yang menyetakan bahwa khusyu’ adalah tenangnya seluruh anggota tubuh dalam shalat. Masih banyak sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan riwayat yang berbeda menyebutkan, “Shalatlah kamu seolah-olah ini shalat yang terakhir dalam hidupmu.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 3 : Hadits-Hadits Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ ~ Larangan Bergerak-gerak dalam Shalat (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: