BAB KEENAM “IITSAR, KASIH SAYANG, DAN MEMBELANJAKAN HARTA DI JALAN ALLAH SUBHAANAHU WATA’ALA”

Maksud iitsar adalah mendahulukan kepentingan orang lain walaupun diri sendiri sangat memerlukan. Orang tentu akan sulit untuk menyamai kebiasaan shahabat. Namun, seandainya seseorang mendapatkan sebagian kecil dari kebiasaan tersebut, itu sudah merupakan keberuntungan yang besar. Banyak kebiasaan yang mereka miliki, di antaranya adalah sifat iitsar, sehingga Allah Subhaanahu wata’ala menyatakan kelebihan mereka dalam ayat:

“Dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Q.S. Al-Hasyr: 9)

1. Kisah Seorang Shahabat Radhiyallahu ‘anhu Memadamkan Lampu demi Menjamu Tamunya

Seseorang telah menjumpai Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadukan kelaparan danpenderitaannya kepada beliau. Kemudian Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh seorang shahabat bertanya kepada istri-istri beliau, apakah di rumah ada makanan, ternyata tidak ada. Lalu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para shahabatnya, “Adakah di antara kalian yang mala mini bersedia menjamu tamu ini?” Seorang Anshar menyahut, “Ya Rasulullah, saya bersedia menjamunya.”

Shahabat Anshar itu membawa itu membawa pulang tamu tadi ke rumahnya dan berkata kepada istrinya, “Ini adalah tamu Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jangan sampai kita mengecewakannya, dan untuk menjamunya jangan sampai kita menyembunyikan apa pun!” Istrinya menjawab, “Demi Allah, aku hanya menyimpan sedikit makanan. Itu pun hanya cukup untuk anak-anak kita.” Suaminya berkata, “Hiburlah dulu anak-anak kita sampai mereka tidur. Jika sudah tidur, hidangkanlah makanan itu untuk tamu kita. Lalu duduklah. Kemudian berdirilah dan padamkanlah lampu dengan berpura-pura akan membetulkannya (supaya tamu bisa makan dengan leluasa dan dia tidak tahu kalau tuan rumah tidak ikut makan).” Istrinya melaksanakan rencana tersebut dengan baik. Pada malam itu, suami istri dan anak-anaknya terpaksa menahan lapar. Terhadap peristiwa ini, Allah Subhaanahu wata’ala berfirman:

“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Q.S. Al-Hasyr: 9)

Faidah

Masih banyak kisah para shahabat Radhiyallahu ‘anhum yang serupa dengan kisah di atas.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Keenam “Iitisar, Kasih Sayang, dan Membelanjakan Harta di Jalan Allah Subhaanahu wata’ala” 1. Kisah Seorang Shahabat Radhiyallahu ‘anhu Memadamkan Lampu demi Menjamu Tamunya (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: