11. Kisah Sayyidina Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu bertugas Menjadi Mata-Mata

Sayyidina Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dalam Perang Khandak, kami menghadapi dua musuh. Pertama, musuh dari luar, yaitu orang-orang kafir Makkah yang dibantu oleh orang-orang kafir dari luar Makkah. Kedua, musuh dari dalam Madinah, yaitu Kaum Yahudi Bani Quraidzah yang setiap saat siap menyerang keluarga kami jika Madinah kosong. Ketika itu, kami sedang menghadapi pertempuran di luar Madinah. Orang-orang munafik meminta izin kepda Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengikuti peperangan dengan alasan untuk menjaga rumah mereka yang kosong dari serangan musuh. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengizinkan mereka.

Pada waktu itu, malam begitu gelap dan datang angin dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya dan juga belum pernah terjadi sesudahnya. Jangankan untuk melihat orang yang berada di sebelah kami, melihat tangan kami sendiri pun tidak bisa. Halilintar sangat kuat menyambar diiringi gemuruh keras. Orang-orang munafik segera kembali ke rumah mereka. Sedangkan kami tinggal tiga ratus orang yang tetap berada di tempat itu. Terhadap kejadian itu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi kami dan menanyakan keadaan kami satu persatu. Kemudian beliau lewat di depanku. Saat itu, aku tidak memiliki senjata untuk melawan musuh, juga tidak memiliki kain untuk berlindung dari udara dingin. Hanya ada satu kain kecil yang dapat menutupi anggota badan hingga ke lutut. Itu pun milik istriku. Aku duduk menelungkup ke tanah, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, ‘Siapa kamu?’ Aku menjawab, ‘Hudzaifah.’ Karena dingin dan malu, aku tidak dapat berdiri, aku tetap duduk telungkup. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hudzaifah, berdirilah! Pergilah ke tempat musuh, lalu bawalah berita yang sedang terjadi di sana!’ Ketika itu, aku sedang ketakutan dan kedinginan yang luar biasa. Namun, demi menunaikan perintah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, aku langsung berdiri, dan saat aku pergi beliau berdoa:

‘Ya Allah, jagalah ia dari arah depan, belakang, samping kanan, samping kiri, dari atas,, dan dari bawah!’”

Sayyidina Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan ceritanya, “Setelah beliau mengucapkan doa itu, rasa takut dan dinginku langsung hilang. Setiap melangkah, aku merasa seolah-olah berjalan dalam kehangatan. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga berpesan agar aku jangan melakukan apa pun, kecuali melihat dengan sembunyi-sembunyi dan memperhatikan apa yang sedang terjadi, dan segera kembali lagi. Setibanya di sana, aku melihat api unggun sedang menyala. Orang-orang mengelilingi api unggun sambil memanaskan tangan mereka di dekat api, lalu menggosokkannya ke pinggang mereka. Tiba-tiba dari setiap penjuru terdengar seruan, ‘Kembali! Kembali!’ Setiap pemimpin kabilah menyeru kaumnya agar segera kembali, karena tiba-tiba datang angin rebut dan hujan batu yang datang dari segala arah, menghujani kemah-kemah mereka. Tali-tali kemah mereka pun terputus, kuda-kuda dan hewan-hewan lainnya banyak yang mati.

Abu Sufyan, yang saat itu menjadi panglima pasukan Kaum Kafir, sedang memanaskan kadua tangannya di atas api. Hatiku berkata, ‘Inilah kesempatan yang terbaik bagiku untuk membinasakannya!’ Aku segera mengambil anak panah, lalu aku meletakkannya di busurnya. Namun, aku teringat pesan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak melakukan tindakan apa pun kecuali melihat keadaan saja, lalu segera kembali. Aku pun memasukkan kembali anak panah itu ke tempatnya. Abu Sufyan mulai curiga, lalu berteriak, ‘Ada mata-mata di tengah-tengah kita! Setiap orang hendaklah memegang tangan orang yang berada di sebelahnya!’ Aku segera memegang tangan orang di sebelahku, lantas aku berkata, ‘Kamu siapa?’ Jawabnya, ‘Masa kamu tidak tahu siapa aku, aku ini fulan.’ Kemudian, aku segera meninggalkan tempat itu.

Ketika menempuh setengah perjalanan, aku bertemu dengan sekitar dua puluh penunggang kuda (para malaikat) yang semuanya memakai sorban. Mereka berkata kepadaku, ‘Beritahukan kepada Tuanmu (Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa Allah Subhaanahu wata’ala telah membereskan musuh-musuh itu. Tidak usah khawatir lagi!’ Ketika aku kembali, aku melihat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat dengan memakai selimut kecil di tubuhnya. Inilah kebiasaan beliau yang mulia. Dalam keadaan genting, beliau selalu bertawajjuh dengan mendirikan shalat. Selesai beliau shalat, aku menceritakan kepada beliau kejadian selama menjadi mata-mata tadi. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum dan tampaklah giginya yang cemerlang, lalu aku disuruh berbaring di dekat kakinya yang mulia, dan aku diselimuti dengan sebagian selimutnya. Aku tempelkan dadaku ke telapak kaki beliau.” (dari Kitab Durrul Masntsur)

Faidah

Inilah kisah tentang kesuksesan Para Shahabat. Meskipun keadaan sulit dan susah, mereka tetap menaati perintah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih berharga daripada jiwa, raga, dan harta mereka. Semoga kita sebagai hamba yang lemah ini, diberi taufik oleh Allah Subhaanahu wata’ala untuk dapat mengikuti kehidupan mereka.

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesembilan “Ketaatan Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum kepada kepada Perintah dan Kehendak Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam” 11. Kisah Sayyidina Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu Bertugas Menjadi Mata-Mata (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: