Pahala Shalat Berjama’ah Dilipatkan 25 Kali

Hadits Ke-2

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat seorang laki-laki dengan berjamaah dilipatgandakan 25 kali dibanding shalat di rumahnya atau di pasarnya. Demikian itu karena jika seseorang berwudhu dengan sempurna, lalu pergi ke masjid semata-mata untuk shalat (berjamaah), maka ia tidak melangkah satu langkah kecuali ditinggikan baginya satu derajat dan dihapuskan baginya satu kesalahan. Jika ia selesai shalat, maka malaikat selalu berdoa untuknya selama ia duduk di tempat shalatnya selagi belum berhadats, ‘Ya Allah, ampunilah ia! Ya Allah, rahmatilah ia!’ Dan ia terus menerus mendapatkan pahala shalat selama menunggu shalat.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Telah disebutkan dalam hadits pertama bahwa keutamaan shalat berjamaah adalah 27 derajat melebihi shalat sendirian. Sedangkan dalam hadits ini, disebutkan hanya 25 derajat. Banyak ulama yang memberikan penjelasan tentang perbedaan antara dua hadits tersebut. Adapun penjelasannya: perbedaan 25 dan 27 ialah menurut tingkatan keikhlasan. Sebagian ulama berpendapat bahwa perbedaan ini terdapat dalam shalat yang bacaannya lirih (Zhuhur dan Ashar), yaitu berpahala 25 kali, sedangkan shalat yang bacaannya keras (Shubuh, Maghrib, dan Isya’) berpahala 27 kali. Sebagian ulama berpandangan bahwa pahala 27 derajat itu untuk Shalat Isya’ dan Shubuh. Sebab, shalat berjamaah waktu Shubuh dan Isya’ lebih berat daripada shalat lain. Sebagian ulama menerangkan bahwa berdasarkan hadits lain, Allah Subhaanahu wata’ala senantiasa menambah karunia pada umat ini, bisa saja asalnya 25 pahala kemudian ditambah menjadi 27 pahala.

Ada lagi sebuah pejelasan yang lebih menakjubkan, bahwa hadits mengenai pahala 25 itu bukan sebagai derajat, tetapi sebagai 25 kali lipatan. Dengan hitungan ini, satu shalat akan menghasilkan pahala 33.554.432 derajat (Dalam hadits riwayat Abu Hurairah di atas bisa bermakna 2 kali lipat, sehingga yang dimaksud dalam penjelasan ini adalah 25 kali lipatannya 2 (22 5 = 33.554.432).). Bagi Allah Subhaanahu wata’ala, pahala sejumlah itu tidak ada apa-apanya. Jika dihubungkan dengan dosa meninggalkan satu shalat yang mengakibatkan siksa selama satu huquq sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka tidak mustahil bila pahala shalat mencapai jumlah sekian. (Besarnya siksa bila meninggalkan, menunjukkan besarnya pahala bila mengerjakan.)

Kemudian Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi penjelasan yang harus kita pikirkan, berapa banyak pahala shalat berjamaah dan bagaimana kebaikan-kebaikan dilipatgandakan, dengan bersabda, “Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan wudhu yang sempurna, dengan hanya niat shalat berjamaah di masjid, maka setiap langkahnya akan menambah satu kebaikan dan menghapus satu dosa.”

Suatu ketika, Banu Salamah, satu kabilah di Madinah Munawarah yang tinggal jauh dari masjid, berniat pindah ke dekat masjid. Namun, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tetaplah tinggal di sana, karena setiap langkahmu menuju masjid akan ditulis sebagai pahala.” Hadits lain menyebutkan, “Jika seseorang berwudhu dengan sempurna, lalu keluar dari rumahnya dengan niat untuk shalat berjamaah, seolah-olah ia keluar dari rumahnya dalam keadaan ihram untuk haji.” Beliau juga bersabda, “Orang yang telah mengerjakan shalat fardhu, maka para malaikat akan terus memohonkan rahmat dan ampunan baginya selama ia masih duduk di tempat Shalatnya.” Sedangkan para malaikat adalah hamba-hamba Allah Subhaanahu wata’ala yang dicintai oleh Allah Subhaanahu wata’ala dan dijaga dari perbuatan dosa, maka keberkahan doa mereka tentu sudah pasti.

Syaikh Muhammad bin Samaa’ah Rahmatullah ‘alaih, seorang ulama masyhur, murid Imam Muhammad dan Imam Abu Yusuf Rahmatullah ‘alaihima, meninggal pada usia 103 tahun. Dalam usia setua itu, ia masih mampu shalat sunnah dua ratus rakaat setiap hari. Ia berkata, “Selama empat puluh tahun saya tidak pernah tertinggal Takbiratul Ula bersama imam kecuali satu kali, yaitu ketika ibuku wafat. Karena kesibukan tersebut, saya tertinggal Takbiratul Ula.” Ia juga berkata, “Suatu ketika, saya tertinggal shalat berjamaah. Untuk menebus pahala shalat berjamaah 25 derajat, saya shalat 25 kali. Kemudian di dalam tidur saya bermimpi ada seseorang yang berkata kepada saya, ‘Wahai Muhammad! Memang kamu telah mengerjakan shalat 25 kali, tetapi bagaimana dengan amin malaikat (yang hanya bisa kamu dapatkan dengan shalat berjamaah)?’” (dari Kitab Fawaid Bahiyyah)

Maksud amin malaikat adalah sebagaimana yang telah dijelaskan dalam banyak hadits, bahwa jika imam selesai membaca Al-Fatihah, lalu membaca amin, maka para malaikat ikt mengamininya. Kemudian jika seorang makmum membaca amin bersamaan dengan amin para malaikat, Allah Subhaanahu wata’ala akan mengampuni seluruh dosanya yang lalu. Mimpi tersebut mengisyaratkan tentang hadits di atas.

Maulana Abdul Hay Rahmatullah ‘alaih mengatakan bahwa kisah di atas menunjukkan pahala shalat berjamaah tidak dapat dikalahkan oleh pahala shalat sendirian, meskipun dengan shalat seribu rakaat. Hal ini sangat jelas, bukan hanya karena aminnya malaikat, namun juga karena orang-orang yang berjamaah akan mendapatkan doa para malaikat selepas shalat seperti yang telah disebutkan dalam hadits di atas.

Selain berbagai kelebihan di atas, masih banyak keutamaan yang hanya diperoleh melalui shalat berjamaah. Ada satu hal yang penting untuk diperhatikan, yakni para ulama telah menulis bahwa doa para malaikat akan diperoleh jika shalat dilakukan dengan sempurna. Jika shalat dilakukan asal-asalan, maka shalat itu akan seperti kain kusut yang dilempar ke muka orang yang mengerjakannya, sehingga ia tidak mendapatkan doa para malaikat. (dari Kitab Bahjah)

Hadits Ke-3

Dari Sayyidina Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Barangsiapa ingin berjumpa dengan Allah Subhaanahu wata’ala pada Hari Kiamat dalam keadaan Islam, hendaklah ia menjaga shalat lima waktu di tempat adzan dikumandangkan (di masjid), karena sesungguhnya Allah Subhaanahu wata’ala telah mensyari’atkan untuk Nabimu jalan-jalan hidayah dan sesungguhnya shalat berjamaah di tempat adzan dikumandangkan termasuk jalan-jalan hidayah tersebut. Apabila kamu shalat di rumah-rumahmu sebagaimana si fulan, berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu. Jika kamu meninggalkan sunnah Nabimu, maka sesatlah kamu. Tiada seorang laki-laki pun yang berwudhu sempurna, lalu pergi ke salah satu masjid, kecuali Allah Subhaanahu wata’ala mencatat untuk setiap langkahnya satu kebaikan, meningkatkan baginya satu derajat, dan menghapuskan baginya satu kesalahan. Sungguh saya melihat di antara kami pada zaman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada orang yang tidak pergi ke masjid kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya (pada zaman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kebanyakan orang munafik pun tidak berani meninggalkan shalat berjamaah). Sungguh pernah ada seorang laki-laki (udzur), ia dipapah oleh dua orang, lalu diberdirikan di dalam shaf shalat.”

Diriwayatkan pula, “Sungguh saya melihat di antara kami pada zaman Baginda Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam tidak seorang pun yang meninggalkan shalat berjamaah di masjid kecuali orang munafik yang telah diketahui kemunafikannya atau orang sakit parah: Sungguh seseorang akan dipapah oleh dua orang untuk shalat (berjamaah).” Sayyidina Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajari kami jalan-jalan hidayah, dan sesungguhnya shalat di masjid di tempat adzan dikumandangkan termasuk jalan-jalan hidayah.” (H.R. Muslim, Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum sangat menjaga shalat berjamaah. Mereka berusaha keras agar bisa shalat berjamaah, meskipun sakit dan harus dipapah oleh orang lain. Bagaimana mungkin mereka tidak mempedulikannya, sedangkan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi waslalam sendiri sangat menjaga shalat berjamaah. Ketika beliau sakit parah menjelang akhir hayatnya, beliau berkali-kali pingsan dan berkali-kali meminta air wudhu. Akhirnya, dengan susah payah beliau dapat berwudhu. Kemudian beliau pergi ke masjid dengan dipapah oleh Sayyidina Abbas Radhiyallahu ‘anhu dan seorang shahabat lain, karena kaki beliau tidak bisa menapak dengan baik. Atas kehendak beliau, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu mengimami shalat berjamaah. Kemudian Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyertai Shalat berjamaah. (dari Kitab Shahih Bukhari Muslim)

Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Beribadahlah kepada Allah Subhaanahu wata’ala seolah-olah Dia di hadapanmu dan seolah-olah kamu melihat-Nya.’ Anggaplah dirimu termasuk dalam daftar orang-orang yang sudah mati (tidak merasa sebagai orang yang masih hidup, sehingga tidak gembira karena sanjungan dan tidak sedih karena cacian). Selamatkan dirimu dari doa buruk orang yang dizhalimi. Berusahalah agar tidak meninggalkan Shalat Shubuh dan Isya’ berjamaah, meskipun harus pergi dengan merangkak di atas tanah. Hadits yang lain menyebutkan bahwa Shalat Shubuh dan Isya’ sangat membebani kaum munafik. Seandainya mereka tahu betapa banyak pahala shalat berjamaah Shubuh dan Isya’, niscaya mereka akan berusaha untuk shalat berjamaah, meskipun harus merangkak.”

Hadits Ke-4

Dari Sayyidina Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa shalat berjamaah karena Allah Subhaanahu wata’ala selama empat puluh hari tanpa tertinggal Takbiratul Ula, maka akan ditulis baginya dua kebebasan, yaitu bebas dari neraka dan bebas dari sifat munafik.” (H.R. Tirmidzi, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Maksudnya, seseorang yang shalat dengan ikhlas selama empat puluh hari dan menyertai shalat mulai imam membaca Takbir, maka ia tidak akan dimasukan ke neraka dan tidak termasuk golongan orang munafik. Orang munafik adalah orang yang menampakkan dirinya sebagai seorang muslim, tetapi menyimpan kekufuran di dalam hatinya. Empat puluh hari memiliki makna khusus yang dapat menyebabkan suatu perubahan. Sebagaimana bayi dalam kandungan, selama empat puluh hari pertama berubah dari air mani menjadi segumpal darah. Empat puluh hari berikutnya terjadi perubahan-perubahan lain, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits. Oleh karena itu, para ahli tasawuf mementingkan masa empat puluh hari. Betapa beruntung orang yang selama bertahun-tahun tidak pernah tertinggal Takbiratul Ula.

Hadits Ke-5

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa berwudhu dengan baik, lalu pergi ke masjid, dan ia mendapati orang-orang telah selesai shalat, maka Allah Subhaanahu wata’ala akan memberinya pahala seperti pahala orang yang shalat berjamaah, tanpa sedikit pun mengurangi pahala mereka.” (H.R. Abu Dawud, Nasa’I, Hakim, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Betapa besar karunia dan anugerah Allah Subhaanahu wata’ala. Dengan berusaha shalat berjamaah saja kita sudah mendapatkan pahala berjamaah, meskipun kita tidak mendapatkan shalat berjamaah. Siapa yang rugi jika kita mengabaikan kesempatan seperti itu? Dari hadits ini, kita mengetahui bahwa janganlah kita mengurungkan pergi ke masjid hanya karena mengira shalat berjamaah telah selesai, kita tetap akan mendapatkan pahala berjamaah. Kecuali jika kita telah meyakini sebelumnya bahwa shalat berjamaah sudah selesai, maka tidak ada maknanya pergi ke masjid.

Hadits Ke-6

Dari Sayyidina Qubats bin Asyyam Al-Laitsi Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalatnya dua orang dengan berjamaah, yang salah seorang dari keduanya menjadi imam, lebih disukai Allah Subhaanahu wata’ala daripada empat orang shalat sendiri-sendiri. Shalatnya empat orang berjamaah, lebih disukai Allah Subhaanahu wata’ala daripada delapan orang shalat sendiri-sendiri. Shalatnya delapan orang yang diimami salah seorang dari mereka, lebih disukai Allah Subhaanahu daripada seratus orang shalat sendiri-sendiri.” (H.R. Bazzar, Thabarani, dari Kitab At-Targhib)

Dalam hadits lain dikatakan, “Jamaah yang besar lebih disukai Allah Subhaanahu wata’ala daripada jamaah yang kecil.”

Faidah

Sebagian orang merasa cukup shalat berjamaah di rumah atau di toko dengan dua atau empat orang. Orang seperti ini mendapatkan dua kerugian: pertama, tidak mendapat pahala shalat berjamaah di masjid, kedua, mereka terhalang dari pahala yang disebabkan banyaknya peserta shalat jamaah. Lebih banyak orang yang berjamaah, akan lebih dicintai Allah Subhaanahu wata’ala. Jika kita melakukan suatu pekerjaan untuk mencari ridha Allah Subhaanahu wata’ala, hendaknya kita melakukannya dengan cara yang paling disukai oleh-Nya.

Sebuah hadits menyebutkan bahwa Allah Subhaanahu wata’ala suka jika melihat tiga hal, yakni (1) shaf shalat berjamaah, (2) orang yang shalat tengah malam (Tahajjud), dan (3) orang yang maju ke medan perang fi sabilillah. (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Hadits Ke-7

Dari Sayyidina Sahl bin Sa’ad As Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang selalu berjalan ke masjid dalam kegelapan (malam) dengan cahaya yang sempurna pada Hari Kiamat.” (H.R. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Hakim, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Pahala pergi ke masjid di malam yang gelap gulita di dunia, akan diketahui pada saat suasana Kiamat yang mengerikan ada di hadapan kita, dan setiap orang dikepung oleh musibah. Balasan kesusahanpergi ke masjid akan kita dapatkan ketika sebuah cahaya yang jauh lebih terang daripada matahari bersama kita. Disebutkan dalam sebuah hadits, “Pada Hari Kiamat, orang-orang yang pergi ke masjid ketika malam gelap gulita akan duduk di atas mimbar dari nur tanpa rasa takut. Padahal, saat itu seluruh manusia sedang berada dalam ketakutan.”

Hadits lain menyebutkan bahwa pada Haari Kiamat Allah Subhaanahu wata’ala akan bertanya, “Di manakah tetangga-tetangga-Ku?” Malaikat bertanya, “Siapakah tetangga-tetangga-Mu ya Allah?” Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, “Tetangga-tetangga-Ku adalah orang-orang yang senantiasa memakmurkan masjid-masjid.” Hadits lain meriwayatkan bahwa tempat yang paling dicintai Allah Subhaanahu wata’ala ialah masjid, dan tempat yang paling dibenci oleh Allah Subhaanahu wata’ala adalah pasar. Hadits lain pula menyebutkan bahwa masjid adalah taman-taman surga. (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Sayyidina Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apabila kamu melihat seseorang yang selalu pulang pergi ke masjid, maka bersaksilah bahwa ia adalah seorang mukmin.” Kemudian beliau membaca ayat:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (Q.S. At-Taubah: 18), (dari Kitab Jami’ush Shaghir dan Kitab Durrul Mantsur)

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, “Mengerjakan wudhu dengan susah payah, melangkahkan kaki pergi ke masjid, dan duduk menunggu shalat selepas shalat adalah penghapus dosa.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Hadits lain menyebutkan, “Semakin jauh jarak seseorang menuju ke masjid, maka semakin banyak pula pahala yang akan diperolehnya.” Karena setiap langkahnya menuju masjid akan dihitung sebagai pahala. Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa jika pergi ke masjid, para shahabat Radhiyallahu ‘anhum memperpendek langkah-langkah mereka. Hadits lain menyebutkan bahwa ada tiga hal yang jika kita mengetahui pahalanya, maka kita akan berebut untuk mendapatkannya, yaitu adzan, pergi ke masjid ketika terik matahari, dan shalat di shaf pertama. (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Sebuah hadits menyebutkan bahwa pada Hari Kiamat, ketika manusia dalam keadaan susah, dan matahari sangat terik, ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat perlindungan rahmat Allah Subhaanahu wata’ala, salah satunya adalah seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Maksudnya, ketika ia memiliki keperluan sehingga ia keluar dari masjid, hatinya selalu ingin segera kembali ke masjid. Hadits lain menyebutkan bahwa barangsiapa mencintai masjid, maka Allah Subhaanahu wata’ala akan mencintainya. (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Setiap syari’at agama yang diturunkan Allah Subhaanahu wata’ala, mengandung banyak keberkahan, kebaikan, dan pahala yang tidak terkira. Disamping itu juga mengandung banyak maslahat dan kebaikan, yang disembunyikan oleh Allah Subhaanahu wata’ala, yang sangat sulit untuk dikethui hakikatnya. Hanya Allah Subhaanahu wata’ala yang mengetahui rahasianya. Maslahat itu akan ditampakkan Allah Subhaanahu wata’ala sesuai dengan tingkat kemampuan dan kefahaman setiap manusia. Makin tinggi tingkat kemampuan dan kefahaman seseorang, kian banyak ia mengetahui maslahat apa yang telah diberikan Allah Subhaanahu wata’ala di balik hukum tersebut. Para ulama telah menulis tentang maslahat-maslahat yang terkandung dalam shalat berjamaah sesuai pemahaman masing-masing.

Dalam Kitab Hujjatullah Al-Balighah, Syaikh Waliyyullah Rahmatullah ‘alaih menulis tentang maslahat shalat berjamaah yang terjemahan dan maksudnya adalah sebagai berikut: (di antara maslahat shalat berjamaah) Agar kita dapat terhindar dari pengaruh adat istiadat yang buruk. Untuk itu, tidak ada cara yang lebih baik kecuali kita menjadikan salah satu ibadah sebagai kebiasaan di tengah masyarakat, sehingga dapat diamalkan oleh seluruh lapisan masyarakat secara terang-terangan, baik yang pandai maupun yang bodoh, baik penduduk kota maupun penduduk desa, semua akan berlomba-lomba dalam ibadah tersebut. Jika ibadah sudah menjadi kebiasaan umum di masyarakat, maka ibadah tidak mungkin dapat dipisahkan dari sendi-sendi kehidupan. Jika hal itu tercapai, niscaya akan menguatkan ketaatan kita kepada Allah Subhaanahu wata’ala, sehingga adat istiadat yang pada mulanya menarik kea rah keburukan akan menarik kea rah kebaikan.

Tidak ada amal apapun yang lebih penting dan lebih kuat dalilnya melebihi shalat. Oleh karena itu, kita wajib memulainya dan mengajak orang lain menjadikan shalat sebagai budaya. Hendaknya kita sepakat mengadakan suatu pertemuan untuk mengusahakan agar shalat menjadi suatu budaya masyarakat.

Dalam agama, ada segolongan orang yang patut dikedepankan dan diteladani. Ada segolongan lagi yang masih memerlukan dorongan dan ajakan. Ada pula yang masih memerlukan dorongan dan ajakan. Ada pula yang masih lemah imannya. Dengan shalat berjamaah, orang yang tadinya enggan beribadah akan bertemu ahli ibadah, sehingga ia tertarik untuk mengikutinya. Orang yang tadinya malas akan bertemu dengan orang yang mengajaknya rajin beribadah. Orang yang tidak punya pengetahuan agama akan bertemu dengan ulama, sehingga ia akan dibimbing oleh ulama dan dapat memahami cara-cara ibadah yang benar serta menganggap bahwa ibadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala ibarat perak yang mereka bawa ke tukang perak (untuk diperiksa keasliannya), sehingga jelas dapat dibedakan antara yang boleh dan yang tidak boleh. Yang boleh akan diperkuat, dan yang tidak boleh akan dihentikan. Selain itu, shalat berjamaah adalah untuk mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh orang-orang yang mencintai Allah Subhaanahu wata’ala, mengharap rahmat Allah Subhaanahu wata’ala, dan takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala, sehingga menurunkan rahmat dan berkah Allah Subhaanahu wata’ala yang menimbulkan pengaruh baik yang luar biasa.

Inilah maksud umat Baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dibentuk, yaitu untuk mengagungkan Asma Allah Subhaanahu wata’ala dan memenangkan Islam atas agama yang lain. Tujuan ini tidak akan tercapai selama kita tidak mempedulikan cara-cara di atas, yakni mengumpulkan Kaum Muslimin semuanya baik orang umum, orang penting, orang kampung, dan orang kota untuk menunaikan syiar Islam yang terbesar dan ibadah yang tertinggi (shalat). Oleh karena itulah, syari’at Islam menitikberatkan Shalat Jum’at dan shalat berjamaah dengan menerangkan berkah dan rahmat yang terkumpul di dalamnya dan azab yang akan turun bagi yang meninggalkannya.

Dalam hal ini, pertemuan dibagi menjadi dua macam, yaitu pertemuan kecil setiap lingkungan dan pertemuan seluruh kota. Pertemuan setiap lingkungan mudah diadakan setiap waktu, sedangkan mengadakan pertemuan seluruh kota setiap waktu adalah sulit. Oleh karena itu, telah ditetapkan bagi kita pertemuan setiap shalat fardhu di masjid masing-masing. Kemudian pertemuan seluruh kota sepekan sekali dengan jamaah Shalat Jum’at.

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kedua “Shalat Berjamaah” Pasal 1 : Keutamaan Shalat Berjamaah ~ Pahala Shalat Berjama’ah Dilipatkan 25 Kali(Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: