12. Kisah Percakapan Syaikh Sa’id bin Jubair Rahmatullah ‘alaih dan Hajjaj bin Yusuf

Kezhaliman hajjaj bin Yusuf terkenal di seluruh dunia. Walaupun ia dianggap sebagai peguasa yang zhalim pada zamannya, ia juga tetap menyebarkan agama. Jika dibandingkan dengan pemimpin yang adil dan beragama pada masa itu, ia termasuk pemimpin yang paling buruk. Oleh sebab itu, orang-orang menghindar darinya.

Syaikh Sa’id bin Jubair dan Syaikh Ibnu Asy’ats Rahmatullah ‘alaihima telah bersekutu menentang Hajjaj bin Yusuf. Hajjaj bin Yusuf adalah gubernur Raja Abdul Malik bin Marwan. Sedangkan Syaikh Sa’id bin Jubair Rahmatullah ‘alaih adalah seorang tabi’in yang masyhur dan salah seorang ulama besar. Karena ia selalu menentang pemerintah, maka ia sangat dibenci dan dimusuhi para pejabat pemerintah, khususnya hajjaj, sehingga terjadilah peperangan di antara mereka.

Dalam peperangan ini, Hajjaj dapat mengalahkan Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih, tetapi tidak bisa menangkapnya. Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih pergi ke Makkah secara diam-diam. Akhirnya, pemerintah mengutus seseorang menjadi gubernur Makkah untuk menggantikan gubernur sebelumnya. Gubernur yang baru itu berkhutbah di hadapan orang-orang, dan di akhir khutbahnya, ia membacakan perintah Raja Abdul Malik bin Marwa: Barangsiapa menyediakan tempat untuk Sa’id bin Jubair, maka ia dalam bahaya! Gubernur itu sendiri bersumpah bahwa jika ia menjumpai Syaikh Sa’id bin Jubair Rahmatullah ‘alaih di rumah seseorang, maka pemilik rumah itu akan dibunuh dan rumahnya akan dirobohkan. Begitu pula tetangganya yang mengetahuinya, tetapi merahasiakannya, rumahnya akan dirobohkan.

Singkat cerita, dengan susah payah Syaikh Sa’id bin Jubair Rahmatullah ’alaih berhasil ditangkap oleh gubernur Makkah. Lalu, ia dikirim kepada Hajjaj. Setelah tertawan, Hajjaj menumpahkan semua kemarahan kepadanya dan mendapat kesempatan untuk membunuhnya. Ia dipanggil ke hadapannya dan ditanya.

Hajjaj : “Siapa namamu?”

Sa’id : “Namaku Sa’id.”

Hajjaj : “Anak siapa!?”

Sa’id : “Anak Jubair.” (Sa’id artinya ‘orang yang beruntung’, Jubair artinya ‘sesuatu yang sudah diperbaiki.’)

Walaupun nama bukan hal utama, namun nama baik ini tidak disukai oleh Hajjaj.

Hajjaj : “Bukan, namamu adalah Syaqi Kusair!” (Syaqi artinya ‘orang yang celaka’, Kusair artinya ‘sesuatu yang sudah pecah.’)

Sa’id : “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada kamu.”

Hajjaj : “Kamu orang jahat dan ibumu juga orang jahat.”

Sa’id : “Ada yang lebih mengetahui hal yang ghaib selain kamu.” (Yaitu Allah Subhaanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib).

Hajjaj : “Lihatlah, sekarang aku akan membunuhmu!”

Sa’id : “Ibuku telah memberi nama dengan benar (Maksud perkataan Syaikh Sa’id, “Aku benar-benar akan beruntung dengan mati syahid, sesuai dengan nama yang diberikan ibuku, Said (orang yang beruntung).”).”

Hajjaj : Sekarang akan aku ganti kehidupanmu dengan mengirimmu ke neraka.”

Sa’id : “Jika aku tahu bahwa ini adalah kekuasaanmu, tentulah kamu akan dijadikan sesembahan.”

Hajjaj : “Bagaimana aqidahmu tentang Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?”

Sa’id : “Beliau adalah Nabi pembawa rahmat dan utusan Allah Subhaanahu wata’ala yang telah dikirim ke seluruh alam dengan membawa nasihat yang sangat bagus.”

Hajjaj : “Bagaimanakah pendapatmu tentang para Khalifah?”

Sa’id : “Aku bukan pengawas mereka. Setiap orang bertanggung jawab atas amalnya masing-masing.”

Hajjaj : “Apakah aku boleh menilai mereka (para khalifah) itu baik atau buruk?”

Sa’id : “Bagaimana aku mengatakan hal yang tidak aku ketahui (menilai para khalifah)? Aku hanya mengetahui tentang diriku sendiri.”

Hajjaj : “Menurutmu, siapakah di antara mereka yang paling disukai?”

Sa’id : “Orang yang paling banyak membuat ridha Allah.” Dalam sebagian kitab disebutkan bahwa jawabannya, “Amalan merekalah yang membuat sebagian mereka lebih unggul atas yang lain.”

Hajjaj : “Siapakah orang yang paling banyak membuat ridha Allah?”

Sa’id : “Itu hanya diketahui oleh Dzat yang menguasai hati manusia, dan Dzat yang mengetahui seluruh rahasia.”

Hajjaj : “Ali berada di surga atau neraka?”

Sa’id : “Jika aku telah pergi ke surga dan neraka, lalu aku melihat para penghuninya, maka aku baru dapat menjawabnya.”

Hajjaj : “Pada Hari Kiamat, aku termasuk orang yang bagaimana?”

Sa’id : “Aku tidak mengetahui tentang yang ghaib.”

Hajjaj : “Kamu tidak jujur kepadaku.”

Sa’id : “Aku tidak berbohong kepadamu.”

Hajjaj : “Mengapa kamu tidak pernah tertawa?”

Sa’id : “Tidak ada yang patut ditertawakan. Bagaimana mungkin manusia dapat tertawa, sedangkan ia terbuat dari tanah. Kita akan dibangkitkan pada Hari Kiamat, dan setiap siang dan malam kita selalu dalam fitnah dunia.”

Hajjaj : “Kalau aku suka tertawa.”

Sa’id : “Memang Allah telah menciptakan dengan watak yang berbeda.”

Hajjaj : “Aku akan membunuhmu.”

Sa’id : “Penciptaku telah memutuskan penyebab kematianku.”

Hajjaj : “Aku lebih dicintai oleh Allah daripada kamu.”

Sa’id : “Tidak ada seorang pun yang berani memastikan derajatnya di sisi Allah. Hanya Allahlah yang mengetahui perkara yang ghaib.”

Hajjaj : “Mengapa aku tidak berani memastikan derajatku di sisi Allah. Sebab, aku berada di pihak raja, sedangkan kamu bersama golongan pembangkang.”

Sa’id : “Aku tidak memisahkan diri dari jamaah Kaum Muslimin. Aku tidak menyukai fitnah. Apa yang telah ditakdirkan, tidak ada yang mampu menolaknya.”

Hajjaj : “Tentang harta yang kami kumpulkan untuk Amirul Mukminin, bagaimana menurutmu?”

Sa’id : “Aku tidak tahu tentang harta yang kamu kumpulkan.”

Kemudian Hajjaj menyuruh pelayannya mengambil emas, perak, pakaian dan lain-lainnya. Lalu, harta itu diletakkan di hadapan Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih.

Sa’id : “Ini adalah hal yang baik jika sesuai dengan syarat-syaratnya.”

Hajjaj : “Apa syarat-syaratnya?”

Sa’id : “Syaratnya ialah belilah sesuatu dengan harta ini yang dapat memberikan keamanan pada Hari Kiamat, ketika semua manusia berada dalam ketakutan. Pada hari ketika ibu yang menyusui melupakan banyinya, pada hari ketika wanita hamil menjadi gugur kandungnannya. Ketika itu, seseorang tidak dapat memperoleh sesuatu yang bermanfaat kecuali kebaikannya.”

Hajjaj : “Apakah harta yang kami kumpulkan ini tidak baik?”

Sa’id : “Kamu yang mengumpulkannya, tentu kamu yang mengetahui kebaikannya.”

Hajjaj : “Apakah ada di antara benda itu yang kamu sukai?”

Sa’id : “Apa yang disukai Allah, hanya itulah yang aku sukai.”

Hajjaj : “Binasalah kamu!”

Sa’id : “Kebinasaan hanyalah bagi orang yang dijauhkan dari surga dan dilemparkan ke dalam neraka.”

Hajjaj : (dengan gelisah), “Katakanlah kepadaku, dengan cara apa aku membunuhmu?”

Sa’id : “Sebagaimana kamu suka dibunuh dengan cara itu.”

Hajjaj : “Apakah aku harus mengampunimu?”

Sa’id : “Ampunan yang sesungguhnya adalah ampunan Allah. Ampunanmu tidak bermanfaat sedikit pun.”

Hajjaj : (menyuruh algojonya, “Bunuhlah dia!”

Kemudian Syaikh Sa’id Rahmatulah ‘alaih dibawa keluar dan ia tertawa. Ketika kejadian itu disampaikan kepada Hajjaj, Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih dipanggil kembali untuk ditanya.

Hajjaj : “Mengapa kamu tertawa?”

Sa’id : “Aku heran atas keberanianmu kepada Allah dan kesabaran Allah atasmu.”

Hajjaj : “Aku membunuh orang yang memecah belah Kaum Muslimin.” (Lalu menyuruh algojonya), “Potonglah lehernya di hadapanku!”

Sa’id : “Izinkanlah aku shalat dua rakaat!”

Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih melaksanakan shalat dua rakaat, lalu menghadapkan wajahnya ke arah kiblat, dan membaca:

“Sesungguhnya aku hadapkan diriku kepada Allah Yang Menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (Q.S. Al-An’aam: 79)

Hajjaj : “Palingkanlah wajahnya dari kiblat (Ka’bah)! Arahkan wajahnya ke kiblat orang-orang Nasrani, karena mereka juga membuat perpecahan dan perselisihan dalam agama mereka!”

Wajah Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih pun dipalingkan dari kiblat. Lalu ia membaca:

“Kemana saja kamu palingkan wajahmu, di situ akan menemui Allah (yang mengetahui isi hati).”

Hajjaj : “Telungkupkan wajahnya! Kita hanya menetapkan hukum atas perbuatanya yang terlihat.”

Lalu Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih membaca:

“Darinya (tanah) Kami menjadikanmu, dan kepadanya Kami akan mengembalikanmu, dan darinya Kami akan mengeluarkanmu pada kali yang lain.” (Q.S. Thaahaa: 55)

Hajjaj : “Bunuhlah dia!”

Sa’id : “Aku menjadikan kamu sebagai saksi bahwa:

‘Aku bersaksi bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan-Nya.’

Wahai Hajjaj, ambillah (persaksian) itu. Jika nanti pada Hari Kiamat aku berjumpa denganmu, aku akan menuntutmu.”

Akhirnya Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih pun dibunuh. Innaa Lillaahi wainnaa ilaihi Raaji’uun.

Setelah wafatnya, banyak darah menyembur dari tubuh Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih, sehingga Hajjaj keheranan. Hajjaj bertanya kepada thabibnya tentang penyebabnya. Thabibnya menjawab, “Itu karena ketenangan hati Sa’id. Sedikit pun ia tidak takut menghadapi kematiannya, sehingga darahnya menyembur sesuai kadarnya. Berbeda dengan orang yang takut menghadapi kematian, darahnya membeku sebelum ia mati.” (Ulama Salaf, dari Kitab Imamat was Siyasat)

Faidah

Dalam beberapa kitab lain, tanya jawab antara Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih dan Hajjaj terdapat penambahan dan pengurangan. Kisah tanya jawab seperti ini telah banyak dinukilkan, seperti yang dialami oleh para tabi’in, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal Rahmatullah ‘alaihim, dan sebagainya. Oleh karena itu, kami cukupkan kisah tanya jawab antara Syaikh Sa’id Rahmatullah ‘alaih dan Hajjaj sebagai contoh. Untuk mempertahankan yang hak, mereka berani menghadapi penderitaan yang luar biasa. Mereka tidak tidak membiarkan kebenaran terlepas sedikit pun dari tangannya.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Ketujuh “Keberanian, Kepahlawanan, dan Rindu Mati” 12. Kisah Percakapan Syaikh Sa’id bin Jubair Rahmatullah ‘alaih dan Hajjaj bin Yusuf (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: