6. Kisah Persaingan antara Sayyidina Rafi’ dan Sayyidina Ibnu Jundub Radhiyallahu ‘anhuma

Biasanya apabila Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim pasukan untuk berperang, beliau akan menghantar pasukan sampai ke luar Madinah sambil meneliti segala keperluan mereka, dan memperbaikinya jika ada kekurangan. Beliau juga akan memulangkan anak-anak yang berusaha mengikuti pasukan karena semangat mereka.

Demikian pula dalam Perang Uhud, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyertai pasukan dan mengembalikan beberapa anak karena mereka masih terlalu kecil. Di antaranya Sayyidina Abdullah bin Umar, Sayyidina Zaid bin Tsabit, Sayyidina Usamah bin Zaid, Sayyidina Zaid bin Arqam, Sayyidina Barra bin Azib, Sayyidina Amr bin Hazm, Sayyidina Usaid bin Zhuhair, Sayyidina Urabah bin Aus, Sayyidina Abu Sa’id Al-Khudri, Sayyidina Samurah bin Jundub, dan Sayyidina Rafi’ bin Khadij Radhiyallahu ‘anhum. Rata-rata anak-anak itu masih berusia 13 atau 14 tahun.

Ketika mereka disuruh kembali, maka ayah Sayydinia Rafi’ Rahdiyallahu ‘anhu, Sayyidina Khadij Radhiyallahu ‘anhu, membela dengan berkata kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, anakku Rafi’, sangat mahir memanah.” Sayyidina Rafi’ Radhiyallahu ‘anhu sendiri karena semangatnya untuk ikut bertempur, ia menjinjitkan kakinya agar terlihat lebih tinggi. Akhirnya, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan Sayyidina Rafi’ Radhiyallahu ‘anhu ikut serta.

Melihat hal itu, maka Sayyidina Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada ayah tirinya, Sayyidina Murrah bin Sinan Radhiyallahu ‘anhu, “Rafi’ dibolehkan ikut, sedangkan aku dilarang ikut, padahal aku lebih kuat darinya. Jika ditandingkan denganku, pasti aku dapat mengalahkannya.” Kemudian keduanya ditandingkan oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ternyata Sayyidina Rafi’ Radhiyallahu ‘anhu memang dapat dikalahkan oleh Sayyidina Samurah Radhiyallahu ‘anhu. Akhirnya, Sayyidina Samurah Radhiyallahu ‘anhu pun diizinkan ikut berperang. Anak-anak yang lain pun akhirnya meminta izin kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagian di antara mereka ada yang diizinkan oleh beliau.

Ketika malam tiba, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatur penjaga malam. Beliau memilih lima puluh orang untu menjaga seluruh pasukan. Banyak di antara mereka menyediakan diri untuk berjaga malam. Kemudian Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapakah di anatara kalian yang bersedia menjagaku?” Seorang shahabat berdiri. Ia ditanya oleh beliau, “Siapa namamu?” Jawabnya, “Namaku Dzakwan.” Sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Baik, duduklah!” Kemudian beliau bersabda lagi, “Siapakah yang bersedia menjagaku mala mini?” Berdirilah seorang shahabat dan ia ditanya Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jawabnya, “Namaku Abu Sabu’ (Bapakya Sabu’).” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Baik, duduklah!” Beliau bertanya lagi, “Siapakah yang bersedia lagi menjagaku?” Lalu, berdirilah seorang shahabat lagi, dan ditanya namanya oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jawabnya, “Namaku Ibnu Abdul Qais (anaknya Abdul Qais).” Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Baik, duduklah kamu!” Kemudian beliau bersabda, “Hendaknya ketiga orang yang berdiri tadi kemari.” Tetapi, yang maju kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya satu orang. Beliau bertanya, “Kemana dua orang temanmu tadi?” Jawab shahabat itu, “Ya Rasulullah, aku sendiri yang berdiri tiga kali itu.” Lalu beliau mendoakannya dan memerintahkannya untuk menjaga beliau. Ia menjaga kemah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semalam penuh. (dari Kitab Khamis)

Faidah

Demikianlah semangat juang agama pada diri shahabat Radhiyallahu ‘anhum, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Seperti itulah keadaan mereka pada umumnya. Mengorbankan nyawa demi agama merupakan tujuan hidup mereka, itulah rahasia kesuksesan mereka. Sbelumnya, Sayyidina Rafi’ bin Khadij Radhiyallahu ‘anhuma sudah meminta agar diikutkan dalam Perang Badar, namun ia belum diizinkan. Ia baru diizinkan ikut dalam Perang Uhud sebagaimana dikisahkan di atas.

Selanjutnya, Sayyidina Rafi’ Radhiyallahu ‘anhu selalu menyertai setiap pertempuran. Dalam Perang Uhud, dadanya terkena anak panah. Ketika ditarik keluar, ujung anak panah tertinggal di dadanya sehingga menyebabkan luka di tubuhnya. Akhirnya, luka itu kambuh pada masa tuanya, dan menyebabkan ia meninggal dunia. (dari Kitab Usudul Ghabah)

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesebelas “Semangat Anak-Anak dalam Agama” 6. Kisah Persaingan antara Sayyidina Rafi’ dan Sayyidina Ibnu Jundub Radhiyallahu ‘anhuma (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: