BAB KEDUABELAS “CONTOH-CONTOH KECINTAAN PARA SHAHABAT RADHIYALLAHU ‘ANHUM TERHADAP BAGINDA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM”

Semua kisah yang sudah diketengahkan sebelumnya, menunjukkan kemuliaan cinta para shahabat Radhiyallahu ‘anhum kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Cinta kepada Allah Subhaanahu wata’ala dan rasul-Nya yang membuat mereka hidup, sehingga mereka tidak mempedulikan nyawa, tidak mempedulikan kehidupan sendiri, tidak memikirkan harta, tidak menghiraukan kesusahan, tidak takut mati.

Cinta bukanlah sesuatu yang bisa diceritakan. Cinta adalah sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengankata-kata. Cinta adalah sesuatu yang bila telah menghujam ke dalam hati, maka ia akan mengutamakan yang dicintai di atas segalanya, tanpa mempedulikan kemuliaan dan kehormatan.

Semoga Allah Subhaanahu wata’ala dengan kasih sayang-Nya dan melalui keberkahan kekasih-Nya, memberi kita rasa cinta kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, Baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, semua ibadah akan terasa lezat dan setiap kesusahan dalam menjalankan agama terasa nikmat bagi kita.

1. Kisah Penderitaan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu ketika Menyatakan Keislamannya secara Terang-terangan

Pada masa awal Islam, orang yang telah masuk Islam berusaha sedemikian rupa menyembunyikan keislamannya. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menganjurkan demikian agar mereka tidak mendapat kesulitan dari orang kafir. Setelah orang Islam berjumlah 39 orang, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu meminta izin kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendakwahkan agama secara terang-terangan. pada mulanya, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang. Tetapi, karena Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu terus mendesak, akhirnya beliau mengizinkannya.

Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pun mengajak semua orang yang sudah masuk Islam untuk pergi di Masjidil Haram. Kemudian mulailah ia berkhutbah. Itulah khutbah pertama dalam Islam. pada hari itu pula paman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu, masuk Islam. Tiga hari kemudian Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu pun masuk Islam.

Ketika Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu memulai khutbah, orang-orang kafir langsung menyerang Kaum Muslimin dari empat penjuru. Meskipun Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu terkenal sebagai tokoh terkemuka dan dihormati oleh masyarakat Makkah, ia tetap dipukuli. Wajah, hidung, dan telinganya berlumuran darah sehingga wajahnya sulit dikenali lagi. Ia ditendang dengan sepatu, diinjak dengan kaki, dan apa yang semestinya tidak dilakukan, semuanya mereka lakukan. Akhirnya, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pingsan.

Ketika Bani Taim, kabilah Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, mengetahui berita itu, mereka segera mengangkat tubuh Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu dari tempat itu. Mereka meyakini Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu sulit diselamatkan. Mereka segera masuk Masjidil Haram dan mengumumkan, “Jika dalam peristiwa ini Abu Bakar meninggal dunia, maka kami akan membunuh Utbah bin Rabi’ah sebagai gantinya!” Hal itu dikarenakan Utbah bin Rabi’ah bertindak berlebihan dalam peristiwa pemukulan tersebut.

Sampai menjelang petang, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu masih pingsan. Walaupun sudah dipanggil-panggil namanya, ia belum juga siuman. Baru pada petang harinya, ia siuman. Ucapannya yang pertama kali setelah siuman adalah, “Bagaimanakah keadaan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Orang-orang marah kepadanya, karena Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam-lah yang menyebabkan ia ditimpa musibah itu. Sepanjang hari, ia diambang kematian. Begitu sadar, yang pertama kali ditanyakannya justru Baginda Nabi Shallallahu ‘alihi wasallam. Akhirnya, orang-orang dengan kesal meninggalkannya.

Ternyata Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhumasih bisa bertahan hidup. Ia mulai dapat berbicara. Sebelum pergi, orang-orang berpesan kepada Ibu Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, Ummu Khair, agar menyediakan makan dan minum untuk Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Ibunya menyiapkan sedikit makanan dan membawanya kepada Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Ibunya memaksanya makan. Namun, satu hal saja yang diserukan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, “Bagaimana keadaan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, apa yang menimpa beliau?” Ibunya berkata, “Aku tidak tahu keadaan beliau.” Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tolong ibu temui Ummu Jamil (saudara perempuan Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu) dan tanyakan keadaan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya!”

Atas permintaan anaknya yang keadaannya sangat memperihatinkan itu, ibu Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pergi ke rumah Sayyidatina Ummu Jamil Radhiyallahu ‘anha. Karena saat itu kebanyakan Kaum Muslimin masih menyembunyikan keislamannya, maka Sayyidatina Ummu Jamil Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Siapakah Muhammad dan siapakah Abu Bakar? Tetapi setelah mendengar keadaan anakmu, aku ikut sedih. Jika engkau mengizinkan, aku akan melihat keadaan anakmu, Abu Bakar.” Ummu Khair pun mengizinkannya.

Sayyidatina Ummu Jamil Radhiyallahu ‘anha pun pergi bersamanya. Setelah melihat keadaan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, ia merasa tidak tega. Tanpa sadar, Sayyidatina Ummu Jamil Radhiyallahu ‘anha menangis sambil berkata, “Apa yang telah diperbuat oleh orang-orang jahat itu? Semoga Allah Subhaanahu wata’ala membalas perbuatannya!” Lalu Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Sayyidatina Ummu Jamil Radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana keadaan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Sayyidatina Ummu Jamil Radhiyallahu ‘anha berkata (sambil memberi isyarat dengan mata) kepada Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, “Nanti dia (ibu kamu) mendengar.” Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Tidak usah khawatir dengan ibuku!” Maka kemudian Sayyidatina Ummu Jamil Radhiyallahu ‘anha menyampaikan bahwa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan baik dan selamat. Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Di manakah beliau?” Sayyidatina Ummu Jamil Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Sekarang ada di rumah Arqam Radhiyallahu ‘anhu.” Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan makan dan minumm sebelum bertemu Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam!”

Sebenarnya ibunya ingin agar Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu makan meski sedikit, tetapi Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu telah bersumpah tidak akan makan sebelum bertemu Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ibunya menanti sampa keadaan sepi, karena jika ia terlihat menjumpai Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, orang-orang kafir tentu akan menyakitinya lagi.

ketika malam telah lewat, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pergi ke rumah Sayyidina Arqam Radhiyallahu ‘anhu. Setelah bertemu, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu segera memeluk Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau pun memeluk Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Keduanya menangis. Kaum Muslimin yang berada di tempat itu menangis terharu tidak tahan melihat keadaan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Lalu Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu meminta Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam agar mendoakan hidayah untuk ibunya, dan mengajak masuk Islam. Mula-mula Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan ibunya, kemudian mengajaknya masuk Islam. Ibu Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pun masuk Islam saat itu juga. (dari Kitab Khamis)

Faidah

Menyatakan cinta pada saat senang, lapang, bahagia, dan sejahtera, sudah biasa dibuat oleh banyak orang. Namun, cinta dan rindu yang sebenarnya adalah yang masih kekal pada saat tertimpa musibah dan penderitaan.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Keduabelas “Contoh-Contoh Kecintaan Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum Terhadap Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam” 1. Kisah Penderitaan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu ketika Menyatakan Keislamannya secara Terang-terangan (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: