Shalat Menggugurkan Dosa seperti Daun-Daun Berguguran di Musim Gugur

Hadits Ke-2

Dari Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar dari rumahnya ketika musim gugur di saat daun-daun berguguran dari pepohonan. Beliau mengambil setangkai ranting pohon, dan daun-daunnya langsung berguguran. Beliau berkata, “Wahai Abu Dzar!” Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu menyahut, “Labbaik! (Aku siap sedia!), ya Rasulullah!” Beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang muslim yang menunaikan shalatnya semata-mata karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran sebagaimana daun-daun ini berguguran dari rantingnya.” (H.R. Ahmad, dari Kitab At-Targhib)

Faidah

Pada musim gugur, begitu banyak daun-daun berguguran dari pohonnya sehingga ada sebagian pohon yang daunnya tidak tersisa sehelai pun. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hasil shalat yag dikerjakan dengan ikhlas, semua dosa diampuni hingga hingga tidak ada satu pun yang tersisa.”

Untuk Dosa-Dosa Besar Perlu Bertaubat secara Khusus

Ada satu hal yang perlu direnungkan. Menurut para ulama, berdasarkan kesimpulan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, shalat dan ibadah-ibadah yang lain hanya menghapus dosa-dosa kecil. Sedangkan dosa-dosa besar tidak dapat diampuni tanpa bertaubat secara khusus. Oleh sebab itu, selain mengerjakan shalat, hendaknya kita selalu bertaubat dan beristighfar, jangan sampai kita melalaikannya. Jika Allah Subhaanahu wata’ala mengampuni dosa-dosa besar karena kemurahan-Nya sebab shalat kita, itu perkara lain.

Hadits Ke-3

Dari Sayyidina Abu Utsman Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku dan Sayyidina Salman Radhiyallahu ‘anhu berada di bawah sebatang pohon, lalu ia mengambil sebatang ranting kering dari pohom itu dan mengibas-ngibaskannya sehingga daun-daunnya berguguran. Ia berkata, “Hai Abu Utsman, mengapa engkau tidak bertanya kepdaku, mengapa aku berbuat begini?” Aku bertanya, “Mengapa engkau berbuat demikian?” Ia menjawab, “Beginilah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya di hadapanku ketika aku bersama beliau di bawah sebatang pohon. Beliau mengambil ranting kering dan mengibas-ngibaskannya sehingga daun-daunnya berguguran. Lalu beliau bersabda, ‘Wahai Salman, mengapa kamu tidak bertanya kepadaku mengapa aku berbuat begini?’ Aku bertanya, ‘Mengapa engkau berbuat demikian?’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya jika seorang muslim berwudhu dengan sempurna, selanjutnya megerjakan shalat lima waktu, niscaya dosa-dosanya gugur sebagaimana daun-daun ini berguguran.’” Beliau membacakan satu ayat yang artinya, ‘Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan malam, sesungguhnya amal kebaikan menghapuskan kejahatan. Itulah nasihat bagi orang-orang yang mau menerima.’” (H.R. Ahmad, Thabarani, Nasa’i)

Faidah

Perbuatan Sayyidina Salman Radhiyallahu ‘anhu yang ditunjukkannya dalam hadits di atas, merupakan contoh kecil kecintaan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Siapa pun yang mencintai seseorang, ia akan meniru tingkah laku orang yang dicintainya itu. Orang yang telah merasakan manisnya cinta, tentu memahami hakikat ini dengan baik. Begitu juga para shahabat Radhiyallahu ‘anhum ketika meriwayatkan sabda-sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sering menirukan perbuatan beliau seperti ketika beliau menyampaikannya.

Hadits-hadits tentang pentingnya shalat, dan ampunan dosa bagi yang mengerjakannya tidak terhitung banyaknya, sehingga sulit untuk menyebutkan semuanya di sini. Sebelum hadits ini, sudah diriwayatkan hadits-hadits mengenai hal itu. Para ulama membatasi ampunan tersebut, hanya untuk dosa-dosa kecil, sebagaimana telah diketahui sebelumnya. Padahal dalam beberapa hadits tidak ada pembatasan dosa kecil atau besar, tetapi disebutkan dosa-dosa tanpa ada pembatasan.

Ayah saya (Syaikh Maulana Muhammad Yahya Rahmatullah ‘alaih) memberikan dua penjelasan ketika mengajarkan bab ini.

  1. Melakukan dosa besar adalah sesuatu yang jauh dari diri seorang muslim. Adanya perbuatan dosa besar pada dirinya adalah perkara yang sulit terjadi. Seandainya terjadi, jiwa seorang muslim tidak akan merasa tenang sebelum ia bertaubat. Jika seseorang telah berbuat dosa besar, maka keislamannya akan menuntutnya untuk benar-benar menyesali perbuatannya dan ia tidak akan merasa tenang sebelum ia menyucikan dirinya dengan bertaubat. Adapun dosa-dosa kecil, kadang kala tidak begitu diperhatikan dan dipedulikan, sehingga masih menjadi tanggungannya. Dengan shalat dan amal ibadah yang lain, dosa tersebut akan diampuni.
  2. Seseorang yang shalat dengan ikhlas dan menunaikan adab serta sunnahnya, berarti ia sudah bertaubat (Dianggap bertaubat jika dosa itu hanya berhubungan dengan Allah Subhaanahu wata’ala. Untuk dosa yang berhubungan dengan manusia, ia harus meminta halal atau ia harus menyelesaikan masalah itu dengan orang tersebut, sesuai dengan syariat Islam.) dan beristighfar beberapa kali. Sebab, di akhir bacaan Tahiyyat terdapat doa yang berbunyi:

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiayai diriku dengan aniaya yang banyak. Tiada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu dan sayangilah aku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Hadist di atas, juga menganjurkan kita untuk menyempurnakan wudhu dengan memperhatikan adab-adab dan sunnah-sunnahnya. Salah satu sunnahnya adalah bersiwak. Bersiwak ialah sunnah wudhu yang sering diabaikan. Padahal disebutkan dalam sebuah hadits, “Barangsiapa shalat dua rakaat dengan bersiwak.” Dalam hadits lain, dinyatakan, “Jagalah siwak, karena dalam siwak terdapat sepuluh keutamaan, yaitu (1) membersihkan mulut, (2) menyebabkan Allah Subhaanahu wata’ala ridha, (3) membuat setan marah, (4) dicintai Allah Subhaanahu wata’ala dan para malaikat-Nya, (5) menguatkan gusi, (6) menghilangkan dahak, (7) mewangikan mulut, (8) menghilangkan cairan kuning yang menggangu lambung, (9) memperjelas penglihatan, dan (10) menghilangkan bau mulut, serta bersiwak adalah sunnah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (dari Kitab Al-Munabbihat, karya Ibnu Hajar Makki)

Para ulama telah mengumpulkan sampai tujuh puluh kelebihan bersiwak, salah satu di antaranya akan memudahkan mengucapkan syahadat ketika akan meninggal dunia. Sebaliknya, menghisap candu mengandung tujuh puluh mudharat, salah satu di antaranya akan menyebabkan lupa mengucapkan Kalimah Syahadat ketika akan meninggal dunia. Masih banyak pahala lain jika seseorang mengerjakan wudhu dengan sempurna. Sebuah hadits menyebutkan bahwa pada Hari Kiamat anggota tubuh yang dibasahi air wudhu akan bercahaya. Dengan cahaya itulah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengenali umatnya secara langsung.

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – II. Kitab Fadhilah Shalat – Bab Kesatu “Pentingnya Shalat” Pasal 1 : Keuntungan Shalat ~ Shalat Mengugurkan Dosa seperti Daun-Daun Berguguran di Musim Gugur (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: