9. Kisah Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha Tidak Mengizinkan Ayahnya Duduk di Atas Tikarnya

Sebelum Ummul Mukminin Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha menikah dengan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia telah menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy. Keduanya masuk Islam dan hijrah ke Habasyah bersama-sama. Setibanya di sana, suaminya menjadi murtad dan meninggal dalam keadaan demikian. Kemudian Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha menghabiskan masa jandanya di Habasyah, sampai Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim utusan untuk melamarnya di sana.Atas sepengetahuan Raja Habasyah, menikahlah Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha dengan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kisahnya akan diceritakan di akhir bab ini. Setelah menikah, Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anhapindah ke Madinah Munawwarah.

Ketika masa berlakunya Perjanjian Damai Hudaibiyiah, ayah Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha yang bernama Abu Sufyan datang ke Madinah untuk menguatkan perjanjian dengan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia juga mengunjungi tempak anak perempuannya. Di rumah itu terhampar sehelai tikar.Ketika Abu Sufyan hendak duduk di atasnya, Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha segera melipat tikar itu. Ayahnya heran, bukannya menghamparkan tikar, tapi malah ia menggulungnya. Maka ia bertanya, “Apakah tikar ini tidak layak aku duduki sehingga kamu menggulungnya? Atau aku tidak pantas duduk di atasnya?” Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Ini tikar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan engkau najis, karena masih musyrik. Bagaimana aku mempersilahkan engkau duduk di atasnya?”Ayahnya merasa kecewa dengan sikap anaknya itu.Ia berkata, “Setelah berpisah, perilakumu menjadi buruk.”

Sebenarnya sikap tersebut sebagai rasa hormat Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha kepad Baginda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam. Bagaimana ia dapat menahan perasaannya, jika seorang musyrik duduk di atas tidak Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Meskipun orang itu ayahnya sendiri, apalagi orang lain.

Suatu ketika, ia mendengar sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai fadhilah Shalat Dhuhah 12 rakaat. Setelah mendengar hadits tersebut, Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha selalu menjaga Shalat Dhuha.

Selanjutnya dikisahkan, bahwa ayahnya akhirnya masuk Islam. Ketika ayahnya meninggal dunia, tiga hari kemudian ia meinta minyak wangi dan memakainya. Ia berkata, “Sebetulnya aku tidak memerlukan minyak wangi ini. Namun, semua ini aku lakukan karena aku mendengar sabda Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wanita tidak boleh berkabung (dengan meninggalkan seluruh perhiasan dan wewangian) lebih dari tiga hari, kecuali untuk kematian suaminya. Jika suaminya meninggal dunia, ia berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Itulah sebabnya aku memakai minyak wangi agar tidak dianggap berkabung dengan kematian ayahku.”

Ketika ia sendiri akan meninggal dunia, ia memanggil Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dan berkata, “Aku dan engkau sama-sama sebagai masu. Tentu ada kesalahan di antara kita.Semoga Allah Subhaanahu wata’ala mengampuni aku dan engkau.” Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Semoga Allah Subhaanahu wata’ala mengampunimu.” Mendengar ucapan Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Engkau telah banyak membuatku senang saat ini, semoga Allah Subhaanahu wata’ala menggembirakanmu.” Lalu, untuk tujuan yang sama, ia mengirim utusan kepada Sayyidatina Ummu Salamah Radhiyllahu ‘anha. (dari Kitab Thabaqat)

Faidah

Hubungan di antara istri-istri yang dimadu biasanya enggan untuk saling bertemu.Namun, Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha menghendaki agar hal-hal yang terjadi dalam hubungan sebagai sesama istri diselesaikan di dunia ini, sehingga tidak ada lagi beba di akhirat.Sedangkan mengenai kecintaan dan penghormatan Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah dibuktikan dengan kisah di atas.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesepuluh “Semangat Kaum Wanita dalam Mengamalkan Agama” 9. Kisah Sayyidatina Ummu Habibah Radhiyallahu ‘anha Tidak Mengizinkan Ayahnya Duduk di Atas Tikarnya (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: