10. Kisah Pembelaan Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha terhadap Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dalam Peristiwa Tuduhan Palsu

Ummul Mukminin, Sayyidatina Zainab binti Jahsy Radhiyallahu ‘anha, masih memiliki pertalian keluarga dengan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu sebagai sepupunya. Sejak awal ia telah memeluk Islam. Mula-mula ia menikah dengan Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu, seorang hamba sahaya yang telah dimerdekakan dan dianggap sebagai anak angkat oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga ia pernah disebut dengan nama Sayyidina Zaid bin Muhammad Radhiyallahu ‘anhu.

Namun, setelah beberapa lama, Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu merasa tidak dapat melanjutkan kehidupan rumah tangganya dengan Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha, sehingga ia menceraikan Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha. Saat itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin menghapuskan anggapan masyarakat jahiliyyah, bahwa anak angkat berkedudukan sama dengan anak sendiri, sehingga ia tidak boleh menikahi mantan istri anak angkatnya. Untuk itu, beliau mengirim lamaran kepada Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha. Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Aku akan meminta petunjuk terlebih dahulu kepada Rabbku.”

Kemudian ia berwudhu dan shalat. Ia tidak menjawab lamaran Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum meminta petunjuk kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Hal itu membuahkan keberkahan, sehingga Allah Subhaanahu wata’ala sendiri yang menikahkan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha melalui ayat berikut ini:

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengannya agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini mantan) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (Q.S. Al-Ahzab: 37)

Ketika ayat ini turun, Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha langsung diberitahu kabar gembira tentang pernikahannya. Ia langsung melepaskan perhiasan yang dipakainya dan memberikannya kepada pembawa berita itu, lalu bersujud dan bernadzar akan berpuasa selama dua bulan. Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha sangat bangga dengan peristiwa ini, sebab semua istri Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dinikahkan oleh keluarga mereka, sedangkan pernikahan dirinya berdasarkan wahyu dari langit dan peristiwa itu diabadikan di dalam Al-Qur’an.

Inilah yang membuat persaingan antara Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha sebagai istri yang paling dicintai oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha yang pernikahan dirinya berdasarkan wahyu dari langit. Meskipun begitu, ketika Sayyidatin Zainab Radhiyallahu ‘anha ditanya pendapatnya oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai fitnah kaum munafik terhadap Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia menjawab, “Aku hanya mengetahui kebaikan pada diri ‘Aisyah, dan ia orang yang sangat shalihah.” Padahal, saat itu, merupakan kesempatan untuk menjatuhkan martabat Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha di mata suaminya, karena ia saingan terberat di antara istri-istri Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain. Namun, Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha justru menjaga nama baik Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahkan memujinya.

Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang sangat shalihah. Ia selalu sibuk berpuasa, shalat sunnah, dan memiliki usaha yang dikerjakannya dengan tangannya sendiri. Hasil usahanya itu ia sedekahkan kepada fakir miskin. Ketika Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasllam akan wafat, para istri Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada beliau, “Siapakah yang paling dahulu menyusul engkau?” Beliau menjawab, “Yang paling panjang tangannya.” Maka para istri Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam segera mengukur tangan mereka dengan kayu. Namun, akhirnya mereka memahami bahwa yang dimaksud ‘paling panjang tangannya’ ialah yang paling banyak bersedekah. Ternyata istri Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih dahulu wafat adalah Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha.

Pada masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia telah menentukan tunjangan untuk istri-istri Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia mengirim 12.000 dirham untuk Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha. Tetapi, Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha mengira bahwa uang itu untuk semua istri Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga ia berkata kepada utusan yang membawa uang itu, “Untuk membagikannya, sebaiknya diserahkan saja kepada istri-istri Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain.” Utusan itu berkata, “Uang ini bagianmu dan ini bagian untuk setahun.” “Subhaanallah!” Ia berseur kaget sambil menutup kain ke wajahnya. Lalu, sedikit pun ia tidak melihat uang tersebut. Ia menyuruh utusan itu, “Simpan saja uang itu di pojok kamar, dan tutuplah uang itu dengan kain ini!” Kemudian ia berkata kepada Sayyidina Barzah Radhiyallahu ‘anhu (yang menceritakan kisah ini), “Ambillah satu genggam penuh dari uang itu, dan berikanlah kepada fulan! Kemudian ambillah lagi satu genggam penuh dari uang itu, dan berikanlah kepada fulan!” Ia menyebutkan beberapa nama sanak saudara, fakir miskin dan para janda. Masing-masing mendapat satu genggam penuh. Ketika uang tinggal sedikit, Sayyidina Barzah Radhiyallahu ‘anhu baru mengungkapkan keinginannya. Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Ambillah uang yang tersisa di bawah kain itu untukmu!” Sayyidina Barzah Radhiyallahu ‘anhu pun mengambil sisanya. Setelah dihitung, ternyata tersisa 84 dirham. Selanjutnya Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, semoga tahun depan harta seperti ini tidak aku dapatkan lagi, yang kedatangannya menjadi fitnah bagiku.” Sebelum ia menerima tunjangan tahun berikutnya, ia telah wafat.

Ketika Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu mendengar bahwa uang yang dikirim olehnya telah habis disedekahkan oleh Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha, maka Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu mengirim lagi seribu dirham kepada Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha agar digunakan untuk keperluannya. Begitu uang itu diterima, saat itu juga disedekahkannya semua. Meskipun zaman itu adalah zaman kemakmuran Kaum Muslimin, Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha wafat tanpa meninggalkan uang dan harta. Ia hanya meninggalkan rumah. Oleh karena ia banyak bersedekah, maka ia digelari Ma’wal Masakin, yaitu tempat perlindugan orang-orang miskin. (dari Kitab Thabaqat)

Seorang wanita berkata, “Aku bersama Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha sedang mewarnai selembar kain dengan lumpur merah. (Dalam Kitab Badzul Majhud Syarah Abu Dawud dijelaskan dengan ungkapan ‘lumpur merah’). Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk, dan ketika melihat kami sedang mewarnai dengan lumpur merah pada kain itu, beliau keluar lagi. Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha berpikir, mungkin Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyukai kain yang diberi warna tersebut, maka ia segera membasuh kembali kain itu. Saat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjunginya lain waktu, dan belia tidak melihat kain itu, barulah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam kamarnya.” (H.R. Abu Dawud)

Faidah

Pada umumnya, wanita sangat menyukai harta. Kesukaan mereka terhadap warna-warna pun tidak perlu dijelaskan lagi. Akan tetapi, Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha tidak menyukai harta meskipun ia seorang wanita yang masih belia. Ia pun rela menghilangkan warna-warna kesukaannya semata-mata karena ada sedikit isyarat dari Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesepuluh “Semangat Kaum Wanita dalam Mengamalkan Agama” 10. Kisah Pembelaan Sayyidatina Zainab Radhiyallahu ‘anha terhadap Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dalam Peristiwa Tuduhan Palsu (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: