6. Kisah Pengkafanan Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu

Paman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu, telah syahid dalam Perang Uhud. Orang-orang kafir telah memotong telinga, hidung, dan anggota tubuh Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu. Mereka merobek dada dan mengeluarkan hatinya dengan sangat zhalim. Seusai pertempuran, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para shahabat Radhiyallahu ‘anhum mencari jenazah para syuhada dan menyiapkan kain kafan untuk mereka. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat sedih ketika melihat keadaan mayat Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu. Lalu, dengan sehelai selimut, beliau menutupi mayat Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu.

Kemudian datanglah Sayyidatina Shafiyah Radhiyallahu ‘anha, saudara perempuan Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu, untuk melihat keadaan mayat saudaranya. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpikir, bagaimanapun hati seorang wanita tidak akan tabah melihat kezhaliman tersebut. Oleh sebab itu, beliau segera menyuruh Sayyidina Zubair Radhiyallahu ‘anhu, anak laki-laki Sayyidatina Shafiyah Radhiyallahu ‘anha, untuk melarang ibunya agar tidak mendekati mayat Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian Sayyidina Zubair Radhiyallahu ‘anhu melarang ibunya supaya tidak mendekati jenazah. Ibunya berkata, “Aku sudah mendengar keadaan saudaraku yang syahid dengan hidung, telinga, dan anggota tubuhnya terpotong-potong. Tidak masalah, karena ia sedang berjuang di jalan Allah Subhaanahu wata’ala. Aku rela, aku hanya mengharap pahala dari Allah Subhaanahu wata’ala. Insya Allah, aku bersabar.” Sayyidina Zubair Radhiyallahu ‘anhu pun menyampaikan ucapan ibunya kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan Sayyidatina Shafiyah Radhiyallahu ‘anha mendekati kakaknya. Ia membaca, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un,” dan berdoa serta memohonkan ampunan untuk saudaranya.

Dalam riwayat lain diceritakan, bahwa setelah usainya Perang Uhud dan mayat para syuhada telah dikumpulkan, tiba-tiba datang seorang wanita dengan bergegas-gegas. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam segera bersabda, “Lihatlah, cegahlah wanita itu!” Sayyidina Zubair Radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Aku mengenali wanita itu. Ia ibuku. Aku segera menghadangnya, tetapi ia menolak. Ia seorang wanita yang kuat. Ia memukulku sehingga aku terjatuh. ‘Minggir!’ kata ibuku. Aku berkata, ‘Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarangmu!’ Ibuku pun langsung berhenti. Lalu, ia mengeluarkan dua helai kain seraya berkata, ‘Aku datang dengan membawa kain kafan untuk saudaraku. Aku telah mendengar kabar kematiannya. Kafanilah ia dengan kain ini.’ Kami mengambil kain kafan itu dan bersiap mengkafani mayat Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu. Ternyata di sisi mayat Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu ada mayat seorang Anshar, yaitu Sayyidina Suhail Radhiyallahu ‘anhu, yang keadaannya juga sama. Kami merasa malu jika Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu memperoleh dua kain kafan, sedangkan Sayyidina Suhail Radhiyallahu ‘anhu tidak memperoleh sehelai pun. Oleh karena itu, kami menentukan masing-masing mendapat satu kain. Tetapi satu kain berukuran besar dan yang satu berukuran kecil. Akhirnya, kami mengundi dua kain kafan itu. Hasilnya, kain yang berukuran besar untuk Sayyidina Suhail Radhiyallahu ‘anhu, sedangkan yang kecil untuk Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu. Jika kami menutupkan kain itu ke kaki, kepalanya akan terbuka. Jika kami menutupkannya ke kepalanya, kakinya terbuka. Akhirnya Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh agar menutup kepalanya dengan kain itu dan menutupi kakinya dengan daun ilalang.” (dari Kitab Khamis)

Syaikh Ibnu Sa’ad Rahmatullah ‘alaih menceritakan dalam riwayat lain bahwa ketika Sayyidatina Shafiyah Radhiyallahu ‘anha datang membawa dua helai kafan untuk mengkafani Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu, ternyata di dekatnya ada mayat seorang Anshar dalam keadaan serupa. Kemudian ia memberikan kain yang besar kepada Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu. Inilah riwayat singkat, sedangkan riwayat dalam Kitab Khamis lebih terperinci.

Faidah

Demikianlah kisah pengkafanan paman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan pemimpin dunia dan akhirat. Ketika paman beliau syahid dan saudara perempuannya datang membawakan dua kain kafan untuk mengkafaninya, beliau merasa tidak tega memberikan dua kafan itu untuk pamannya karena ada mayat seorang Anshar tergeletak di sisi pamannya tanpa kafan, sehingga masing-maing diberi satu. Bahkan, paman beliau mendapatkan kain yang lebih pendek daripada kain yang didapatkan shahabat Anshar itu. Sebenarnya, dengan berbagai alasan, pamannya lebih berhak untuk lebih diutamakan. Orang-orang yang menyerukan persamaan dan kepedulian, jika seruan mereka benar, seharusnya mereka mengikuti contoh di atas. Tidak sekadar bicara, tetapi memberi contoh yang nyata. Seharusnya, kita merasa malu dengan tingkah laku dan ucapan kita.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Keenam “Iitisar, Kasih Sayang, dan Membelanjakan Harta di Jalan Allah Subhaanahu wata’ala” 6. Kisah Pengkafanan Sayyidina Hamzah Radhiyallahu ‘anhu (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: