7. Kisah Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Bertanya Satu Masalah kerena Lapar

Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Maukah kalia aku ceritakan keadaan kami dahulu? Dahulu, sebagian di antara kami tidak dapat berdiri karena lapar. Berhari-hari kami tidak mendapatkan makan sedikit pun. Karena sangat lapar, aku pernah berbaring sambil menekan lambung ke tanah. Bahkan, kadang kala aku mengikatkan batu di perutku.

Suatu ketika, aku sengaja duduk di pinggir jalan tempat berlalunya orang-orang. Kemudian lewatlah Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, aku mulai bertanya sesuatu. Dalam hati, aku berharap agar ia mengajakku ke rumahnya sebagaimana kebiasaannya yang mulia, yaitu ia akan menyuguhkan makanan yang ada kepada tamunya. Namun, kali ini Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu tidak mengajakku ke rumahnya. Ia tidak banyak berbicara kepadaku. (Mungkin tidak terpikir olehnya untuk mengajakku ke rumahnya, atau karena di rumahnya memang tidak ada makanan). Kemudian lewatlah Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu. Namun, kali ini keadaannya seperti itu juga. Akhirnya, datanglah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tersenyum ketika melihatku. Beliau langsung memahami keadaan dan keinginanku. Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Hurairah, mari ikut aku.’ Aku pun mengikuti beliau sampai ke rumah. Lalu, aku diizinkan masuk ke rumah beliau. Di dalam rumah, ada semangkuk susu yang dihidangkan untuk beliau. Beliau bertanya, ‘Dari mana susu ini?’ dijawab bahwa susu itu hadiah dari seseorang untuk Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu, beliau berkata kepadaku, ‘Hai Abu Hurairah, pergi dan panggillah Ahlus Shuffah!’

Ahlus Shuffah adalah tamu-tamu umat islam bukan tamu pribadi. Tidak mempunyai rumah dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, bahkan makanan yang tetap juga tidak ada (mereka tinggal di serambi Masjid Nabawi). Jumlah Ahlus Shuffah tidak tidak menentu. Kadang banyak, kadang sedikit. Ketika kisah ini terjadi, mereka berjumlah tujuh puluh orang. Kadang-kadang Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menitipkan mereka dua-dua atau empat-empat orang kepada salah seorang shahabat yang mampu. Kadang-kadang mereka dijamu sendiri oleh Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Telah menjadi kebiasaan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam kalau datang makanan dari mana saja, jika makanan itu dari sedekah, beliau akan langsung membagikannya kepada mereka, dan beliau tidak ikut makan beserta mereka. Kalau makanan itu berasal dari hadiah, beliau akan mengundang mereka dan beliau akan makan bersama mereka.

Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhku agar mengundang mereka minum. Aku merasa khawatir, apakah susu itu akan mencukupi untuk semua orang yang akan aku panggil? Aku kira, susu itu untuk seorang saja tidak mencukupi. Dalam benakku terpikir, giliranku pasti yang terakhir, mungkin aku tidak akan mendapat sisa sedikit pun. Tetapi, tidak ada pilihan lain kecuali menaati perintah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian aku pergi dan memanggil semuanya. Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Berikanlah susu ini kepada mereka.’ Maka setiap orang minum dari mangkuk susu itu sepuasnya. Setelah mereka puas, barulah mangkuk itu dikembalikan kepadaku. Kemudian Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memegang mangkuk itu dengan tangannya yang penuh berkah dan melihat kepadaku sambil tersenyum seraya berkata, ‘Sekarang tinggal kita berdua.’ Aku berkata, ‘Benar, ya Rasulullah.’ Beliau bersabda, ‘Sekarang minumlah.’ Aku pun langsung meminumnya. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi, ‘Minumlah lagi.’ Aku pun minum lagi, sehingga akhirnya aku berkata, ‘Ya Rasulullah, sekarang aku tidak mampu minum lagi.’ Setelah itu, barulah beliau meminum susu yang tersisa dari mangkuk tersebut.”

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Ketiga “Kezuhudan dan Kesederhanaan Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum” 7. Kisah Sayyidina Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu Bertanya Satu Masalah karena Lapar (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: