9. Kisah Shalatnya Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu ketika akan Dibunuh, dan Syahidnya Sayyidina Zaid dan Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhuma

Terbunuhnya orang-orang kafir di Perang Uhud telah menyalakan dendam di hati orang-orang dekat mereka. Sulafah, yang kedua anaknya telah terbunuh dalam perang tersebut, bersumpah jika tempurung kepala Sayyidina. ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu (shahabat yang telah membunuh anak-anaknya) sampai ke tangannya, ia akan menggunakannya untuk minum arak. Untuk itu, ia mengumumkan akan memberi hadiah seratus ekor unta kepada siapa pun yang dapat membawa kepala Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu kepadanya. Mendengar sayembara itu, Sufyan bin Khalid sangat bergairah dan berkeyakinan akan dapat membawa kepala Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu kepada Sulafah. Kemudian ia mengirim beberapa laki-laki dari kaum Adhal dan Qarah ke Madinah. Mereka berpura-pura memeluk Islam dan meminta Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim beberapa orang shahabat untuk memberi taklim dan tabligh di kampong mereka. Mereka juga memohon agar Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu termasuk dalam rombongan itu, dengan alasan bahwa nasihat Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu disukai orang-orang. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim sepuluh orang shahabat (dalam riwayat lain enam orang) menyertai kaum Adhal dan Qarah, termasuk Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu.

Dalam perjalanan, mereka mewujudkan pengkhianatan. Mereka memanggil teman-temannya yang berjumlah dua ratus orang dari Bani Lihyan untuk menyerang para shahabat Radhiyallahu ‘anhum. Di antara mereka ada seratus pemanah handal. (Menurut riwayat yang lain, bahwa Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim para shahabat Radhiyallahu ‘anhum ini untuk mencari kabar tentang orang-orang Makkah.) Melihat musuh demikian banyak, mereka berlindung ke Bukit Fad-fad. Kaum kafir berkata, “Kami tidak ingin mewarnai bumi kami dengan darah kalian. Kami hanya ingin menukar kaliar dengan harta penduduk Makkah. Kemarilah! Kami tidak akan membunuh kalian.” Sahut para shahabat Radhiyallahu ‘anhum, “Kami tidak mempercayai janji orang kafir!” Maka para shahabat Radhiyallahu ‘anhum mulai menyerang mereka dengan melepaskan anak-anak panah. Ketika anak panah telah habis, mereka pun menyerang dengan lembing.

Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu menyemangati kawan-kawannya, “Mereka telah menipu kalian. Jangan panik, yakinlah bahwa mati syahid adalah keberuntungan. Allah Subhaanahu wata’ala, kekasih kalian, bersama kalian, dan para bidadari surga sedang menunggu kalian!” sambil berkata demikian, ia menyerang musuh dengan gagah berani sampai patah lembingnya. Kemudian ia menggunakan pedangnya. Namun, karena musuh sangat banyak, ia pun gugur sebagai syahid. Pada akhir hayatnya, ia berdoa, “Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam!” doa tersebut langsung dikabulkan oleh Allah Subhaanahu wata’ala. Saat itu juga Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui kejadian tersebut. Karena Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu mendengar kabar bahwa Sulafah berniat menggunakan tempurung kepalanya untuk minum arak, maka saat kematiannya ia berdoa, “Ya Allah, telah kukorbankan kepalaku di jaaln-Mu, maka selamatkanlah kepalaku!” Allah Subhaanahu wata’ala menunaikan doa Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu. Ketika orang-orang kafir berniat akan memenggal kepalanya, Allah Subhaanahu wata’ala mengirim sekumpulan lebah untuk melindungi mayat Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu dari berbagai arah, sehingga musuh gagal memenggal kepalanya. Akhirnya, saat itu juga mereka meninggalkan mayat Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu dan akan mengambilnya malam hari jika sudah tidak ada lebah. Namun, malam itu turun hujan lebat, sehingga banjir menghanyutkan mayat Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhu.

Dalam pertempuran itu, tujuh atau tiga orang muslim telah syahid. Yang tinggal adalah Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu, Sayyidina Zaid bin Datsinah Radhiyallahu ‘anhu, dan Sayyidina Abdullah bin Thariq Radhiyallahu ‘anhu. Mereka bertiga tetap bertahan di atas bukit. Orang-orang kafir terus membujuk mereka, “Turunlah kemari! Kami tidak akan ingkar janji.” Akhirnya, mereka mempercayai janji musuh itu. Mereka turun dari bukit. Begitu sampai di bawah, orang-orang kafir melepasi tali busur mereka. Sayyidina Abdullah bin Thariq Radhiyallahu ‘anhu berteriak, “Ini awal dari sebuah penghianatan. Aku tidak akan pergi dengan kalian. Aku lebih menyukai mati syahid bersama teman-temanku.” Musuh pun memaksanya berjalan, tetapi ia tidak bergerak. Mereka pun membunuhnya.

Akhirnya, tinggal dua orang shahabat, Sayyidina Zaid bin Datsinah Radhiyallahu ‘anhu dan Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu. Keduanya dibawa ke Makkah dan dijual kepada penduduk Makkah. Sayyidina Zaid bin Datsinah Radhiyallahu ‘anhu telah dibeli oleh Shafwan bin Umayyah seharga lima puluh ekor unta untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Sedangkan Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu dibeli oleh Hujair bin Abu Ihab seharga seratus ekor unta untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, bahwa ia dibeli oleh anak-anak Harits bin Amir karena ia telah telah membunuh Harits dalam Perang Badar.

Setelah membelinya, Shafwan langsung membawa Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu ke luar Tanah Haram dan menyerahkannya kepada budaknya sambil berkata, “Bunuhlah dia!” Kemudian untuk memuaskan hatinya, ia akan menonton pembunuhan tersebut bersama sekumpulan orang, termasuk Abu Sufyan. Menjelang kesyahidannya, Abu Sufyan berkata, “Hai Zaid, demi Tuhan, katakana dengan jujur, apakah kamu suka jika lehermu yang akan dipenggal ini, diganti dengan kepala Muhammad dan kamu dibebaskan sehingga dapat berkumpul dengan keluargamu?” Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Demi Allah, jangankan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terkena duri kecil di kakinya pun aku tidak rela, meskipun aku dapat bersenang-senang dengan keluargaku.” Mendengar jawaban ini, Kaum Quraisy mereasa takjub. Abu Sufyan berkata, “Belum pernah aku melihat cinta yang demikian tinggi seperti cinta para shahabat Muhammad kepada Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam).” Lalu, Sayyidina Zaid Radhiyallahu ‘anhu dibunuh.

Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu ditawan oleh Hujair selama beberapa hari. Seorang budak perempuan Hujair yang di kemudian hari memeluk Islam berkata, “Ketika Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu kami tahan, kami pernah melihatnya makan setangkai anggur sebesar kepala manusia. Padahal ketika itu, di Makkah tidak sedang musim anggur.” Ia bercerita, “Ketika hari pembunuhan Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu telah dekat, ia meminta pisau cukur untuk membersihkan bulu-bulunya. Permintaannya itu dipenuhi. Kebetulan ada seorang anak kecil yang mendekatinya. Orang-orang merasa ketakutan, karena di tangan Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu ada sebuah pisau cukur, sedangkan anak itu ada di sampingnya. Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Apakah kalian berpikir, aku akan membunuh anak kecil ini? Aku tidak mungkin melakukannya.’”

Lalu, ia dibawa keluar dari Tanah Haram. Ketika ia diletakkan di tiang salib, ia ditanya, “Jika kamu menginginkan sesuatu, katakanlah!” ia menjawab, “Izinkan aku mengerjakan shalat dua rakaat karena tidak lama lagi akan kutinggalkan dunia fana ini untuk menemui Allah Subhaanahu wata’ala.” Permintaannya pun dikabulkan. Kemudian ia melaksanakan shalat dua rakaat dengan penuh ketenangan. Setelah selesai, ia berkata, “Seandainya aku tidak khawatir kalian menyangka aku takut mati, niscaya aku akan menambah shalatku.” Ia pun disalib, lalu berdoa, “Ya Allah, adakah seseorang yang akan menyampaikan salamku yang terakhir kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” ternyata salamnya itu sampai kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melalui wahyu Allah Subhaanahu wata’ala. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Wa’alaikum salam, ya Khubaib.” Lalu, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para shahabatnya, “Khubaib telah syahid di tangan Kaum Quraisy.”

Pembunuhan terhadap Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu, dilakukan oleh empat puluh orang Quraisy yang menikam dengan lembing dari empat arah sehingga badannya hancur. Di antara mereka ada yang berkata, “Katakan, sukakah kamu jika Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) menggantikan tempatmu saat ini, dan kamu kami bebaskan?” Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Demi Allah Yang Maha Agung, aku lebih suka mati daripada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terkena duri.” (dari Kitab Fathul Islam)

Faidah

Setiap kata-kata dalam kisah di atas mengandung pelajaran bagi kita. Namun, ada dua pelajaran istimewa dalam kisah di atas. Pertama, tingginya kecintaan dan kerinduan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka rela kehilangan nyawa, tetapi tidak rela penderitaan sekecil apapun menimpa Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebenarnya orang-orang kafir hanya ingin mengetahui sejauh mana kecintaan Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pernyataan langsung dari lisannya dalam keadaan seperti itu. Karena seandainya Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu menerima tawaran itu, mereka pun tidak mampu menyakiti Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, kisah ini menunjukkan betapa mereka sangat mengagungkan dan mencintai shalat. Pada umumnya, di akhir hayatnya, seseorang akan ingat istri dan anak, ingin melihat wajah mereka, dan menyampaikan salam dan pesan kepada mereka. Namun, para shahabat Radhiyallahu ‘anhum di akhir hayatnya, mengirimkan salam kepada Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan keinginan terakhirnya adalah mendirikan shalat.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kelima “Kegairahan dan Kecintaan Terhadap Shalat yang Khusyu’ dan Khudhu’” 9. Kisah Shalatnya Sayyidina Khubaib Radhiyallahu ‘anhu ketika akan Dibunuh, dan Syahidnya Zaid dan Sayyidina ‘Ashim Radhiyallahu ‘anhuma (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: