10. Kisah Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu Memperingatkan Pembantunya

Sayyidina Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang shahabat yang masyhur dan seorang ahli zuhud. Kisah keislamannya telah diceritakan dalam Bab Kesatu Kisah Ke-5. Ia tidak pernah mengumpulkan harta, juga tidak menyukai orang yang menumpuk harta. Ia sering mengecam para hartawan, sehingga Khalifah Utsman Radhiyallahu ‘anhu menyuruhnya agar menyendiri di Kampung Rabadzah, yaitu suatu pendusunan yang sangat sedikit penduduknya.

Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu memiliki beberapa ekor unta yang digembalakan oleh seorang lelaki tua dan lemah. Suatu ketika, seorang lelaki Banu Sulaim datang kepadanya dan menyampaikan keinginannya, “Aku ingin berkhidmat kepadamu agar dapat mengambil manfaat dan pelajaran darimu. Aku siap mengembalakan unta-untamu agar aku dapat mengambil barakah darimu.” Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anahu menjawab, “Yang layak jadi temanku adlah orang yang siap menaatiku. Jika engkau bersedia menaatiku, tinggallah bersamaku dengan senang hati. Jika engkau tidak menaati perintahku, aku tidak memerlukanmu.” Lelaki dari Banu Sulaim itu bertaya, “Dalam hal apa engkau menginginkan aku taat kepadamu?” Ia berkata, “Jika aku menyuruhmu menyedekahkan hartaku, hendaknya engkau langsung memilih hartaku yang terbaik.” Laki-Laki itu berkata, “Aku terima.” Maka tinggallah laki-laki itu bersamanya.

Selanjutnya laki-laki itu bercerita, “Suatu hari seseorang memberitahu bahwa ada beberapa orang yang tinggal di dekat suatu mata air dalam keadaan darurat dan sangat membutuhkan makanan. Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu menyuruhku, ‘Ambilkan seekor unta!’ Selanjutnya aku pergi melihat unta yang terbaik. Ternyata ada seekor unta yang sangat bagus, harganya mahal, dan sangat penurut jika ditunggangi. Sesuai dengan janjiku bahwa aku akan memilihkan pemberian yang terbaik, maka aku akan membawa unta itu kepadanya. Namun, kemudian hatiku mengatakan bahwa unta ini terlalu mahal untuk menjamu orang-orang miskin itu. Tuanku dan orang-orang yang berhubungan dengannya sangat membutuhkan unta ini. Aku segera mengambalikan unta itu dan mengambil seekor unta betina yang derajatnya di bawah unta tadi dan merupakan unta terbaik di bawah unta pertama. Lalu, aku membawa unta itu kepada Sayyidina di bawah Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu. Setelah melihat unta yang kubawa, ia berkata kepadaku, ‘Engkau telah menghianatiku!’ Aku memahami maksudnya, maka segera aku kembali mengambil unta yang terbaik tadi.

Kemudian ia bertanya kepada orang-orang di sebelahnya, ‘Apakah ada dua orang di antara kalian yang siap bekerja karena Allah?’ Dua orang berdiri menyatakan kesediannya. Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka, “Sembelihlah unta ini dan potong-potonglah sebanyak rumah warga di sekitar mata air itu, lalu bagikanlah ke setiap rumah! Rumahku termasuk dalam hitungannya yang memerlukan, memperoleh bagian yang sama dengan yang lain.’ Mereka pun melakukan petunjuk Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhudan membagikannya.

Setelah itu, Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu memanggilku dan berkata, ‘Aku telah menyuruhmu agar memilih harta yang terbaik untuk disedekahkan, tetapi engkau dengan sengaja atau karena lupa telah mengingkarinya. Tidak mengapa jika engkau memang lupa.’ Aku menjawab, ‘Sebenarnya aku tidak lupa. Pada mulanya, aku telah memilih unta yang terbaik tadi, tetapi hatiku berkata unta itu paling baik dalam bekerja dan engkau sangat memerlukannya. Karena itulah aku tinggalkan unta itu.’ Ia berkata, ‘Benarkah engkau meninggalkannya untuk keperluanku?’ Aku menjawab, ‘Ya, sengaja aku tinggalkan untuk keperluanmu.’ Ia berkata, ‘Tidakkah engkau ingin mengetahui kapankah hari keperluanku? Hari keperluanku adalah ketika aku diletakkan dalam kubur seorang diri. Itulah hari keperluanku yang sebenarnya. Dalam harta itu ada tiga pemilik. Yang pertama adalah bencana, ia begitu saja mengambil hartamu yang baik maupun yang buruk tanpa menunggu apa pun. Kedua, ahli waris yang menanti hartamu. Jika engkau mati, mereka akan mengambilnya. Ketiga adalah dirimu sendiri. Jika dapat, janganlah engkau menjadi yang paling tidak beruntung di antara ketiga pemilik harta. Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

‘Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.’ (Q.S. Ali ‘Imran: 92)

Oleh sebab itu, aku menginfakkan harta yang paling aku sukai sehingga akan menjadi simpananku di akhirat kelak.’” (dari Kitab durrul Mantsur)

Faidah

Maksud janganlah engkau menjadi yang paling tidak beruntung di antara ketiga pemilik harta adalah, usahakan semampu kita untuk menyimpan harta kita di akhirat. Jangan sampai bencana datang mengambilnya, sehingga harta kita akan sia-sia. Atau ketika meninggal dunia, harta itu akan berpindah ke tangan orang lain, kemudian tak seorang pun yang mempertanyakannya. Dalam beberapa hari, anak, keluarga, dan istri akan menangis kemudian diam. Jarang ahli waris yang mengingat si mayit dan menghadirkan pahala sedekah untuknya.

Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang selalu berkata, ‘Hartaku, hartaku,’ padahal hartanya hanyalah yang ia makan dan ia habiskan, yang ia pakai dan ia usangkan, atau yang ia belanjakan di jalan Allah Subhaanahu wata’ala yang akan menjadi simpanan untuk dirinya sendiri. Yang selain itu, ia kumpulkan untuk orang lain.’”

Baginda Nabi Shallallah ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapakah di antara kalian yang lebih menyukai hartanya diberikan kepada ahli waris daripada untuk dirinya sendiri?” Para shahabat Radhiyallahu ‘anhum menjawab, “Ya Rasulullah, siapakah yang lebih menyukai hartanya diberikan kepada ahli waris daripada untuk dirinya sendiri?” Beliau menjawab, “Harta miliknya ialah harta yang telah ia infakkan, sedangkan yang dia tinggalkan adalah milik ahli warisnya.” (dari Kitab Misykat)

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Keenam “Iitisar, Kasih Sayang, dan Membelanjakan Harta di Jalan Allah Subhaanahu wata’ala” 10. Kisah Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu Memperingatkan Pembantunya (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: