8. Kisah Perang Bi’r Maunah

Pertempuran Bi’r Maunah sangat terkenal. Ada tujuh puluh shahabat yang semuanya Qurra’ (para hafizh Al-Qur’an), syahidnya dalam pertempuran itu. Kebanyakan mereka adalah orang-orang Anshar, selebihnya orang-orang Muhajirin.

Baginda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai mereka, karena mereka sibuk berdzikir dan banyak membaca Al-Qur’an di malam hari. Pada siang harinya, mereka membantu keperluan-kperluan rumah istri-istri Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti mengumpulkan kayu bakar, mengambilkan air, dan sebagainya.

Suatu ketika, Sayyidina Amr bin Malik Radhiyallahu ‘anhu yang mempunyai julukan Abu Barra’, dari Kampung Najd Suku Bani Amir, datang menjumpai Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia meminta kepada beliau agar jamaah Qurra’ ini bertabligh dan memberikan nasihat kepada kaumnya dengan jaminannya. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku khawatir, para shahabatku akan tertimpa bahaya.” Namun Sayyidina Amir bin Malik Radhiyallahu ‘anhu terus berusaha menenangkan hati Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sampai akhirnya beliau mengizinkan tujuh puluh shahabat Radhiyallahu ‘anhum dikirim ke Bani Amir. Beliau menulis surat untuk Amir bin Thufail sebagai pimpinan Bani Amir. Isinya ajakan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masuk Islam.

Jamaah ini bertolak meninggalkan Madinah dan berhenti di Bi’r Maunah. Lalu, dua orang shahabat, yaitu Sayyidina Umar bin Umayyah dan Sayyidina Mundzir bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma ditugaskan menggembalakan unta-unta milik jamaah. Sedangkan Sayyidina Haram Radhiyallahu ‘anhu dengan dua kawannya, ditugaskan menyampaikan surat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Amir bin Thufail. Ketika hamper tiba, ia berkata kepada kedua kawannya, “Tunggulah disini, aku akan masuk ke sana. Jika aku ditipu, pergilah kalian dari sini! Daripada kita bertiga terbunuh, lebih baik salah satu saja yang terbunuh.”

Amir bin Thufail adalah keponakan Sayyidina Amir bin Malik Radhiyallahu ‘anhu yang membawa jamaah shahabat tersebut. Amir bin Thufail sangat membenci Islam dan Kaum Muslimin. Sayyidina Haram Radhiyallahu ‘anhu menjumpai Amir bin Thufail dan menyampaikan surat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya. Namun, tanpa membaca surat itu, Amir bin Thufail marah dan langsung menombak dada Sayyidina Haram Radhiyallahu ‘anhu hingga tembus. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Sayyidina Haram Radhiyallahu ‘anhu sempat berkata, “Ddemi Tuhannya Ka’bah, aku telah Berjaya!” ia syahid dengan kalimah itu. Amir bin Thufail sama sekali tidak peduli telah membunuh seorang utusan. Padahal menurut bangsa mana pun, membunuh seorang utusan itu tidak dibolehkan. Ia juga tidak berpikir bahwa orang itu telah mendapat perlindungan dari pamannya sendiri.

Setelah membunuh Sayyidina Haram Radhiyallahu ‘anhu, Amir bin Thufail mengumpulkan kaumnya dan menyuruh mereka membunuh semua orang Islam. Namun, kaumnya merasa ragu, karena Kaum Muslimin telah memperoleh perlindungan dari Abu Barra’. Melihat hal itu, Amir bin Thufail segera mengumpulkan orang-orang di sekitarnya, sehingga terkumpullah suatu kelompok besar untuk menyerang tujuh puluh orang shahabat tersebut. Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum melawan mereka dengan gigih. Namun karena mereka dikepung dari empat penjuru oleh orang-orang kafir, akhirnya semuanya terbunuh, kecuali seorang shahabat bernama Sayyidina Ka’ab bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu. Saat itu, ia dalam keadaan hamper meninggal. Orang-orang kafir menyangka ia telah gugur, sehingga ditinggalkan begitu saja.

Sayyidina Mundzir bin Umar dan Sayyidina Umar bin Umayyah Radhiyallahu ‘anhuma yang sedang pergi mengembalakan unta, melihat ke langit dan tampak burung-burung pemakan bangkai beterbangan. Keduanya berkata, “Kita harus kembali! Pasti ada sesuatu yang terjadi.” Ketika tiba di sana, mereka menjumpai kawan-kawannya telah syahid dan dikelilingi oleh penunggang-penunggang kuda dengan menghunus pedang yang masih berlumuran darah. Melihat keadaan ini, keduanya berhenti lalu bermusyawarah apa yang harus dilakukan. Sayyidina Umar bin Umayyah Radhiyallahu ‘anhu mengusulkan, “Mari kembali dan memberi tahu Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam!” Tetapi Sayyidina Mundzir Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Berita ini pasti akan sampai juga. Hatiku tidak rela untuk membiarkan kesempatan mati syahid, dan meninggalkan tempat ini, dimana teman-teman kita terbaring. Ayo maju dan menyusul teman-teman kita!” Keduanya pun menyerang musuh-musuh tersebut. Sayyidina Mundzir Radhiyallahu ‘anhu pun mati syahid dan Sayyidina Umar bin Umayyah Radhiyallahu ‘anhu ditawan. Namun, karena ibu Amir bin Thufail telah bernazar akan membebaskan seorang budak, maka Amir bin Thufail membebaskannya untuk menunaikan nazar ibunya. (dari Kitab Islam)

Di antara para shahabat yang syahid ada seorang hamba sahaya milik Sayyidina Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu, yaitu Sayyidina Amir bin Fuhairah Radhiyallahu ‘anhu. Yang membunuh Sayyidina Amir bin Fuhairah Radhiyallahu ‘anhu adalah Jabbar bin Salma. Jabbar bin Salma bercerita, “Ketika kulemparkan tombak ke arahnya, menjelang syahidnya ia berkata, ‘Demi Allah, aku telah Berjaya!’ Kulihat mayatnya terangkat ke langit. Aku sangat takjub. Akhirnya, aku bertaya kepada orang-orang, ‘Aku telah membunuhnya dengan tombak hingga mati, tetapi ketika akan mati ia berkata, ‘Aku telah Berjaya!’ Apakah kejayaan itu?’ Orang-orang memberitahu bahwa kejayaan itu adalah mendapatkan surga. Karena peristiwa itulah akhirnya aku masuk Islam.” (dari Kitab Khamis)

Faidah

Itulah orang-orang yang patut dibanggakan oleh Islam. Mereka benar-benar lebih mencintai mati daripada pecandu khamer mencintai khamer. Mengapa tidak? Mereka yakin bahwa kebaikan yang telah mereka kerjakan pasti mendapatkan ridha Allah Subhaanahu wata’ala selapas kematian. Oleh karena itu, kematian bagi mereka adalah kejayaan.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Ketujuh “Keberanian, Kepahlawanan, dan Rindu Mati” 8. Kisah Perang Bi’r Maunah (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: