5. Kisah Islamnya Sayyidina Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu

Sayyidina Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang shahabat yang terkenal. Di kemudian hari, ia terkenal dengan kezuhudan dan keilmuannya. Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Dzar memiliki ilmu yang orang lain tidak mampu memperolehnya. Hanya saja, dia menyimpannya.”

Ketika pertama kali ia mendengar kabar tentang kenabian Baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia mengirim saudaranya ke Makkah untuk memastikan berita itu. Kepada saudaranya ia berkata, “Apabila ada orang yang mengaku telah datang wahyu kepadanya dari langit, selidikilah keadaanya dan dengarkanlah baik-baik perkataannya.” Saudaranya pun pergi ke Makkah. Setelah menyelidiki keadaan di sana, ia pun kembali dan melapor kepadanya. “Aku melihatnya memerintahkan kebaikan dan akhlak yang mulia, dan aku mendengar ucapan yang bukan ahli syair atau ucapan ahli sihir.” Abu Dzar tidak puas dengan laporan ringkas dari saudaranya. Ia memutuskan untuk pergi sendiri ke Makkah.

Setibanya di sana, ia langsung menuju Masjidil Haram. Ia belum megenal Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berpikir, tidak aman jika menanyakan tentang Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang. Maka hingga petang, ia masih terus tinggal di Masjidil Haram dalam keadaan seperti itu.

Ketika hari sudah mulai gelap, Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu melihat ada seorang musafir asing. Pada masa itu, menunaikan hajat para musafir, orang-orang miskin, dan orang-orang asing sudah menjadi kebiasaan masyarakat Arab. Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu pun membawa musafir itu ke rumah dan menjamunya. Tetapi Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu merasa belum waktunya bertanya menganai siapa dan apa maksud kedatangannya. Musafir tersebut juga tidak mengemukakan maksudnya kepada tuan rumah.

Pagi harinya, ia kembali ke masjid. Sepanjang hari, keadaan tetap seperti itu, Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu tidak bisa menemui Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam karena dia belum mengenal Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak bisa bertanya kepada siapa pun. Kemungkinan besar, hal itu disebabkan berita tentang permusuhan orang-orang kafir terhadap Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah tersebar luas. Siapa saja yang berani menemui beliau akan disiksa dengan segala cara. Ia pun berpikir, tidak mungkin menanyakan kepada orang lain mengenai keadaan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sebenarnya. Ia takut, jika ia bertanya kepada seseorang, kemudian orang tersebut berprasangka buruk, ia akan mendapatkan kesusahan.

Sore hari kedua, Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu berpikir, “Musafir asing ini pasti mempunyai tujuan datang kemari. Mungkin tujuannya belum terpenuhi.” Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu
pun mengajak kembali tamunya menginap dan menjamunya di rumah. Namun, malam itu pun Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu belum bertanya kepadanya. Malam ketiga pun, sama seperti malam sebelumnya. Akhirnya, Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada tamunya, “Apakah tujuanmu datang kemari?” Setelah meminta Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu bersumpah dan berjanji akan menjawab dengan jujur setiap pertanyaan, barulah Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu  mengutarakan maksudnya.

Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sunguh, beliau utusan Allah Subhaanahu wata’ala. Jika esok pagi aku pergi, ikutilah aku. Aku akan mengantarmu kepada beliau. Karena suasana pertentangan masih panas, maka jika selama di perjalanan kita menemui seseorang yang mencurigai perjalanan kita, aku akan pura-pura kencing atau pura-pura membetulkan terompah. Hendaknya engkau terus berjalan, jangan menungguku agar orang tidak mengetahui perjalanan kita.”

Keesokan paginya, Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu diikuti musafir itu tiba di tempat Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berbincang-bincang dengan beliau. Saat itulah Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu masuk Islam. Selanjutnya, karena Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat mencemaskan gangguan yang akan menimpa dirinya, beliau melarang Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu menunjukkan keislamannya di muka umum. Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pulanglah kepada kaummu dengan sembunyi-sembunyi, dan engkau boleh kembali lagi jika kami telah mendapat kemenangan.” Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Ya Rasulullah, demi Dzat yang nyawaku berada di tangan-Nya, aku akan mengucapkan kalimah Tauhid ini dengan lantang di tengah kerumunan orang-orang yang tidak beriman itu!” Lalu, ia langsung menuju Masjidil Haram dan dengan suara lantang ia berseru :

Aku bersaksi tiada yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah!

Selanjutnya, orang-orang menyerangnya dari segala arah. Tubuhnya terluka berat. Bahkan ia hampir saja menemui ajalnya. Paman Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abbas, yang ketika itu belum memeluk Islam melindungi Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dengan membaringkan tubuhnya di atas tubuh Sayyadina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dan berkata kepada mereka, “Kezhaliman apa yang sedang kalian lakukan? Ini seorang dari kabilah Ghifar. Kabilah ini menetap di jalan menuju Syam. Perdaganganmu dan segala urusan kalian adalah dengan negeri Syam. Jika ia mati, maka jalan lalu lintas ke Syam akan tertutup.” Ucapannya itu menyadarkan orang-orang yang memukulinya. Memang benar, semua kebutuhan mereka datang dari Syam. Jika jalur itu tertutup, berarti bencana bagi mereka. Akhirnya, mereka melepaskannya.

Hari kedua, dengan suara lantang Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu mengulangi perbuatan menyerukan kalimah Tauhid di hadapan orang banyak. Orang-orang tidak tahan mendengar kalimah tersebut. Mereka langsung menyerangnya lagi. Hari itu, Sayyidina Abbas Radhiyallahu ‘anhu jugalah yang mengingatkan kaumnya bahwa jika ia mati, maka jalur perdagangan mereka akan tertutup.

Faidah

Meskipun Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyuruh Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu menyembunyikan keislamannya, tetapi Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu tetap menampakkan keislamannya secara terang-terangan karena semangat dan gelora hatinya. Tindakannya itu untuk membela yang haq. Adapun larangan Baginda Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah karena rasa sayang beliau kepadanya. Beliau khawatir Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu tidak mampu menanggung resikonya. Tidak mungkin para shahabat Radhiyallahu ‘anhum menentang perintah Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengenai hal ini akan dijelaskan dalam bab selanjutnya.

Dalam menyebarkan agama, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah banyak menanggung penderitaan. Oleh sebab itu, Sayyidina Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu memilih untuk mengikuti penderitaan Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukan menerima kemudahan yang diberikan beliau. Inilah penyebab urusan agama para shahabat Radhiyallahu ‘anhum meningkat, dunia pun takluk di bawah telapak kaki mereka dan mereka menang di setiap medan perjuangan. Siapapun yang telah mengucapkan syahadat sekali saja, ia berada di bawah naungan bendera perjuangan Islam. Tiada kekuatan sebesar apa pun yang dapat menghentikan mereka, dan tidak ada kezhaliman yang mampu menghalangi mereka dari menyebarkan agama.

Sumber: Kitab Fadhilah Amal – I. Kitab Kisah-Kisah Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum – Bab Kesatu “Ketabahan Menghadapi Kesusahan dan Cobaan Demi Agama”  5. Kisah Islamnya Sayyidina Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu (Maulana Muhammad Zakariyya Al-Khandahlawi Rah.a)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Belajar Ilmu Nahwu Shorof Tata Bahasa Arab Online

Nahwu, Balaghah, Mu'jam, Sharaf, Kamus, Terjemah dll. Blog Santri Fasih Mengaji Kitab Kuning. nahwusharaf.WordPress.com site

ponpes Al-Fithrah GP

Ibadah dalam hidmah - hidmah dalam ibadaH

Blog Abu Umamah™

Media Belajar Dan Berbagi Ilmu Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah

Abdurrohmandotcom

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Faisal Abiyasin's Blog

... belajar berbagi yang di ketahui ...

Ruang Aliyah

.::Ruang kosong yang haus untuk diisi::.

Bimbingan Islami | Ulama Ahlus sunnah Wal Jamaah Salafiy

Bimbingan, nasehat dan fatwa ulama ahlussunnah wal jama-ah sesuai dengan ajaran Islam menurut pemahaman as-salaf ash-shaleh

مفاهيم

Salim Abdul Qadir MD

Agama Ialah Nasihat

“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

antonsudarwo26ubd

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

%d bloggers like this: