5. Kisah Doa Sayyidina Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu dan Hijrahnya Sayyidatina Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha

Sebelum diperistri oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidatina Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha pernah menikah dengan Sayyidina Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu. Keduanya saling mencintai. Hal itu dapat kita simak dari kisah berikut ini.

Suatu ketika, Sayyidina Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha berkata kepada Sayyidina Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu, “Aku pernah mendengar bahwa jika seorang suami tidak menikah dengan wanita lain selepas kematian istrinya atau seorang istri tidak menikah dengan laki-laki lain selepas kematian suaminya, dan keduanya pada Hari Kiamat adalah ahli surga, maka keduanya akan hidup bersama sebagai suami istri lagi (Jika seorang wanita menikah dengan laki-laki lain sepeninggal suami yang pertama, maka terdapat dua riwayat mengenai hal ini. Yang pertama, ia akan menjadi istri suami yang kedua di surga. Riwayat yang kedua, ia disuruh memilih, dengan suami yang mana yang ia kehendaki. Riwayat yang kedua ini lebih masyhur.Ada kemungkinan dua riwayat hadits ini bias dikumpulkan. Riwayat yang pertama ialah untuk istri yang menikah dengan dua orang suami yang derajatnya sama, maka di surga ia akan menjadi istri bagi suami yang kedua. Adapun riwayat yang kedua, berlaku untuk seorang istri yang menikah dengan dua orang suami yang tidak sama derajatnya, maka di surga boleh memilih suami mana yang dia kehendaki. Ada juga riwayat yang berbeda-beda mengenai berapa banyak seorang lelaki memiliki istri di surga.).Oleh sebab itu, marilah kita berjanji tidak akan menikah lagi jika salah seorang di antara kita meninggal lebih dulu.”

Sayyidina Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apakah engkau akan menuruti ucapanku?” Istrinya menjawab, “Itulah sebabnya aku bermusyawarah denganmu agar dapat menurutimu.”Sayyidina Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Jika aku meninggal nanti, menikahlah engkau.” Lalu, Sayyidina Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, sepeninggalku nanti, berilah Ummu Salamah suami yang lebih baik dariku, yang tidak akan menyedihkan hatinya dan tidak menyusahkannya.”

Pada permulaan Islam, suami istri ini ikut hijrah ke Habasyah.Setelah kembali, mereka ikut berhijrah ke Madinah.Kisah ini telah diceritakan dengan panjang lebar oleh Sayyidatina Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha sendiri, “Ketika Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu akan hijrah, ia memenuhi untanya dengan muatan.Aku disuruh menaiki unta itu beserta anakku, Salamah. Sedangkan Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu memegang tali unta dan menuntunnya. Namun, orang-orang Bani Mughirah melihat kami.Mereka berkata kepada Abu Salmah Radhiyallahu ‘anhu, ‘Kamu bebas dengan dirimu sendiri, tetapi tidak demikian halnya dengan anak perempuan kami.Kami tidak mengizinkan anak perempuan kami pergi denganmu berkeliaran dari kota ke kota!’ Lalu, mereka merebut dengan paksa tali unta yang sedang aku tunggangi dari tangan Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu, lalu aku pun dipaksa kembali bersama mereka.Saudara-saudara iparku adalah dari golongan Bani Abdul Asad yang juga keluarga Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu.

Setelah mendengar berita itu, mereka sangat marah terhadap Bani Mughirah sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka.Orang-orang Bani Abdul Asad berkata, ‘Kalian boleh mengambil anak perempuanmu.Akan tetapi, kami tidak rela jika cucu kami tinggal bersama kalian, selama kalian tidak membiarkan anak perempuan kalian bersama suaminya!’ Kemudian, anakku diambil oleh keluarganya.Dengan begitu, antara aku, suamiku, dan anakku tinggal di tempat terpisah.Suamiku telah hijrah ke Madinah, aku tinggal bersama keluargaku, sedangkan Salamah bersama keluarga ayahnya. Setiap pagi, aku pergi ke padang pasir, dan menangis hingga sore. Demikianlah keadaanku setiap hari selama setahun.Aku tidak dapat bertemu dengan suami dan anakku.Suatu hari, salah seorang sepupuku merasa kasihan melihat keadaanku.Ia berkata kepada kaumnya, ‘Kalian tidak kasihan terhadap penderitaannya? Kalian memisahkan dirinya dari anak dan suaminya.Mengapa kalian tidak membebaskannya?’Singkat cerita, setelah mendengar ucapan sepupuku itu, mereka pun melepaskan aku dan berkata, ‘Pergilah dan jumpailah suamimu!’Ketika melihat hal itu, akhirnya Bani Abdul Asad pun memberikan Salamah kepadaku.

Kemudian aku mempersiapkan seekor unta untuk menjumpai suamiku.Aku menunggang unta sambil menggendong anakku ke Madinah. Setelah berjalan kira-kira tiga atau empat mil, di Tan’im aku bertemu dengan Utsman bin Thalhah Radhiyallahu ‘anhu. Ia bertanya kepadaku, ‘Hendak kemana engkau berjalan seorang diri?’ Aku menjawab, ‘Aku akan menemui suamiku di Madinah.’ Ia bertanya lagi, ‘Tidak adakah orang yang menyertaimu?’ Aku menjawab, ‘Selain Allah Subhaanahu wata’ala tidak ada siapa pun.’Ia segera memegang tali untaku dan menuntunnya. Demi Allah, belum pernah aku temui orang yang sebaik dia. Jika aku ingin turun dari unta, unta itu akan didudukkan, lalu aku turun, sedangkan ia sendiri berlindung di balik sebuah pohon. Jika aku ingin melanjutkan perjalanan, ia meletakkan barang-barang ke atas unta, dan mendudukkannya di dekatku. Kemudian aku naik, dia datang memegang tali unta, dan menuntunnya.Demikianlah seterusnya hingga kami sampai di Madinah.

Ketika tiba di Quba, ia berkata, ‘Suamimu ada di sini.’Memang saat itu, Sayyidina Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu ada di Quba. Setelah mengantarku, Utsman bin Thalhah Radhiyallahu ‘anhu kembali ke Makkah. Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah melihat orang yang lebih mulia daripada Utsman bin Thalhah Radhiyallahu ‘anhu. Setahun penuh aku telah menanggung berbagai kesusahan, dan kesedihan yang mungkin tidak dialami oleh siapapun.” (dari Kitab Usudul Ghabah)

Faidah

Ini adalah ketawakalan kepada Allah Subhaanahu wata’ala. Sayyidatina Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha berjalan sendirian untuk berhijrah. Kemudian dengan karunia-Nya, Allah Subhaanahu wata’ala menurunkan pertolongan kepadanya. Barangsiapa bertawakal kepada Allah Subhaanahu wata’ala, maka Allah Subhaanahu wata’alaakan menolongnya. Hati para hamba itu dalam genggaman Allah Subhaanahu wata’ala.

Boleh saja seorang wanita hijrah walaupun tanpa mahram, dengan syarat hijrahnya itu wajib. Oleh sebab itu, hijrahnya Sayyidatina Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha seorang diri di bolehkan oleh syari’at.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesepuluh “Semangat Kaum Wanita dalam Mengamalkan Agama” 5. Kisah Doa Sayyidina Abu Salamah Radhiyallahu ‘anhu dan Hijrahnya Sayyidatina Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: