14. Kisah Islamnya Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha dan Keikutsertaannya dalam Perang

Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Anshariyah Radhiyallahu ‘anha termasuk wanita yang masuk Islam sejak awal. Ia ikut dalam Bai’atul Aqabah (Janji setia para shahabat Anshar kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di Mina, sebelum beliau hijrah ke Madinah.). Aqabah adalah nama sebuah lembah di Mina. Pada permulaan Islam, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah dengan sembunyi-sembunyi. Sebab, pada masa itu, orang-orang musyrik dan kafir sering menyakiti Kaum Muslimin yang baru masuk Islam. Beberapa orang yang datang dari Madinah ke Makkah pada musim haji, mereka masuk Islam secara diam-diam di lembah Mina. Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha termasuk rombongan ketiga, yang datang dari Madinah.

Setelah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah, Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha sering mengikuti peperangan bersama Kaum Muslimin, terutama pada Perang Uhud, Hudaibiyah, Khaibar, Umratul Qadha, Hunain, dan Yamamah. Dalam Perang Uhud usianya 43 tahun. Suami dan kedua anak laki-lakinya ikut dalam perang tersebut. Mengenai Perang Uhud, ia bercerita, “Aku membawa sekantong penuh air dan berjalan di Medan Uhud untuk melihat keadaan pasukan Kaum Muslimin. Jika ada orang yang terluka atau kehausan, maka aku akan memberinya minum. Pada mulanya, Kaum Muslimin mendapat kemenangan, namun karena ada satu sebab, orang-orang kafir berbalik mendapat kemenangan. Saat itu, aku sedang berada di dekat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika ada orang kafir yang mendekati beliau, maka aku segera menyerang dan membunuhnya.”

Pada mulanya, Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha tidak memiliki perisai. Namun, akhirnya ia mendapatkan perisai untuk menahan serangan orang-orang kafir. Di punggungnya, senantiasa ada sehelai selendang yang diikat berisi serpihan-serpihan kain. Jika ada yang terluka, ia segera mengeluarkan serpihan-serpihan kain tersebut, lalu membakar dan menaburkan abunya ke atas luka tersebut (untuk menghentikan pendarahan). Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha sendiri mendapatkan banyak luka di tubuhnya, kurang lebih ada 12 atau 13 luka di tubuhnya. Ada satu lukanya yang sangat parah. Sayyidatina Ummu Sa’id Radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku lihat di pudaknya ada luka yang sangat dalam. Aku bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau terluka demikian para seperti ini?’ Dia menjawab, ‘Di Perang Uhud, ketika Kaum Muslimin berlarian ke sana kemari dalam keadaan kacau balau, aku mendengar Ibnu Qami’ah berkata sambil meyerang, ‘Di manakah Muhammad? Siapa yang bersedia memberitahuku? Jika hari ini Muhammad selamat, maka tidak ada keselamatan bagiku!’ Lalu, Sayyidina Mush’ab bin Umair Radhiyallahu ‘anhu dan beberapa orang shahabat, termasuk aku, segera menyerangnya. Ia pun menebas pundakku. Aku terus melawannya, tetapi karena ia mengenakan baju besi rangkap dua, maka ia dapat menahan serangan kami. Sedangkan lukaku itu sangat dalam. Meskipun telah diobati selama setahun, belum juga sembuh.’”

Selanjutnya, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru Kaum Muslimin untuk menyertai Perang Hamra’ul Asad. Ketika masih dalam keadaan terluka, Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha menyambut seruan itu. Namun, karena pendarahan lukanya sangat parah, ia tidak dapat mengikutinya. Sekembalinya Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari Hamra’ul Asad, yang pertama kali ditanyakan oleh beliau adalah keadaan Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha. Ketika diketahui bahwa Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha dalam keadaan sehat, beliau sangat gembira.

Selain luka tadi, ia mendapat banyak luka lain dalam Perang Uhud. Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Orang-orang kafir bertempur dengan menunggang kuda, sedangkan kami berjalan kaki. Jika mereka berjalan kaki seperti kami, tentu mereka akan tahu bagaimana pertempuran yang sebenarnya. Ketika salah seorang dari mereka datang dengan kuda untuk menyerangku, aku menahannya dengan perisai. Ketika ia berbalik, aku langsung menebas kaki kudanya, sehingga kuda dan penungganya terjatuh. Ketika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hal ini, beliau berseru memberitahu anakku agar ia membantuku. Setelah anakku datang, kami berdua membunuh orang itu.”

Anaknya, Sayyidina Abdullah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Suatu ketika, pundak kiriku terluka dan mencucurkan darah tanpa henti. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Balutlah lukamu dengan perban!’ Lalu, ibuku datang. Ia mengeluarkan selembar kain dari ikatan punggungnya dan membalutkannya ke lukaku, kemudian ia berkata, ‘Pergilah dan bertempurlah terus melawan orang-orang kafir itu!’ Melihat kejadian itu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai Ummu ‘Ammarah, siapakah yang memiliki semangat seperti ini?’” Saat itu Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terus-menerus berdoa untuknya dan keluarganya, serta memuji kehebatannya.

Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Ada seorang kafir lewat di depanku, kemudian Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berseru kepadaku, ‘Dialah yang telah melukai anakmu!’ Aku langsung menyerangnya hingga mengenai betisnya. Orang kafir itu terluka dan langsung terduduk. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum dan berkata, ‘Sudah terbalas luka anakmu.’ Lalu, kami menyerangnya lagi dan membunuhnya. Ketika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang mendoakan kami, aku meminta kepadanya, ‘Ya Rasulullah, doakanlah agar Allah Subhaanahu wata’ala menjadikanku sebagai shahabat dekatmu kelak di surga!’ Beliau pun mendoakanku. Setelah beliau mendoakanku, aku berkata, ‘Sekarang aku tidak lagi mencemaskan kesulitan apa pun dalam kehidupan yang menimpaku di dunia ini.’”

Selain dalam Perang Uhud, ia juga banyak menyertai peperangan lain dengan semangat yang luar biasa. Sepeninggal Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, banyak terjadi kemurtadan, maka terjadilah Perang Yamamah yang sangat dahsyat. Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha juga menyertai perang tersebut. Dalam pertempuran itu, sebelah tangannya terpotong dan terdapat terpotong dan terdapat sebelas luka lain di tubuhnya. Dalam keadaan penuh luka seperti itu, ia tiba di Madinah. (dari Kitab Thabaqat)

Faidah

Itulah kisah kehebatan seorang wanita shahabiyah. Dalam Perag Uhud ia berusia 43 tahun dan dalam Perang Yamamah ia sudah berusia 52 tahun. Pada usia setua itu, ia masih ikut serta dalam pertempuran. Hal itu benar-benar merupakan karomah.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesepuluh “Semangat Kaum Wanita dalam Mengamalkan Agama” 14. Kisah Islamnya Sayyidatina Ummu ‘Ammarah Radhiyallahu ‘anha dan Keikutsertaannya dalam Perang (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: