11. Beberapa Kisah tentang Perasaan Cinta Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum terhadap Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Suatu ketika, seseorang bertanya kepada Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu, “Sejauh manakah cintamu terhadap Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Demi Allah, di mata kami, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih kami cintai daripada harta, anak, dan ibu kami. Bahkan, lebih kami sukai daripada meminum air dingin ketika kehausan.” (dari Kitab Syifa’)

Faidah

Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata benar. Demikianlah hakikat pada diri shahabat. Mengapa tidak? Karena keimanan mereka sempura. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat-tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah Subhaanahu wata’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Q.S. At-Taubah: 24)

Dalam ayat ini, terdapat ancaman Allah Subhaanahu wata’ala terhadap orang yang tidak mencintai Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya di atas segalanya. Dari Sayyidina Anas Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu tidak akan menjadi seorang mukmin yang sempurna sebelum kamu mencintaiku melebihi cintamu kepada bapakmu, anak-anakmu, dan semua orang.” Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan hadits yang seperti itu.

Para ulama mengatakan, yang dimaksud dengan cinta dalam hadits itu adalah cinta ikhtiyari (cinta menurut nalar orang yang beriman), bukan cinta thabi’iy idhtirary (cinta yang sudah menjadi watak). Kalaupun yang dimaksud dalam hadits itu adalah cinta thabi’iy idhtirary, maka maksud istilah iman dalam hadits tersebut adalam iman yang sempurna sebagaimana iman para shahabat Radhiyallahu ‘anhum (Kesimpulannya: jika seseorang belum memiliki cinta thabi’iy idhrirary kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia belum sempurna imannya (namun, bukan berarti ia sama sekali tidak beriman).).

Dari Sayyidina Anas Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga perkara yang jika terdapat pada diri seorang muslim, ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu mencintai Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya lebih daripada segalanya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah Subhaanahu wata’ala, takut menjadi kafir kembali sebagaimana ia takut dilemparkan ke dalam api.” Suatu ketika, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah, aku mencintaimu lebih daripada segalanya, kecuali diriku sendiri.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang tidak akan menjadi mukmin yang sempurna, sebelum ia mencintai aku lebih daripada dirinya sendiri.” Lalu Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah, sekarang, aku mencintaimu melebihi diriku sendiri.” Beliau bersabda, “Sekarang, wahai Umar.”

Para ulama menjelaskan jawaban Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut memiliki dua maksud. Pertama, sekarang telah sempurna imannya. Kedua, ini peringatan, mengapa baru sekarang Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu mencintai Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi dirinya, padahal perasaan itu harus dimiliki sejak awal.

Syaikh Sahl Tustari Rahmatullah ‘alaih berkata, “Barangsiapa tidak menjadikan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tuannya dan dia sebagai budaknya setiap saat dan keadaan, serta masih menganggap memiliki dirinya, maka ia tidak akan merasakan kelezatan sunnah Baginda Nabi Shallallah ‘alaihi wasallam.” Seorang shahabat Radhiyallahu ‘anhu mendatangi Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Kapankah Hari Kiamat?” Beliau bertanya, “Apa yang telah kamu siapkan untuk Hari Kiamat sehingga kamu menunggu kedatangannya?” Jawabnya, “Ya Rasulullah, aku tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tetapi aku mempersiapkannya dengan mencintai Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya di dalam hatiku.” Beliau menjawab, “Pada Hari Kiamat, kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.”

Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Pada Hari Mahsyar, seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.” Beberapa shahabat Radhiyallahu ‘anhum meriwayatkan hadits ini termasuk Sayyidina Ibnu Mas’ud, Sayyidina Abu Musa Al-Asyari, Sayyidina Shafwan, dan Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhum. Sayyidina Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tiada ada sesuatu yang lebih menggembirakan hati para shahabat melebihi sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut.” Hal itu wajar, karena cinta mereka kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mendarah daging pada diri mereka.

Pada mulanya, Sayyidatina Fathimah Radhiyallahu ‘anha tinggal agak jauh dari rumah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu ketika Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Aku ingin kamu tinggal dekat denganku.” Sayyidatina Fathimah Radhiyallahu ‘anha mengusulkan, “Rumah Sayyidina Haritsah Radhiyallahu ‘anhu itu rumah yang terdekat dengan rumah ayah. Katakanlah kepadanya agar ia mau bertukar tempat tinggal dengan aku.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebelumnya, kita sudah bertukar tempat dengannya. Kini aku malu mengatakannya.”

Ketika Sayyidina Haritsah Radhiyallahu ‘anhu mengetahui hal itu, ia langsung menjumpai Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ”Ya Rasulullah, aku mengetahui engkau menginginkan rumah Sayyidatina Fathimah Radhiyallahu ‘anha lebih dekat dengan tempat tinggal engkau. Inilah beberapa rumahku. Tidak ada rumah yang lebih dekat dengan rumah engkau daripada rumahku. Terserah kepadamu ya Rasulullah, mana yang engkau sukai, tukarlah. Ya Rasulullah, diriku dan hartaku ini milik Allah Subhaanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Ya Rasulullah, demi Allah, jika engkau mengambil hartaku untuk keperluanmu itu lebih menggembirakan aku daripada engkau meninggalkan hartaku untuk keperluanku.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar, kamu telah berkata jujur.” Lalu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan keberkahan bagi Sayyidina Haritsah Radhiyallahu ‘anhu dan bertukar rumah dengannya. (dari Kitab Thabaqat)

Seorang shahabat datang ke majelis Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Ya Rasulullah, aku sangat mencintaimu melebihi cintaku terhadap jiwa, harta, dan keluargaku sendiri. Jika aku berada di rumah, lalu aku terbayang dirimu, maka aku tidak bisa menahan diri hingga menjumpaimu. Aku berpikir, bagaimana jadinya jika nanti di akhirat engkau akan mencapai derajat para nabi Alaihimus salam, maka aku khawatir tidak bisa melihat engkau lagi.” Mendengar hal itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjwab sedikit pun, beliau hanya berdiam diri. Kemudian datanglah Malaikat Jibril Alaihis salam membacakan wahyu:

“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shaddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah. Dan Allah Yang Maha Mengetahui.” (Q.S. An Nisaa’: 69-70)

Banyak kisah seperti itu yang terjadi pada diri shahabat lain. Hal itu disebabkan kedalaman cinta mereka terhadap Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagai tanggapannya, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan ayat tersebut. Seorang shahabat datang kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Ya Rasulullah, aku sangat mencintaimu sehingga jika aku teringat engkau, dan aku tidak berjumpa dengan engkau saat itu juga, mungkin nyawaku akan terlepas. Namun, terpikir olehku, meskipun aku akan masuk surga, tentu derajat surga yang kudiami lebih rendah daripada derajat surgamu. Bagiku, tinggal di surga, tanpa bertemu denganmu adalah sangat berat.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawabnya dengan membaca ayat di atas.

Ada juga riwayat lain yang menyatakan bahwa seorang Anshar datang ke majelis Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bersedih hati. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertaya, “Mengapa kamu bersedih?” Jawabnya, “Ya Rasulullah, aku sedang memikirkan sesuatu.” Beliau bertanya, “Apakah yang kamu pikirkan?” Jawabnya, “Ya Rasulullah, setiap pagi dan sore aku selalu berjumpa denganmu. Aku senantiasa rindu untuk menjumpaimu, datang dan duduk di majelismu. Namun kelak di akhirat, engkau pasti akan mencapai derajat itu.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiam diri terhadap pertanyaan ini. Lalu ketika turun ayat di atas, beliau memanggil shahabat Anshar tersebut dan menyampaikan kabar gembira itu kepadanya.

Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa banyak shahabat Radhiyallahu ‘anhum yang mengadukan hal seperti itu. Lalu Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat tersebut, sehingga para shahabat merasa lega. Sebuah hadits menyebutkan, ada seorang shahabat bertanya kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, sudah pasti bahwa para nabi mempunyai keistimewaan yang lebih daripada umat mereka, dan di surga derajat mereka pun lebih tinggi daripada umat mereka. Lalu, bagaimana kami dapat menjumpai engkau?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang derajatnya lebih tinggi akan menziarahi orang-orang yang derajatnya lebih rendah. Mereka duduk dan berbincang bersama-sama.” (dari Kitab Durrul Mantsur)

Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan lahir orang yang sangat mencintaiku setelah wafatku. Mereka berangan-angan dapat berjumpa denganku walaupun harus mengorbankan seluruh harta dan keluarga mereka.”

Anak perempuan Sayyidina Khalid Radhiyallahu ‘anhu, Sayyidatina Abdah Radhiyallahu ‘anha, berkata, “Jika ayahku berbaring untuk tidur, ia tidak dapat memejamkan mata dan selalu terjaga karena mengingat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kerinduan yang mendalam. Ia juga menyebut nama para shahabat Muhajirin dan Anshar, mengingat-ingat mereka, dan berkata, ‘Mereka orang tua dan penerusku (maksudnya shahabat yang tua dan yang muda). Mereka telah menarik hatiku. Ya Allah, cepatkanlah kematianku, sehingga aku dapat berjumpa dengan mereka.’ Ia terus berkata demikian sampai tertidur.”

Suatu ketika, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah, Aku lebih mengharap Islamnya paman engkau daripada Islamnya ayahku. Karena engkau pasti lebih menyukai keislamannya.” Suatu ketika, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Sayyidina Abbas Radhiyallahu ‘anhu (paman Baginda Nabi Shhallallahu ‘alaihi wasallam), “Keislamanmu tentu lebih disukai Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada keislaman ayahku.”

Suatu malam, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu berkeliling Kota Madinah. Dari sebuah rumah terlihat olehnya sinar lampu terpancar. Kemudian ia mendengar seorang wanita tua sedang memintal bulu binatang sambil membaca bait-bait syair yang artinya:

Semoga shalawat orang-orang baik senantiasa terkirim kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Semoga shalawat orang-orang pilihan dan istimewa tercurah kepadamu

Sungguh, ya Rasulullah, Engkaulah yang senantiasa shalat pada waktu malam dan menangis pada waktu sahur

Alangkah baiknya, andai aku tahu, apakah aku dengan kekasihku (Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) dapat bersatu kembali atau tidak

Karena kematian seseorang itu berbeda-beda

Aku tidak tahu, bagaimana datangnya matiku

Dan setelah mati, aku tidak tahu apakah dapat bertemu dengan kekasihku (Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam)

Ketika Sayyidina Umar Rahdiyallahu ‘anhu mendengar syair itu, ia terduduk sambil menangis.

Ada kisah mengenai Sayyidina Bilal Radhiyallahu ‘anhu yang terkenal, yaitu ketika ia hampir wafat, istrinya sangat bersedih. Istrinya berkata, “Aduhai, sungguh menyedihkan.” Sahut Bilal Radhiyallahu ‘anhu, “Subhaanallah, betapa gembira, esok aku akan bertemu dengan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat.” Kisah tentang Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu telah diterangkan dalam Bab kelima kisah ke-9 yang lalu , yaitu ketika ia akan disalib oleh orang-orang kafir, Abu Sufyan bertanya, “Apakah kamu bersedia jika kami melepasmu dan sebagai gantinya (Naudzubillah), Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam)?” Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Demi Allah, lebih baik aku mati daripada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terkena duri.” Abu Sufyan berkata, “Tidak pernah kulihat seseorang mencintai pimpinannya, sebagaimana shahabat Muhammad mencintainnya.”

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Keduabelas “Contoh-Contoh Kecintaan Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum Terhadap Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam” 11. Beberapa Kisah tentang Perasaan Cinta Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum terhadap Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: