Mengumpulkan Dua Shalat Tanpa Udzur adalah Dosa Besar

Hadits Ke-5

Dari Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengumpulkan dua shalat tanpa udzur dalam satu waktu, sungguh ia telah memasuki salah satu pintu dari pintu-pintu dosa besar.” (H.R. Hakim, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan melambatkan tiga hal; jangan melambatkan shalat jika sudah waktunya, jangan melambatkan menguburkan jenazah jika sudah siap, dan jangan melambatkan menikahkan seorang wanita yang tidak bersuami jika sudah ditemukan jodohnya.”

Banyak orang yang mengaku sebagai orang yang taat beragama dan berdisiplin menjaga shalat, namun terkadang mereka mengqadha shalat-shalat mereka di rumah masing-masing dengan alasan perjalanan, sibuk berdagang, atau bekerja. Jika mereka melakukan hal itu tanpa udzur, berarti mereka telah terjerumus ke dalam dosa besar. Karena mereka melakukan shalat tidak pada waktunya. Memang dosanya tidak seperti dosa meninggalkan shalat sama sekali, namun shalat tidak pada waktunya juga termsuk dosa besar.

Hadits Ke-6

Dari Sayyidina Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sesungguhnya suatu hari beliau membicarakan masalah shalat, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa menjaga shalat, shalatnya akan menjadi cahaya, pembela, dan penyelamat baginya pada Hari Kiamat. Barangsiapa tidak menjaga shalatnya, niscaya tidak ada cahaya, pembela, dan penyelama baginya pada Hari Kiamat, dan pada Hari Kiamat ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (H.R. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Thabarani, dari Kitab Durrul Mantsur)

Faidah

Semua orang pasti mengetahui siapakah Fir’aun dan bagaimana tingkat kekufurannya sehingga ia mengaku dirinya sebagai Tuhan. Haman adalah menterinya. Sedangkan Ubay bin Khalaf ialah musuh besar Islam dari Kaum Musyrikin Makkah. Sebelum Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah, Ubay bin Khalaf pernah berkata kepada beliau, “Aku telah memelihara seekor kuda dan memberinya makanan yang banyak, dan dengan menunggang kuda itu aku akan membunuhmu, hai Muhammad!” (Na’udzubillaahi min dzalik). Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menanggapi, “Insyaallah aku yang akan membunuhmu!”

Ketika terjadi Perang Uhud, Ubay bin Khalaf mencari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Jika Muhammad lolos dariku hari ini, maka tidak ada kebaikan bagiku untuk tetap hidup!” Ketika ia menemukan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, para shahabat Radhiyallahu ‘anhum hendak membunuhnya dari jauh, tetapi Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mencegah mereka, “Biarkan ia mendekat!” Ketika Ubay bin Khalaf sudah mendekat, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menarik sebilah tombak dari salah seorang shahabat, lalu beliau melemparkannya kea rah Ubay dan berhasil menggores lehernya. Meskipun hanya tergores sedikit, Ubay terjungkal dari kudanya. Selanjutnya sambil jatuh bangun ia berlari kepada pasukannya seraya berteriak, “Demi Tuhan! Muhammad telah membunuhku!” Meskipun teman-temannya menenangkan dia dengan berkata, “Jangan khawatir, itu hanya goresan!”, dia tetap meyakini ucapan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika di Makkah (‘Isyaallah aku yang akan membunuhmu!’). “Demi Tuhan! seandainya Muhammad hanya meludahiku saja, aku pasti akan mati!” Ubay bin Khalaf terus berteriak seperti seekor sapi jantan. Abu Sufyan, yang saat itu menjadi panglima perang mereka, mencemooh Ubay dan berkata, “Cuma goresan kecil saja, mengapa kamu berteriak-teriak seperti itu?” Ubay menyahut, “Tahukah kamu, siapakah yag telah melukaiku? Dia adalah Muhammad. Aku bersumpah demi Latta dan Uzza! Seandainya penderitaanku ini dibagikan ke seluruh orang Hijaz, niscaya mereka akan binasa. Di Makkah, Muhammad telah berkata, ‘Aku akan membunuhmu!’ Saat itu pula aku yakin bahwa aku akan mati di tangannya. Aku tidak dapat lari darinya. Jika setelah berkata seperti itu Muhammad meludahiku saja, pasti aku akan mati saat itu juga.” Dalam perjalanan pulang, sehari sebelum tibah di Makkah, Ubay bin Khalaf pun tewas. (dari Kitab Khamis)

Perhatikanlah, seharusnya kita merasa cemburu dan menjadikan hal itu sebagai pelajaran bagi kita. Sekalipun Ubay bin Khalaf seorang kafir tulen, musuh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia sangat meyakini dan tanpa ragu sedikit pun terhadap ucapan beliau tentang kematian dirinya. Sementara kita yang mempercayai kenabian beliau, meyakini setiap ucapannya, mempercayai kepastian petunjuk-petunjuknya, mengaku sangat mencintainya, dan membanggakan diri sebagai umatnya, berapa banyak sabda-sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kita amalkan? Sejauh manakah kita takut terhadap ancaman azab yang disampaikan oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita? Setiap orang muslim seharusnya bercermin untuk mengoreksi diri masing-masing, sebelum ia membicarakan urusan orang lain.

Dalam Kitab Az-Zawajir Syaikh Ibnu Hajar Al-Makki Rahmatullah ‘alaih menulis kisah Qarun bersama Fir’aun dan yang lainnya. Dia menulis, bahwa orang yang malas melaksanakan shalat dibangkitkan bersama mereka, karena kebanyakan orang yang malas melaksanakan shalat, dalam diri mereka terdapat sifat-sifat yang ada pada Qarun, Fir’aun, dan yang lainnya. Jika seseorang yang melalaikan shalat karena sibuk mencari harta, akan dibangkitkan bersama Qarun. Jika seseorang melalaikan shalat karena kekuasaan dan pemerintahan, ia akan dibangkitkan bersama Fir’aun. Jika seseorang melalaikan shalat karena jabatan dan hubungan pergaulan, ia akan dibangkitkan bersama Haman. Jika seseorang melalaikan shalat karena perdagangan, ia akan dibangkitkan bersama perdagangan, ia akan dibangkitkan bersama Ubay bin Khalaf. Setelah ia dibangkitkan bersama orang-orang tersebut, azab bagi mereka pun sama, sebagaimana yang diterangkan dalam beberapa hadits. Meskipun kedudukan hadits tersebut masih diperbincangkan, tidak ada keraguan lagi bahwa azab Jahannam adalah azab yang paling pedih. Karena di dalam hatinya masih terdapat iman, maka suatu saat ia pasti dibebaskan dari Neraka Jahannam. Sedangkan Fir’aun, Qarun, Haman dan Ubay bin Khalaf, akan selamanya berada di neraka. Tetapi, kapan waktu keluar dari Neraka Jahannam? Bukan main-main, tidak diketahui berapa ribu tahun.

Hadits Ke-7

Sebagian ulama mengatakan bahwa disebutkan dalam hadits, “Barangsiapa menjaga shalatnya, niscaya Allah Subhaanahu wata’ala akan memuliakkannya dengan lima perkara: (1) dihilangkan kesempitan rezekinya, (2) diselamatkan dari azab kubur, (3) diberikan catatan amal melalui tangan kanannya (keadaannya telah diterangkan dalam Surat Al-Haaqqah secara terperinci, yaitu yang menerima catatan dari tangan kanan mereka sangat gembira dan menunjukkannya kepada setiap orang), (4) melintasi Shirat seperti kilat, (5) masuk surga tanpa hisab.

Barangsiapa yang malas dalam shalat, Allah Subhaanahu wata’ala akan menyiksanya dengan lima belas siksa. Lima sika di dunia, tiga siksa ketika mati, tiga siksa dalam kubur, dan tiga siksa saat dibangkitkan.

Lima siksa ketika berada di dunia, yaitu (1) dicabut keberkahan umurnya, (2) dihapus ciri-ciri keshalihan dari wajahnya, (3) seluruh amal perbuatannya tidak diberi pahala oleh Allah Subhaanahu wata’ala, (4) doanya tidak diangkat (diterima), (5) tidak mendapat bagian dari doa orang-orang shalih.

Tiga siksa ketika kematian: (1) mati dalam kehinaan, (2) mati dalam kelaparan, (3) mati dalam kehausan, walaupun diminumkan kepadanya seluruh air lautan di dunia ini tidak akan menghilangkan rasa dahaganya.

Tiga siksa dalam kubur: (1) dihimpit oleh kuburnya sehingga tulang rusuk kiri dan kanannya saling bersilangan, (2) dinyalakan api dalam kuburnya, dan ia berguling-guling dalam api itu siang dan malam, (3) Allah Subhaanahu wata’ala memasukkan ke dalam kuburnya ular berbisa bernama Syuja’ul Aqra’ yang kedua matanya dari api dan kuku-kukunya dari besi yang panjang setiap kukunya sepanjang sehari perjalanan. Ular itu akan memekik kepadanya dengan suara seperti halilintar yang menyambar, ‘Aku adalah Syuja’ul Aqra’! Tuhanku telah menyuruhku agar memukulmu (dari Shubuh sampai terbit matahari) karena kamu telah melalaikan Shalat Shubuh hingga terbit matahari. (Memukulmu dari Zhuhur sampai Ashar) sebab kamu telah melalikan Shalat Zhuhur sampai Ashar. (Memukulmu dari Ashar sampai Maghrib) sebab kamu telah melalaikan Shalat Ashar sampai Maghrib. (Memukulmu dari Maghrib sampai Isya’) karena kamu telah melalikan Shalat Maghrib sampai Isya’. (Memukulmu dari Isya’ sampai Shubuh) karena kamu telah melalaikan Shalat Isya’ sampai Shubuh!’ Setiap pukulan akan membenamkannya ke tanah sedalam tujuh puluh hasta. Dia terus disiksa seperti ini dalam kuburnya sampai Hari Kiamat.

Tiga siksa pada hari Kebangkitan, yaitu (1) dihisab dengan sangat berat, (2) dimurkai oleh Allah Subhaanahu wata’ala, (3) dilemparkan ke dalam neraka. (Semua berjumlah 14, satu tidak disebutkan oleh perawi).

Riwayat lain menyebutkan, barangsiapa melalikan shalat, ia akan datang pada Hari Kiamat dan tertulis di wajahnya tiga baris tulisan, yaitu baris pertama: ‘Wahai orang yang menyia-nyiakan hak Allah!,’ bari kedua: ‘Wahai orang yang dikhususkan untuk menerima murka Allah Subhaanahu wata’ala!’, dan baris ketiga: ‘Sebagaimana kamu telah menyia-nyiakan hak Allah Subhaanahu wata’ala di dunia, maka hari ini kamu berputus asa dari rahmat Allah Subhaanahu wata’ala.’” (dari Kitab Az-Zawajir, karya Ibnu Hajar Al-Makki Rahmatullah ‘alaih)

Faidah

Meskipun saya tidak menjumpai hadits ini dalam seluruh kitab hadits terkumpul jadi satu riwayat, namun mengenai pahala dan azab dalam hadits ini banyak dikuatkan oleh hadits-hadits lain dengan riwayat yang berbeda-beda. Sebagian hadits telah disebutkan dan yang lain akan disebutkan di bawah ini. Siksa-siksa yang telah disebutkan dalam hadits tersebut adalah kecil dibandingkan dengan ancaman yang dikandung dalam riwayat pertama yang menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat telah keluar dari Islam. Yang pasti, apapun siksa yang telah disebutkan atau yang akan disebutkan, adalah merupakan balasan yang semestinya mereka terima dari perbuatannya. Akan tetapi, walaupun mereka berhak mendapatkan siksa, peluang untuk diampuni masih ada. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. An-Nisa’: 116)

Disebutkan dalam beberpa hadits bahwa pada Hari Kiamat Allah Subhaanahu wata’ala berkenan mengampuni, maka sungguh bernasib mujurlah orang itu.

Disebutkan dalam beberapa hadits bahwa pada Hari Kiamat Allah Subhaanahu wata’ala akan mengadakan tiga siding pengadilan:

  1. Pengadilan antara kufur dan Islam yang di dalamnya tidak ada pengampunan sama sekali.
  2. Pengadilan hak-hak sesama hamba, orang yang punya tanggungan harus membayar tanggungannya kecuali bila dimaafkan oleh orang yang punya hak.
  3. Pengadilan terhadap kewajiban dalam menunaikan hak-hak Allah Subhaanahu wata’ala. Dalam siding ini, pintu ampunan Allah Subhaanahu wata’ala terbuka lebar. Atas dasar ini, hendaknya kita memahami bahwa segala perbuatan kita ada balasannya. Namun, kasih sayang Sang Maha Raja tidak terbatas.

Masih banyak lagi hadits yang menerangkan jenis azab dan pahala Allah Subhaanahu wata’ala di akhirat kelak. Dalam Kitab Shahih Bukhari disebutkan biasanya ba’da Shalat Shubuh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para shahabatnya, barangkali di antara mereka ada yang bermimpi. Jika ada, beliau akan menerangkan makna mimpi tersebut. Suatu hari, seusai bertanya kepada para shahabatnya, beliau bercerita, “Tadi malam aku bermimpi, ada dua orang mendatangiku, lalu mereka membawaku pergi.” Selanjutnya Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan mimpi beliau yang panjang, yaitu tentang surga dan neraka dengan berbagai macam orang yang disiksa di dalamnya. Di antaranya beliau melihat seseorang membawa sebongkah batu besar, lalu memukulkannya ke kepalanya sendiri dengan keras sehingga batu itu terlempar jauh dan kepalanya hancur. Kemudian, ia bangun lagi dan kepalana utuh kembali, lalu ia mengambil batu tadi dan memukulkannya kembali ke kepalanya sendiri sehingga kepalanya hancur lagi, dan batu itu terlempar lagi. Demikianlah seterusnya. Melihat hal itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kedua pengiringnya, “Siapakah dia?” Keduanya memberitahu bahwa dia adalah orang yang telah belajar Al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya dan dia tidur tanpa mendirikan shalat fardhu.

Dalam hadits lain yang semakna dengan kisah di atas disebutkan bahwa Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bermimpi melihat segolongan orang yang disiksa seperti di atas. Beliau bertanya kepada Malaikat Jibril Alaihis salam. Lalu Malaikat Jibril Alaihis salam menjelaskan bahwa mereka adalah orang yang malas mengerjakan shalat. (dari Kitab At-Targhib). Syaikh Mujahid Rahmatullah ‘alaih berkata, “Orang yag menjaga waktu shalat akan mendapat keberkahan seperti keberkahan Nabi Ibrahim Alaihis salam dan anak-anaknya.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Sayyidinda Anas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan beriman yang murni, beribadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala, mendirikan shalat, membayar zakat, maka ia meninggal dunia dalam keadaan Allah Subhaanahu wata’ala meridhainya.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Sayyidina Anas Rahdiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman, “Aku ingin menurunkan azab di suatu tempat (Maksudnya tempat tersebut merupakan tempat yang layak diazab, karena banyaknya maksiat.), tetapi Aku melihat di sana ada orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid, saling berkasih sayang semata-mata karena Allah Subhaanahu wata’ala, dan pada akhir malam mereka beristighfar memohon ampunan, maka Aku menangguhkan azab tersebut.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Sayyidina Salman Radhiyallahu ‘anhu: Perbanyaklah waktumu di masjid. Aku mendengar Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Masjid adalah rumah para muttaqin (orang-orang yang bertakwa), dan Allah Subhaanahu wata’ala telah berjanji, ‘Bagi orang-orang yang banyak meluangkan waktunya di masjid Aku akan mencurahkan rahmat-Ku kepada mereka, Aku akan memberikan ketenangan kepada mereka, aku akan memudahkan mereka melewati Shirat pada Hari Kiamat, dan Aku akan meridhai mereka.’

Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu mengatakan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Masjid adalah rumah Allah Subhaanahu wata’ala. Barangsiapa bertamu ke sebuah rumah, maka pemilik rumah akan memuliakannya. Barangsiapa mendatangi masjid, pasti Allah Subhaanahu wata’ala juga akan memuliakannya.” Sayyidina Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mencintai masjid, Allah Subhaanahu wata’ala akan mencintainya.”

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “ Ketika seseorang yang telah mati diletakkan di dalam liang kubur, dan sebelum para pengiringnya kembali dari perkuburan, malaikat akan datang untuk menanyainya. Jika ia seorang mukmin, maka shalat akan mendekati kepalanya, zakat di sisi kanannya, puasa di sisi kirinya, dan amal shalih lainnya di kakinya, sehingga tidak ada satu pun malaikat (penanya kubur) tersebut yang dapat mendekatinya. Malaikat tersebut akan berdiri dan bertanya dari jauh.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Seorang shahabat berkata, “Jika keluarga Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami kesulitan, beliau akan menyuruh mereka untuk mendirikan shalat sambil membaca ayat:

“Suruhlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akhir yangbaik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Thaahaa: 132)

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kesatu “Pentingnya Shalat” Pasal 2 : Hadits-Hadits tentang Ancaman dan Celaan Bagi Orang yang Meninggalkan Shalat ~ Mengumpulkan Dua Shalat Tanpa Udzur adalah Dosa Besar (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: