2. Kisah Nasihat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu yang Menginginkan Kelapangan Hidup dan Kisah Kesederhanaan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Suatu ketika, disebabkan permintaan nafkah yang sedikit lebih oleh istri-istri Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersumpah tidak akan mendatangi mereka selama satu bulan sebagai teguran terhadap mereka. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal seorang diri di kamar atas yang dibangun terpisah dari rumah beliau. Kabar angin telah tersebar di kalangan para shahabat Radhiyallahu ‘anhum, bahwa Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan semua istrinya.

Saat itu, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu sedang berada di rumah. Ketika ia mendengar berita ini, ia segera berlari menuju masjid. Di masjid, terlihat para shahabat Radhiyallahu ‘anhum sedang duduk berpencar-pencar menangis karena takut akan kemarahan Baginda Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam. Demikian juga kaum wanita menangis di rumah-rumah mereka. Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu segera menemui putrinya, yaitu Sayyidatina Hafshah Radhiyallahu ‘anha. Ia juga sedang menangis di kamarnya. Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Mengapa engkau menangis, bukankah selama ini aku telah memperingatkan kamu dari berbuat sesuatu yang dapat membuat Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam marah?” Lalu, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu kembali ke masjid. Di sana terlihat sekelompok shahabat Radhiyallahu ‘anhum yang sedang duduk menangis di dekat mimbar. Ia pun ikut duduk bersama mereka sejenak. Namun, kesedihan yang mendalam membuatnya tidak dapat duduk. Lalu, ia bangun dan berjalan mendekati kamar Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melalui perantara seorang hamba sahaya, Sayyidina Rabah Radhiyallahu ‘anhu, yang duduk di tangga kamar Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia meminta izin untuk masuk. Sayyidina Rabah Radhiyallahu ‘anhu masuk dan meminta izin untuk Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu. Tetapi beliau sama sekali tidak menjawab. Sayyidina Rabah Radhiyallahu ‘anhu kembali dan memberitahukan hal ini kepada Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu, “Saya telah menyampaikannya, namun beliau tidak menjawabnya.” Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu pun putus asa dan kembali duduk di samping mimbar, namun tidak bias duduk dengan tenang.

Beberapa lama kemudian, dengan perantara Sayyidina Rabah Radhiyallahu ‘anhu, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu kembali mencoba meminta izin untuk menemui Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah hal ini berulang sampai tiga kali, dan semuanya tidak mendapatkan jawaban. Di kali yang ketiga inilah, ketika Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu akan kembali, Sayyidina Rabah Radhiyallahu ‘anhu memanggilnya dan berkata, “Sekarang kamu diizinkan masuk.”

Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu memasuki kamar Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia melihat Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berbaring di atas sehelai tikar, tanpa alas kain sedikit pun, sehingga guratan tikar itu terlihat jelas di badan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang suci itu. Beliau berbantalkan kulit binatang yang berisi serabut kurma. Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu bercerita, “Aku memberi salam kepada Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang pertama kali aku tanyakan kepada beliau, ‘Apakah Tuan telah menceraikan istri-istri Tuan?’ Beliau menjawab, Tidak.’”

Selepas itu, untuk menghibur hati Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam aku berkata, “Ya Rasulullah, kita Kaum Quraisy selalu menguasai kaum wanita kita, tetapi ketika tiba di Madinah mereka melihat kaum lelaki Anshar dikuasai oleh wanita mereka, sehingga wanita-wanita kita pun terpengaruh oleh mereka.” Setelah itu, aku berbicara beberapa ucapan yang membuat Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum cerah.

Aku memperhatikan semua perabot di kamar Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ada tiga helai kulit yang belum disamak dan segenggam gandum kasar di salah satu pojok kamar. Aku melihat ke semua penjuru tempat itu, dan aku tidak menjumpai benda lain selain benda-benda tadi. Melihat hal itu aku pun menangis. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Mengapa kamu menangis?” Aku menjawab, “Baimana aku tidak menangis yan Rasulullah, aku telah menyaksikan bekas guratan tikar di badanmu yang penuh berkah ini, dan aku melihat keadaan kamar Tuan di depanku.” Aku berkata lagi, “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah Subhaanahu wata’ala, semoga Allah Subhaanahu wata’ala mengaruniakan kepada umatmu kelapangan. Orang-orang Parsi dan Romawi tidak beragama dan tidak menyembah Allah Subhaanahu wata’ala, namun mereka hidup mewah. Raja-raja mereka, Kaisar dan   Kisra, hidup di taman-taman yang di tengah-tengahnya mengalir anak sungai. Sedangkan Tuan pesuruh Allah, orang yang sangat istimewa di sisi Allah Subhaanahu wata’ala, tetapi Tuan hidup dalam keadaan seperti ini.”

Ketika aku mengucapkan kata-kata itu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bersandar di bantal. Begitu aku selesai berbicara, beliau langsung duduk seraya berkata, “Wahai Umar, apakah sampai kini engkau masih ragu-ragu? Dengarlah! Kelapangan di akhirat nanti jauh lebih baik daripada kelapangan di dunia ini. Orang-orang kafir itu mendapatkan kesenangan dan kemewahan hidup di dunia, sedangkan kita akan memperolehnya di akhirat kelak.” Aku berkata, “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah Subhaanahu wata’ala agar Allah Subhaanahu wata’ala mengampuniku, aku bersalah.” (dari Kita Fathul Bari)

Faidah

Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemimpin dunia dan agama sekaligus utusan Allah Subhaanahu wata’ala. Tetapi, beliau tidur di atas sehelai tikar tanpa dilapisi apa pun yang menyebabkan ada guratan dibadannya. Kita juga mengetahui keadaan perabot di rumah beliau. Tetapi, ketika ada orang yang meminta beliau berdoa minta kelapangan, beliau malah memperingatkannya.

Seseorang bertanya kepada Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, “Bagaimanakah keadaan alas tidur Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah?” Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Alas tidur beliau terbuat dari kulit yang berisi serabut kurma.” Sayyidatina Hafshah Radhiyallahu ‘anha juga pernah ditanya oleh seseorang, “Bagaimanakah keadaan alas tidur Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah?” jawabnya, “Sehelai kain kasar yang dilipat dua yang dihamparkan sebagai alas tidur Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu hari, aku pernah melipatnya menjadi empat lipatan agar menjadi empuk.” Keesokan paginya, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa ang telah kamu hamparkan untukku tadi malam?” Jawabku, “Kain yang sama, tetapi aku melipatnya menjadi empat lipatan.” Beliau menyahut, “Lipatlah seperti dulu. Kenyamananseperti tadi malam, menghalangiku bangun Tahajjud.” (dari Kitab Syamail Tirmidzi)

Lihatlah keadaan kita sekarang! Betapa Allah Subhaanahu wata’ala telah memberikan kelapangan kepada kita, kasur kita empuk dan nyaman. Namun, kita bukannya bersyukur, tetapi malah banyak mengeluh.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Ketiga “Kezuhudan dan Kesederhanaan Para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum” 2. Kisah Nasihat Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘anhu yang Menginginkan Kelapangan Hidup dan Kisah Kesederhanaan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: