Bergegas Shalat dalam Setiap Musibah

Hadits Ke-5

Dari Sayyidina Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Apabila Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menemui suatu kesulitan, maka beliau bergegas mengerjakan shalat.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, dari Kitab Durrul Mantsur)

Shalat adalah rahmat Allah Subhaanahu wata’ala yang besar. Mencari penyelesaian dengan shalat ketika menghadapi setiap kesulitan berarti mendatangkan rahmat Allah Subhaanahu wata’ala. Jika rahmat Allah Subhaanahu wata’ala datang, tidak akan ada lagi kesulitan yang tersisa. Banyak riwayat yang menyebutkan tentang hal ini. Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum yang selalu mengikuti setiap langkah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga sering melakukannya. Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika terjadi angin topan, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan bergegas masuk ke masjid dan tidak akan keluar dari masjid sebelum angin reda.” Demikian juga ketika terjadi gerhana matahari atau bulan, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan bergegas mengerjakan shalat. Sayyidina Shuhaib Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Para nabi Alaihimus salam setiap kali menghadapi kesulitan, akan bergegas melaksanakan shalat.”

Suatu hari, ketika dalam perjalanan, Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mendapat kabar bahwa anaknya telah meninggal dunia. Ia segera turun dari untanya, kemudian shalat dua rakaat, lalu membaca:

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.”

Setelah itu, ia berkata, “Aku telah melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah Subhaanahu wata’ala dalam Al-Qur’an:

‘Carilah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat.’” (Q.S. Al-Baqarah: 45)

Terdapat kisah lain mengenai Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma. Saat dalam perjalanan ia mendapatkan berita kematian saudaranya yang bernama Sayyidina Qutsam Radhiyallahu ‘anhu. Ia segera turun dari untanya dan mengerjakan shalat dua rakaat di pinggir jalan. Ia berdoa cukup lama dalam tasyahudnya. Kemudian ia berdiri untuk melanjutkan perjalanannya seraya membaca ayat Al-Qur’an:

“Carilah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya shalat itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ hatinya.” (Q.R. Al-Baqarah: 45)

Insayaallah mengenai masalah khusyu’ ini akan dijelaskan pada Bab Ketiga. Juga disebutkan sebuah kisah lain mengenai Sayyidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ketika mendengar berita wafatnya salah seorang Azwaajun Muthahharah (istri-istri Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), ia segera shalat. Ketika seseorang menanyakan perbuatannya, ia menjawab, “Beginilah yang diperintahkan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam jika kita tertimpa musibah. Hendaklah kita sibuk dengan shalat, dan tidak ada musibah yang lebih besar melebihi wafatnya Ummul Mukminin.” (Abu Dawud)

Ketika Sayyidina Ubadah Radhiyallahu ‘anhu hampir wafat, ia berkata kepada orang-orang yang di dekatnya, “Janganlah kalian menangisiku. Jika ruhku keluar, berwudhulah dengan sempurna, lalu pergilah ke masjid. Shalatlah dan beristighfarlah untukku! Sebab, Allah Subhaanahu wata’ala menyuruh kita agar selalu memohon pertolongan dengan sabar dan shalat, kemudian baringkanlah aku di liang kubur.”

Suami Sayyidatina Ummu Kultsum Radhiyallahu ‘anha, yaitu Sayyidina Abdurrahan Radhiyallahu ‘anhu, menderita sakit parah. Suatu ketika, ia pingsan, sehingga semua orang meyakini ia telah meninggal. Melihat hal itu, Sayyidatina Ummu Kultsum Radhiyallahu ‘anha segera mendirikan shalat. Ketika Sayyidatina Ummu Kultsum Radhiyallahu ‘anha selesai shalat, ternyata Sayyidina Abdurrahman Radhiyallahu ‘anhu siuman kembali. Ia bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah aku tadi seperti orang yang sudah mati?” Orang-orang menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Dua malaikat telah mendatangiku dan berkata, ‘Pergilah menghadap Ahkamul Hakimin (Allah Yang Maha Adil), Dialah yang akan memutuskan perkaramu!’ ketika kedua malaikat itu hendak membawaku, maka datanglah malaikat yang lain menghampiri dan berkata kepada kedua malaikat tadi, ‘Pergilah kalian berdua (tinggalkan dia)!’ Dia ini termasuk golongan orang-orang yang beruntung, yang sudah tertulis sejak ia berada di dalam kandungan ibunya. Saat ini anak-anaknya masih memerlukannya.” Setelah kejadian tersebut, Sayyidina Abdurrahman Radhiyallahu ‘anhu masih hidup selama satu bulan. Setelah itu, ia meninggal dunia.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Syaikh Nadhar Rahmatullah ‘alaih bercerita, “Suatu ketika, pernah terjadi gelap gulita pada waktu siang. Aku pun berlari menemui Sayyidina Anas Radhiyallahu ‘anhu dan bertanya kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukan jika mengalami hal seperti ini pada masa hidup Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Dia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah, (hal ini tidak pernah terjadi pada zaman Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Pada zaman Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam jika terjadi angin bertiup sedikit kencang saja, kami segera berlari ke masjid, takut jika terjadi Kiamat.” (Abu Dawud)

Sayyidina Abdullah bin Salaam Radhiyallah ‘anhu berkata, “Apabila kesulitan menimpa keluarga Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau akan menyuruh keluarganya mendirikan shalat seraya membaca ayat Al-Qur’an:

“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akhir (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Thaahaa: 132)

Shalat Hajat

Sebuah hadits menyebutkan bahwa barangsiapa mempunyai suatu hajat megenai urusan dunia atau urusan akhirat, yang berhubungan langsung dengan Allah Subhaanahu wata’ala atau yang berhubungan dengan hamba-Nya, hendaklah ia berwudhu dengan sempurna, kemudian shalat dua rakaat, selanjutnya memuji Allah Subhaanahu wata’ala, dan bershalawat kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berdoa:

“Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Maha Suci Allah Pemilik Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Aku memohon kepada-Mu segala sesuatu yang menyampaikan kepada rahmat-Mu dan aku memohon sebenar-benarnya ampunan-Mu, aku memohon mendapatkan segala kebajika, serta keselamatan dari segala dosa. Janganlah Engkau biarkan bagiku suatu dosa tanpa Engkau mengampuninya, suatu kesempitan tanpa Engkau melapangkannya, dan suatu hajat yang Engkau ridhai tanpa Engkau memenuhinya. Terimalah, wahai Yang Maha Rahim!”, insyaallah hajatnya akan terpenuhi.

Syaikh Wahab bin Munabbih Rahmatullah ‘alaih berkata, “Penuhilah keperluan-keperluanmu melalui Shalat Hajat. Orang-orang terdahulu, jika menghadapi suatu masalah, mereka segera mengerjakan shalat. Bila terselamat dari masalah, mereka juga segera mengerjakan shalat.”

Shalat Saat Terkena Musibah dan Kesusahan

Syaikh Wahab bin Munabbih Rahmatullah ‘alaih bercerita, “Di Kufah ada seorang pengantar barang yang terkenal. Orang-orang sangat mempercayainya. Karena sifatnya yang jujur dan terpercaya, para pedagang banyak menitipkan barang atau uang kepadanya. Ketika sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu bertany, ‘Engkau mau kemana?’ Pengantar barang tersebut menjawab, ‘Aku akan ke kota A.’ Laki-laki itu berkata, ‘Aku juga akan ke sana. Sebenarnya aku dapat bersamamu dengan berjalan kaki, tetapi bagaimana jika aku ikut menumpang keledaimu dengan bayaran satu dinar?’ Pengantar barang itu pun setuju. Ketika tiba di suatu persimpangan jalan, laki-laki tadi bertanya, ‘Jalan manakah yang akan engkau tempuh?’ Pengantar barang menjawab, ‘Jalan besar yang umum ini!’ laki-laki tadi berkata, ‘Jalan yang satunya ini lebih dekat dan lebih mudah untuk mendapatkan makanan bagi binatang karena banyak rumput di sana.’ Pengantar barang menyahut, ‘Aku belum pernah melewatinya.’ ‘Aku sering melewatinya,’ kata laki-laki tadi. ‘Baiklah jika begitu,’ jawab pengantar barang. Maka mereka pun menempuh jalan itu.

Beberapa lama kemudian, mereka tiba di sebuah hutan yang menyeramkan yang banyak berserakan bangkai manusia. Tiba-tiba laki-laki tadi turun dari keledai yang dinaikinya dan langsung mengeluarkan belati dari balik punggungnya dengan maksud membunuh pengantar barang tadi. ‘Jangan!’ teriak pengantar barang, ‘Ambillah keledai beserta semua barangnya, karena inilah yang kamu inginkan, tetapi jangan bunuh aku!’ Laki-laki tadi tidak mempedulikan tawaran tersebut, malah ia bersumpah, “Pertama, aku akan membunuhmu; kemudian, aku akan mengambil semua barangmu!” Pengantar barang merengek-rengek, namun si laki-laki tersbeut tidak mempedulikannya sama sekali. Akhirnya pengantar barang berucap, ‘Baiklah, izinkan aku shalat dua rakaat untuk terakhir kalinya!’ Sambil tertawa, laki-laki itu mengabulkan permintaan pengantar barang dan berkata, ‘Silakan, cepatlah shalat! Mereka yang mati ini pun telah meminta hal yang sama, tetapi shalat mereka tidak menolong mereka sedikit pun.’ Segera pengantar barang itu shalat, tetapi setelah membaca Al-Fatihah, dia tidak dapat mengingat satu surat pun. Sementara laki-laki zhalim itu menunggu sambil terus berteriak, ‘Cepat, selesaikan shalatmu!’ Tanpa sengaja terbaca oleh lidah si pengantar barang ayat:

‘Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam keadaan terjepit bila ia berdoa kepada-Nya dan siapakah yang akan menghilangkan kesusahan-kesusahan.’ (Q.S. An-Naml: 62)

Pengantar barang tersebut membacanya berulang-ulang sambil menangis. Tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda bertopi besi gemerlapan. Ia datang dan menikam laki-laki zhalim tadi sampai mati. Di tempat laki-laki zhalim itu mati, keluarlah nyala api. Pengantar barang tadi langsung bersujud syukur ke hadirat Allah Subhaanahu wata’ala. Kemudian ia lari ke penunggang kuda tadi dan bertanya, ‘Siapakah engkau dan bagaimana engkau bisa datang kemari?’ Ia (penunggang kuda) menjawab, ‘Aku adalah hamba Allah yang ditugaskan untuk menolong siapa saja yang membaca ayat ini. Kini engkau aman dan dapat pergi ke mana pun kamu suka.’ Setelah berkata demikian, penunggang kuda itu pun pergi dan lenyap.” (dari Kitab Nuzhatul Majalis)

Pada hakikatnya, shalat adalah kekayaan yang sangat besar. Selain akan mendatangkan keridhaan Allah Subhaanahu wata’ala, shalat juga akan menyelamatkan dari bencana dunia dan menenangkan hati. Syaikh Ibnu Sirin Rahmatullah ‘alaih berkata, “Seandainya aku disuruh memilih antara surga dan dua rakaat shalat, maka aku akan memilih shalat. Karena surga itu untuk keridhaanku, sedangkan shalat adalah untuk keridhaan Allah Subhaanahu wata’ala.”

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang paling pantas dicemburui adalah seorang muslim yang ringan beban hidupnya (urusan keluarganya tidak memberatkannya), banyak melakukan shalat, rela menerima rezeki apa adanya, sabar atas segala keadaannya, beribadah kepada Allah Subhaanahu wata’ala dengan sebaik-baiknya, tidak terkenal, cepat mati, warisannya sedikit, dan tidak banyak orang yang menangisinya.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Perbanyaklah shalat sunnah di rumahmu! Agar kebaikan rumah bertambah.” (dari Kitab Jami’ush Shaghir)

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kesatu “Pentingnya Shalat” Pasal 1 : Keuntungan Shalat ~ Bergegas Shalat dalam Setiap Musibah (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: