BAB KETIGA “KHUSYU’ DAN KHUDHU’ DALAM SHALAT”

Banyak orang yang melaksanakan shalat. Di antara mereka banyak juga yang mementingkan shalat dengan berjamaah. Tetapi, betapa jauhnya shalat mereka dari yang dikehendaki. Sehingga jangankan menghasilkan pahala, shalat mereka malah (diumpamakan seperti kain buruk) yang dilemparkan ke muka mereka. Memang, hal ini lebih baik daripada sama sekali tidak mengerjakan shalat. Seseorang yang meninggalkan shalat jelas akan menerima azab lebih berat. Sedangkan orang yang shalatnya buruk, shalatnya tidak diterima dan akan dilemparkan ke mukanya tanpa pahala. Namun, kedurhakaannya tidak sampai para kedurhakaan meninggalkan shalat. Oleh karena itu, orang yang sudah mengorbankan waktu, meninggalkan pekerjaan, dan mengalami berbagai kesulitan untuk mengerjakan shalat, hendaknya berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki mutu shalatnya.

PASAL 1

AYAT-AYAT AL-QUR’AN

MENGENAI IKHLAS, KHUSYU’ DAN KHUDHU’

Meskipun ayat di bawah ini berhubungan dengan kurban, namun seluruh perintah Allah Subhaanahu wata’ala yang dimaksud adalah satu, yaitu ketakwaan dan keikhlasan, sebagaimana Firman-Nya:

“Sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darahnya, namun yang akan sampai kepada-Nya hanya ketakwaan dan keikhlasan dari kalian.” (Q.S. Al-Hajj: 37)

Makin tinggi keikhlasan seseorang, kian tinggi pula penerimaan Allah Subhaanahu wata’ala. Sayyidina Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku ke Yaman, aku meminta nasihat terakhir kepada belliau. Beliau bersabda, ‘Jagalah keikhlasan dalam setiap amalmu. Dengan keikhlasan, amal yang sedikit sudah sangat mencukupi.’” Sayyidina Tsauban Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Bergembiralah orang yang ikhlas, sebab mereka akan menjadi pelita hidayah dan karena mereka, fitnah yang paling berbahaya pun akan dijauhkan.” Dalam sebuah hadits Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dengan berkah orang-orang yang lemah, Allah Subhaanahu wata’ala menolong umat ini, yaitu berkat doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” (dari Kitab At-Targhib)

Berkenaan dengan shalat, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Maka kecelakaan besar bagi orang-orang yang shalat, yang mereka lalai dari shalatnya dan mereka menunjuk-nunjukkan shalatnya kepada orang.” (Q.S. Al-Maa’uun: 4-6)

Terdapat berbagai penafsiran dari para ulama mengenai maksud ‘lalai’: Pertama, ada yang menafsirkannya lalai mengenai waktu sehingga harus mengqadhanya. Kedua, ada pula yang menafsirkannya tidak berkonsentrasi dalam shalat sehingga perhatiannya ke sana-kemari. Ketiga, ada yang menafsirkannya lalai dalam jumlah rakaat.

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman tentang golongan orang munafik:

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka hanya menunju-nunjukkan shalatnya kepada manusia (bahwa kami juga ahli shalat). Dan tidaklah mereka berdzikir kepada Allah kecuali sedikit.” (Q.S. An-Nisa’: 142)

Dalam ayat lain, Allah Subhaanahu wata’ala menceritakan kisah beberapa nabi, kemudian berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka (para Nabi) satu generasi yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, maka sebentar lagi (di akhirat) mereka akan menemui ghayya (kehancuran).” (Q.S. Maryam: 59)

Menurut bahasa, ghayya berarti kesesatan, maksudnya kerusakan dan kehancuran di akhirat. Banyak juga menafsirkan ghayya ialah satu tempat di Neraka Jahannam yang penuh berisi darah dan nanah, mereka akan dimasukkan ke dalamnya.

Dalam ayat lain, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Dan tidak ada yang menghalangi diterimanya infak-infak mereka, melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak mengerjakan shalat kecuali dengan malas, dan tidak pula menginfakkan (harta) mereka kecuali dengan enggan.” (Q.S. At-Taubah: 54)

Dan sebaliknya, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman mengenai orang-orang yang mengerjakan shalatnya dengan baik:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat (atau orang-orang yang memperbaiki akhlaknya) (Menurut pendapat yang masyhur, yang dimaksud zakat dalam ayat ini adalah zakat harta. Sedangkan menurut penafsiran yang lain maksudnya adalah Tazkiyatun Nufus atau memperbaiki diri. (Dari naskah Urdu)). Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya perempuan milik mereka. Maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barangsiapa mencari yang selain itu (melampiaskan syahwat di tempat yang lain), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang menjaga amanat dan janjinya. Dan orang-orang yang menjaga shalatnya, mereka itulah orang-orang yang mewarisi. (Yaitu) mereka akan mewarisi Surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Mu’minuun: 1-11)

Diterangkan dalam hadits, “Surga Firdaus adalah tempat tertinggi dan teristimewa di surga. Dari sanalah sungai-sungai mengalis ke surga-surga yang lain, di atasnya terdapat Arsy Ilahi. Jika kamu memohon surga, mohonlah Surga Firdaus.” Dalam ayat lain, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman tentang shalat:

“…. dan sesungguhnya shalat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb mereka dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah: 45-46)

Ayat lain yang menerangkan hal yang sama adalah:

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya ketika pagi dan petang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menunaikan zakat. Mereka takut akan hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. Mereka mengerjakan yang demikian itu agar Allah memberi balasan mereka dengan amalan mereka yang terbaik, dan agar Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (Q.S. An-Nuur: 36-38)

Seorang penyair mengungkapkan:

Engkaulah Tuhan yang Maha Pemberi bagi hamba-Mu

Pintu rahmat-Mu senantiasa terbuka setiap waktu

Sayyidina Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Maksud ‘mendirikan shalat’ adalah kita sujud dan rukuk sebaik mungkin, yakni bertawajjuh (berkonsentrasi) sepenuhnya dalam shalat.” Syaikh Qatadah Rahmatullah ‘alaih berpendapat bahwa ‘mendirikan shalat’ adalah menjaga waktu, wudhu, dengan sempurna, rukuk, dan sujud dengan sebaik-baiknya. Inilah maksud Iqamatush Shalah (mendirikan shalat) dalam ayat-ayat Al-Qur’an. (dari Kitab Durrul Mantsur)

Dalam ayat yang lain Allah Subhaanahu wata’ala memuji ‘orang-orang yang mendirikan Shalat’ dengan firman-Nya:

“Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang ialah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tidak angkuh ketika berjalan); dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan ucapan yang bodoh), mereka mengucapkan kata-kata salam (kata-kata yang menghindarkan mereka dari terlibat dengan orang-orang bodoh tersebut, atau sekedar salam). Dan orang-orang yang menghabiskan malamnya dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Q.S. Al-Furqaan: 63-64)

Dalam ayat-ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman setelah menerangkan beberapa sifat mereka.

“Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan tempat yang tinggi (di surga) atas kesabaran mereka (berpegang teguh pada agama) dan mereka disambut oleh para malaikat dengan pernghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Betapa indahnya surga sebagai tempat tinggal dan kediaman.” (Q.S. Ar-Ra’d: 23-24)

Allah Subhaanahu wata’ala memuji orang-orang seperti ini dalam ayat:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (selalu mengerjakan shalat di waktu malam), mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dari azab-Nya dan rasa harap pada pahala dari-Nya, dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan bagi mereka, dari kenikmatan-kenikmatan yang menyejukkan pandangan mata, sebagai balsan atas amal baik yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajdah: 16-17)

Allah Subhaanahu wata’ala memuji orang-orang seperti ini dalam ayat:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan Rabb mereka kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur waktu malam (karena shalat). Dan di akhir malam mereka mohon ampunan Allah.” (Q.S. Adz-Dzaariyaat: 15-18)

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“(Apakah sama orang-orang yang tidak beragama) dengan orang-orang yang selalu beribadah ketika waktu-waktu malam, kadang-kadang sujud dan kadang-kadang berdiri, ia takut kepada (zab) akhirat dan mengharap rahmat Rabbnya. Katakanlah, apakah sama antara orang-orang yang berilmu? (sudah jelas orang yang berilmu selalu beribadah kepada Rabbnya sedangkan orang yang tidak beribadah kepada Rabbnya adalah orang yang bodoh bahkan paling bodoh). Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat menerima peajaran.” (Q.S. Az-Zumar: 9)

Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya manusia diciptakan cenderung berubah-rubah. Jika ditimpa kesusahan ia mengeluh, dan jika mendapatkan kebaikan ia menjadi bakhil sehingga ia tidak memberikan kebaikan itu pada orang lain. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang terus-menerus dalam mengerjakannya (dan mengerjakannya dengan penuh ketenangan).” (Q.S. Al-Ma’aarij: 19-23)

Mengenai sifat-sifat mereka, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Dan mereka yang menjaga shalat-shalat mereka, di dalam surga mereka akan dimuliakan.” (Q.S. Al-Ma’aarij: 34-35)

Masih banyak ayat yang menerangkan tantang perintah shalat dan keutamaan-keutamaan ahli shalat, juga derajat dan kemuliaannya. Shalat adalah kekayaan bagi kita, sehingga Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin di dunia dan di akhirat bersabda, “Sejuknya mataku ada dalam shalat.” Nabi Ibrahim Khalilullah Alaihis salam berdoa kepada Allah Subhaanahu wata’ala:

“Wahai Rabbku, jadikanlah diriku orang yang mendirikan shalat dan juga dari keturunanku. Wahai Rabbku, dan kabulkanlah doaku.” (Q.S. Ibrahim: 40)

Meskipun sudah menjadi kekasih Allah Subhaanahu wata’ala, Nabi Ibrahim Alaihis salam tetap memohon kepada Allah Subhaanahu wata’ala agar Allah Subhaanahu wata’ala menjadikannya sebagai orang yang menjaga shalat. Allah Subhaanahu wata’ala sendiri telah memerintahkan kekasih-Nya, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan firman-Nya:

”Dan suruhlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakan shalat. Kami tidak meminta rezeki darimu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Thaahaa: 132)

Sebuah hadits menyebutkan bahwa jika ada kesulitan apaun menimpa keluarga Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau akan menyuruh mereka mengerjakan shalat sambil membacakan ayat di atas. Demikian pula para nabi Alaihis salam, jika mengalami kesulitan apapun, mereka akan segera sibuk mengerjakan shalat, Sayang, dewasa ini kita melalikan perkara yang sangat penting ini. Kita tidak mempedulikan shalat, walaupun kita dengan penjang lebar mengaku sebagai muslim. Bahkan, jika ada orang yang mengajak kita mempedulikan shalat, kita akan mencelanya dan mendebatnya. Yang demikian itu tentu menghancurkan diri kita sendiri. Bahkan, mereka yang telah shalat pun banyak yang mengerjakannya sambil bergurau. Dengan kata lain tanpa ada ruh di dalam shalatnya atau ia tidak menyempurnakan kebanyakan rukun-rukun shalat. Adapun masalah khusyu’ dan khudhu’ adalah perkara yang jauh.

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang teladan yang telah memperlihatkan setiap amalannya kepada kita. Keberhasilan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum pun telah kita ketahui. Oleh karena itu, kita harus mengikuti mereka. Banyak kisah shahabat yang membicarakan hal tersebut yang telah saya tulis dalam Kitab Hikayatush Shahabah. Saya kira tidak perlu lagi mengulanginya di sini. Namun demikian, saya akan menulis beberapa kisah ahli tasawwuf dan beberapa sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenainya.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 1 : Ayat-Ayat Al-Qur’an Mengenai Ikhlas, Khusyu’ dan Khudhu’ (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: