4. Kisah Perbuatan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Mughirah, dan Umumnya Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum di Hidaibiyah

Perang Hudaibiyah adalah perang yag sangat terkenal. Perang ini terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 Hijriyah, yaitu ketika Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membawa serombongan besar para shahabat untuk umrah. Ketika orang-orang Kafir Makkah mendengar kabar itu, mereka segera berembug. Mereka memutuskan bahwa Kaum Muslimin harus ditahan agar tidak memasuki Makkah. Untuk itu, mereka membuat persiapan besar-besaran. Selain penduduk Makkah, mereka juga mengundang pasukan dari luar Makkah untuk bergabung, sehingga pasukan mereka sangat besar.

Dari Kampung Dzulhulaifah, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk mencari berita tentang situasi di Makkah, dan orang itu akan bertemu lagi dengan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Kampung ‘Usfan. Ketika tiba, ia melaporkan bahwa penduduk Makkah telah mempersiapkan pasukan tempur yang lengkap dan besar, bahkan mereka juga meminta bantuan orang-orang dari luar Makkah. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam segera memanggil para shahabatnya untuk bermusyawarah menganai apa yang seharusnya dilakukan. Dalam musyawarah itu ada yang mengusulkan agar lebih dulu menyerang rumah orang-orang luar Makkah yang bergabung dengan orang-orang kafir Makkah, sehingga jika mendengar kabar itu mereka akan kembali ke kampong mereka masing-masing. Ada juga yang mengusulkan, “Kita gempur langsung Makkah!” Sedangkan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu mengusulkan, “Ya Rasulullah, engkau hadir di sini untuk berziarah ke Baitullah, bukan untuk berperang. Sebaiknya kita semua ke sana. Jika mereka menahan kita, maka kita lawan. Jika tidak, maka kita tidak berperang.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menerima usul Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu.

Akhirnya berangkatlah Kaum Muslimin. Setiba di Hidaibiyah (sebuah tempat dekat Makkah), mereka didatangi oleh Budail bin Warqa dari kabilah Khusa’ah (Kabilah Khuza’ah adalah kabilah yang pada waktu itu belum masuk Islam, tetapi selalu memihak kepada Kaum Muslimin.) dan rombongannya. Ia berkata kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang-orang Quraisy melarangmu masuk Makkah. Mereka telah siap bertempur.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kami datang bukan untuk bertempur, tujuan kami hanya untuk umrah. Orang –orang Quraisy hampir setiap saat bertempur. Hal itu sangat merugikan dan mengakibatkan kehancuran bagi mereka sendiri. Jika mereka setuju, aku lebih suka berdamai. Antara aku dan mereka sebaiknya membuat perjanjian bahwa kami tidak akan menyerang mereka, dan mereka pun tidak akan menyerang kami. Jika mereka tidak menyukai usul ini., demi Allah yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, aku akan bertempur terus sampai Islam menang atau leher kami terpenggal.” Budail berkata, “Baiklah, aku akan menyampaikannya kepada orang-orang Quraisy.”

Budail pun kembali ke Makkah dan menyampaikan semuanya kepada orang-orang Quraisy. Tetapi para kafir Quraisy tidak menyetujui Kaum Muslimin masuk Makkah untuk umrah. Kemudian dari kedua belah pihak saling berkirim utusan. Selanjutnya, datanglah Urwah bin Mas’ud Tsaqafi sebagai utusan Kaum Kafir (saat itu ia belum masuk Islam). Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada Urwah sebagaimana kepada Budail. Urwah berkata, “Hai Muhammad, jika engkau berhasil membinasakan keluargamu sendiri (suku Quraisy), ini adalah aib besar buat kamu, apakah kamu pernah mendengar ada orang Arab yang membinasakan keluarganya sendiri? Jika kemungkinan kedua yang terjadi, yaitu suku Quraisy mengalahkanmu, maka ingatlah bahwa aku tidak melihat orang-orang terhormat dalam kelompokmu ini. Mereka orang-orang rendahan. Jika kalah, mereka akan lari meninggalkanmu.” Ketika itu Sayidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berada di dekat Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar ucapan Urwah, ia sangat marah dan berkata, “Hisaplah kemaluan Latta, tuhanmu itu! Mana mungkin kami akan lari meninggalkan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Urwah bertanya, “Siapa dia?” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ia Abu Bakar.” Urwah berkata kepada Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, “Sayang, dulu kamu telah berjasa kepadaku dan aku belum membalasnya. Jika tidak, tentu akan kubalas penghinaanmu.” Setelah berkata demikian, ia melanjutkan pembicaraannya dengan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Salah satu kebiasaan orang Arab, jika sedang berbicara ia memegang-megang ujung janggut lawan bicarana (agar lebih akrab). Saat itu, untuk merayu, Urwah memegang-megang janggut Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang penuh berkah. Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum tidak tahan melihat hal itu. Keponakan Urwah, Sayyidina Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, yang saat itu sedang berdiri di dekat Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan topi besi di kepalanya dan senjata di tubuhnya, langsung dengan gagang pedangnya memukul tangan Urwah dan berkata, “Singkirkan tanganmu!” Tanya Urwah, “Siapa ini?” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyahut, “Mughirah.” Urwah berkata kepada Sayyidina Mughirah Radhiyallahu ‘anhu, “Hai Penghianat! Sampai sekarang aku menanggung akibat penghianatanmu. Tetapi, inikah balasanmu?” (Sayyidina Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu sebelum masuk Islam memang pernah membunuh beberapa orang kafir, dan atas perbuatannya itu ia harus membayar denda. Urwah sebagai pamannya membayar denda untuk Sayyidina Mughirah Radhiyallahu ‘anhu. Inilah yang dimaksud perkataan Urwah).

Ringkasnya, Urwah berbicara panjang lebar dengan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sambil berbicara, ia sering memperhatikan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum sekalian mengukur kekuatan mereka. Ketika ia kembali ke kaumnya, ia berkata kepada Kaum Quraisy, “Wahai orang-orang Quraisy, aku sering menjumpai raja-raja besar, yaitu Kaisar (gelar raja Romawi), Kirsa (gelar raja Persia), dan Najasyi (gelar raja Habasyah). Aku juga melihat penghormatan rakyat kepada raja-raja mereka. Demi Tuhan, aku tidak pernah melihat orang yang dihormati rakatnya melebihi Muhammad dihormati oleh para shahabatnya. Jika Muhammad meludah, mereka akan menadah air ludahnya dengan tangan mereka, lalu mereka mengoleskannya ke seluruh tubuh dan wajah mereka. Jika ia mengucapkan sesuatu, mereka akan berlomba-lomba melaksanakan ucacpannya. Jika ia berwudhu, mereka berebut untuk mengambil tetesan air wudhunya agar tidak jatuh ke tanah. Mereka yang tidak mendapatkan air itu akan mengusap tangan orang lain yang basah, lalu mengusapkan ke mukanya. Jika berbicara dengan Muhammad, mereka akan berbicara dengan merendahkan diri. Mereka tidak pernah bersuara keras di depan Nabinya dan mereka tidak pernah melihat dengan menatap wajahnya karena rasa hormat kepadanya. Jika sehelai rambut dan janggutnya jatuh, maka akan diambil sebagai berkah. Mereka sangat menghormati dan memuliakan Nabinya. Singkatnya, aku tidak pernah melihat manusia yang dicintai melebihi Muhammad dicintai para shahabatnya.”

Ketika itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu untuk menjumpai para pemimpin Quraisy. Meskipun Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu sudah memeluk Islam, ia masih dihormati oleh Kaum Quraisy sehingga keselamatannya tidak begitu dikhawatirkan. Itulah alasan Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu diutus untuk menemui mereka. Kemudian Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu memasuki Makkah. Sebagian para shahabat Radhiyallahu ‘anhum merasa iri, mereka berkata, “Dengan tenang,, Utsman akan thawaf di Ka’bah.” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku mengira Utsman tidak akan thawaf tanpa aku.”

Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu memasuki Makkah dengan mendapat perlidungan dari Aban bin Sa’id (seorang tokoh Makkah). Aban bin Sa’id berkata kepadanya, “Pergilah ke mana saja sesukamu, orang-orang tidak akan menghalang-halangimu.” Maka pergilah Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Sufyan dan para tokoh Quraisy untuk menyampaikan pesan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika akan kembali, orang-orang kafir Quraisy menawarkan agar ia berthawaf di Ka’bah. Mereka berkata, “Engkau telah tiba di Makkah, berthawaflah!” Jawabnya, “Ini tidak mungkin. Bagaimana aku thawaf sedangkan Baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kalian larang untuk thawaf?”

Orang-orang kafir Quraisy marah dengan jawaban tersebut. Mereka pun menahan Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu. Berita yang sampai kepada Kaum Muslimin adalah bahwa Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Maka para shahabat Radhiyallahu ‘anhu segera berbai’at kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Ketika orang-orang kafir Quraisy mendengar kabar itu, mereka langsung panic dan melepaskan Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu. (dari Kitab Khamis)

Faidah

Daam kisah di atas, ucapan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu kepada Urwah, perlakuan Sayyidina Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu memukul Urwah, dan semua perbuatan shahabat yang diperhatikan oleh Urwah, serta penolakan Sayyidina Utsman Radhiyallahu ‘anhu berthawaf di Ka’bah tanpa Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, semua menunjukkan mahabbah dan cinta yang tidak terbatas para shahabat Radhiyallahu ‘anhum kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bai’at dalam kisah inilah yang disebut Bai’atusy Syajarah. Kisah ini diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Fath ayat 18:

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan ke atas mereka dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Keduabelas “Contoh-Contoh Kecintaan Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum Terhadap Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam” 4. Kisah Perbuatan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Mughirah, dan Umumnya Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum di Hudaibiyah (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: