13. Kisah Sayyidatina Asma’ Radhiyallahu ‘anha Bertanya tentang Pahala bagi Kaum Wanita

Sayyidatina Asma’ binti Yazid Anshari Radhiyallahu ‘anha adalah seorang shahabiyah. Suatu ketika ia mendatangi Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Ya Rasulullah, ayah dan ibuku kukorbankan untukmu (Ungkapan dalam bahasa Arab yang menunjukkan kecintaan dan kesetiaan), aku datang sebagai utusan kaum wanita. Sungguh engkau utusan Allah Subhaanahu wata’ala bagi kaum laki-laki dan juga wanita. Untuk itu, kami sebagai kaum wanita telah beriman kepada Allah Subhaanahu wata’ala dan kepadamu. Kami kaum wanita, selalu tinggal di dalam rumah, dibatasi oleh hijab-hijab, dan sibuk berkhidmat kepada suami. Kami mengandung anak-anak mereka, sedangkan kaum laki-laki dapat melakukan amalan yang memborong pahala. Mereka dapat menghadiri Shalat Jum’at, dapat berjamaah shalat lima waktu, dapat menjenguk orang sakit, menyertai jenazah, pergi haji, dan yang paling utama, mereka dapat berjihad di jalan Allah Subhaanahu wata’ala. Jika mereka sedang mengerjakan haji, umrah, atau jihad, kamilah yang menjaga harta mereka, menjahitkan baju mereka, dan memelihara anak-anak mereka. Maka, apakah kami tidak mendapatkan pahala yang sama dengan mereka?”

Begitu mendengar perkataan ini, beliau berpaling kepada para shahabatnya dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar sebuah pertanyaan agama yang lebih baik daripada pertanyaan wanita ini?” Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum berkata, “Ya Rasulullah, bahkan kami tidak menduga bahwa kaum wanita akan bertanya seperti itu.” Kemudian beliau berpaling kembali kepada Sayyidatina Asma’ Radhiyallahu ‘anha dan bersabda, “Dengarkanlah, dan perhatikanlah dengan seksama, kemudian sampaikanlah kepada para wanita muslimah yang telah mengirimmu ke sini. Apabila para istri selalu berbuat baik kepada suaminya, dan membahagiakannya, maka kalian akan mendapatkan pahala yang sama dengan yang diamalkan oleh suami kalian.” Mendengar jawaban Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu, Sayyidatina Asma’ Radhiyallahu ‘anha sangat gembira. Kemudian ia segera kembali. (dari Kitab Usudul Ghabah)

Faidah

Pelayanan yang baik dan ketaatan seorang istri terhadap suaminya, merupakan sesuatu yang sangat bernilai. Namun, kebanyakan wanita melalaikannya. Suatu saat, para shahabat Radhiyallahu ‘anhum hadir di mejelis Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bertanya, “Kami melihat orang-orang non Arab bersujud kepada raja dan para pemimpinnya. Padahal engkau lebih berhak dihormati seperti itu oleh kami.” Namun, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berbuat demikian kepadanya. Beliau bersabda, “Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah Subhaanahu wata’ala, niscaya akan kuperintahkan para istri untuk bersujud kepada suaminya.” Beliau juga bersabda, “Demi Allah yang nyawaku di dalam kekuasaan-Nya, seorang istri tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada Allah Subhaanahu wata’ala sebelum ia memenuhi kewajibannya kepada suaminya.”

Sebuah riwayat lain menyebutkan, “Suatu ketika seekor unta datang dan bersujud kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum berkata, ‘Jika hewan ini saja bersujud kepada Tuan, tentu kami lebih berhak bersujud kepadamu, ya Rasulullah.’ Lalu, beliau menjawab, ‘Seandainya aku memerintahkan seseorang bersujud kepada selain Allah Subhaanahu wata’ala, maka akan kuperintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya.’ Dalam hadits lain disebutkan bahwa beliau bersabda, ‘Jika seorang istri meninggal dunia dan suaminya ridha kepadanya, pasti ia masuk surga.’ Sebuah hadits lain menyebutkan, ‘Seorang istri yang memarahi suaminya dan berpisah tidur malam harinya, maka para malaikat melaknatnya.’ Beliau juga bersabda, ‘Ada dua jenis manusia yang shalatnya tidak akan diterima, sehingga tidak akan naik ke atas melebihi kepada mereka. Pertama, seorang hamba sahaya yang lari dari tuannya. Kedua, seorang istri yang tidak menaati suaminya.’”

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesepuluh “Semangat Kaum Wanita dalam Mengamalkan Agama” 13. Kisah Sayyidatina Asma’ Radhiyallahu ‘anha Bertanya tentang Pahala bagi Kaum Wanita (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: