12. Jasa-jasa Para Ulama dalam Menjaga Ilmu

Syaikh Harits bin Yazid, Syaikh Ibnu Syubrumah, Syaikh Qa’qa, dan Syaikh Mughirah Rahmatullah ‘alaihim adalah empat ulama yang senantiasa bermudzakarah tentang ilmu setelah Shalat Isya’, dan tidak seorang pun yang meninggalkan majelis sampai adzan Shubuh. Syaikh Laits bin Sa’ad Rahmatullah ‘alaih berkata, “Setelah Shalat Isya’, Imam Zuhri Rahmatullah ‘alaih dalam keadaan mempunyai wudhu, duduk membahas hadits hingga waktu Shubuh.” (H.R. Darami)

Syaikh Darawardi Rahmatullah ‘alaih mengatakan bahwa ia pernah melihat Imam Abu Hanifah Rahmatullah ‘alaih dan Imam Malik Rahmatullah ‘alaih, setelah Shalat Isya’ di Masjid Nabawi, membahas satu masalah ilmu. Mereka terus bermudzakarah tanpa mencela, mengkritik, dan tanpa saling menyalahkan hingga Shubuh tiba. Di tempat itu pula mereka Shalat Shubuh. (dari Kitab Muqaddimah)

Syaikh Ibnu Furat Baghdadi Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhadditd. Ketika wafat, ia meninggalkan 18 peti penuh berisi kitab yang kebanyakan ditulisnya sendiri. Bagi para muhadditsin, tulisan tangan Syaikh Ibnu Furat Baghdadi Rahmatullah ‘alaih tersebut, dapat menjadi bukti dalam kebenaran periwayatan dan kekuatan hapalannya.

Seorang muhaddits terkenal, Syaikh Ibnul Jauzi Rahmatullah ‘alaih, pada umur tiga tahun telah berpisah dengan ayahnya, sehingga ia tumbuh sebagai anak yatim. Sedemikian keras usahanya, ia tidak pernah pergi jauh dari rumahnya kecuali untuk Shalat Jum’at. Ia pernah berkata di atas mimbar, “Aku telah menulis 2.000 jilid kitab dengan jari-jariku ini.” Lebih dari 250 kitab adalah karangannya sendiri. Setiap hari, ia membiasakan diri menulis empat jilid, sehingga tidak ada sedikit pun waktu yang tersia-sia. Majelisnya begitu ramai, terkadang lebih dari 100.000 murid yang menghadirinya. Para pejabat, para menteri, dan sultan-sultan pun hadir dalam mejelisnya. Syaikh Ibnul Jauzi Rahmatullah ‘alaih berkata, “100.000 orang telah berbai’at kepadaku dan 20.000 orang masuk Islam di tanganku.” Pada masa itu, tekanan dari kelompok Syi’ah sangat keras, sehingga ia harus menanggung penderitaan. (dari Kitab Tadzkirah)

Selama menulis hadits-hadits, ia mengumpulkan serpihan-serpihan pena. Menjelang wafatnya ia berwasiat, “Panaskanlah air dengan membakar serpihan-serpihan penaku untuk memandikanku.” Diceritakan bahwa setelah digunakan memanaskan air untuk memandikan jenazahnya, serpihan-serpihan penanya itu masih banyak tersisa.

Syaikh Yahya bin Ma’in Rahmatullah ‘alaih adalah seorang guru hadits yang terkenal. Ia berkata, “Saya telah menulis satu juta hadits dengan tangan sendiri.” Syaikh Ibnu Jarir Thabari Rahmatullah ‘alaih adalah seorang ahli tarikh yang ternama. Ia adalah pakar biografi para shahabat Radhiyallahu ‘anhum dan tabi’in. Ia biasa menulis empat puluh lembar setiap hari, selama empat puluh tahun. Selepas ia wafat, para muridnya mengadakan perhitungan. Hasilnya, sejak baligh hingga wafatnya, ia menulis rata-rata empat belas lembar perhari. Kitab tarikhnya begitu terkenal dan mudah didapatkan. Saat hendak menulis kitab tarikh itu, ia berkata kepada orang-orang, “Kalian akan gembira dengan sejarah yang akan aku tulis.” Orang-orang bertanya, “Kira-kira berapa lembar yang akan engkau tulis?” Syaikh Ibnu Jarir Rahmatullah ‘alaih menjawab, “Kira-kira 30.000 lembar.” Kemudian orang-orang berkata, “Umur akan habis sebelum selesai membacanya.” Syaikh Ibnu Jarir Rahmatullah ‘alaih langsung berucap, “Inna lillah! Semangat keilmuan telah menurun.” Akhirnya, ia meringkas tulisannya menjadi kurang lebih 3.000 lembar. Begitu juga kisah kitab tafsirnya sangat terkenal dan kitab tafsir tersebut mudah didapatkan.

Imam Daruquthni Rahmatullah ‘alaih adalah seorang pengarang kitab hadits yang terkenal. Untuk mendapatkan hadits-hadits Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia telah mengadakan perjalanan ke Baghdad, Bashrah, Kufah, Wasith, Mesir, dan Syam. Ketika ia duduk di depan gurunya yang sedang membaca, Imam Daruquthni Rahmatullah ‘alaih sibuk menulis kitab lain. Seorang temannya menegur, “Mengapa perhatianmu tertuju kepada kitab lain?” Ia menjawab, “Daya tangkapku dan daya tangkapmu berbeda. Sekarang katakana, berapa hadits yang telah dibacakan guru tadi?” sejenak temannya berpikir, lalu Imam Daruquthni Rahmatullah ‘alaih berkata, “Guru telah membacakan 18 hadits, yang pertama berbunyi demikian, yang kedua demikian.” Ia menyebutkan semua hadits tersebut dengan urut lengkap dengan sanadnya.

Hafizh Atsram Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhaddits. Ia mempunyai kekuatan hapalan yang luar biasa. Ketika pergi haji, ia mendatangi dua orang syaikhul hadits yang tekenal dari Khurasan. Kedua syaikh tersebut membuat dua majelis yang terpisah di Masjidil Haram. Setiap majelis diikuti banyak peserta yang belajar hadits. Hafizh Atsram Rahmatullah ‘alaih duduk di antara dua majelis tersebut, dan hadits-hadits dari kedua syaikh itu ditulis olehnya dalam waktu bersamaan.

Syaikh Abdullah bin Mubarak Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhaddits terkenal (usahanya dalam mempelajari hadits sangat masyhur). Ia berkata, “Aku telah mempelajari hadits dari 4.000 guru.” Syaikh Ali bin Hasan Rahmatullah ‘alaih bercerita, “Pada suatu malam yang sangat dingin, setelah Shalat Isya’, aku dan Abdullah bin Mubarak Rahmatullah ‘alaih keluar dari masjid. Kami mulai membahas hadits di dekat pintu masjid sambil berdiri. Aku memberikan pendapat mengenai sebuah hadits, dan ia menjelaskannya. Begitulah seterusnya, hingga tidak terasa adzan Shubuh pun tiba.”

Syaikh Humaidi Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhaddits yang telah mengumpulkan hadits-hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim Rahmatullah ‘alaihima dalam satu kitab. Ia sibuk menulis semalam suntuk. Pada musim panas, jika panas mulai menyengatnya, ia memenuhi bejana dengan air, lalu duduk di dalamnya dan terus menulis. Ia biasa menyendiri. Ia juga seorang penyair. Diantara syairnya adalah :

Perjumpaan dengan manusia tidak berfaidah apa-apa

Selain kesia-siaan dan omong kosong belaka

Maka sedikitkanlah berjumpa dengan manusia

Kecuali bertemu dengan guru untuk mengambil ilmunya

Atau bertemu mursyid untuk memperbaiki jiwa

Imam Thabarani Rahmatullah ‘alaih adlah seorang muhaddits terkenal yang juga telah menulis banyak kitab. Melihat karangannya yang begitu banyak, seseorang bertanya, “Bagaimana Tuan dapat menulisnya?” Ia menjawab, “Selama 30 tahun, aku duduk di atas karung goni.” Maksudnya, siang dan malam Imam Thabarani Rahmatullah ‘alaih duduk di atas karung goni untuk menulis. Syaikh Abul Abbas Syirazi Rahmatullah ‘alaih berkata, “Aku telah menulis dari Thabarani sebanyak 300.000 hadits.”

Imam Abu Hanifah Rahmatullah ‘alaih sangat teliti dalam memeriksa kebenaran hadits mengenai nasikh dan mansukh. Ia telah mengumpulkan semua hadits dari para muhaddits di Kufah, yang pada waktu itu dijuluki gudang ilmu. Jika ada seorang muhaddits dari luar Kufah datang, maka ia akan mengutus para muridnya untuk memastikan apakah masih ada haditsnya yang belum ia ketahui. Imam Abu Hanifah Rahmatullah ‘alaih biasa mengadakan sebuah majelis ilmu dengan mengumpulkan para ahli hadits, ahli fiqih, ahli lughah, dan sebagainya. Jika ada masalah, mereka akan membahasnya hingga dapat diselesaikan, yang kadangkala menghabiskan waktu selama sebulan. Jika masalah itu dapat dipecahkan, maka keputusannya akan dijadikan madzhabnya, kemudian ditulis.

Siapakah yang tidak mengenal Imam Tirmidzi Rahmatullah ‘alaih? Keistimewaannya adalah banyaknya hadits yang diriwayatkan dan yang dihapalkannya. Kekuatan hapalannya dijadikan sebagai ungkapan atau kiasan (Seperti ungkapan, “Orang itu kuat hapalannya seperti Imam Tirmidzi!”). Sebagian muhadditsin mengujinya dengan memperdengarkan kepadanya 40 hadits yang tidak masyhur. Setelah mereka membacakan 40 hadits tersebut, ia langsung mengulangi semuanya dengan lancar.

Imam Tirmidzi Rahmatullah ‘alaih berkata, “Dalam perjalanan ke Makkah Mukarramah aku telah manukil dua jilid kitab hadits karangan seorang syaikh. Secara tidak sengaja aku bertemu dengan syaikh pengarang kitab itu, dan aku memohon kepadanya agar mau memperdengarkan dua jilid kitab hadits itu, untuk mencocokkan nukilanku. Syaikh tadi mengabulkan permohonanku. Aku mengira dua jilid nukilan kitab haditsku itu aku bawa. Namun, setelah aku menghadap syaikh, ternyata hanya dua jillid kertas-kertas kosong yang aku bawa. Syaikh tersebut mulai membacakannya. Tanpa sengaja terpadang olehnya bahwa yang di tanganku hanya kertas-kertas kosong. Ia begitu marah dan berkata, ‘Kamu tidak tahu malu!’ Aku pun menceritakan apa yang terjadi dan berkata, ‘Apa yang Tuan bacakan, langsung aku hapal.’ Nmun, ia tidak percaya dan berkata, ‘Baiklah, sekarang coba bacakan!’ Aku pun membacakann semua hadits. Syaikh tadi berkata, ‘Mungkin kamu telah hapal hadits-hadits itu sebelumnya.’ Aku menjawab, ‘Silakan bacakan hadits-hadits baru yang lain.’ Syaikh itu membacakan 40 hadits lagi kepadaku. Aku langsung mengulang 40 hadits tadi tanpa kesalahan.”

Begitu hebat usaha para muhadditsin dalam menghapal dan menyebarkan hadits, sehingga jangankan mengikuti usaha mereka, menghitung jumlah mereka pun sangan sulit.

Syaikh Qurthamah Rahmatullah ‘alaih termasuk seorang muhaddits yang tidak begitu dikenal. Seorang muridnya yang bernama Syaikh Dawud Rahmatullah ‘alaih berkata, “Banyak orang memuji kekuatan hapalan Syaikh Abu Hatim Rahmatullah ‘alaih dan muhadditsin yang lain. Padahal saya tidak melihat seorang yang hapalannya lebih kuat daripada Syaikh Qurthamah Rahmatullah ‘alaih. Suatu ketika saya pergi menjumpainya. Lalu ia berkata, ‘Ambillah salah satu dari kitab-kitab ini. Aku akan memperdengarkan semua isinya kepadamu!’ Kemudian aku mengambil Kitab Al-Asyribah, selanjutnya ia membacakan seluruh isi kitab itu melalui hapalannya dengan cara terbalik dari bab terakhir hingga bab awal.”

Syaikh Abu Zur’ah Rahmatullah ‘alaih mengatakan bahwa Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaih hapal sejuta hadits. Syaikh Ishaq bin Rahawaih Rahmatullah ‘alaih berkata, “Aku telah mengumpulkan 100.000 hadits dan 30.000 hadits di antaranya telah aku hapal.” Syaikh Khaffaf Rahmatullah ‘alaih berkata, “Syaik Ishaq Rahmatullah ‘alaih telah mendiktekan kepada kami 11.000 hadits melalui hapalannya, kemudian ia mengulangi memperdengarkan seluruh hadits melalui hapalannya, kemudian ia mengulangi memperdengarkan seluruh hadits tersebut secara berurutan tanpa ada kesalahan sedikit pun.”

Dalam umur 16 tahun, Syaikh Abu Sa’ad Al-Ahsbahani Al-Baghdadi Rahmatullah ‘alaih pergi ke Baghdad untuk mendengar hadits-hadits dari Syaikh Abu Nashr Rahmatullah ‘alaih. Dalam perjalanannya, ia mendapat kabar bahwa Syaikh Abu Nashr Rahmatullah ‘alaih wafat. Ia pun langsung menangis menjerit-jerit, “Dari manakah akan kudapatkan sanadnya?” Menangis seperti ini, tidak akan terjadi kecuali ada hubungan cinta yang mendalam, sehingga setiap kali ia duduk untuk makan, air matanya bercucuran. Padahal Syaikh Abu Sa’ad Ashbahani Rahmatullah ‘alaih sendiri telah hapal semua hadits Shahih Muslim dan mendiktekan hadits-hadits Shahih Muslim tersebut melalui hapalannya kepada murid-muridnya. Disamping itu, ia telah pergi haji sebelas kali.

Syaikh Abu Umar Dharir Rahmatullah ‘alaih sudah buta sejak lahir, namun ia tergolong hafizh hadits. Ia memiliki keahlian yang tinggi dalam ilmu fiqih, tarikh, faraidh, dan ilmu berhitung.

Syaikh Abul Husain Ashfahani Rahmatullah ‘alaih telah hapal hadits-hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dengan baik khususnya hadits-hadits Shahih Bukhari, sehingga jika dibacakan sanadnya, ia mengetahui matan haditsnya. Apabila dibacakan matan haditsnya, ia mengetahui sanadnya.

Syaikh Taqiyuddin Ba’labaki Rahmatullah ‘alaih dalam masa empat bulan hapal seluruh hadits Shahih Muslim. Ia juga hapal Kitab Al-Jam’u Baina Shahihaini. Ia sangat shalih dan memiliki banyak karamah. Ia juga hapal Al-Qur’an, dan dikatakan bahwa ia telah menghapal Surat Al-An’aam seluruhnya hanya dalam sehari.

Syaikh Ibnu Suni Rahmatullah ‘alaih adalah murid yang paling terkenal di antara murid-murid Imam Nasa’I Rahmatullah ‘alaih. Ia terus sibuk menulis hadits sampai akhir hayatnya. Anaknya bercerita, “Ketika Ayahku sedang menulis, tiba-tiba ia meletakkan pena ke kotak tinta, lalu megangkat kedua tangannya seraya berdoa. Dalam keadaan seperti itulah ia telah meninggal dunia.”

Allamah Saji Rahmatullah ‘alaih sudah menguasai ilmu fiqih semenjak kanak-kanak. Setelah itu, ia sibuk belajar ilmu hadits. Ia pernah menetap di Harat selama sepuluh tahun, dan selama itu pula ia telah menulis hadits Tirmidzi dengan tangannya sendiri sebanyak enam kali. Gurunya, Syaikh Ibnu Mandah Rahmatullah ‘alaih meninggal dunia ketika sedang mengajarkan Kitab Gharaib Syu’bah kepadanya selepas Shalat Isya’. Semangat keilmuan gurunya lebih patut dihargai daripada semangat muridnya, karena gurunya mengajar sampai akhir hayatnya.

Syaikh Abu Amr Khaffaf Rahmatullah ‘alaih hapal 100.000 hadits dengan hapalan yang sangat kuat. Syaikh ‘Asyim bin Ali Rahmatullah ‘alaih (guru Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih) ketika sampai di Baghdad didatangi murid-muridnya lebih dari 100.000 orang. Pernah ada yang mencoba menghitung jumlah muridnya, ternyata semuanya berjumlah 120.000 orang. Karena demikian banyak muridnya, sebagian lafadz hadits yang diucapkannya harus diulang-ulang. Seorang muridnya berkata, “Kadangkala kata Haddatsana Laits… harus diulang sampai empat belas kali (oleh empat belas penyambung suara).” Memang demikian, jika yang hadir 120.000 orang, maka harus diulang beberapa kali.

Ketika Syaikh Abu Muslim Bashri Rahmatullah ‘alaih tiba di Baghdad, ia mulai mengajar hadits di lapangan yang luas. Di antara orang-orang yang belajar, ada tujuh orang yang berdiri untuk mendiktekan apa yang telah diajarkannya, seolah-olah seperti orang yang mengulangi suara takbir pada shalat hari raya. Setelah pelajaran selesai, ketika jumlah botol tinta yang ada dalam majelis itu dihitung, ternyata jumlahnya 40.000 lebih, ini belum termask orang-orang yang hadir untuk mendengarkan saja.

Begitu pula di majelis Syaikh Faryabi Rahmatullah ‘alaih, 316 orang membantu mendiktekan apa yang diajarkannya. Dari situ bisa diperkirakan berapa jumlah orang yang hadir dalam majelis. Berkat usaha dan jerih payah seperti inilah, sampai kini ilmu itu tetap berkembang.

Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih berkata, “Saya telah memilih dari 600.000 hadits sebanyak 7.275 hadits yang aku tulis dalam kitab Shahih Bukhari.” Setiap akan menulis satu hadits, ia shalat sunnah dua rakaat terlebih dahulu. Ketika di Baghdad, para muhadditsin mengujinya dengan menetapkan sepuluh orang penguji. Setiap penguji membacakan sepuluh hadits pilihan yang telah diubah (antara matan dengan sanadnya). Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih menjawab setiap hadits yang mereka bacakan, “Aku tidak mengatahui hadits ini.” Setelah mereka selesai dengan pertanyaannya masing-masing, Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih berkata kepada penguji yang pertama, “Engkau telah bertanya kepadaku hadits ini, dan hadits yang engkau bacakan tadi salah, seharusnya yang benar demikian. Hadits kedua yang kamu tanyakan adalah seperti ini, ini adalah salah, seharusnya yang benar demikian.” Singkatnya, Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih membacakan keseratus hadits secara berurutan dan membaca tiap-tiap hadits sebagaimana yang dibacakan oleh para penguji. Lalu berkata, “Ini salah, yang benar adalah demikian.”

Imam Muslim Rahmatullah ‘alaih mulai belajar ilmu hadits sejak usia 14 tahun, dan menyibukkan diri dengan hadits hingga akhir hayatnya. Ia berkata, “Aku telah memilih dari 300.000 hadits, sebanyak 12.000 hadits untuk menyusun Kitab Shahih Muslim.”

Imam Abu Dawud Rahmatullah ‘alaih berkata, “Aku telah mendengar 500.000 hadits, dan aku menyeleksinya untuk menyusun Kitab Sunan Abu Dawud yang berisi 4.800 hadits.”

Syaikh Yusuf Mizzi Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhaddits terkenal dan Imam dalam bidang Asmaur Rijal (ilmu tentang biodata perawi hadits). Pada mulanya ia belajar fiqih dan hadits di kotanya, setelah itu ia pergi ke Makkah, Madinah, Halab, Hamad, Ba’labak, dan negeri-negeri lain. Banyak sekali kitabnya yang ditulis dengan tangannya sendiri, antara lain Kitab Tahdzibul Kamal yang terdiri dari 200 jilid dan Kitabul Athraf yang terdiri dari 80 jilid lebih. Sifatnya pendiam, sehingga jarang sekali berbicara dengan orang lain. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk mempelajari kitab-kitab. Ia banyak mengalami penderitaan dari orang-orang yang dengki terhadapnya, tetapi ia tidak membalasnya.

Menulis tentang semua keadaan para muhadditsin tentu sangat sulit. Kitab-kitab besar pun tidak mampu menceritakan kehidupan dan pengorbanan mereka. Dalam kitab ini, saya hanya mengambil beberapa kisah saja dari kehidupan mereka sebagai contoh, agar kita dapat mengetahui bahwa keberadaan ilmu hadits yang masih tetap ada hingga kurun 1.350 tahun ini, adalah berkat usaha dan kesungguhan mereka.

Orang yang mengaku dirinya penunt ilmu, seberapa besar ia telah berusaha dan bersusah payah untuk itu? Bila kita ingin hadits-hadits Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bisa tersebar dan diamalkan, sedangkan kita senantiasa menyibukkan diri dengan kesenangan, kenyamanan, dan kemewahan dunia, maka ini adalah hayalan, mustahil, dan kalau bukann kegigihan, apa lagi namanya?

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kedelapan “Semangat Menuntut Ilmu dan Mendalaminya” 12. Jasa-jasa Para Ulama dalam Menjaga Ilmu (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: