9. Kisah Sayyidina Salamah bin Akwa’ Radhiyallahu ‘anhu Seorang Diri Melawan Rombongan Perampok

Ghabah adalah perkampungan yang berjarak sekitar empat atau lima mil dari Madinah. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membiarkan unta-untanya digembalakan di sana. Suatu ketika, sekelompok orang kafir yang dipimpin oleh Abdurrahman Fazari merampok unta-unta tersebut dan membunuh pengembalanya. Para perampok itu berkuda dan bersenjata.

Pagi itu, kebetulan Sayyidina Salamah bin Akwa’ Radhiyallahu ‘anhu sedang berjalan-jalan sendirian menuju Ghabah, sambil membawa panahnya. Secara kebetulan, ia melihat perampokan tersebut. Sayyidina Salamah Radhiyallahu ‘anhu terkenal dengan kecepatan larinya yang tak tertandingi. Begitu cepat larinya, sehingga ia dapat mengejar seekor kuda dan kuda tidak dapat mengejarnya. Selain itu, ia juga terkenal dengan kehebatannya dalam memanah.

Sayyidina Salamah Radhiyallahu ‘anhu segera naik ke sebuah bukit, lalu menghadap ke arah Kota Madinah dan berteriak sekuat tenaga untuk memberitahu tentang perampokan tersebut. Kemudian, ia mempersiapkan panahnya dan mengejar para perampok itu. Ketika hampir mendekati para perampok, ia menhujani mereka dengan anak-anak panahnya, sehingga para perampok itu mengira bahwa yang mengejar mereka sebuah pasukan besar. Padahal Sayyidina Salamah Radhiyallahu ‘anhu seorang diri. Bahkan ia hanya berjalan kaki. Ia terus mengikuti para perampok itu sambil menghujani mereka dengan anak panah. Jika ada perampok yang menoleh ke belakang, ia segera bersembunyi di balik pepohonan. Dari balik pepohonan itu ia memanahi kuda-kuda mereka sehingga kuda-kuda itu terluka. Akhirnya mereka berpikir, “Jika kudaku jatuh, aku akan tertangkap.”

Selanjutnya Sayyidina Salamah Radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Aku terus mengejar para perampok, dan mereka terus berlari serta meninggalkan unta-unta yang telah mereka rampok. Bahkan untuk meringankan beban, mereka membuang 30 buah lembing dan 30 helai kain. Saat itu, Uyainah bin Hishn bersama kelompoknya, datang membantu para perampok itu sehingga kekuatan mereka bertambah. Akhirnya mereka pun mengetahui bahwa aku hanya sendirian. Maka mereka membentuk sebuah kelompok untuk mengejarku.

Aku segera menaiku sebuah bukit. Mereka pun mengejarku ke bukit. Ketika mereka hampir mendekatiku, aku berteriak, ‘Tunggulah sebentar, dengarlah kata-kataku. Tahukah kamu siapa aku?’ Mereka bertanya, ‘Siapa kamu?’ Jawabku, ‘Aku adalah Ibnu Akwa’, de Dzat yang telah memuliakan Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, siapapun dari kalian yang ingin menangkapku, tidak akan dapat menangkapku, tetapi jika aku ingin menangkap salah seorang dari kalian, maka ia tidk akan lolos dariku.” Karena ia terkenal jago lari, sehingga kuda Arab yang tercepat pun tidak dapat menandinginya, maka perkataannya itu bukanlah Cuma sebuah gertakan.

Sayyidina Salamah Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Demikianlah aku terus-menerus berbicara kepada mereka untuk menunggu bala bantuan. Aku berharap semoga Kaum Muslimin segera datang membawa bala bantuan, karena terikanku tadi. Tak lama kemudian kulihat dibalik pepohonan ada pasukan berkuda datang. Yang terdepan adalah Sayyidina Akhram Asadi Radhiyallahu ‘anhu. Ia datang dan langsung menyerang Abdurrahman Fazari. Abdurrahman pun membalas serangan Sayyidina Akhram Radhiyallahu ‘anhu. Sayyidina Akhram Radhiyallahu ‘anhu menyerang kuda Abdurrahman Fazari sehingga kaki kudanya patah dan Abdurrahman terjatuh. Pada saat terjatuh, Abdurrahman balik menyerang Sayyidina Akhram Radhiyallahu ‘anhu sehingga ia mati syahid. Ahirnya, kuda Sayyidina Akhram Radhiyallahu ‘anhu diambil oleh Abdurrahman. Tiba-tiba Sayyidina Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu menyerang Abdurrahman dari belakang. Abdurrahman pun menyerang kaki kuda Sayyidina Abu Qatadah Radhiyallah ‘anhu sehingga ia terjatuh dari kudanya. Ketika terjatuh, Sayyidina Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu berhasil menyerang Abdurrahman sampai tewas. Lalu, kudanya dikendarai oleh Sayyidina Abu Qatadah Radhiyallahu ‘anhu, yaitu kuda milik Sayyidina Akhram Radhiyallahu ‘anhu.” (H.R. Abu Dawud)

Faidah

Dalam riwayat yang lain ditulis bahwa sebelumnya Sayyidina Salamah Radhiyallahu ‘anhu menahan Sayyidina Akhram Radhiyallahu ‘anhu untuk menunggu terlebih dahulu bala bantuan yang lain. Namun Sayyidina Akhram Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Biarlah aku mati syahid!” Diriwayatkan bahwa yang mati syahid pada peristiwa itu hanya Sayyidina Akhram Radhiyallahu ‘anhu, sedangkan dari pihak perampok banyak yang mati.

Tidak lama kemudian, datanglah bala bantuan dari Kaum Muslimin sehingga para perampok segera melarikan diri. Sayyidina Salamah Radhiyallahu ‘anhu meminta kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam agar diberi seratus orang pasukan untuk mengejar mereka. Beliau menjawab, “Mereka mungkin sudah bergabung dengan kabilahnya.”

Kebanyakan ahli sejarah menulis bahwa usia Sayyidina Salamah Radhiyallahu ‘anhu ketika itu 12 atau 13 tahun. Seorang anak seusia 12 atau 13 tahun dapat melawan sekelompok perampok berkuda dan membuat mereka kalang kabut. Bukan saja barang rampokan mereka yang tertinggal, bahkan barang mereka sendiri pun tertinggal. Itulah berkah keikhlasan yang diberikan Allah Subhaanahu wata’ala kepada Para Shahabat.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesebelas “Semangat Anak-Anak dalam Agama” 9. Kisah Sayyidina Salamah bin Akwa’ Radhiyallahu ‘anhu Seorang Diri Melawan Rombongan Perampok (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: