20. Kisah Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu Mencari Ilmu ketika Masih Kanak-Kanak

Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu berusia setahun lebih muda daripada saudaranya, Sayyidina Hasan Radhiyallahu ‘anhu. Ketika Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, umur Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu enam tahun lebih beberapa bulan. Apa yang mampu diingat oleh seorang anak seusia enam tahun dalam urusan gama? Namun, dalam kitab-kitab hadits banyak terdapat riwayat Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu. Para ahli hadits memasukkannya dalam golongan shahabat yang meriwayatkan delapan hadits.

Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Seorang muslim baik laki-laki maupun wanita yang tertimpa suatu musibah, lalu beberapa lama kemudian musibah itu teringat kembali dan membaca, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun,’ maka ia akan memperoleh pahala yang sama dengan ketika ia ditimpa musibah tersebut.’ Ia juga meriwayatkan bahwa Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika umatku mengendarai perahu, dan ketika akan mengendarainya, ia membaca:

‘Dengan menyebut nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (Q.S. Huud: 41), maka ia akan terhindar dari tenggelam.’”

Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu telah pergi haji sebanyak 25 kali dengan berjalan kaki. Ia juga banyak mengerjakan shalat, puasa, dan sedekah serta memnetingkan seluruh amalan agama. Suatu ketika Sayyidina Rabi’ah Radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu, “Adakah sabda Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang engkau ingat?” Ia menjawab, “Suatu ketika, aku naik dan berdiri di sebuah jendela. Di sana ada tumpukan buah kurma, lalu aku mengambilnya dan meletakkan kurma itu di mulutku. Lalu Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Buanglah! Kita tidak boleh memakan sedekah!’” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan riwayat Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah jika ia meninggalkan perbuatan sia-sia.” (dari Kitab Usudul Ghabah dan Isti’ab)

Selain hadits-hadits tersebut, masih banyak hadits Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah diriwayatkan oleh Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu.

Faidah

Selain kisah-kisah di atas, masih banyak kisah para shahabat Radhiyallahu ‘anhum yang sewaktu masih kecil sudah mampu mengingat dan meriwayatkan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sayyidina Mahmud bin Rabi’ Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang shahabat. Ketika Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, ia berumur 5 tahun. Ia berkata, “Seumur hidupku, aku tidak melupakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat mendatangi rumah kami. Di rumah kami ada sebuah sumur. Beliau berkumur dengan air sumur itu, kemudian menyemprotkannya ke wajahku.” (dari Kitab Ishabah)

Dewasa ini, kita justru menyibukkan anak-anak dengan perkara sia-sia yang merusak. Dengan memperdengarkan kepada mereka kisah-kisah bohong, kita telah merusak pemikiran mereka dengan kesia-siaan. Jika kita memilih kisah orang-orang shalih dan menceritakannya kepada mereka, dan menanamkan rasa takut kepada Allah Subhaanahu wata’ala, azab-Nya, murka-Nya, serta menanamkan rasa mengagungkan Allah Subhaanahu wata’ala dalam hati mereka, hal itu akan lebih bermanfaat di dunia dan akhirat daripada kita menakut-nakuti mereka dengan jin dan hantu.

Daya ingat pada masa kanak-kanak sangat kuat. Apa yang diingat pada masa itu akan sulit dilupakan. Jika pada masa itu mereka dilatih menghapal Al-Qur’an, maka tidak akan sulit dan tidak memakan waktu lama. Saya (penulis kitab ini), pernah mendengar berulang kali dari ayah dan juga nenek-nenek saya bahwa ketika ayah saya disapih, ia sudah hapal Al-Qur’an 3/4 juz. Ketika ia berumur 7 tahun, ia sudah hapal seluruh Al-Qur’an. Ia juga belajar dari ayahnya, yaitu kakek saya, kitab bahasa Parsi, yaitu Bustan, Sekandar Namah, dan sebagainya.

Ayah saya bercerita, “Ketika saya selesai menghapal Al-Qur’an, bapak saya menyuruh saya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari, setelah itu saya baru boleh beristirahat. Setelah Shubuh, pada musim panas, saya membaca Al-Qur’an seluruhnya di atas atap dalam waktu 6 atau 7 jam, setelah itu, saya baru dibolehkan makan siang. Pada sore harinya, saya sendiri dengan senang hati mempelajari bahasa Parsi. Kegiatan tersebut berjalan terus-menerus selama 6 bulan. Disamping mengkhatamkan setiap hari satu khataman Al-Qur’an, saya juga mempelajari kitab-kitab.”

Untuk anak seusia 7 tahun, kegiatan seperti itu bukan sesuatu yang mudah (biasa). Namun, hasilnya tidak pernah lupa atau ragu-ragu dalam membaca ayat-ayat yang serupa dalam Al-Qur’an.

Secara zhahir, ia (ayahku) hanyalah pedagang kitab, dan seluruh pekerjaan took kitab dikerjakannya sendiri. Oleh karena itu, ketika tangannya bekerja, lidahnya terus melafadzkan Al-Qur’an. Kadangkala ia melakukan semua itu sambil mengajar kami yang mengambil pelajaran tambahan di luar madrasah. Itulah tiga pekerjaan yang dilakukan olehnya dalam satu waktu.

Sistem pengajaran ayahku kepada anak-anak yang ingin menambah pelajaran di luar kelas adalah sistem sorogan, tidak seperti sistem yang biasa digunakan di pondok-pondok pesantren dalam kelas. Pada umumnya, sistem pengajaran di pondok-pondok pesantren dalam kelas, yang aktif hanyalah para ustadz. sedangkan sistem sorogan, yang aktif adalah muridnya. murid membaca kitab, menerjemahkannya, lalu mengemukakan maksudnya. Jika benar, ustadz memerintahkan untuk melanjutkannya. jika murid melakukan kesalahan, dan kesalahannya perlu diingatkan, maka ustadz mengingatkannya. Jika perlu penjelasan, maka ustadz menjelaskannya.

Kisah di atas bukan kisah zaman dahulu, tetapi kisah zaman sekarang. Oleh sebab itu, kita tidak bisa mengatakan, bagaimana pada hari ini kita bisa memperoleh kekuatan dan semangat seperti para shahabat Radhiyallahu ‘anhum?

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesebelas “Semangat Anak-Anak dalam Agama” 20. Kisah Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu Mencari Ilmu ketika Masih Kanak-Kanak (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: