11. Kisah Kedermawanan Sayyidina Ja’far Radhiyallahu ‘anhu dan Putranya, Sayyidina Abdullah Radhiyallahu ‘anhu

Sayyidina Ja’far Thayyar Radhiyallahu ‘anhu adalah sepupu Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, saudara kandung Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu. Sejak semula, seluruh keluarganya bahkan anak-anaknya terkenal dengan kedermawanan, kemuliaan, keberanian, dan kepahlawanan. Terutama Sayyidina Ja’far Radhiyallahu ‘anhu, terkenal sangat dekat dengan orang-orang miskin dan banyak bergaul dengan mereka.

Disebabkan kezhaliman kafir Quraisy, Kaum Muslimin berhijrah untuk pertama kalinya ke Habasyah. Kaum Kafir Quraisy mengirim beberapa utusan menghadap Raja Najasyi (untuk mengembalikan Kaum Muslimin ke Makkah). Sayyidina Ja’far Radhiyallahu ‘anhu adalah juru bicara Kaum Muslimin yang membela mereka di hadapan Raja Najasyi. Kisahnya telah diceritakan dalam Bab Kesatu kisah ke-10.

Dari Habasyah, Sayyidina Ja’far Radhiyallahu ‘anhu langsung hijrah ke Madinah, kemudian syahid dalam Perang Mu’tah, yang kisahnya akan diceritakan pada bab selanjutnya.

Setelah syahidnya Sayyidina Ja’far Radhiyallahu ‘anhu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertakziah kepada keluarganya dan memanggil anak-anaknya, yaitu Sayyidina Abdullah, Sayyidina ‘Aun, dan Sayyidina Muhammad Radhiyallahu ‘anhum, yang semuanya masih kecil. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membelai rambut mereka dan mendoakan keberkahan untuk mereka. Anak-anak itu memiliki sifat yang sama seperti ayahnya. Namun, sifat kedermawanan Sayyidina Abdullah Radhiyallahu ‘anhu lebih menonjol sehingga ia digelari Quthbus Sakha’, pemimpin para dermawan. Pada usia tujuh tahun, ia telah berbaiat kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Suatu ketika, seseorang meminta Sayyidina Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma agar memintakan perlindungan untuk dirinya kepada Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu. Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu pun mengabulkannya. Setelah tercapai maksudnya, orang itu mengirimkan 40.000 dirham kepada Sayyidina Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma karena nazar. Sayyidina Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma mengembalikannya, seraya berkata, “Kami tidak menjual kebaikan.” Seseorang juga pernah memberinya hadiah 2.000 dirham karena nazar. Ia langsung membagikannya saat itu juga sampai habis.

Ada seorang pedagang menjual gula dalam jumlah banyak di pasar. Ia sangat sedih karena tidak seorang pun yang membelinya. Melihat keadaan itu, Sayyidina Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma menyuruh pelayannya membeli semua gula, kemudian membagikannya kepada orang-orang secara cuma-cuma. Setiap malam, ia menjamu tamu yang datang ke kabilahnya dan mencukupi semua hajatnya. (dari Kitab Al-Ishabah)

Suatu ketka, Sayyidina Zubair Radhiyallahu ‘anhu menyertai suatu peperngan. Ia berwasiat kepada anaknya, Sayyidina Abdullah bin Zubair Radhiyallahu ‘anhuma, “Aku merasa hari ini akan mati syahid. Hendaknya kamu melunasi hutang-hutangku dan menyelesaikan urusan-urusanku.” Setelah berwasiat itu, ia syahid hari itu pula. Ketika Sayyidina Abdullah bin Zubair Radhiyallahu ‘anhuma menghitung seluruh hutang ayahnya, ternyata semua berjumlah 2.200.000 dirham. Ia memiliki hutang yang begitu banyak karena ia terkenal dengan sifat amanahnya, sehingga banyak orang yang menitipkan amanah kepada Sayyidina Zubair Radhiyallahu ‘anhu, tetapi ia selalu berkata kepada orang yang menitipkan itu, “Aku tidak memiliki tempat untuk menyimpan harta. Jadi, titipan kalian akan aku anggap sebagai hutangku kepada kalian. Jika kalian memerlukannya, maka ambillah dariku.” Kemudian ia menggunakan uang itu untuk berinfak.

Sayyidina Zubair Radhiyallahu ‘anhu juga berwasiat kepada Sayyidina Abdullah bin Zubair Radhiyallahu ‘anhuma, “Jika kamu mengalami kesulitan membayar hutangku, mintalah bantuan kepada Tuanku.” Karena Sayyidina Abdullah bin Zubair Radhiyallahu ‘anhuma merasa tidak paham, maka ia bertanya, “Siapakah Tuanmu, ayah?” Ia menjawab, “Allah.” Akhirnya Sayyidina Abdullah bin Zubair Radhiyallahu ‘anhuma dapat melunasi hutang-hutang ayahnya. Sayyidina Abdullah bin Zubair Radhiyallahu ‘anhuma bercerita, “Jika datang suatu kesulitan, aku berdoa, ‘Wahai Tuannya Zubair, masalah ini dan itu belum selesai.’ Kemudian dengan berkah doa itu, masalah-masalah tersebut selesai dengan mudah.”

Selanjutnya ia bercerita, “Suatu ketika, aku berkata kepada Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma, ‘Dalam daftar hutang ayahku, engkau berhutang sejuta dirham kepada ayahku.’ Sayyidina Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma menjawab, ‘Jika demikian, kapan saja engkau mau, ambillah uangnya!’ Namun, setelah aku teliti kembali catatannya, ternyata aku telah melakukan kesalahan. Aku segera kembali kepada Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma. Aku berkata, ‘Ternyata ayahku yang berhutang kepadamu.’ Sayyidina Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma menjawab, ‘Tidak usah dibayar, aku telah menghalalkannya.’ Aku menyahut, ‘Tidak! Aku harus membayarnya.’ Sayyidina Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma menjawab, ‘Jika demikian, bayarlah jika ada kemudahan.’ Aku berkata, ‘Ambillah sebidang tanahku sebagai pembayarannya!’

Saat itu, banyak tanah yang aku dapatkan dari rampasan perang. Sayyidina Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhuma berkata, ‘Baiklah, aku menerimanya.’ Padahal aku telah memberinya tanah gersang, bahkan air pun tidak ada, tetapi ia menerimanya begitu saja. Ia berkata kepada hamba sahayanya, ‘Hamparkanlah sajadah di atas tanah ini!’ Setelah hamba sahanyanya menghamparkan sajadahnya, ia mengerjakan shalat dua rakaat dengan sujud yang sangat lama. Selesai shalat, ia menyuruh hamba sahayanya agar menggali tempat shalat tersebut. Ia menggalinya, dan memancarlah sebuah mata air yang sangat deras dari tempat itu.” (dari Kitab Usudul Ghabah)

Faidah

Apa yang dituliskan dalam bab ini, bukanlah satu hal yang luar biasa bagi para shahabat Radhiyallahu ‘anhum. Memang seperti itulah peristiwa yang biasa terjadi pada diri mereka.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Keenam “Iitisar, Kasih Sayang, dan Membelanjakan Harta di Jalan Allah Subhaanahu wata’ala” 11. Kisah Kedermawanan Sayyidina Ja’far Radhiyallahu ‘anhu dan Putranya, Sayyidina Abdullah Radhiyallahu ‘anhu (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: