7. Kisah Terbunuhnya Musailamah dan Pengumpulan Al-Qur’an

Setelah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, Musailamah Al-Kadzdzab yang di hadapan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun sudah mengaku sebagai nabi, semakin menjadi-jadi. Karena ketika itu orang-orang Arab banyak yang murtad dari Islam, maka Musailamah semakin mendapatkan kekuatan, sehingga Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu memeranginya. Allah Subhaanahu wata’ala memberi kekuatan kepada Islam dan Musailamah dapat dibunuh. Akan tetapi, pada pertempuran itu, satu jamaah besar shahabat mati syahid, termasuk para hafizh Al-Qur’an.

Sayyidina Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Amirul Mukminin, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, “Dalam pertempuran itu banyak para hafizh Al-Qur’an yang syahid. Aku khawatir jika ada pertempuran lagi, akan semakin banyak hafizh Al-Qur’an yang mati syahid, dan dikhawatirkan akan banyak bagian Al-Qur’an yang hilang. Untuk itu, sebaiknya Al-Qur’an ditulis di satu mushaf, agar selamat dan terjaga.” Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bagaimana aku berani mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Namun Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu terus mendesaknya dan menyampaikan pentingnya mengumpulkan Al-Qur’an.

Akhirnya, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menyetujui usul Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu itu. Maka ia memanggil Sayyidina Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu (kisahnya akan diceritakan pada Bab Kesebelas Kisah Ke-18). Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Aku datang kepada Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, sedangkan Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu sudah berada di situ pula.” Kemudian Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menceritakan pembicaraannya dengan Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu mulai awal sampai akhir. Setelah itu Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Engkau seorang pemuda yang cerdas, orang-orang sangat mempercayaimu, dan tidak ada yang bersangka buruk terhadapmu. Selain itu, engkau termasuk penulis wahyu pada zaman Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itu, kumpulkanlah Al-Qur’an yang ada pada orang-orang dan tulislah di satu mushaf.”

Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, seandainya aku diperintahkan memindahkan sebuah gunung dari suatu tempat ke tempat lain, hal itu lebih mudah bagiku daripada harus mengumpulkan Al-Qur’an.” Aku berkata kepada mereka, “Mengapa hal itu harus dilakukan, padahal Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukannya?” Kedua orang tersebut terus memberikan pemahaman kepadaku (sampai aku menerima). Menurut sebuah riwayat, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu, “Jika engkau menyetujui pendapat Umar, maka aku akan memerintahkannya. Jika engkau tidak setuju, maka aku tidak berniat memerintahkannya.”

Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Setelah lama membahasnya dengan mereka, akhirnya Allah Subhaanahu wata’ala membukakan hatiku untuk mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu. Untuk menunaikan perintah itu, aku mencari dan mengumpulkan Al-Qur’an yang tertulis di tempat yang terpisah-pisah dan yang tersimpan di dada para shahabat Radhiyallahu ‘anhum.” (H.R. Bukhari)

Faidah

Dalam kisah ini kita dapat mengetahui tentang ketaatan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagi mereka, lebih mudah memindahkan gunung daripada harus melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhaanahu wata’ala pasti menganugerahkan pahala yang besar di dalam buku catatan amal para shahabat Radhiyallahu ‘anhum, karena jasa mereka dalam mengumpulkan Al-Qur’an yang merupakan dasar agama.

Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu begitu hati-hati dalam mengumpulkan Al-Qur’an, sehingga ia tidak mengambil ayat yang tidak tertulis. Ia hanya megumpulkan catatan-catatan yang telah ditulis pada masa Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, kemudian mencocokkannya dengan Al-Qur’an yang ada di dada para shahabat Radhiyallahu ‘anhum yang hapal Al-Qur’an.

Untuk mengumpulkannya diperlukan usaha yang sangat gigih, karena ayat-ayat Al-Qur’an telah ditulis di tempat yang terpisah-pisah. Namun Alhamdulillah, semuanya dapat dikumpulkan. Sayyidina Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu yang dinyatakan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang paling mahir dalam Al-Qur’an selalu ikut membantu usaha ini. Melalui usaha ini, seluruh Al-Qur’an telah dikumpulkan untuk pertama kalinya oleh para shahabat Radhiyallahu ‘anhu.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kedelapan “Semangat Menuntut Ilmu dan Mendalaminya” 7. Kisah Terbunuhnya Musailamah dan Pengumpulan Al-Qur’an (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: