PASAL 2

KISAH SHALATNYA ORANG-ORANG SHALIH

Kisah ke-1

Dikisahkah tentang Syaikh Abdul Wahid Rahmatullah ‘alaih, seorang ahli tasawwuf yang masyhur. Dia berkata, “Suatu hari, rasa kantuk menyerangku luar biasa, sehingga aku meninggalkan wirid-wirid dan dzikir-dzikirku malam itu. Aku bermimpi berjumpa dengan seorang gadis cantik jelita berpakaian sutera hijau. Sekujur tubuh gadis itu hingga sepatunya sibuk membaca Tasbih. Gadis itu berkata, ‘Milikilah aku! Aku menginginkan engkau.’ Kemudian ia membaca beberapa bait syair kerinduan. Setelah terbangun dari mimpiku, aku bersumpah tidak akan tidur malam hari.” Diriwayatkan selama empat puluh tahun dia Shalat Shubuh dengan wudhu Shalat Isya’. (dari Kitab Nuzhatul Majalis)

Kisah ke-2

Syaikh Mazhhar Sa’di Rahmatullah ‘alaih, seorang ulama, selama enam puluh tahun menangis karena cinta dan rindunya kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Suatu malam, ia bermimpi melihat sebuah sungai mengalir penuh kasturi. Di setiap sisinya, berderet pohon-pohon mutiara beranting emas dan beberapa orang gadis belia yang sibuk bertasbih kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Ia bertanya kepada mereka, “Siapakah kalian?” Gadis-gadis itu menjawab dengan membaca dua bait syair, yang lebih kurang bermaksud:

Kami diciptakan oleh Tuhan manusia seluruh alam

yaitu Tuhan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Untuk orang yang berdiri di hadapan Allah sepanjang malam

serta selalu bermunajat kepada Tuhan semesta alam

Kisah ke-3

Syaikh Abu Bakar Dharir Rahmatullah ‘alaih berkata, “Ada seorang hamba muda yang tinggal bersamaku. Siang hari, ia berpuasa dan malam hari ia bertahajjud. Suatu hari, ia mendatangiku dan bercerita, ‘Semalam aku tertidur, dan aku bermimpi melihat dinding mihrab telah terbelah dan keluar darinya beberapa gadis yang cantik jelita, namun salah seorang di antara mereka ada yang amat buruk rupanya. Aku bertanya kepada mereka, ‘Siapakah kalian? Siapakah yang bermuka buruk itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah malam-malammu yang dahulu (yang penuh dengan indah), dan yang buruk itu adalah malammu yang sekarang (yang habis untuk tidur).’” (dari Kitab Nuzhatul Majalis)

Kisah ke-4

Seorang Syaikh berkata, “Suatu malam kantuk yang luar biasa menyerangku sehingga mataku sulit terbuka. Aku bermimpi melihat seorang gadis yang cantik rupawan. Belum pernah aku melihat gadis secantik itu seumur hidupku. Aku juga mencium semerbak harumnya, dan belum pernah mencium bau seharum itu. Gadis itu memberiku sehelai kertas yang berisi tiga bait syair, yang kurang lebih artinya:

Engkau sibukkan dirimu dengan kelezatan kantukmu

Sehingga engkau lalaikan istana-istana surga itu

Yang di dalamnya kau akan kekal dan akan hidup selalu

Bangunlah engkau segera dari kantukmu

Bacalah Al-Qur’an dalam Tahajjudmu

Itu lebih baik daripada engkau tidur selalu

Syaikh itu berkata, ‘Setelah mimpi itu, setiap aku diserang kantuk, aku teringat syair tersebut dan kantukku lenyap seketika.’”

Kisah ke-5

Syaik Atha’ Rahmatullah ‘alaih berkata, “Suatu hari, aku pergi ke pasar dan ada seorang hamba sahaya wanita yang sedang dijual sambil diberitahukan bahwa hamba itu gila. Lantas aku membelinya seharga tujuh dinar dan membawa wanita itu ke rumah. Ketika lewat tengah malam kulihat wanita itu bangun, lalu berwudhu dan shalat. Dalam shalatnya ia menangis terus-menerus, sehingga aku mengira ia akan mati. Selesai shalat, ia bermunajat kepada Allah Subhaanahu wata’ala dengan berkata, ‘Wahai Tuhan yang kusembah, demi cinta-Mu kepadaku, kasihanilah aku!’ Mendengar ucapan itu, aku berkata kepadanya, ‘Jangan berkata seperti itu, tetapi katakanlah, ‘Demi cintaku kepada-Mu!’ Mendengar ucapanku, ia terkejut dan marah. Ia berkata, ‘Demi Dzat Allah, seandainya bukan karena cinta-Nya kepadaku, tidak mungkin Dia menidurkanmu dengan nyenyak dan memberdirikan aku seperti ini.’ Setelah berkata demikian, ia tersungkur sambil membaca beberapa bait syair yang isinya:

Kegelisahan makin nyata

Kalbu kian membara

Kesabaran kian sirna

Berlinang-linang air mata

Bagaimana seseorang akan bahagia

Sementara telah tenggelam hatinya

Dalam kegalauan, kerinduan, dan cinta

ya Allah, jikalau ada sesuatu perkara

Yang dapat membuatku bahagia

Maka anugerahkanlah kepada hamba

Kemudian ia berdoa dengan keras, ‘Ya Allah, hubunganku dengan-Mu yang selama ini tersembunyi telah diketahui oleh makhluk-Mu. Sekarang ambillah aku!’ Setelah berkata demikian, ia menjerit keras lalu meninggal dunia.”

Kisah ke-6

Kisahh seperti di atas, juga terjadi pada Syaikh Sirri Rahmatullah ‘alaih. Ia berkata, “Aku membeli seorang hamba sahaya wanita untuk berkhidmat kepadaku. Beberapa hari lamanya, ia berkhidmat kepadaku, namun ia masih menyekbunyikan jati dirinya. Ia memilih suatu tempat khusus untuk shalat. Selesai bekerja, ia langsung pergi ke tempat itu dan menyibukkan diri dengan shalat. Suatu malam, kulihat ia sibuk shalat malam atau sibuk berdoa. Ia berkata, ‘Wahai Allah, dengan perantaraan cinta-Mu kepadaku, buatlah ini dan itu untukku.’ Aku berkata dengan suara keras, ‘Wahai perempuan, ucapkanlah dengan perantaraan cintaku kepada-Mu.’ Ia pun menyahut, ‘Tuanku, jika bukan karena cinta-Nya kepadaku, Dia tidak akan membiarkanmu tidak shalat dan membuat aku berdiri shalat.’ Syaikh Sirri Rahmatullah ‘alaih berkata, “Keesokan paginya aku memanggilnya dan berkata, ‘Kamu tidak layak berkhidmat kepadaku, selayaknya kamu hanya beribadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala.’ Aku memberinya sedikit bekal lalu memerdekakannya.” (dari Kitab Nuzhatul Majalis)

Kisah ke-7

Syaikh Sirri Saqti Rahmatullah ‘alaih bercerita tentang seorang wanita. Ketika wanita itu Shalat Tahajjud, ia berdoa, “ia berdoa, “Ya Allah, Iblis adalah hamba-Mu, dan ia dalam genggaman Qudrat-Mu. Iblis melihatku, tetapi aku tidak melihatnya. Engkau melihatnya dan Engkau berkuasa atas segala perbuatannya. Ia tidak mampu berbuat apa pun tanpa kehendak-Mu. Ya Allah, jika ia menghendaki keburukan kepadaku, maka usirlah ia. Jika ia membuat maker terhadapku, maka buatlah maker terhadapnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan aku memohon pertolongan-Mu sehingga aku bisa mengusirnya.” Wanita it uterus menangis sampai sebelah matanya buta. Orang-orang menasihatinya, “Takutlah kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Jika kamu terus menangis, sebelah matamu juga akan buta.” Ia menjawab, “Jika mata ini mata surga, niscaya Allah Subhaanahu wata’ala akan menggantinya dengan mata yang lebih baik. Sebaliknya, jika mata ini mata neraka, maka kehilangan mata adalah lebih baik.”

Kisah ke-8

Syaikh Abu Abdillah Jila’ Rahmatullah ‘alaih bercerita, “Suatu hari, ibuku meminta dibelikan ikan oleh ayahku. Kemudian ayah pergi bersamaku ke pasar untuk membeli ikan. Setelah membeli ikan, ayah mencari seorang kuli. Kebetulan ada seorang pemuda yang berdiri di situ. Pemuda itu berkata kepada ayah, ‘Tuan, apakah Tuan memerlukan kuli untuk membawa ikan itu?’ Ayahku langsung menyahut, ‘Ya.’ Kemudian pemuda itu mengangkat ikan ke atas kepalanya dan ikut bersama kami ke rumah.

Di tengah jalan, terdengarlah adzan berkumandang, maka pemuda itu berkata, ‘Penyeru Allah Subhaanahu wata’ala telah memanggil, aku harus berwudhu. Barang ini akan kubawa sesudah shalat. Jika engkau bersedia, silakan tunggu. Jika tidak, silakan bawa!’ Setelah berkata begitu, ia menaruh ikan-ikan tadi dan segera berwudhu. Ayahku berpikir, ‘Kuli ini sangat kuat keyakinannya, semestinya aku lebih yakin kepada Allah Subhaanahu wata’ala daripada dia.’ Akhirnya, ayah pun meninggalkan ikan-ikan itu dan pergi ke masjid. Seusai shalat, kami kembali ke tempat ikan-ikan itu, ternyata ikan-ikan itu masih ada di sana. Kuli itu membawa kembali ikan-ikan tadi ke rumahku.

Setibanya di rumah, ayah lengsung menceritakan kisah tadi kepada ibu. Ibuku meminta agar ia ditahan dulu agar ia ikut makan ikan. Setelah itu, ia baru boleh pergi. Ketika hal ini disampaikan kepada kuli itu, ia berkata, ‘Maaf, aku sedang berpuasa.’ Ayahku berkata agak memaksa, ‘Kalau begitu, petang nanti kamu datang lagi kemari dan berbuka di sini!’ Kuli itu berkata, ‘Biasanya, jika aku telah pergi, aku tidak kembali lagi. Namun kali ini mungkin saja aku akan pergi ke masjid sebelah, dan petang nanti aku akan kembali ke sini untuk memenuhi undanganmu.’ Ia pun pergi ke masjid di dekat rumah. Setelah Maghrib, ia datang dan makan bersama kami. Setelah makan, kami menyiapkan baginya sebuah kamar kecil untuk beristirahat.

Di sebelah rumah kami, ada seorang wanita yang lumpuh. Kami amat terkejut ketika melihatnya sudah sehat wal afiat. Kami bertanya kepadanya, bagaimana ia dapat sembuh? Ia menjawab, ‘Aku berdoa kepada Allah Subhaanahu wata’ala dengan wasilah tamumu itu, ‘Ya Allah, dengan keberkahan tamu ini, sembuhkanlah aku.’ Maka aku langsung sembuh.’ Ketika kami akan menemui kuli itu, ternyata ia telah pergi. Kamarnya masih tertutup tanpa diketahui ke mana perginya.”

Kisah ke-9

Ada suatu kisah tentangseorang syaikh yang kakinya penuh koreng. Para thabib berkata, “Jika kakinya tidak dipotong, maka akan membahayakan.” Ibunya berkata, “Jika hendak memotong kakinya, tunggulah saat ia sedang khusyu’ shalat.” Kemudian kakinya dipotong saat ia shalat dan dia tidak merasa.

Kisah ke-10

Syaikh Abu Amir Rahmatullah ‘alaih berkata, “Aku melihat seorang hamba sahaya wanita sedang dijual dengan harga sangat murah. Hamba sahaya itu kurus kering sehingga perut dan punggungnya hampir bersentuhan, rambutnya pun acak-acakan. Aku kasihan melihatnya, sehingga aku membelinya. Aku berkata kepadanya, ‘Ayo kita ke pasar untuk berbelanja keperluan Ramadhan!’ Hamba itu menjawab, ‘Aku bersyukur kepada Allah Subhaanahu wata’ala, Dia menjadikan semua bulan sama saja bagiku.’ Ternyata ia berpuasa terus-menerus setiap hari dan shalat sepanjang malam. Ketika hampir tiba hari raya, aku berkata, ‘Besok engkau pergi ke pasar bersamaku untuk berbelanja keperluan hari raya.’ Ia menyahut, ‘Wahai tuanku, engkau terlalu sibuk dengan dunia ini.’ Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia masuk ke kamarnya, lalu shalat sambil membaca perlahan ayat demi ayat, sampai ayat:

‘Di hadapannya ada Jahannam dan ia akan diberi minum dari air nanah.’ (Q.S. Ibrahim: 16)

Berkali-kali ia membaca ayat di atas, kemudian ia menjerit dan meninggal dunia.”

Kisah ke-11

Dikisahkan ada seorang sayyid yang telah shalat selama dua belas hari dengan satu wudhu, dan ia tidak sempat berbaring di ranjangnya selama lima belas tahun, bahkan beberapa hari ia tidak sempat makan.

Peristiwa-peristiwa seperti itu banyak terjadi di kalangan para ahli mujahadah. Semangat mereka sangat sulit untuk ditiru. Memang untuk itulah Allah Subhaanahu wata’ala menjadikan mereka.

Kisah ke-12

Ada juga orang-orang besar, yang mereka mempunyai kesibukan-kesibukan urusan dunia, tetapi semangat mereka dalam urusan agama sulit kita tiru. Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih adalah salah seorang khalifah yang terkenal setelah Khulafaur Rasyidin. Bahkan, ia dimasukkan sebagai salah seorang di antara Khulafaur Rasyidin. Istrinya pernah berkata, “Mungkin banyak orang yang lebih mementingkan wudhu dan shalat daripada suamiku, tetapi tidak pernah kulihat orang yang lebih takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala daripada suamiku. Setelah Shalat Isya’, ia akan terus duduk di atas sajadahnya, berdoa sambil mengangkat tangan dan terus menangis hingga kantuk menyerangnya. Lalu, jika ia bangun, ia kembali menangis dan bermunajat kepada Allah Subhaanahu wata’ala.” Diceritakan setelah menjadi khalifah, ia tidak pernah mandi janabat (tidak pernah tidur bersama istrinya). Padahal, istrinya adalah putri Khalifah Abdul Malik.

Khalifah Abdul Malik telah memberi putrinya perhiasan dan permata yang melimpah. Di antaranya, sebuah permata yang indah tiada tara. Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih berkata kepada istrinya, “Ada dua hal yang harus engkau pilih salah satu di antara keduanya. Pertama, engkau serahkan seluruh perhiasan itu karena Allah, lalu aku masukkan semuanya ke Baitul Maal. Atau yang kedua, engkau bercerai denganku (dan perhiasan itu kamu bawa). Aku tidak suka, berkumpul dengan harta-harta tersebut dalam satu rumah.” Istrinya menjawab, “Apakah artinya harta? Meskipun memiliki harta beberapa kali lipat, aku tidak sanggup berpisah denganmu.” Lalu, ia menyerahkan semua hartanya ke Baitul Maal.

Serelah Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih wafat, yang menjabat sebagai Khalifah adalah Yazid bin Abdul Malik. Yazid berkata kepada saudara perempuannya (istri Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alai), “Jika engkau mau, akan kukembalikan semua perhiasanmu dari Baitul Maal.” Istri Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaiha menjawab, “Semasa hidup suamiku saja perhiasan itu tidak membuatku gembira, bagaimana mungkin perhiasan itu membuatku gembira sedangkan suamiku telah wafat.

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih menderita sakit yang menyebabkan kematiannya, ia menanyakan penyakitnya kepada orang-orang di sekitarnya. Seseorang menjawab, “Ada yang menduga ini sihir.” Ia berkata, “Tidak, ini bukan sihir.” Kemudian ia memanggil seorang hambanya dan bertanya, “Mengapa engkau meracuni aku?” Hambanya menjawab, “Aku dirayu dengan uang seratus dinar dan janji akan dibebaskan.” Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih menyuruh hambanya tersebut mengambil dan menyerahkan uang itu kepadanya. Selanjutnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih memasukkan uang itu ke Baitul Maal. Kemudian ia berkata kepada hambanya itu, “Pergilah ke suatu tempat yang tidak dapat dijumpai oleh siapa pun!”

Menjelang wafatnya, Maslamah Rahmatullah ‘alaih mengunjunginya dan berkata, “Engkau memperlakukan anak-anakmu dengan perlakuan yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain. Engkau tidak meninggalkan uang sepeser pun untuk ketiga belas anakmu itu.” Khalifah Umar bin Abdul Aziz Rahmatullah ‘alaih menjawab, “Dudukkanlah aku.” Ia pun duduk lalu berkata, “Aku tidak pernah mengurangi hak-hak mereka dan aku tidak memberi hak orang lain kepada mereka. Jika mereka anak-anak yang shalih, maka cukuplah Allah Subhaanahu wata’ala sebagai penjaminnya; sebagaimana firman-Nya:

‘Dan Dia adalah yang menanggung orang-orang yang shalih.” (Q.S. Al-A’raaf: 196)

Namun, jika mereka pendosa, maka aku tidak peduli dengan mereka.”

Kisah ke-13

Dikisahkan, Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih, seorang ulama fiqih yang terkenal, meskipun siang hari selalu sibuk dengan masalah fiqih, namun dalam sehari semalam masih dapat shalat sunnah tiga ratus rakaat. Sedangkan Syaikh Sa’id bin Jubair Rahmatullah ‘alaih pernah mengkhatamkan tiga puluh juz Al-Qur’an dalam satu rakaat.

Syaikh Muhammad bin Munkadir Rahmatullah ‘alaih, seorang hafizh hadits, pernah bertahajjud dan menangis tiada henti. Seseorang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab, “Terbaca dalam qiraatku ayat ini:

“Dan jelas bagi mereka (azab) dari Allah yang belum pernah mereka duga (sebelumnya).” (Q.S. Az-Zumar: 47)

Dan ayat sebelum ayat ini berbunyi: “Dan sekiranya orang-orang yang zhalim mempunyai seluruh apa yang ada di bumi dan ditambah lagi sebanyak itu, niscaya mereka akan menebus diri dengannya agar selamat dari siksa yang buruk pada Hari Kiamat”. Menjelang wafatnya, Syaikh Muhammad bin Munkadir Rahmatullah ‘alaih sangat cemas, ia berkata, “Aku takut terhadap ayat ini.”

Kisah ke-14

Syaikh Tsabit Bunani Rahmatullah ‘alaih, seorang hafizh hadits, selalu menangis jika bermunajat kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Seseorang berkata kepadanya, “Matamu akan buta jika terus-menerus menangis.” Ia menyahut, “Apa gunanya mata jika bukan untuk menangis?” Ia berdoa kepada Allah Subhaanahu wata’ala, “Ya Allah, jika Engkau perkenankan seseorang shalat di dalam kubur, maka perkenankanlah aku melakukannya.” Syaikh Abu Sinan Rahmatullah ‘alaih berkata, “Demi Allah, aku termasuk orang yang memakamkan Syaikh Tsabit Bunani Rahmatullahi ‘alaih. Setelah dikubur, sebongkah batu bata liang lahat terjatuh. Kulihat ia sedang berdiri mengerjakan shalat. Aku berkata kepada temanku, “Lihatlah apa yang terjadi!” Ia berkata kepadaku agar aku diam. Setelah selesai acara penguburan, kami mengunjungi rumahnya. Kami bertanya kepada putrinya tentang amalan ayahnya. Ia balik bertanya, “Mengapa kalian menanyakan hal itu?” Lalu, kami menceritakan kejadian tadi kepadanya. Akhirnya, ia berkata, “Selama lima puluh tahun, ayahku selalu berdoa di setiap Shalat Tahajjud dan Shalat Shubuhnya, ‘Ya Allah perkenankan aku untuk shalat di dalam kubur, jika Engkau membolehkan hal itu kepada seorang hamba-Mu.’” (dari Kitab Iqamatul Hujjah)

Kisah ke-15 (Kumpulan kisah-kisah pendek)

Semua orang tahu siapa Imam Abu Yusuf Rahmatullah ‘alaih. Ia adalah seorang ulama, juga seorang Qadhi Qudhat (hakim tertinggi). Meskipun selalu sibuk dengan urusan keilmuan dan pengadilan, setiap hari ia sempat shalat sunnah dua ratus rakaat.

Syaikh Muhammad bin Nashr Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhaddits terkenal. Kekhusyu’annya dalam shalat tidak ada bandingannya. Pernah ketika ia sedang shalat, seekor lebah menyengat dahinya hingga berdarah, namun ia tetap tidak bergerak dan kekhusyu’annya tidak terganggu sedikit pun. Dikatakan, jika ia berdiri di dalam shalat, ia tidak bergerak sedikit pun seperti kayu yang ditancapkan.

Syaikh Baqi bin Mukhallad Rahmatullah ‘alaih mengkhatamkan satu khataman Al-Qur’an dalam tiga belas rakaat Tahajjud dan witirnya setiap malam.

Syaikh Hannad Rahmatullah ‘alaih adlah seorang muhaddits. Seorang muridnya mengatakan bahwa dia selalu menangis. Suatu ketika, dia mengajar kami di pagi hari. Sesudah mengajar, dia berwudhu lalu shalat sunnah hingga tergelincir matahari. Kemudian dia pulang sebentar ke rumahnya dan kembali lagi untuk mengimami Shalat Zhuhur. Setelah selesai Shalat Zhuhur, dia langsung shalat sunnah hingga Ashar. Selanjutnya dia mengimami Shalat Ashar dan membaca Al-Qur’an hingga waktu Maghrib. Seusai Maghrib murid tersebut pulang ke rumahnya dan berkata kepada tetangga Syaikh Hannad Rahmatullah ‘alaih, “Aku betul-betul takjub dengan ibadahnya. Dia betul-betul ahli ibadah.” Para tetangganya berkata, “Beliau sudah biasa melakukannya selama tujuh puluh tahun. Jika engkau melihat ibadahnya malam hari, maka engkau akan lebih takjub lagi.”

Syaikh Masruq Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhaddits, istrinya berkata, “Masruq selalu mengerjakan shalat dengan rakaat yang sangat panjang sampai kedua betisnya bengkak-bengkak, sehingga saya menangis di belakangnya karena kasihan melihat keadaannya.”

Diriwayatkan bahwa Syaikh Sa’id bin Musayyib Rahmatullah ‘alaih selama lima puluh tahun Shalat Shubuh dengan wudhu Shalat Isya’. Diriwayatkan bahwa Syaikh Abul Muktamir Rahmatullah ‘alaih mengerjakan hal itu selama empat puluh tahun. Imam Ghazali Rahmatullah ‘alaih meriwayatkan dari Syaikh Abu Thalib Makki Rahmatullah ‘alaih bahwa menurut riwayat yang mutawatir, (Perawinya sangat banyak sehingga cerita itu dipastikan kebenarannya.) ada sekitar empat puluh tabi’in yang biasa mengamalkan Shalat Shubuh dengan wudhu Shalat Isya’ selama bertahun-tahun, rata-rata empat puluh tahun. (dari Kitab It-haf)

Imam Abu Hanifah Rahmatullah ‘alaih juga terkenal dengan amalan seperti itu. Selama tiga puluh tahun, empat puluh, atau lima puluh tahun, Shalat Shubuh dengan wudhu Shalat Isya’. Perbedaan bilangan ini disebabkan perbedaan riwayat, bergantung pada lamanya pengetahuan masing-masing perawi. Diriwayatkan bahwa kebiasaannya hanya tidur sebentar di waktu siang. Dia mengatakan, tidur siang itu diperintahkan dalam hadits.

Dikisahkan bahwa kebiasaan Imam Syafi’i Rahmatullah ‘alaih mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali pada bulan Ramadhan adalam shalat. Seseorang berkata, “Aku pernah tinggal bersama Imam Syafi’i Rahmatullah ‘alaih beberapa hari. Kulihat beliau tidur malam hanya sebentar.”

Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih biasa shalat sunnah tiga ratus rakaat setiap hari. Setelah ia dipenjarakan oleh raja dan disiksa dengan cambuk hingga lemah, (Akibat penentangannya terhadap pendapat sebagian ulama pemerintah yang berfaham menyeleweng (Mu’tazilah) pada zaman pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun.) ia mengurangi shalatnya menjadi 150 rakaat setiap hari. Ketika itu umurnya kurang lebih 80 tahun.

Dikisahkan bahwa Syaikh Abu ‘Attab Sulami Rahmatullah ‘alaih selalu berpuasa siang hari dan menangis malam hari selama empat puluh tahun.

Selain kisah-kisah di atas, masih ada ribuan kisah amal mereka yang telah diberi taufik, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab sejarah. Sebagai contoh dan teladan bagi kita, kisah-kisah di atas sudah mencukupi. Semoga Allah Subhaanahu wata’ala dengan limpahan rahmatn-Nya memberi taufij kepada saya dan para pembaca untuk meniru jekak para shalihin ini. Aamiin.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Ketiga “Khusyu’ dan Khudhu’ dalam Shalat” Pasal 2 : Kisah Shalatnya Orang-Orang Shalih (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: