9. Kisah Perjalanan Seseorang dari Madinah ke Damaskus Hanya untuk Sebuah Hadits

Syaikh Katsir bin Qais Rahmatullah ‘alaih berkata, “Suatu ketika aku sedang duduk di majelis Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu di Masjid Damaskus. Kemudian datanglah seorang lelaki menghampiri Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu. Lalu, ia berkata, ‘Aku datang dari Madinah Munawwarah hanya untuk mendengar sebuah hadits dari Tuan, karena aku mendengar bahwa engkau telah mendengar hadits tersebut langsung dari Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada lelaki tersebut, ‘Apakah kamu ke sini untuk berdagang?’ Lelaki itu menjawab, ‘Tidak.’ Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, ‘Apakah ada urusan lain?’ Lelaki itu menjawab, ‘Tidak ada. Aku datang kemari hanya untuk mengetahui hadits itu.’ Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku mendengar Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa pergi menuntut ilmu, maka Allah Subhaanahu wata’ala memudahkan baginya jalan menuju surga. Para malaikat membentangkan sayapnya karena ridha kepada para penuntut ilmu, dan semua makhluk hidup di bumi dan di langit akan memohonkan ampunan bagi penuntut ilmu, hingga ikan-ikan di air pun memohonkan ampunan baginya. Keutamaan ahli ilmu dibandingkan dengan ahli ibadah seperti keutamaan bulan dibandingkan dengan semua bintang-bintang di langit. Ulama adalah pewaris para Nabi Alaihimus salam. Para Nabi Alaihimus salam tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa mendapatkannya, maka ia telah memperoleh kekayaan yang tak ternilai harganya.’” (H.R. Ibnu Majah)

Faidah

Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang shahabat ahli fiqih dan dijuluki Hakiimul Ummah. Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Semasa kenabian Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum aku memluk Islam, usahaku adalah berdagang. Setelah memeluk Islam, aku ingin menyatukan antara berdagang dan ibadah. Ternyata, kedua hal itu tidak dapat disatukan. Akhirnya, kutinggalkan perdagangan. Meskipun seandainya aku memiliki took di dekat pintu masjid, sehingga tidak pernah ketinggalan shalat berjamaah, dan setiap hari mendapat keuntungan empat puluh dinar, lalu semua keuntungan itu kusedekahkan, hatiku tetap tidak dapat menerimanya.”

Seseorang bertanya, “Mengapa engkau tidak suka dengan perniagaan semacam ini? Padahal engkau tidak tertinggal shalat, dan engkau pun memperoleh keuntungan setiap hari yang bisa disedekahkan di jalan Allah Subhaanahu wata’ala.” Sayyidina Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Karena semua itu akan dihisab oleh Allah Subhaanahu wata’ala.” Ia juga pernah berkata, “Aku sangat mencintai mati karena rindu bertemu Tuhanku. Aku juga mencintai kemiskinan agar dapat memiliki sifat tawadhu’, dan aku menyukai sakit karena dengannya terhapus dosa-dosaku.” (dari Kitab Tadzkiratul Huffazh)

Dalam kisah di atas, hanya karena sebuah hadits, seseorang rela menempuh jarak yang begitu jauh. Perjalanan jauh bukanlah sesuatu yang berat baginya untuk mendapatkan sebuah hadits. Perjalanan demi perjalanan yang jauh dilakukan hanya untuk mendengarkan dan mempelajari sebuah hadits. Hal itu merupakan sesuatu yang mudah baginya.

Syaikh Sya’bi Rahmatullah ‘alaih adalah seorang muhaddits yang terkenal. Ia tinggal di kufah. Suatu ketika ia mengajar hadits kepada murid-muridnya. Ia berkata, “Kalian mempelajari hadits-hadits ini dengan hanya tinggal di kotamu saja. Sedangkan orang-orang dahulu harus berjalan ke Madinah untuk mendapatkan hadits yang lebih sedikit dari ini. Saat itu tidak ada tempat untuk mempelajari hadits kecuali di Madinah. Di sanalah hadits-hadits itu tersimpan. Bagi para pecinta ilmu, mereka bersedia melakukan perjalanan-perjalanan jauh semata-mata untuk ilmu.” Syaikh Sa’id bin Musayyib Rahmatullah ‘alaih, seorang tabi’in terkenal, berkata, “Aku berjalan kaki siang dan malam untuk mendapatkan hadits demi hadits.”

Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih, imam para imam, lahir bulan Syawwal 194 Hijriyah. Tahun 205 Hijriyah pada usia 11 tahun, ia mulai belajar hadits. Ia telah hapal seluruh kitab karangan gurunya, Syaikh Abdullah bin Mubarak Rahmatullah ‘alaih, ketika ia masih kecil. Tahun 216 Hijriyah, ia memulai perjalanan untuk memperdalam ilmunya, setelah mengumpulkan semua hadits di kota kelahirannya. Ayahnya telah meninggal dunia sehingga ia menjadi yatim. Oleh karena itu, ibunya ikut menemani perjalanannya. Mereka berjalan ke Balkha, Baghdad, Makkah, Bashrah, Kufah, Syam, Asqalan, Hims, dan Damaskus. Ke kota-kota inilah Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih pergi, dank e setiap tempat yang tersimpan hadits-hadits. Biarpun umurnya masih sangat muda, ia sudah menjadi guru hadits. Ketika itu, janggutnya belum tumbuh sehelai pun. Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih berkata, “Aku menulis fatwa-fatwa para shahabat Radhiyallahu ‘anhum dan tabi’in pada umur 18 tahun.”

Syaikh Hasyid Rahmatullah ‘alaih dan seorang temannya berkata, “Kami bersama Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih selalu mendatangi seorang guru untuk belajar. Kami dan teman-teman senantiasa menulis pelajaran, sedangkan Imam Bukhari Rahmatullah ‘alaih tidak pernah menulisnya hingga pulang. Setelah beberapa hari, kami mengingatkan dirinya, ‘Waktumu telah banyak kamu sia-siakan!’ Dia hanya diam. Setelah berkali-kali hal itu dikatakan kepadanya, barulah ia bicara, ‘Kalian ini menggangguku saja, ambillah apa yang telah kalian tulis.’ Maka kami mengeluarkan kitab kumpulan hadits yang telah kami tulis sejumlah 15.000 hadits lebih. Kemudian ia membacakan semua hadits itu kepada kami melalui hapalannya, sehingga kami merasa takjub.’”

 

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kedelapan “Semangat Menuntut Ilmu dan Mendalaminya” 9. Kisah Perjalanan Seseorang dari Madinah ke Damaskus Hanya untuk Sebuah Hadits (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: